Iklan Atas Zona Muslim

Imma'ah dan Mutalawwin, Karakter Munafiq
4/ 5 stars - "Imma'ah dan Mutalawwin, Karakter Munafiq" Suatu hari, Rasulullah SAW berada di tengah-tengah para sahabatnya. Beliau berpesan agar mereka tidak terjebak dalam perilaku imma'ah...

Imma'ah dan Mutalawwin, Karakter Munafiq

Admin

Suatu hari, Rasulullah SAW berada di tengah-tengah para sahabatnya. Beliau berpesan agar mereka tidak terjebak dalam perilaku imma'ah. Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu imma'ah?”

Rasulullah mengungkapkan bahwa imma'ah adalah orang yang mengatakan, pokoknya saya turut orang banyak. Jika orang banyak berbuat baik, saya akan berbuat baik. Tetapi jika mereka berbuat jahat, saya juga akan berbuat jahat. Mantapkan dirimu, kata Rasul lagi, jika orang berbuat baik, maka seyogyanya kamu berbuat baik. Namun, bila mereka berbuat jahat, maka tinggalkanlah kejahatan mereka. Baca juga: Tiga Pilar utama Aqidah Seorang Mukmin

Menilik peringatan Rasulullah SAW tersebut, seorang Muslim dilarang bersikap oportunis. Seperti perilaku pucuk aru, senantiasa mengikuti arah angin. Jika angin ke barat, ia pun turut ke barat. Jika angin ke timur, ia pun ikut ke timur.

Pada era materialistik dan hedonistik ini, perilaku imma'ah sudah menjadi trade mark kehidupan. Orang tidak peduli lagi dengan nilai-nilai transendental (baca: agama). Padahal, di tengah upaya memanusiakan manusia, nilai agama berperan penting, yakni sebagai basic development, Akibatnya, demi memuaskan nafsu duniawi, seseorang rela meluluhlantakkan rambu-rambu agama yang dianggap “merintangi” jalannya.

Profil Munafiqin

Perilaku imma'ah, biasanya berkaitan dengan perilaku al-mutalawwin (plintat-plintut). Sahabat Ali bin Abi Thalib menasihati para punggawanya agar membenci perilaku ini.

Kedua perilaku ini adalah prototipe orang-orang munafiqin (lihat QS. Al-baqarah : 8-16). Seperti bunglon, ia mengubah warna hanya untuk mencari selamat. Kalaupun ia mengekpresikan cara keberagamaannya, maka tidak lebih sebagai something to use not to live. Ia naik haji bukan karena patuh pada syari'at, melainkan karena unsur politis. Ia merestui “proyek-proyek” yang memiliki akses dengan ummat Islam, hanya karena ingin mendapat tempat di sisi kaum mayoritas tersebut. Buktinya, masih banyak tempat-tempat maksiat belum dibumihanguskan. Akibatnya, terjadilah suatu fenomena manusia yang mematuhi sebagian isi al-Qur'an dan memusuhi bagian lainnya. (QS. al-Baqarah: 85).

Sikap bunglon ini biasanya melahirkan pragmatisme. Penganutnya rela meninggalkan nilai-nilai kebenaran untuk mencapai sesuatu yang sifatnya duniawi. Bahayanya, ketika kabut pragmatisme sudah menyelimuti kehidupan masyarakat, mereka yang berpegang teguh kepada ajaran agamanya (baca: Islam), menjadi tersisih. Sementara itu, para pencari muka menempati “posisi” yang makin tinggi.

Berpegang teguh pada al-Islam dipandang cemoohan. Mereka dikecam sebagai fundamentalis, a historis, skriptualis, ekstrimis, dan radikalis. Dan lebih tragis lagi mereka dicap sebagai kelompok yang anti kemapanan dan melawan policy yang telah baku; Hanya karena memakai jilbab, seorang bahkan puluhan wanita dapat dievakuasi dari sekolah dan ditahan ijazahnya atau dikeluarkan dari pekerjaannya jika bekerja dalam suatu perusahaan yang apriori dengan nilai-nilai agama. Mereka yang jujur dalam pekerjaan dianggap bodoh dan anti kaya.

Contoh lain, hanya karena ingin melaksanakan pernikahan yang dibingkai oleh nilai Islam, sang calon pengantin dicap sebagai orang yang melawan adat istiadat setempat walaupun adat yang bersumber dari nenek moyang itu antagonis dengan aqidah Islam.

Bersama pragmatisme, muncul ketidak-konsistenan. Tidak konsisten antara teori dan aksi, antara keyakinan dan tindakan. Misalnya, kita menyuruh orang untuk mengencangkan ikat pinggang sementara kita asyik menumpuk kekayaan. Kita mendendangkan ekonomi kekeluargaan, sembari membiarkan para konglomerat dan anak-anak pejabat untuk manipulasi, kolusi, dan monopoli dengan alasan yang dicari-cari.

Istiqamah

Istiqamah adalah lawan imma'ah dan aI-mutalIawwin. Al-Qur‘an menuntut ummat Islam agar idealis. (Lihat, QS. Al Ahqaf: 13-14). Karena idealis yang dibingkai dengan aqidah yang murni merupakan obat mujarab untuk mengikis perilaku imma’ah dan watak bunglon. Singkatnya, istiqamah adalah sifat asasi yang harus menjadi karakter setiap Muslim. Untuk menjadikan istiqamah sebagai mana'ah dari virus imma'ah dan al-mutallawwin, setiap Muslim harus menyuntikkan imunisasi dalam dirinya berupa:

Pertama: Tarbiyah Dzatiyah (pembinaan pribadi). Pembinaan ini dilakukan atas kesadaran sendiri dan perasaan diawasi oleh Allah SWT (muraqabatullah). Dimana saja dan kapan saja, kita tetap always dengan Islam.

Kedua: Aqidah Salimah (tauhid yang murni bersih dari berbagai kesyirikan) Aqidah yang terhujam dalam diri seorang Muslim adalah aqidah yang murni. Aqidah yang bebas dari polusi syirik dan khurafat. Inilah tauhid yang tegar seperti batu karang di lautan.

Ketiga: Ibadah Shahihah (ibadah yang benar) Ibadah yang tidak dicemari oleh penyimpangan atau bid'ah. Ibadah lni harus mengikuti perintah Rasulullah. Dalam ibadah yang sifatnya khusus, kita dilarang untuk melakukan inovatif dan kreatif. Untuk itu, kita disuruh sami'na dan wa atho'na.

Keempat: Akhlaqul Hamidah (akhlaq yang terpuji). Akhlaq yang terpantul dari al-Qur'an itulah yang diaplikasikan oleh seorang Muslim. Ketika Aisyah ditanya tentang akhlaq Rasul, ia menjawab bahwa akhlaq Rasulullah itu adalah al-Qur'an. Jika ingin melihat bagaimana al-Qur‘an berbicara tentang akhlaq, tengoklah tindak tanduk Rasulullah SAW. Rasulullah adalah Qur'an yang berjalan. Kata Allah SWT, jika Rasulullah bersikap keras dan kasar, maka pastilah orang-orang di sekitarnya akan lari tunggang langgang dari semaunya. Baca juga: Begini seharusnya Loyalitas Seorang Muslim

Semoga Allah SWT selamatkan kita dari sifat orang-orang munafik dan segala bentuk kemunafikan. Dan mewafatkan kita dalam keadaan muslim dan husnul khatimah. Aamiin.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru