Iklan Atas Zona Muslim

Posisi Imam Dan Makmum dalam Shalat Berjamaah
4/ 5 stars - "Posisi Imam Dan Makmum dalam Shalat Berjamaah" Dalam shalat berjamaah ada imam dan makmum. Jumlah minimal shalat berjamaah dua orang dan jumlah maksimal tidak ada batasan. Peserta shal...

Posisi Imam Dan Makmum dalam Shalat Berjamaah

Admin
Posisi imam dan makmum

Dalam shalat berjamaah ada imam dan makmum. Jumlah minimal shalat berjamaah dua orang dan jumlah maksimal tidak ada batasan. Peserta shalat jamaah boleh diikuti oleh laki-laki dan perempuan dewasa serta anak laki-laki dan perempuan. Lalu bagaimana Posisi Imam Dan Makmum dalam keadaan seperti diatas? Berikut ini uraiannya.

1. Shalat Seorang Makmum Bersama Imam

Apabila seorang laki-laki shalat sendiri bersama imam maka ia berdiri sejajar di sebelah kanan imam tanpa sedikit bergeser ke belakang seperti yang dikatakan oleh mazhab Syafi’iyah. Hal ini terjadi pada kisah Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma ketika shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

ثُمَّ قَامَ يُصَلِّى (أي النَّبِى صلى الله عليه وسلم) فَقُمْتُ فَصَنَعْتُ مِثْلَ مَا صَنَعَ ، ثُمَّ ذَهَبْتُ ، فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ ، فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِى ، وَأَخَذَ بِأُذُنِى الْيُمْنَى ، يَفْتِلُهَا ، فَصَلَّى

“Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam berdiri dan melaksanakan shalat, aku (Ibnu Abbas) meniru berdiri dan shalat sama seperti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Aku pergi dan berdiri di sampingnya kemudian Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam meletakan tangannya di atas kepalaku dan memegang telinga kananku seraya menariknya kesebelah kanan. Kemudian beliau meneruskan shalatnya." [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (183), Muslim (763)]

Dalam riwayat lain, ”Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat aku mundur, setelah Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya beliau berkata padaku, “Mengapa ketika aku meletakanmu sejajar denganku, engkau malah mundur?.” [Hadits Riwayat: Ahmad (1/330) dengan sanad shahih namun zhahir riwayatnya syadz]

Diriwayatkan dari kisah Jabir radhiallahu 'anhu yang shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

فَجَاءَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ خَالَفَ بَيْنَ طَرَفَيْهِ فَقُمْتُ خَلْفَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِى فَجَعَلَنِى عَنْ يَمِينِهِ.

“Beliau datang lalu berwudhu dan shalat dengan satu pakaian dan menyelempangkan diantara dua sisinya kemudian aku berdiri di belakangnya. Kemudian beliau memegang telingaku dan mengalihkan posisiku ke sebelah kanannya.” [Hadits Riwayat: Muslim (766), Ahmad (3/351)]

Kisah shalat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam –pada saat sakit yang menyebabkan kematian beliau- di samping Abu Bakar Radhiallahu 'anhu. Aisyah radhiallahu 'anha berkata:

فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِذَاءَ أَبِى بَكْرٍ إِلَى جَنْبِهِ ، فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يُصَلِّى بِصَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ أَبِى بَكْرٍ.

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam duduk sejajar dengan Abu Bakar Radhiallahu 'anhu yang berada di sampingnya. Abu Bakar mengikuti shalat rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat lainnya mengikuti shalat Abu Bakar.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (683), Muslim (418)]

2. Shalat Dua Orang Atau Lebih Bersama Imam

Apabila dua orang laki-laki shalat bersama imam maka posisi mereka berada di belakang imam membentuk satu shaf. Ini merupakan kesepakatan ulama mulai dari sahabat kecuali Ibnu Mas’ud dan dua orang sahabatnya.

Diriwayatkan dari Jabir radhiallahu 'anhu :

ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخَذَ بِيَدِى فَأَدَارَنِى حَتَّى أَقَامَنِى عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ.

“Kemudian aku datang lalu berdiri di sebelah kiri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau meraih tanganku lalu memutarku hingga menempatkanku di sebelah kanan beliau. Setelah itu Jabbar bin Shakhr tiba. Ia berwudhu lalu datang kemudian berdiri di sebelah kiri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam, lalu beliau meraih tangan kami lalu kami ditempatkan di belakang beliau.” [Hadits Riwayat: Muslim (3006) dengan hadits yang panjang, Ibnu Majah (974), Ahmad (3/421)]

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik Radhiallahu 'anhuma berkata:

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِى بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَأُمِّى -أُمُّ سُلَيْمٍ- خَلْفَنَا.

“Aku dan anak yatim shalat di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di rumah kami sedangkan ibuku (Ummu Sulaim) di belakang kami.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (727), Muslim (658)]

Ibnu Mas’ud menyatakan bahwa salah satu makmum berada di kanan imam dan makmum lainnya di sebelah kirinya.

Diriwayatkan dari Aswad dan Alqamah, mereka melaksanakan shalat bersama Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhuma di rumahnya, keduanya berkata:

وذهبنا لنقوم خلفه فأخذ بأيدينا فجَعَلَ أَحَدَنا عَنْ يَمِينِهِ وَالآخَرَ عَنْ شِمَالِه فلما رَكَع وَضَعْنَا أَيْدِيَنَا عَلَى رُكَبِنَا قال: فَضَرَبَ أَيْدِيَنَا ثُمَّ طَبَّقَ بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ أدخلهما بَيْنَ فَخِذَيْهِ .... ثم قَالَ هَكَذَا فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.

“Kami berdiri di belakangnya. Kemudian ia menarik tangan kami, lalu ia menempatkan masing-masing kami di sebelah kanan dan kirinya. Ketika ia rukuk, kami meletakkan tangan di lutut'. Ia berkata, 'Tetapi Abdullah memukul tangan kami, dan ia mempertemukan kedua telapak tangannya lalu memasukannya ke antara dua pahanya' Kemudian ia berkata, “Seperti inilah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat.” [Hadits Riwayat: Muslim (534), Abu Daud (613), An-Nasa`i (2/49)]

Para ulama seperti Imam Syafi’i menyatakan bahwa hadits di atas adalah mansukh(telah dihapus) karena ada sebagian tata cara shalat dan hukum-hukumnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam saat berada di Makkah sudah tidak di pakai lagi, diantaranya adalah hadits di atas. Bisa diteliti ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam datang ke Madinah, beliau menggantinya. Jika tidak mengetahui sejarahnya tetap saja hadits ini tidak bisa dijadikan pedoman karena bertentangan dengan hadits-hadits sebelumnya. [Nailul Authar dan al-Muhalla]

Apabila imam shalat bersama jama’ah yang berjumlah tiga orang atau lebih maka para jama’ah harus berada di belakang imam. Ijma’ ulama dan hadits yang menerangkan demikian menjadi dalil yang nyata.

Tidak boleh seorang makmum berada di depan posisi imam karena tidak sah shalat berjama’ah kecuali posisi imam berada di depan makmum. Mayoritas ulama mengatakan bahwa shalat seorang makmum menjadi batal apabila berada di depan posisi imam. Berbeda dengan imam Malik, Ishaq, Abu Tsaur dan Daud yang mengatakan makmum tersebut tidak batal shalatnya apabila tempatnya penuh sesak bahkan ada yang mengatakan tidak batal secara mutlak walaupun tempatnya tidak penuh. [Ibnu ‘Abidin (1/551), Dasuqi (1/331), Mughni al Muhtaj (1/490), Kasyaf Al-Qonna’ (1/485), Al Inshaf (2/280)]

Shalat Di Samping Imam

Bagi Makmum Yang Tidak Mendapatkan Tempat Di Masjid

Seseorang yang masuk masjid dan tidak menemukan tempat karena shaf sudah penuh maka boleh berdiri di samping imam seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika sakit dan Abu Bakar menjadi imam para sahabat lainnya.

فَلَمَّا رَآهُ أَبُو بَكْرٍ اسْتَأْخَرَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىْ كَمَا أَنْتَ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ حِذَاءَ أَبِى بَكْرٍ إِلَى جَنْبِهِ.

“Saat Abu Bakar melihat Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam ia mundur, Rasulullah memberi isyarat padanya agar tetap pada posisinya semula kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam duduk sejajar di samping Abu Bakar.”

Dalam riwayat lain tentang kisah perginya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menemui Bani ‘Amr bin ‘Auf dengan tujuan untuk mendamaikan pertikaian yang terjadi diantara mereka dan Abu Bakar menjadi imam bagi sahabat lainnya

فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - وَالنَّاسُ فِى الصَّلاَةِ ، فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِى الصَّفِّ ... و فى لفظ لمسلم فَخَرَقَ الصُّفُوفَ حَتَّى قَامَ عِنْدَ الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ.

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam datang ketika para sahabat mengerjakan shalat dan menyelesaikannya hingga berdiri pada shaf. Riwayat Muslim menyebutkan bahwa Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam melewati shaf-shaf sampai berada pada barisan terdepan.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (684), Muslim (421)]

3. Shalat seorang Wanita bersama imam

Apabila seorang wanita shalat bersama imam maka berdiri di belakang jama’ah laki-laki walaupun tidak ada wanita selain dirinya begitu juga apabila ia shalat hanya bersama imam maka shalat di belakang imam bukan disampingnya.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiallahu 'anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَلَّمَ قَامَ النِّسَاءُ حِينَ يَقْضِى تَسْلِيمَهُ ، وَهُوَ يَمْكُثُ فِى مَقَامِهِ يَسِيرًا قَبْلَ أَنْ يَقُومَ . نُرَى - وَاللَّهُ أَعْلَمُ - أَنَّ ذَلِكَ كَانَ لِكَىْ يَنْصَرِفَ النِّسَاءُ قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُنَّ الرِّجَالُ.

“Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam selesai mengucapkan salam para wanita berdiri, beliau diam sebentar di tempatnya sebelum beranjak berdiri. Menurutku beliau melakukan demikian supaya para wanita pergi terlebih dahulu dan tidak bertemu dengan laki-laki.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (870), Abu Daud (1040), An-Nasa`i (2/66), Ibnu Majah (932)]

Diriwayatkan dari Anas Bin Malik Radhiallahu 'anha berkata:

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِى بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَأُمِّى -أُمُّ سُلَيْمٍ-

“Aku dan anak yatim shalat di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di rumah kami sedangkan ibuku (Ummu Sulaim) di belakang kami.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhuma berkata:

كان الرجال و النساء فى بني إسرائيل يصلون جميعا فكَانَتِ الْمَرْأَةُ لها الخليل تَلْبَسُ الْقالبَيْنِ تطول بهما لخليلها فَأُلْقِيَ عَلَيْهِنَّ الْحَيْضُ. فكَانَ ابن مسعود يَقُولُ:أَخِّرُوهُنَّ حَيْثُ أَخَّرَهُنَّ اللَّهُ.

“Dulu laki-laki dan wanita Bani Israil shalat bersama-sama dan ada seorang wanita mempunyai kekasih pria. Ia memakai sepatu hak tinggi agar bisa terlihat lebih tinggi oleh kekasihnya. Maka Allah pun menetapkan haid bagi mereka, kemudian Ibnu Mas’ud berkata, tempatkanlah mereka di belakang sebagaimana Allah menempatkan mereka di belakang.” [Hadits Riwayat: Abdurrazzaq (5115), At Thabrani (9384). Sanadnya shahih]

Apabila seorang laki-laki dan wanita shalat bersama imam maka posisi laki-laki berdiri di samping kanan imam dan wanita berdiri di belakang keduanya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma :

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjadi imam baginya dan seorang permpuan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan Anas berada di samping kanannya dan wanita berada di belakang mereka.” [Hadits Riwayat: Muslim (269), Abi Syaibah (2/88)]

Catatan tambahan:

Apabila wanita berada di depan sebagian jama’ah laki-laki maka shalatnya tetap sah menurut mayoritas ulama, berbeda dengan ulama hanafiyah yang mengatakan bahwa hal tersebut membatalkan shalatnya laki-laki dan shalat wanita tersebut tetap sah.

Penulis berkata: Bahwa shalat wanita tersebut batal dan ini adalah pendapat yang paling benar berdasarkan hadits: “Tidak sah shalat sendiri di belakang shaf”. Dan hadits yang menceritakan Ummu Sulaim yang melaksanakan shalat sendiri di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Anas dan anak yatim. Hal ini menunjukan shalatnya wanita batal apabila di depan jama’ah laki-laki atau bersama mereka jika memang tidak darurat.

4. Shalat Wanita Bersama Kaum Wanita

Apabila wanita shalat jama’ah bersama perempuan lainnya maka ia berdiri diantara mereka dan tidak berada di depan barisan terdepan.

Diriwayatkan dari Ribthah Al Hanafiyah radhiallahu 'anha, “Bahwa Aisyah menjadi imam bagi para wanita lainnya dan berdiri diantara mereka ketika shalat fardhu. [Hadits Riwayat: Abdurrazzaq (3.141), Daruquthni (1/404), Al-Baihaqi (3/131). Shahih karena ada hadits penguat]

“Dan dari Hajirah bahwa Ummu Salamah menjadi imam bagi wanita-wanita lain dan berdiri diantara mereka.” [Hadits Riwayat: Abdurrazzaq (3.140), Daruquthni (1/405), Al-Baihaqi (3/131). Shahih karena ada hadits penguat]

Apabila seorang wanita shalat bersama wanita-wanita lain namun posisinya lebih maju dari lainnya maka shalatnya tetap sah karena tidak ada dalil yang menentangnya. Hal ini bertentangan dengan hal yang lebih utama. Walahu a’alam.

5. Posisi Shaf Anak-Anak Ketika Shalat

يَجْعَلُ الرِّجَالَ قُدَّامَ الْغِلْمَانِ وَالْغِلْمَانَ خَلْفَهُمْ وَالنِّسَاءَ خَلْفَ الْغِلْمَانِ .

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan posisi laki-laki di depan anak-anak sedangkan wanita-wanita di belakang anak-anak.” Hadits ini dhaif.

Imam al-Bani berkata, “Aku tidak menemukan selain hadits di atas yang menerangkan posisi anak-anak di belakang laki-laki. Hadits tersebut tidak cukup kuat untuk diamalkan.

Baca juga: Posisi Imam Ketika Shalat Jenazah

Penulis berkata: Tidak menjadi masalah apabila anak-anak berdiri sejajar dengan laki-laki dengan syarat shaf masih kosong seperti hadits yang menceritakan anak yatim yang mengerjakan shalat berdiri sejajar dengan Anas di belakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.” [Tamamul Minnah (282)] Bahwa hadits Anas tersebut sudah cukup menjadi bukti kebenaran. Apabila anak-anak dilarang bersama barisan laki-laki maka Anas berdiri di sebelah kanan Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam, anak yatim di belakang mereka berdua dan Ummu Sulaim di belakang anak-anak. Waalahu a’alam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru