Iklan Atas Zona Muslim

Kilas Penjelasan Riwayat Israiliyat
4/ 5 stars - "Kilas Penjelasan Riwayat Israiliyat" Sahabat yang dirahmati Alloh, pernahkah sobat mendengar istilah Israiliyat? Lalu apa maksud dari istilah tersebut? Baiklah dalam artikel ...

Kilas Penjelasan Riwayat Israiliyat

Admin

Sahabat yang dirahmati Alloh, pernahkah sobat mendengar istilah Israiliyat? Lalu apa maksud dari istilah tersebut? Baiklah dalam artikel ringkas ini akan dibahas tentang riwayat israiliyat.

Israiliyat dalam pengertian syariat adalah :

كل ما تسرب إلي التراث الإسلامي من أخبار قديمة منسوبة في أصل روايتها إلي مصدر يهودي أو نصراني

"Setiap apa yang disusupkan kepada warisan islami berupa berita-berita terdahulu yang disandarkan riwayat aslinya berasal dari sumber Yahudi atau Nashrani".

Imam al-Albani rahimahullah dalam salah satu fatwanya membagi israiliyat dari sisi yang menukil kisah-kisah terdahulu menjadi dua jenis :

1. Ini adalah kondisi umumnya atau kebanyakannya yakni kisah-kisah tersebut dinuki oleh ahli kitab kepada kita. Maka dalam hal ini diberlakukan hadits :

ما حدثكم أهل الكتاب فلا تصدقوهم ولا تكذبوهم وقولوا آمنا بالله ورسله فإن كان باطلا لم تصدقوه وإن كان حقا لم تكذبوه

"Apa yang diceritakan oleh ahlu kitab kepada kalian, maka jangan benarkan dan jangan dustakan, tapi katakanlah, "kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya", jika itu ternyata adalah kebatilan, maka jangan benarkan dan jika itu adalah kebenaran, maka jangan dustakan" (HR. Abu Dawud, dishahihkan al-Albani).

2. Ini adalah sedikit, yakni yang langsung dikatakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam kepada kita tentang kisah-kisah tersebut. Maka ini adalah israiliyat yang shahihah. Seperti kisah Nabiyullah Musa alaihis salaam yang memukul malaikat maut yang mendatanginya dalam rupa manusia untuk mencabut nyawanya.

Kemudian timbangan untuk menerima dan menolak kisah israiliyat telah disebutkan dalam hadits Abu Dawud diatas, yakni ada tiga kriteria:

A. Sesuai dengan syariat kita. Maka dalam hal ini tidak mengapa menceritakan israiliyat dalam jenis ini, karena telah diizinkan oleh Nabi kita yang mulia :

وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج

"Ceritakanlah dari Bani Israil dan tidak mengapa" (HR. Bukhori).

Hadits ini dibawa kepada pengertian jenis ini, sebagaimana perkataan Imam Syafi'i yang dinukil oleh Al Hafidz dalam Fathul Bari :

من المعلوم أن النبي صلى الله عليه وسلم لا يجيز التحدث بالكذب، فالمعنى: حدثوا عن بني إسرائيل بما لا تعلمون كذبه

"Sudah diketahui bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam tidak mengizinkan bercerita dengan kedustaan, maka maknanya, "ceritakanlah dari Bani Israil terkait hal yang kalian tidak mengetahuinya mengandung kedustaan".

B. Menyelisihi syariat kita. Jenis ini tidak boleh kita riwayatkan. Imam Ibnu Katsir dalam "al-Bidayah wa an-Nihayah" mengatakan :

وما شهد له شرعنا منها بالبطلان فذاك مردود لا يجوز حكايته، إلا على سبيل الإنكار والإبطال

"Apa yang syariat kita menetapkan kebatilannya, maka kisah tersebut adalah tertolak dan tidak boleh meriwayatkannya, kecuali sekedar untuk mengingkari dan menampakkan kebatilannya".

C. Syariat kita mendiamkannya, tidak membenarkannya dan tidak juga mengingkarinya. Jenis yang ini, maka kita tawaquf, boleh untuk menceritakannya tapi sekedar pelengkap saja, bukan sebagai sandaran utama, apalagi dalam masalah akidah. Imam Ibnu Katsir berkata :

محمول على الإسرائيليات المسكوت عنها عندنا، فليس عندنا ما يُصدِّقها ولا ما يُكذِّبها، فيجوز روايتها للاعتبار

"Lalu dibawa israiliyat yang didiamkan oleh syariat kita kepada pengertian tidak kita benarkan dan tidak kita dustakan, boleh meriwayatkannya sekedar untuk pelengkap".

Imam al-Albani banyak memberikan contoh-contoh hadits israiliyat terutama dalam bidang akidah yang menunjukkan kebatilannya karena dibangun diatas keyakinan mereka yang menyimpang terhadap Allah dan para Nabi serta penyelewengan akidah lainnya. Asy-Syaikh Ramadhan Ghanaam Hafizhahullah telah mengumpulkannya dan akan saya nukilkan beberapa contohnya :

✓ Hadits Qatadah bin an-Nu'man yang menemui Abu Sa'id al-Khudriy :

إن الله عز وجل لما قضى خلقه استلقى، ثم وضع إحدى رجليه على الأخرى، ثم قال: لا ينبغي لأحد من خلقي أن يفعل هذا، قال أبو سعيد: لا جرم لا أفعله أبدًا.

"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla setelah selesai menciptakan, Dia berbaring terlentang, lalu meletakkan salah satu kakinya diatas kaki lainnya, lalu berfirman : "tidak layak seorang pun dari makhuk-Ku yang tidur seperti tidurku ini".

Maka Abu Sa'id radhiyallahu anhu berkata : "aku tidak akan melakukannya lagi selama-lamanya".

Asy-Syaikh al-Albani dalam "adh-Dhoifah" (II/178) mengomentarinya :

"Hadits ini tercium aroma yahudiyyah yang mereka berkeyakinan bahwa Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa setelah selesai penciptaan langit dan bumi lalu beristirahat. Maha Tinggi Allah dari apa yang diucapkan oleh orang-orang yang zalim tersebut. Makna ini hampir jelas disinggung dalam hadits diatas, karena berbaring tidaklah itu dilakukan kecuali karena istirahat, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan. aku (al-Albani) berkeyakinan bahwa hadits ini aslinya dari israiliyat, aku melihat dalam ucapan Abu Nashr al-Ghaaziy bahwa dia meriwayatkan dari Ka'ab al-Akhbar, maka ini memperkuat apa yang telah aku sebutkan. Abu Nashr juga menyebutkan bahwa diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhumaa dan Ka'ab bin 'Ujrah secara mauquf, maka keduanya seolah-olah - jika benar riwayatnya - mengambilnya dari Ka'ab al-Akhbar, sebagaimana ini yang sering berlaku dalam hadits-hadits israiliyat, lalu sebagian perawi keliru, sehingga mereka mengangkatnya kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam".

Imam Baihaqi dan ulama lainnya pun memberikan penilaian mungkar atas hadits ini, dan yang menunjukkan kemungkaran-nya, asy-Syaikh al-Munajid mengatakan :

ومما يدل على نكارته ما رواه البخاري (475) ، ومسلم (2100) عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ ، عَنْ عَمِّهِ : " أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَلْقِيًا فِي المَسْجِدِ ، وَاضِعًا إِحْدَى رِجْلَيْهِ عَلَى الأُخْرَى ) زاد البخاري : " وَعَنْ ابْنِ شِهَابٍ ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المُسَيِّبِ، قَالَ: كَانَ عُمَرُ، وَعُثْمَانُ يَفْعَلاَنِ ذَلِكَ " .

"Diantara yang menunjukkan kemungkaran-nya adalah apa yang diriwayatkan Bukhori (no. 475) dan Muslim (no. 2100) dari ibnu Syihaab, dari 'Abbad bin Tamiim dari pamannya : "bahwa ia melihat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berbaring terlentang di masjid, lalu meletakkan salah satu kakinya diatas kaki lainnya".

Bukhori menambahkan : "dari ibnu Syihaab, dari Sa'id ibnul Musayyib beliau berkata : "Umar dan Utsman juga mengerjakan seperti itu".

✓ Riwayat yang disebutkan dalam tafsir ath-Thabari bahwa Nabiyullah Dawud mengutus salah satu tentaranya agar terbunuh sehingga ia bisa menikahi istrinya yang memikat hati Nabi Dawud alaihis salaam. Imam al-Albani mengomentari kisah ini :

"Zhahirnya bahwa ini adalah termasuk israiliyat yang dikisahkan oleh ahli kitab yang tidak berkeyakinan terhadap kemaksuman para Nabi..." (Adh-Dhoifah (I/485).

✓ hadits-hadits tentang umur dunia. Asy-Syaikh Rasyid Ridho rahimahullah dalam kitabnya tafsir al-Manar mengomentari :

وما جاء في الآثار من أن عمر الدنيا سبعة آلاف سنة، مأخوذ من الإسرائيليات التي كان يبثها زنادقة اليهود والفرس في المسلمين

"Apa yang datang atsar-atsar tentang umur dunia yaitu 7000 tahun, maka ini diambil dari israiliyat yang ditebarkan oleh orang-orang zindiq dari kalangan Yahudi dan orang-orang persia dari kalangan kaum Muslimin".


Referensi : https://ar.islamway.net/article/25801/
Abu Sa'id Neno Triyono

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru