Iklan Atas Zona Muslim

Wanita-wanita yang Tidak Boleh Dikhitbah (Bag. 1)
4/ 5 stars - "Wanita-wanita yang Tidak Boleh Dikhitbah (Bag. 1)" Wanita Yang Tidak Boleh Dikhitbah (dilamar) dalam hukum islam ada tiga macam. Haram dikhitbah juga berarti haram dinikahi. Bagaimana jika...

Wanita-wanita yang Tidak Boleh Dikhitbah (Bag. 1)

Admin
Penjelasan Tentang wanita yang haram dikhitbah

Wanita Yang Tidak Boleh Dikhitbah (dilamar) dalam hukum islam ada tiga macam. Haram dikhitbah juga berarti haram dinikahi. Bagaimana jika menikah dengan wanita yang haram dikhitbah, apakah pernikahannya sah? Hal ini butuh perincian sebagaimana yang akan dijelaskan dibawah ini.

Wanita-wanita yang haram dikhitbah (dilamar)

1. Wanita- Wanita Yang Tidak Boleh Dinikahi Baik Untuk Selama-Lamanya Maupun Sementara Waktu.

Hal ini karena khitbah (melamar) adalah tahap permulaan menuju pernikahan, sementara pernikahan dalam hal ini adalah terlarang, maka demikian pula dengan khitbah. Adapun tentang perempuan-perempuan yang haram dinikahi, maka telah disebutkan di atas.

Hanya saja, halal bagi laki-laki meminang perempuan kafir --perempuan majusi dan selainnya-- untuk dinikahi jika perempuan itu masuk Islam. [Nihayah al-Muhtaj (VI/198)]

2. Wanita Yang Sedang Dalam Masa ‘Iddah (Al-Mu‘taddah).

Meskipun perempuan mu‘taddah masuk dalam cakupan keumuman perempuan-perempuan yang haram dinikahi sementara waktu --sebagaimana telah dijelaskan--, namun untuknya ada hukum-hukum dan rincian-rincian yang khusus, dan hukum khitbah untuk masing-masing perempuan mu‘taddah berbeda-beda sesuai perbedaan keadaannya.

Wanita Yang Sedang Dalam Masa ‘Iddah Tidak Terlepas Dari Keadaan Berikut.

a. Wanita Yang Sedang Menjalani ‘Iddah Karena Ditinggal Mati Suami.

Laki-laki tidak boleh menyampaikan khitbah kepadanya secara terang-terangan (tashrih), seperti mengatakan, “Aku ingin menikah denganmu.” Atau mengatakan, “Jika masa ‘iddah-mu habis, aku akan menikahimu.” Para ulama telah sepakat mengharamkannya. [Ibnu ‘Abidin (II/619), Mughni al-Muhtaj (III/135), dan Kasyf al-Qana‘ (V/18)] Namun, boleh bagi pihak laki-laki menyampaikan keinginan menikahi perempuan tersebut dengan sindiran (ta‘ridh), tidak dengan terang-terangan.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنتُمْ فِي أَنفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَٰكِن لَّا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلَّا أَن تَقُولُوا قَوْلًا مَّعْرُوفًا وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Dan tidak ada dosa bagi kalian meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kalian menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hati. Allah mengetahui bahwa kalian akan menyebut-nyebut mereka. Karena itu, janganlah kalian mengadakan janji menikah dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma’ruf. Dan janganlah kalian berazzam (bertetap hati) untuk berakad nikah sebelum habis ‘iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kalian, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Santun.” [Surat al-Baqarah:235]

Di samping itu, jika laki-laki yang melamar menyampaikan lamarannya secara terang-terangan, yang menunjukkan bahwa keinginannya menikahi perempuan tersebut telah bulat, maka bisa jadi kemudian perempuan tersebut berdusta dengan mengatakan bahwa masa ‘iddahnya telah berakhir.

Syaikh al-Islam (32/8) berkata, “Laki-laki yang melakukan hal tersebut (yaitu menyampaikan pinangan secara terang-terangan kepada perempuan mu‘taddah) layak mendapatkan hukuman yang akan menghalanginya dan orang semisalnya dari keinginannya tersebut. Jadi, laki-laki pelamar dan perempuan yang dilamar dua-duanya harus dihukum, dan si laki-laki dicegah dari menikahi si perempuan sebagai hukuman baginya dengan diberi kebalikan dari keinginannya.”

At-Ta‘ridh (sindiran), kata sebagian ulama, adalah perkataan yang mengandung makna yang bercabang, antara makna yang diinginkan oleh pembicara dan yang bukan, hanya saja penunjukannya kepada makna yang diinginkan jauh lebih sempurna. [Mawahib al-Jalil (III/417), Nihayah al-Muhtaj (VI/199), dan Asna al-Mathalib (III/115)]

Sebagian lain mengatakan bahwa artinya adalah perkataan yang memiliki dua kemungkinan makna antara keinginan menikahi dan selainnya. Misalnya, ucapan: “Barangkali ada yang suka padamu.” Atau, “Siapa lagi yang bisa mendapatkan orang sepertimu?”

Penulis berkata: Di antara bentuk-bentuk kalimat sindiran adalah penafsiran Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ

“Dan tidak ada dosa bagi kalian meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran."

Dia berkata, “Misalnya mengatakan, ‘Aku ingin menikah dan aku berharap Allah memudahkan bagiku mendapatkan perempuan yang shalih.” [Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5124), ath-Thabari (5099), dan Ibnu Abi Syaibah (IV/257)]

b. Wanita Yang Menjalani Masa ‘Iddah Karena Talak Raj‘I (Talak Pertama Atau Kedua).

Tidak boleh melamar perempuan ini dengan cara terang-terangan maupun dengan sindiran selama masa ‘iddahnya karena dia --dalam masa ‘iddahnya karena talak raj‘i-- masih berstatus istri orang yang sedang menunggu untuk dirujuk. Allah Subhanahu wata’ala sendiri tetap menamai perempuan yang menjalani masa ‘iddah karena talak raj‘i dengan istri dalam firman-Nya:

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُم بِالْمَعْرُوفِ

“Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir ‘iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula).” [Surat al-Baqarah:232]

Jadi, pernikahannya dengan suami pertama masih berjalan sehingga melamarnya dengan sindiran pada saat itu dapat dianggap sebagai menyelingkuhi istri orang, dan karena si istri telah disakiti dengan talak, maka bisa saja karena ingin membalas dendam (kepada suaminya), dia lalu berdusta bahwa masa ‘iddahnya telah berakhir. Dengan dasar ini, para ulama sepakat menyatakan ketidak bolehannya. [Jawahir al-Iklil (I/276), Nihayah al-Muhtaj (VI/18), dan al-Iqna‘ (II/76)]

c. Wanita Yang Menjalani Masa ‘Iddah Karena Talak Bain (Talak Ketiga).

Para ulama bersepakat menyatakan tidak boleh melamar perempuan ini dengan cara terang-terangan. Namun, mereka berbeda pendapat dalam hal melamarnya dengan sindiran menjadi dua pendapat. [Ibnu ‘Abidin (II/619), Jawahir al-Iklil (I/276), Nihayah al-Muhtaj (VI/199), dan al-Mughni (VI/608)]

Pertama: Boleh Dengan Sindiran. Ini pendapat jumhur ulama, yaitu: Malikiyah, Syafi‘iyyah --dalam pendapat mereka yang paling kuat-- dan Hanabilah. Argumen mereka adalah sebagai berikut.

1. Keumuman firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُم بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ

“Dan tidak ada dosa bagi kalian meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran.” [Surat al-Baqarah:235]

2. Hadits Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya setelah suaminya menjatuhkan talak tiga kepadanya,

اعْتَدِّي عِنْدَ ابْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ، فَإِنَّهُ رَجُلٌ أَعْمَى تَضَعِينَ ثِيَابَكِ، فَإِذَا حَلَلْتِ فَآذِنِينِي

“Tunggulah masa ‘iddahmu di rumah Ibnu Ummi Maktum sebab dia adalah laki-laki yang buta, sehingga kamu bisa bebas menaruh pakaianmu di sana. Jika kamu telah halal (selesai masa ‘iddah), beritahukanlah kepadaku.”

Dalam lafazh yang lain:

لَا تَسْبِقِينِي بِنَفْسِكِ

“Janganlah kamu mendahuluiku dalam (memutuskan) urusanmu.” [Shahih. Hadits Riwayat: Muslim (1480)]

An-Nawawi berkata, “Dalam sabda beliau ini terkandung bolehnya menyampaikan khitbah dengan cara sindiran kepada perempuan yang telah ditalak bain. Dan inilah yang benar menurut kami.”

3. Perempuan ini tidak boleh rujuk (kembali) kepada suami yang mentalaknya sebagaimana perempuan yang menjalani ‘iddah karena ditinggal mati suaminya tidak bisa kembali kepada mendiang suaminya itu. Kedua perempuan ini dalam status yang sama, berbeda dengan perempuan yang menjalani ‘iddah karena ditalak raj‘i.

Kedua: Tidak Boleh Dengan Sindiran. Ini pendapat Hanafiyah dan pendapat lain dari Syafi‘iyah yang berlawanan dari pendapat mereka yang lebih kuat. Argumen mereka adalah sebagai berikut.

1. Bahwa nash yang membolehkan cara sindiran dalam menyampaikankhitbah --yaitu ayat 235 surat al-Baqarah-- hanya berlaku untuk perempuan mu‘taddah (yang sedang menjalani masa ‘iddah) karena ditinggal mati suaminya, maka tidak boleh memberlakukannya untuk perempuan-perempuan yang mu‘taddah karena alasan lainnya.

2. Karena terkadang suami yang mentalak merasa tersakiti dengankhitbah dengan cara sindiran kepada istrinya sehingga menimbulkan rasa bencinya.

Penulis berkata: Pendapat yang rajih adalah yang mengatakan boleh dengan cara sindiran berdasarkan hadits Fathimah binti Qais. Wallahu a‘lam.

Catatan tambahan:

1. Jika seorang laki-laki melamar seorang perempuan dalam masa ‘iddah secara terang-terangan (sharihah) kemudian dia menikahinya setelah berakhirnya masa ‘iddah, maka dia berdosa, sedangkan pernikahannya sah. Adapun jika dia menikahinya dalam masa ‘iddah, maka pernikahannya batil sebagaimana telah dijelaskan. Ini karena khitbahtidak menyertai akad nikah sehingga tidak mempengaruhinya, dan karena khitbah bukan syarat sah pernikahan, maka pernikahan tidak fasakh hanya karena khitbah tidak benar. Inilah pendapat jumhur ulama. [Al-Umm (V/32), Kasyf al-Qana‘ (V/18), dan Nail al-Authar (VI/131) cetakan terbaru]

2. Jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan yang sedang dalam masa ‘iddah, maka keduanya harus dipisahkan, dan si perempuan harus menyempurnakan masa ‘iddahnya dari suami pertamanya, kemudian menjalani masa ‘iddah dari suami yang kedua jika telah digauli olehnya. Dan mahar diserahkan kepada perempuan tersebut jika benar dia tidak tahu hukum pernikahan seperti itu, sedang jika dia tahu bahwa pernikahan seperti itu tidak boleh, maka imam kaum muslimin berhak memilih antara menyerahkan mahar itu kepadanya atau menyimpannya di Baitul Mal sebagai ta’zir (hukuman) atasnya. [Dari kitab Penulis Fiqh as-Sunnah li an-Nisa’ halaman 385 menukil dari Jami‘ Ahkam an-Nisa’(III/229)]

Dari Ibnu al-Musayyab dan Sulaiman bin Yasar bahwa Thulaihah awalnya adalah istri Rasyid ats-Tsaqafi kemudian Rasyid mentalaknya talak tiga. Setelah itu, dia menikah lagi saat masih menjalani masa ‘iddahnya, maka Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menjatuhkan hukuman cambuk kepadanya dan suami barunya beberapa kali cambukan menggunakan cambuk dari kayu, lalu memisahkan keduanya. Kemudian Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Perempuan manapun yang menikah lagi pada masa ‘iddahnya, jika suami barunya belum menggaulinya, maka cukup keduanya dipisahkan, kemudian dia harus menjalani sisa masa ‘iddah dari suami pertamanya, sedang suami barunya menjadi salah seorang pelamarnya. Tetapi jika suami barunya telah menggaulinya, maka keduanya harus dipisahkan, lalu dia harus menjalani sisa masa ‘iddah dari suami pertamanya kemudian menjalani masa ‘iddah dari suami keduanya, dan suami keduanya tidak boleh menikahinya selama-lamanya.” [Isnadnya shahih. Hadits Riwayat: al-Baihaqi (VII/441) dan Abdurrazzaq (10539)]

Penulis berkata: Bolehkah suami kedua maju sekali lagi untuk melamar dan menikahi perempuan tersebut --setelah perempuan itu menyelesaikan kedua masa ‘iddahnya--? Ataukah tidak boleh selama-lamanya?

Telah disebutkan di atas bahwa Umar radhiallahu ‘anhu melarangnya melakukan itu selama-lamanya. Dan ini dikatakan pula oleh Malik, al-Laits dan al-Auza‘i. Di pihak lain, Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu membolehkannya. Diriwayatkan dari ‘Atha’ bahwa pernah dilaporkan kepada Ali kasus seperti itu, maka dia memutuskan untuk memisahkan keduanya dan menyuruh si perempuan untuk menjalani sisa masa ‘iddahnya yang pertama kemudian menjalani ‘iddah baru untuk suami yang kedua. Setelah menyelesaikan ‘iddah keduanya, maka dia diberi pilihan antara menikah atau tidak.” Pendapat ini yang dipegang oleh jumhur ulama.

Yang tampak lebih kuat adalah pendapat Ali radhiallahu ‘anhu karena itulah hukum asalnya dan karena tidak ada dalil yang mendukung keputusan Umar radhiallahu ‘anhu, di samping boleh jadi Umar radhiallahu ‘anhu mengambil keputusan seperti itu hanya sebagai ta’zir.

Namun, jika saat menikahi perempuan tersebut pada masa ‘iddahnya, suami kedua tahu keharamannya, maka alasan melarang si suami menikahi kembali perempuan tersebut adalah untuk mencegah dia dari mendapatkan keinginannya dan memberinya kebalikan dari keinginannya itu. Wallahu a‘lam.

d. Perempuan Yang Menjalani Masa ‘Iddah Karena Nikah Yang Fasid Atau Fasakh.

Misalnya, perempuan yang menjalani masa ‘iddah karena li‘an atau karenariddah (suaminya murtad), atau perempuan yang menjalani istibra’(membuktikan kosongnya rahim dari kehamilan) karena berzina, atau tafriq(dipisahkan oleh hakim dari suaminya) karena suatu aib atau ‘annah (lemah syahwat), dan yang semisalnya. Jumhur ulama, yaitu Malikiyah, Syafi‘iyah, Hanabilah dan mayoritas Hanafiyah berpendapat bolehnya menyampaikan lamaran dengan cara sindiran kepada perempuan tersebut berdasarkan keumuman ayat 235 surat al-Baqarah dan pengiasan (analogi) kepada perempuan yang ditalak tiga, dan karena kekuasaan suami (atas dirinya) telah berakhir. [Al-Mawahib (III/417), ad-Dasuqi (II/218), Mughni al-Muhtaj (III/136), dan Mathalib Uli an-Nuha(V/23)]

Semua hukum tersebut hanya berlaku pada selain pemilik ‘iddah (suami yang menyebabkan istri menjalani masa ‘iddah) yang halal menikahinya kembali pada masa ‘iddah tersebut. Adapun dia (suami pemilik ‘iddah), maka halal baginya melamar (mantan istrinya) baik dengan cara sindiran ataupun terang-terangan. Wallahu a'lam bish shawab.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru