Iklan Atas Zona Muslim

Hukum Imam Atau Makmum Shalat Di Tempat Yang Lebih Tinggi
4/ 5 stars - "Hukum Imam Atau Makmum Shalat Di Tempat Yang Lebih Tinggi" Mungkin ada kebiasaan yang dilakukan oleh sebagaian kalangan kaum muslimin, yaitu meninggikan posisi imam lebih tinggi dari posisi makmum...

Hukum Imam Atau Makmum Shalat Di Tempat Yang Lebih Tinggi

Admin

Mungkin ada kebiasaan yang dilakukan oleh sebagaian kalangan kaum muslimin, yaitu meninggikan posisi imam lebih tinggi dari posisi makmum atau sebaliknya posisi makmum lebih tinggi dari imam. Lalu apa hukumnya menurut pendapat para ulama? Simak penjelasannya berikut ini.

Imam Atau Makmum Shalat Di Tempat Yang Lebih Tinggi

1. Posisi Imam Lebih Tinggi Daripada Makmum

Dimakruhkan bagi imam berada di tempat yang lebih tinggi daripada makmum walaupun ada hajat ataupun tidak menurut mayoritas ulama.

Diriwayatkan dari Hammam radhiallahu 'anhu berkata:

أَنَّ حُذَيْفَةَ أَمَّ النَّاسَ بِالْمَدَائِنِ عَلَى دُكَّانٍ فَأَخَذَ أَبُو مَسْعُودٍ بِقَمِيصِهِ فَجَبَذَهُ, فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ: أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُنْهَوْنَ عَنْ ذَلِكَ؟ قَالَ بَلَى قَدْ ذَكَرْتُ حِينَ مَدَدْتَنِى.

“Hudzaifah menjadi imam di madain di atas tempat yang tinggi kemudian Abu Mas’ud menarik pakaiannya. Ketika selesai shalat ia berkata, “Apakah engkau tahu bahwa mereka dilarang melakukan hal itu?” Hudzaifah menjawab, “Ya, namun aku baru ingat ketika engkau menarikku.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (597), Ibnu Khuzaimah (1523), Hakim (1/210), Al-Baihaqi (3/108) hadits tersebut tidak ada masalah kecuali hadits mu’an’an A’amasy. Shahih sanadnya]

Imam syafi’i berpendapat, Aku setuju shalat imam berada di atas dengan tujuan memberikan pelajaran bagi makmum di belakangnya dengan cara melihat dan meniru gerakan imam. Hal ini juga disetujui oleh imam Ahmad dalam satu riwayatnya.

Hadits riwayat Sahl bin Sa’din ketika ditanya tentang mimbar kemudian berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلَّى عَلَيْهَا (يعني على المنبر) وَكَبَّرَ وَهْوَ عَلَيْهَا ثُمَّ رَكَعَ وَهْوَ عَلَيْهَا ، ثُمَّ نَزَلَ الْقَهْقَرَى فَسَجَدَ فِى أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ ، فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا وَلِتَعَلَّمُوا صَلاَتِى.

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat, takbir dan ruku’ di atas mimbar (tangga-tangganya) kemudian turun perlahan-lahan dan sujud di pangkal mimbar, beliau naik kembali. Setelah shalat selesai, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menghadap para sahabat dan bersabda, “Wahai manusia aku sengaja melakukan ini suapaya kalian mengikutinya dan tahu tata cara shalatku” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (917), Muslim (544)]

Penulis berkata: Tidak masalah jika imam mengerjakan shalat di tempat yang tinggi dikarenakan ada unsur kebaikan seperti mengajarkan masyarakat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits tersebut. begitu juga ketika ada keperluan seperti imam yang shalat di tingkat paling tinggi dalam masjid dan sebagian jama’ah berada di tingkat bawah.

2. Posisi Makmum Lebih Tinggi Daripada Imam

Tidak ada dalil yang melarang makmum berada di tempat yang lebih tinggi daripada imam ketika shalat terlebih lagi saat ada keperluan seperti masjid yang dipenuhi oleh jama’ah sehingga sebagian jama’ah melaksanakan shalat di tingkat atas. Hendaknya makmum mengetahui imam untuk mengikuti gerakan-gerakan imam supaya tidak mendahuluinya kecuali ada uzur. Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu menguatkan pendapat di atas.

كان بظهر البناء على ظهر المسجد فيصلى بصلاة الإمام.

“Bahwa ia berada di atas masjid dan shalat mengikuti imam.” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (2/223)]

Diriwayatkan dari Sa’id Bin Salim radhiallahu 'anhuma berkata:

رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ صَلَّى فَوْقَ ظَهْرِ الْمَسْجِدِ صَلَاةَ الْمَغْرِبِ، وَمَعَهُ رَجُلٌ آخَرَ» يَعْنِي وَيَأْتَمُّ بِالْإِمَامِ

“Aku melihat Salim Bin ‘Abdillah shalat maghrib di atas masjid bersama laki-laki dan mengikuti imam.” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (2/233)]

Mengikuti shalat Imam Dari Belakang Dinding

Apabila makmum berada di luar atau di dalam masjid dan terhalang oleh tembok maka boleh mengikuti imam dengan syarat masih mengikuti barisan menurut kesepakatan ulama. [Majmu’ Al Fatawa (23/407)]

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu 'anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ فِى حُجْرَتِهِ، وَجِدَارُ الْحُجْرَةِ قَصِيرٌ ، فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلاَتِهِ.

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melakukkan shalat malam di kamarnya, dan dindingnya rendah, sehingga para sahabat dapat melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam maka mereka mengikuti shalatnya.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (729), Muslim (782)]

Diriwayatkan dari Jabalah bin Abi Sulaiman radhiallahu 'anhuma berkata:

رأيت أنس بن مالك يصلى فى دار أبى عبد الله يشرف على المسجد له باب إلى المسجد فكان يجمع فيه ويأم بالامام.

“Aku melihat Anas Bin Malik shalat di rumah Abu Abdillah yang berada di depan masjid. pintu rumah itu mengarah ke masjid. Ia shalat berjamaah dan mengikuti shalat imam.” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (2/223)]

Apabila diantara shaf jama’ah terpisah oleh jalan yang dilewati oleh manusia atau sungai yang dilewati oleh perahu. Ada dua riwayat yang berbeda dari imam Ahmad tentang masalah tersebut. Riwayat pertama mengatakan tidak boleh, seperti ucapan imam Abu hanifah. Riwayat kedua membolehkan dan dikuatkan oleh ucapan imam Syafi’i dan imam Malik. [Majmu’ Fatawa (23/407) dan Al Mughni]

Inilah pendapat yang lebih jelas karena tidak ada nash dan ijma’ yang melarang. Hasan berkata:“Tidak mengapa engkau shalat namun terpisah oleh sungai antara dan imam.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (2/250) sebagai ta’liq]

Hendaknya seorang makmum mengetahui gerakan imam seperti mendengar takbir atau melihat shaf di depanya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika melihat para sahabat yang datang terlambat:

تَقَدَّمُوا فَائْتَمُّوا بِى وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ.

“Majulah kalian untuk menjadi makmum supaya melihatku dan kalian menjadi imam bagi orang di belakang kalian. Suatu kaum selalu mengambil tempat di belakang sehingga Allah menempatkan mereka di belakang.” [Hadits Riwayat: Muslim (438), Abu Daud (480), An-Nasa`i (2/83), Ibnu Majah (978)]

Abu Mujlaz berkata, “Ikutilah imam walaupun diantara kalian terpisah oleh jalan atau dinding apabila ia mendengar suara takbir imam.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (2/250) secara mu’alaq]

Penulis berkata: Hal ini karena ada keperluan seperti masjid yang penuh oleh jama’ah dan menyatu dengan lapangan. Pada dasarnya shaf harus bersambung dan berdekatan. Wallahu a‘alam.

Catatan penting: Tidak sah shalat mengikuti imam melalui siaran radio.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru