Iklan Atas Zona Muslim

Syarat-syarat Wajib Haji bagi Wanita yang Harus Dipenuhi
4/ 5 stars - "Syarat-syarat Wajib Haji bagi Wanita yang Harus Dipenuhi" Seorang wanita tidak diwajibkan melaksanakan ibadah haji kecuali sudah terpenuhi enam syarat: Beragama Islam Baligh Berakal Merdeka...

Syarat-syarat Wajib Haji bagi Wanita yang Harus Dipenuhi

Admin

Seorang wanita tidak diwajibkan melaksanakan ibadah haji kecuali sudah terpenuhi enam syarat:

  1. Beragama Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Mampu

Standar kemampuan haji di sini diukur dengan:

1. Tubuh yang sehat dan tidak sakit. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:

أن امرأة من خثعم قالت: يا رسول الله، إن أبي أدركته فريضة الله في الحج شيخا كبيرا لا يستطيع أن يستوي على الراحلة فاحج عنه؟ قال: حجي عنه

Seorang wanita dari Khats’am berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya ayahku yang telah tua memiliki kewajiban haji ia tidak sanggup lagi berkendaraan, apakah boleh aku menunaikan haji untuknya? Beliau berkata: berhajilah untuknya” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1855) dan Muslim (1334)]

2. Memiliki apa saja yang mencukupinya dalam perjalanannya, pelaksanaannya dan kembalinya, lebih dari yang dia butuhkan.

3. Kondisi jalan yang dia lewati aman, aman untuk dirinya juga hartanya.

4. Bersama dengan suami atau muhrim. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تسافرالمرأة إلا مع ذي محرم ولا يدخل عليها رجل إلا ومعها محرم؟ فقال رجل: يا رسول الله إني أريد أن أخرج في جيش كذا و كذا, و امرأتي تريد الحج, فقال: أخرج معها.

“Janganlah seorang wanita melakukan perjalanan kecuali dengan muhrimnya, dan tidaklah seorang laki-laki mendatanginya kecuali bersamanya muhrim”. Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah: “sesungguhnya aku ingin keluar dalam pasukan ini padahal istriku ingin berhaji” Beliau berkata: “keluarlah bersamanya.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (3006) dan Muslim (1341)]

Muhrim disini adalah suaminya atau yang diharamkan untuknya selamanya karena nasab atau sebab yang mubah seperti ayahnya, anak laki-lakinya, saudaranya senasab atau sesusuan. [Al-Mughni (3/238)]

Maksud dari yang dipaparkan di atas adalah bahwasanya seorang wanita yang tidak mendapatkan seorang muhrim maka dia dianggap tidak mampu dan tidak wajib baginya melaksanakan ibadah haji.

Apakah seorang wanita meminta izin suaminya untuk berhaji?

1. Menurut ijma’ ulama, jika hajinya adalah haji sunnah atau dia berhaji untuk orang lain, maka wajib baginya meminta izin dari suaminya.

2. Apabila dia berangkat haji disebabkan nadzar, ketentuannya adalah apabila nadzarnya atas izin dari suaminya atau dia bernadzar sebelum pernikahannya kemudian dia memberi tahu suaminya. Suaminya kemudian menyetujuinya, maka sang suami tidak berhak melarangnya. Sedangkan jika nadzarnya tersebut tidak disukai oleh suaminya, maka dia berhak melarangnya.

3. Adapun untuk haji yang hukumnya wajib, jika sudah terpenuhi syarat dan wajibnya haji maka dia dianjurkan meminta izin dari suaminya. Suaminya tidak berhak melarangnya, kecuali jika dia memiliki alasan untuk melarangnya, sehingga tidak masalah menunda keberangkatan haji sampai tahun berikutnya.

Wanita yang Mewakilkan Haji Orang Lain

1. Jika seorang wanita meninggal dan belum melaksanakan haji baik itu haji yang hukumnya fardhu atau haji disebabkan nazar maka menjadi kewajiban bagi walinya mempersiapkan orang lain untuk mewakilkan hajinya dari harta wanita yang meninggal tersebut.

Musa bin Salamah berkata: “Aku menyuruh istri Sinan bin Salamah al-Juani bertanya pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai ibunya yang meninggal dan belum melaksanakan haji, apakah ibunya mendapatkan ganjaran pahalanya apabila dia yang menghajikannya? Beliau menjawab:

"نعم، لو كان على أمها دين فقضته عنها ألم يكن يجزى عنها؟ فلتحج عن أمها."

“Ya, sekiranya ibunya memiliki hutang kemudian dia yang melunaskan hutangnya, bukankah terhitung untuknya? Maka hendaklah dia berhaji untuk ibunya” [Hadits Riwayat: An-Nasa`i (5/116) Ahmad (1/279) dengan sanad shahih dan hadits semacamnya dari Buraidah dalam riwayat Muslim (1149) dan At-Tirmidzi (667)]

2. Seorang wanita boleh menghajikan wanita lain sebagaimana dalam hadits yang telah disebutkan sebelum ini. Oleh karena itu Syaikhul Islam berkata dalam Fatawa (13/26):“seorang wanita boleh menghajikan wanita lain sebagaimana dalam kesepakatan ulama baik itu adalah putrinya ataupun bukan”.

3. Dalam pendapat mayoritas ulama fikih, seorang wanita boleh menghajikan laki-laki, sebagaimana dalam hadits wanita Khats’am yang ingin menghajikan ayahnya lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya: “hajikanlah ia”.

4. Jika wanita tersebut ditemani oleh anaknya yang masih kecil maka dia mendapat pahala karena membawa anaknya dan karena dengan keberadaan anaknya menjauhkannya dari apa yang dapat dihindarkan karena keberadaan seorang muhrim. Dan juga, anak tersebut memerankan fungsi seorang muhrim. Sebab dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas mengenai kisah seorang wanita yang mengangkat bayinya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Apakah untuk bayi ini ada haji?” Beliau berkata: “Ya, dan bagimu satu pahala.” [Hadits Riwayat: Muslim (1336), Abu Daud (1736), dan An-Nasa`i (5/116)]

Di dalam hadits terdapat dalil diterimanya haji anak kecil dan dia juga mendapat pahala karena hajinya. Namun, dia tidak mendapat pahala haji karena salah satu dari syarat haji harus mencapai usia baligh.

5. Wanita yang mewakili haji orang lain harus sudah pernah melaksanakan ibadah haji.

Ini adalah pendapat sebagian besar ulama, begitupula yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Dan tidak ada yang menentang pendapat ini dari kalangan sahabat –sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah-

Faedah:

Laki-laki pun diperbolehkan mewakilkan haji seorang wanita. Ibnu Abbas meriwayatkan:

أتى رجل النبي صلى الله عليه وسلم فقال له: إن أختي نذرت أن تحج، و إنها ماتت، فقال النبي صلى الله عليه: لو كان عليها دين أكنت قاضيه؟ قال: نعم، قال فاقض الله فهو أحق بالقضاء

Seorang laki-laki mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata padanya: “Saudara wanitaku bernadzar haji tapi kemudian dia meninggal” Nabi pun bertanya: “Sekiranya dia memilliki hutang apakah kamu akan menunaikannnya?” Laki-laki itu berkata; “Ya” Beliau berkata: “Maka tunaikanlah hutangnya pada Allah, karena Allah lebih berhak untuk ditepati.”[HR Bukhari 6699]

Demikian penjelasan mengenai ukuran memenuhi syarat untuk melaksanakan ibadah haji.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru