Iklan Atas Zona Muslim

Kisah Pernikahan Asiah dengan Firaun
4/ 5 stars - "Kisah Pernikahan Asiah dengan Firaun" Fir'aun adalah sosok raja super dzalim di zamannya. Setelah kematian istrinya, fir'aun hidup sendirian tanpa pendamping hidup. P...

Kisah Pernikahan Asiah dengan Firaun

Admin

Fir'aun adalah sosok raja super dzalim di zamannya. Setelah kematian istrinya, fir'aun hidup sendirian tanpa pendamping hidup. Pada ketika itu tersebutlah satu kisah di mana nurani gadis jelita dari keturunan keluarga Imran yang baik-baik dan solehah yang bernama Siti Asiah binti Muzahim yang telah menjadi bahan perbincangan di kalangan pemuda-pemuda Mesir karena kepribadiannya dan kejelitaannya.

Kisah kejelitaan Siti Asiah akhirnya sampai ke telinga Fir'aun sehingga suatu hari beliau ingin untuk memperisterikan Asiah sebagai permaisurinya. Kemudian, diutuslah seorang menteri bernama Haman untuk menjumpai keluarga Asiah. Ibu dan Ayah Asiah belah bertanya kepada putrinya bahwa Fir'aun adalah seorang raja yang Ingkar kepada Allah SWT dan tidak berprikemanusiaan.

Tidak lama kemudian, Haman utusan Fir'aun datang kembali untuk menanyakan tentang lamaran tersebut dan alangkah marahnya beliau setelah tahu bahwa lamaran Fir'aun telah ditolak. Ibu dan Ayah Asiah kemudian dicaci dan dihinanya. Haman kemudian pulang dan memberitahu kepada Fir'aun akan berita buruk tersebut. Fir'aun sangat marah dan memerintahkan supaya orang tua Asuh ditangkap. Mereka lalu disiksa dan dimasukkan ke dalam penjara. Setelah itu Asiah ditangkap dengan menggunakan kekerasan dan kemudian dibawa ke istana Fir'aun dan bertemu dengannya. Di hadapan Fir'aun, Asiah kemudian dipertemukan dengan kedua orang tuanya di dalam Penjara.

Asiah sangat sedih melihat keadaan kedua orang tuanya yang disiksa oleh Fir'aun. Kemudian Fir'aun berkata ”Hai Asiah, jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap orang tuamu, maka oleh karena itu engkau boleh pilih satu antara dua. Kalau kau menerima lamaranku berarti engkau akan hidup senang dan akan aku bebaskan kedua orang tuamu. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku maka aku akan perintahkan mereka untuk membakar hidup-hidup kedua orang tuamu dihadapanmu."

Oleh karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir'aun akan tetapi dengan beberapa syarat:

1. Bahwa Fir'aun harus membebaskan kedua orang tuanya.

2. Fir'aun harus membuatkan rumah yang indah lengkap dengan perkakas.

3. Bahwa orang tuanya harus dijamin kesehatan beserta cukup makan dan minumnya.

4. Bahwa Asiah bersedia menjadi istri Fir'aun, hadir dalam acara tertentu, tetapi tidak bersedia tidur bersama Fir'aun.

Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak dipenuhi, beliau rela mati dibunuh bersama kedua orang tuanya. Akhirnya, Fir'aun setuju dan menerima syarat-syarat tersebut dan memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan Asiah dibuka. Kini, Asiah tinggal bersama-sama Fir'aun di dalam istana yang indah. Akan tetapi, Fir'aun tidak membawa pengaruh terhadap kehidupan pribadi Asiah.

Asiah tidak pernah ingkar terhadap perintah agama, beliau tetap taat beribadah kepada Allah SWT. Beliau senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir meskipun suaminya Fir'aun. Untuk menyelamatkan dan menjaga kehormatan Asiah, Allah SWT. telah menciptakan iblis yang menyamar seperti Asiah untuk tidur bersama Fir'aun.

Asiah binti Muzahim merupakan salah satu di antara wanita-wanita pilihan yang pernah terukir dalam bingkai sejarah. Mereka tidak dikaruniai anak. Akan tetapi, Fir'aun sangat mencintainya karena kecantikan dan kematangan akhlaknya. Telah berapa banyak cobaan dan tantangan yang harus dihadapinya dengan penuh kesabaran. Bahkan, berbagai kesulitan mampu diubah menjadi kemudahan, sehingga Asiah dikenal sebagai rahmat, bagi masyarakat di zaman Fir'aun yang penuh dengan kelicikan dan kelaliman.

Pada masa seperti itulah muncul peristiwa yang akan menentukan sejarah hidup Nabi Musa. Suatu ketika, Asiah duduk di taman yang indah nan luas, dihiasi dengan aliran sungai yang memesona. Dia melihat sebuah peti ngambang. Perlahan-lahan peti itu makin mendekat sehingga Asiah menyuruh para pembantunya untuk mengambil dan mengeluarkan isi peti tersebut. Ketika dibuka, ternyata di dalamnya terdapat seorang bayi mungil, elok dan rupawan. Muncullah perasaan kasih sayang dalam diri Asiah. Allah mengaruniakan cinta dan kasih sayang terhadap bayi tersebut melalui Asiah. Kemudian, Asiah memerintahkan agar bayi itu dibawa ke istana dengan bertekad memelihara dan mengasuhnya.

Ketika mendengar berita tersebut, Fir'aun hendak membunuh bayi yang dibawa Asiah itu karena dia melihat mimpi yang selama ini menghantuinya. Dalam mimpinya terdapat seorang anak laki-laki yang kelak akan menghancurkannya. Para dukun dan ahli nujum dihadirkan dari seluruh pelosok negara. Mimpinya pun diceritakan kepada mereka, sehingga ia diperingatkan agar hati-hati dengan kelahiran seorang bayi yang akan menjadi penyebab kehancuran kerajaannya. Akhirnya, semua bayi laki-laki Bani Israil yang lahir diperintahkan agar dibunuh, kecuali bayi yang diasuh Asiah. Fir'aun pun tidak dapat menolak bujukan Asiah ketika ia berkata. "Kita tidak mempunyai keturunan anak laki-laki, maka jangan bunuh anak ini. Semoga ada manfaatnya untuk kita atau kita jadikan dia sebagai anak kandung kita." Fir'aun menyetujui dan menyarankan agar anak itu dididik dengan baik. Asiah memberi nama Musa terhadap anak tersebut dan mendidiknya hingga dewasa dalam istana Fir'aun.

Fir'aun sebenarnya mempunyai seorang pegawai yang amat dekat dan dipercayainya yang bernama Hazaqil. Hazaqil selama ini merahasiakan identitasnya yang sebenarnya. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyithah yang bekerja sebagai juru hias istana yang juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT.

Pada suatu hari maka terjadilah perdebatan yang hebat antara Fir'aun dengan Hazaqil di mana Fir'aun menjatuhkan hukuman mati terhadap ahli sihir yang beriman kepada Allah SWT. Hazaqil menetang keras terhadap hukuman yang dijatuhkan kepada mereka semua karena mereka semuanya beriman kepada Allah SWT. Mendengar kata-kata Hazaqil, Fir'aun menjadi marah. Akhirnya, Fir'aun tahu bahwa Hazaqil telah ingkar kepada beliau dan kemudian dijatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah dan tidak merasa gentar demi untuk membela kebenaran. Hazaqil meninggal dunia dengan kedua tangannya diikat pada pohon kurma dengan tembusan beberapa anak panah. Isterinya yang bernama Masyitah amat sedih sekali atas kematian suaminya yang tersayang itu. Beliau senantiasa dirundung kesedihan dan tiada lagi tempat mengadu, kecuali kepada kedua orang anaknya yang masih kecil. Pada suatu hari Masyitah telah mengadu nasib kepada Asiah mengenai nasib yang menimpa dirinya. Di akhir pembicaraan mereka, Asiah juga telah menceritakan tentang keadaan dirinya yang sebenarnya. Hasil dari perbicaraan itu, barulah kedua-duanya mengetahui perkara sebenarnya bahwa mereka adalah wanita yang amat beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa AS.

Pada suatu hari ketika Masyitah sedang menyisir rambut putri Fir'aun, sisirnya jatuh dan ketika hendak mengambilnya, Masyitah seraya berkata, "Dengan nama Allah binasalah Fir'aun." Mendengar ucapan Masyitah, putri Fir'aun menegur Masyitah dan beliau merasa tersinggung dengan ucapan Masyitah itu. Beliau telah melaporkan kepada ayahandanya. Masyitah tidak sedikit pun merasa gentar dengan kata-katanya itu. Masyitah akhirnya dipanggil oleh Fir'aun. Fir'aun bertanya kepada Masyitah tentang ucapannya itu dan siapakah Tuhan yang disembahnya. Masyitah lalu mengaku tentang apa yang telah diucapkannya dan dengan beraninya berkata, "Tiada Tuhan selain Allah SWT yang sesunguhnya menguasai segala alam dan isinya."

Mendengar jawaban dari Masyitah, Fir'aun menjadi amat marah dan memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak di dalam kuali yang besar, kemudian orang-orang ramai dipanggil untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan atas Masyitah. Masyitah sekali lagi dipanggil oleh Fir'aun dan diberi beberapa pilihan, yaitu:

1. Jika Masyitah ingin selamat bersama kedua anaknya, beliau tidak boleh menyembah Allah SWT.

2. Masyitah haruslah mengaku bahwa Fir'aun adalah Tuhan yang disembah. Jika tidak mengaku Fir'aun sebagai Tuhannya, Masyitah akan dimasukkan ke dalam kuali bersama anak-anaknya.

Akan tetapi, Masyitah tetap dengan pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitah pun membawa kedua anaknya itu untuk menuju ke kuali tersebut. Beliau memandang anaknya yang sedang menyusu dalam pelukannya. Tetapi dengan takdir Allah, anaknya yang masih kecil itu pun berkata supaya ibunya jangan takut dan ragu karena kematiannya itu akan mendapat ganjaran dari Allah SWT dan pintu surga terbuka menanti kedatangan mereka.

Kemudian Masyitah dan anak-anaknya pun terjun ke kuali yang mendidih tersebut tanpa mengeluarkan jeritan dari mulutnya. Saat itu pun terjadi keanehan di mana tiba-tiba terciumlah bau wangi yang harum semerbak dari kuali itu.

Asiah yang telah menyaksikan kejadian itu memarahi Fir'aun dengan kata-kata yang pedas dan tidak sudi lagi menjadi istri Fir'aun dan sanggup mati seperti Masyitah. Mendengar ucapan Asiah, Fir'aun menjadi marah dan menganggap bahwa Asiah sudah gila. Fir'aun kemudian menyiksa Asiah tanpa diberi makan dan minum sehingga Asiah meninggal dunia. Akan tetapi, sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, ia sempat berdoa kepada Allah SWT sebagaimana yang tersirat dalam Al-Qur'an, "Dan Allah mengemukakan satu misal perbandingan (yang mengatakan tidak ada mudaratnya) kepada orang yang mukmin, yaitu perihal istri Fir'aun, ketika ia berkata: Wahai Tuhanku! Bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga, dan selamatkanlah daku dari Fir'aun dan perbuatannya (yang kufur dan buas), serta selamatkanlah daku dari kaum yang zalim." (Surah At-Tahrim, ayat: 11). [Buku, kisah-kisah dalam al-Qur'an, Miftah F]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru