Iklan Atas Zona Muslim

Penjelasan Fatwa Hukum Makan Dan Budidaya Cacing Dan Jangkrik
4/ 5 stars - "Penjelasan Fatwa Hukum Makan Dan Budidaya Cacing Dan Jangkrik" Dunia ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat. Penelitian demi Penelitian terus dilakukan, dan penemuan-penemuan baru pun ditemukan. Hal...

Penjelasan Fatwa Hukum Makan Dan Budidaya Cacing Dan Jangkrik

Admin

Dunia ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat. Penelitian demi Penelitian terus dilakukan, dan penemuan-penemuan baru pun ditemukan. Hal-hal yang dahulu dianggap tidak berguna, tampak sepele, bahkan mungkin menjijikkan, kini berubah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan diperlukan.

Sesuai dengan kemajuan zaman dan meningkatnya kebutuhan kehidupan manusia, otak manusia tampaknya terus berinovasi dan berkreasi untuk menemukan hal-hal baru dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Adanya krismon (krisis moneter, ed.) dan krismi (krisis ekonomi, ed.) membawa hikmah dan berkah. Bukan saja menyadarkan manusia akan kelemahan dan kekerdilannya di tengah impitan dan gempuran badai kehidupan, di hadapan ke-Mahabesar-an Al-Khaliq, tetapi juga memaksa manusia untuk memeras otaknya agar dapat survive dalam percaturan hidup dan kehidupan ini.

Di antara sekian contoh aktual dari hal tersebut ialah maraknya budidaya cacing yang kian hari terus bertambah peminatnya. Cacing kini telah naik derajatnya, dari binatang yang menjijikkan yang dibenci, menjadi alat komoditas yang dapat mendatangkan duit. Satwa melata (al-Hasyarat) bertubuh ramping itu kini telah dinobatkan sebagai hewan multiguna. Produsen farmasi dan kosmetik konon memakai cacing untuk beberapa produknya. Bahkan ada obat untuk tifus yang dipopulerkan berbahan baku cacing. Selain itu, ia pun dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah dan menanggulangi masalah sampah. Subhanallah, Maha Suci dan Bijaksana Allah yang menjadikan segala sesuatu tiada terlepas dari hikmah dan faedah.

Contoh lain adalah jangkrik. Serangga yang di malam hari sering memamerkan kebolehan suaranya yang nyaring, penuh irama, dan indah yang oleh karenanya disebut Sharikh al-Lail itu, kini ternyata sangat diperlukan untuk pakan burung-burung piaraan.

Pada saat belum banyak taman burung dan pencinta yang gandrung memeliharanya, burung-burung bebas mencari makanan sendiri sesuai dengan seleranya. Setelah banyak taman burung dan banyak pencinta binatang menjadikan burung sebagai piaraan kesayangannya, kini burung-burung itu telah menjadi makhluk yang manja, bak raja dan ratu yang tinggal di istana indah. menyanyi dan bersukaria, dengan memaksa para pencintanya menjadi pelayan setianya. Mau tidak mau, mereka harus menyediakan menu makanan yang lezat dan cukup untuk keperluan hidup kesehariannya.

Di antara jenis serangga yang disajikan sebagai menu istimewa bangsa burung tersebut adalah jangkrik Bahkan ada burung tertentu yang apabila tidak diberi makanan jangkrik, suaranya parau, tidak bagus, tetapi begitu diberi makanan jangkrik, langsung berkicau dan manggung/bersuara nyaring dan indah. Tampaknya kenyaringan suara jangkrik yang dimakannya itu langsung mempengaruhi kicau dan suara si burung tersebut.

Kondisi tersebut mau tidak mau mendorong manusia untuk memeras otaknya, agar dengan cara mudah bisa mendapatkan jangkrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan burung-burung piaraan kesayangannya. Dari sini muncullah budidaya jangkrik. Dengan demikian, jangkrik yang tadinya hanya dapat dinikmati suaranya, kini telah menjadi sesuatu yang berharga yang membuka lapangan kerja dan mendatangkan fulus. Subhanallah...Rabbana Ma Khalaqta Hadza Bathila.

Analisa Fikih

Sekarang timbul pertanyaan, bagaimanakah hukum budidaya cacing dan jangkrik tersebut menurut kacamata Fikih Islam? Dapatkah hal tersebut dibenarkan sepanjang kajian Fikih? Bukankah kedua jenis satwa tersebut termasuk ke dalam kategori al-Khabaits atau al-Hasyarat yang menurut jumhur fuqaha hukumnya haram? Tulisan sederhana ini akan mencoba menjawab persoalan tersebut.

Imam Syafi'i dalam ar-Risalah menegaskan bahwa tak satu pun permasalahan kehidupan yang dihadapi oleh umat Islam kecuali hal itu ada solusinya (dapat diketahui status hukumnya) dalam Al-Quran Al-Karim (ada yang langsung/manshush dan ada yang tidak langsung/ghairu manshush/maskut 'anhu. Hal yang sama berlaku pada as-Sunnah sejalan dengan penegasan Rasul:

Ketahuilah, aku diberi kitab suci Al-Qur'an, dan as-Sunah yang kedudukannya sama dengan Al-Qur’an.

Dari penegasan Imam Syafl’i tersebut muncullah teori dalam kajian Ushul Fiqh bahwa kasus hukum (kasus yang ingin diketahui hukumnya) yang dihadapi oleh umat manusia itu dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, kasus yang ingin diketahui hukumnya itu telah manshush (ditegaskan hukumnya secara langsung, tegas, dan jelas) oleh teks Al-Qur'an atau as-Sunnah. Kedua, ghairu manshush/maskut ‘anhu (belum atau tidak ditegaskan hukumnya) oleh Al-Qur'an atau as-Sunnah.

Untuk kelompok pertama berlaku prinsip La majala lahu lil-ijitihad (tidak berlaku dan tidak diperlukan ijtihad) sementara itu untuk mengetahui status hukum kelompok kedua berlaku prinsip Lahu majal lil-ijtihad (berlaku dan diperlukan ijtihad).

Menurut hemat penulis, masalah budidaya cacing dan jangkrik termasuk kategori ghairu manshush/maskut 'anhu yang untuk mengetahui status hukumnya diperlukan ijtihad. Dengan demikian, masalahnya adalah ijtihadi. Menurut hemat penulis, pemecahan terhadap masalah ini dapat ditempuh lewat tiga pendekatan sebagai berikut:

A. Lewat approach kaidah yang dipedomani oleh jumhur ulama. "Pada dasarnya segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah/halal."

B. Lewat approach mashlahah mursalah/istishlah.

C. Lewat approach maqashid syari'ah (tujuan hukum Islam).

1. Pendekatan Kaidah al-Ashlu fi al-Manafi' al-Ibahah.

Budidaya cacing dan jangkrik merupakan kasus baru, hukumnya belum/tidak ditegaskan, bahkan belum disinggung sama sekali oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah, Dengan demikian, masalah tersebut termasuk katagori maskut 'anhu. Jumhur fuqaha berpendapat bahwa untuk menyelesaikan masalah yang maskut 'anhu hendaklah berpedoman pada kaidah:

“Pada dasarnya segala sesuatu yang bermanfaat adalah boleh/halal.

Kaidah ini besumber dari:

1. QS. Al-Baqarah [2], 29:

"Allah-lah yang menjadikan semua yang ada di bumi untuk kamu sekalian."

2. QS. Al-jatsiyah [45]: 13:

“Allah menundukkan untukmu semua yang ada di langit dan di bumi (sebagai rahmat) dari-Nya.”

3. QS. Luqman [31]: 20,

“Tidakkah kamu memperhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentinganmu) apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.”

Wajah istidlal/metode pengambilan dalil ketiga ayat di atas ialah bahwa semua yang ada di muka bumi dan di langit itu diciptakan oleh Allah SWT untuk kepentingan umat manusia. Hal ini berarti semuanya itu halal bagi umat manusia, kecuali bila membahayakan atau ada nas yang menyatakan keharamannya.

4. Hadits riwayat al-Hakim

Apa saja yang dihalalkan oleh dalam kitabnya adalah halal, dan apa saja yang diharamkannya hukumnya haram, dan apa saja yang Allah diamkan/tidak dijelaskan hukumnya dimaafkan untuk itu terimalah pemaafannya, sebab Allah tidak lupa tentang sesuatu apapun.

5. Hadis riwayat at-Turmudzi dan Ibn Majah:

Sesungguhnya Allah telah mewajibkn beberapa kewajiban, maka janganlah kamu sia-siakan, menentukan beberapa ketentuan, janganlah kamu langgar, mengharamkan beberapa keharaman, janganlah kamu rusak. Dan Allah tidak menjelaskan hukum beberapa hal karena sayang kepadamu, janganlah kamu cari-cari hukumnya.

Wajah istidlal kedua hadis di atas ialah bahwa ada beberapa hal yang sengaja tidak dijelaskan hukumnya oleh Allah. Tidak dinyatakan halal dan tidak pula dinyatakan haram. Hal ini bukan karena Allah lupa (sebab Allah memang tidak pernah lupa), tetapi karena kasih sayang Allah kepada hambaNya. Ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tidak ditegaskan halal atau haram itu, hukumnya adalah halal. Tentu selama hal itu bermanfaat, tidak membahayakan.

Budidaya cacing dan jangkrik dalam rangka menciptakan lapangan kerja baru, mengatasi pengangguran, dan memecahkan masalah PHK jelas sangat bermanfaat. Oleh karena termasuk maskut'anhu maka sesuai dengan keumuman ayat dan Hadis di atas, dan sejalan dengan kaidah al-Ashlu fi al-Manfi al-Ibahah. menurut hemat penulis budidaya cacing dan jangkrik tersebut hukumnya jelas mubah/halal.

2. Pendekatan mashlahah mursalah/istishlah.

Al-Ghazali menyatakan bahwa mashlahah mursalah adalah:

"Maslahat/kemaslahatan yang tidak ditunjukkan oleh dalil tertentu dari syara', yang membatalkan atau membenarkannya.”

Dalam menanggapi masalah yang tidak ada penegasan hukumnya di dalam Al-Qur'an, as-Sunnah, dan ijma' serta tidak dapat diselesaikan lewat qiyas, al-Ghazali selaku tokoh ushuliyyin mazhab Syafi'i, Imam Malik dan mayoritas ashab-nya. mayoritas mazhab Hanbali berpendapat bahwa masalah semacam itu dapat diselesaikan melalui metodologi istishlah atau berdasarkan maslahah mursalah.

Budidaya cacing dan jangkrik jelas merupakan maslahah mursalah, yaitu suatu maslahat/kemaslahatan yang tidak ada dalil tertentu baik dari Al-Qur'an maupun as-Sunnah yang membenarkan atau yang membatalkannya. Bukankah hal tersebut seperti telah disinggung di atas dapat membuka lapangan kerja, mengatasi pengangguran akibat PHK, dan menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia? Hasil budidayanya, yaitu cacing dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah, mengatasi masalah sampah, bahan obat-obatan dan kosmetika, yang juga bernilai ekonomis. Mengenai jangkrik, dapat dimanfaatkan untuk makanan burung yang juga bisa mendatangkan fulus. Bahkan ada beberapa restoran yang menghidangkan menu jangkrik.

Berdasarkan analisis ini jelas budidaya cacing dan jangkrik untuk keperluan sebagaimana telah disebutkan di atas dapat dibenarkan (mubah/halal).

3. Lewat approach maqashid syari'ah.

"Ulama telah konsensus bahwa tujuan pokok pen-syari'at-an/penetapan hukum Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan. Atas dasar ini maka muncullah suatu prinsip yang populer di kalangan fuqaha dan ushuliyyin”:

“Di mana ada maslahat, di sanalah hukum Allah.” (Artinya, maslahat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam dapat dijadikan pertimbangan penetapan hukum Islam).

Sebagaimana telah disebutkan di atas, budidaya cacing dan jangkrik jelas merupakan maslahat. Dan masalahat ini tidak berlawanan dengan prinsip-prinsip umum tujuan pensyariatan hukum Islam. Menurut hemat penulis, justru amat sejalan. Sebagaimana diketahui, tujuan umum pensyariatan hukum Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghindarkan kerusakan bencana Hal ini direalisasikan dengan memelihara lima hal yang menjadi kebutuhan primer hidup dan kehidupan manusia, yaitu agama, akal, jiwa, harta, dan kehormatan/keturunan.

Menurut hemat penulis, budidaya cacing dan jangkrik sebagai upaya mencari sumber ma'isyah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia adalah maslahat/kemaslahatan yang berhubungan dengan upaya memelihara harta yang juga amat bersinggungan dengan kebutuhan primer yang lain, yakni agama, jiwa, akal, dan kehormatan/keturunan. Sebab dengan budidaya itu diharapkan dapat diperoleh sumber penghasilan/uang. Dengan uang yang memadai diharapkan akan tercukupi kebutuhan hidup seseorang dengan baik. Dengan tercukupi kebutuhan hidupnya dengan baik, akan sehat fisiknya, terpelihara jiwanya, sehat akalnya, terpelihara kehormatan/ ketentuannya dan agamanya.

Bukankah Al-Qur’an telah menegaskan bahwa uang/harta merupakan tulang punggung kehidupan? Bukankah Rasulullah telah menegaskan bahwa kefakiran dapat berdampak pada kekufuran?“ Atas dasar ini maka lewat pendekatan maqashid syari'ah, budidaya cacing dan jangkrik sebagai upaya mencari sumber penghidupan, menurut hemat penulis hukumnya jelas halal. Bahkan bisa menjadi wajib bila tidak ada lapangan kerja lain selain itu. Sementara itu ia dituntut harus memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarganya, mim babi ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib. Bukankah pelaksanaan ibadah amat berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, berupa papan, pangan, dan sandang? Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa status hukum budidaya cacing dan jangkrik dengan tujuan sebagaimana telah disebutkan di atas, baik lewat pendekatan kaidah al-Ashlu fi al-Manafi’ al-Ibahah, mashlahah mursalah, maupun maqashid syari'ah adalah mubah/halal.

Hukum Hasyarat Dan Berobat Dengan Yang Haram/ Najis

Mengingat jangkrik dan cacing termasuk kategori al-Hasyarat, untuk lebih memperjelas masalah ini perlu kita ketahui pandangan fuqaha' tentang al-Hasyarat. Fuqaha' berbeda pendapat mengenai hukum al-Hasyardt. Imam Abu Hanifah dan asy-Syafi'i berpendirian bahwa al-Hasyarat hukumnya haram. Sebab al-Hasyarat termasuk al-Khaba'is, sejalan dengan ayat: “wa yuharrimu ‘alaihim al-khaba’is”. Sementara itu Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan Auza’i berpendapat, al-Hasyarat hukumnya halal."

Perlu dicatat buku-buku fikih yang menyebutkan pandangan mazhab Maliki ini ada yang menyatakan harus disembelih dan ada pula yang tidak menyebutkan ketentuan tersebut. Yang dimaksud dengan disembelih di sini ialah binatang itu dimatikan terlebih dahulu dengan cara apa saja, misalnya dengan dipotong lehernya, anggota badannya, dibakar, direndam di air panas, dihanyutkan, dan lain-lain. Jadi bukan disembelih dalam pengertian syar'i seperti pada sapi, kambing, dan sejenisnya.

Kemudian, tentang boleh tidaknya berobat dengan hal-hal yang haram/najis, fuqaha' berbeda pendapat menjadi tiga golongan sebagai berikut:

1. Pendapat pertama menyatakan, boleh berobat dengan yang haram atau najis dalam keadaan darurat. Argumentasi kelompok ini ialah:

a. Rasulullah SAW membenarkan Abdurrahman bin ‘Auf memakai sutra ketika ia sedang terkena penyakit kulit. Hal ini menunjukkan bahwa dalam keadaan darurat diperbolehkan mempergunakan yang haram.

b. Hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW menyuruh beberapa orang dari kabilah <Urainah yang sedang sakit di Madinah untuk berobat dengan minum susu dan air kencing unta. Mereka mengikuti petunjuk Rasulullah dan ternyata sembuh (Muttafaq 'alaih).

Hal ini menunjukkan bahwa berobat dengan yang najis/haram itu boleh pada saat tidak ada pilihan yang lain.

Pendapat kedua menyatakan, haram secara mutlak. Argumentasi kelompok ini ialah:

a. Hadis riwayat Abu Dawud bahwa Nabi bersabda:

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat dan menjadikan obat pada tiap-tiap penyakit. Untuk itu berobatlah dan jangan berobat dengan yang haram.”

Hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah melarang berobat dengan yang najis/haram (Abu Dawud).

Dua hadis di atas secara tegas melarang berobat dengan yang haram/najis. Dua hadis ini di-ihtimal-kan oleh kelompok pertama di luar kondisi darurat. Pendapat ketiga menyatakan dalam kondisi darurat boleh berobat dengan yang haram/najis, kecuali khamar. Argumentasi mereka adalah alasan yang dipakai oleh kelompok pertama ditambah hadis riwayat Muslim:

Khamar itu bukan obat, tetapi penyakit. Menurut penelitian Dr. Abu Sari’ Abdulhadi, di antara tiga pendapat di atas, pendapat pertamalah yang paling kuat, yaitu pendapat yang membenarkan berobat dengan yang haram/najis dalam kondisi darurat. Kalau pandangan para fuqaha' tentang al-Hasyarat dan berobat dengan yang haram/najis tersebut kita bawa kepada masalah cacing maka ada dua kemungkinan yang dapat kita tempuh:

1. Pertama mengkuti pandangan mazhab Maliki, Ibn Abi Laila, dan Auza'i yang menyatakan bahwa al-Hasyarat hukumnya halal. Dengan mengikuti pandangan ini maka cacing dapat dijadikan bahan obatobatan atau kosmetika, selama menurut penelitian dokter/para ahli tidak membahayakan. Dalam hal ini tidak perlu menunggu kondisi darurat. Demikian juga, dengan mengikuti pandangan ini, cacing dan jangkrik dapat dikonsumsi bagi mereka yang memerlukannya. Kini jangkrik merupakan salah satu menu yang dapat ditemukan di beberapa restoran bagi para penggemarnya.

2. Mengikuti pandangan Abu Hanifah, dan asy-Syafi'i yang menyatakan bahwa al-Hasyarat hukumnya haram digabung dengan pendapat yang rajih/kuat (pendapat pertama) yang membenarkan berobat dengan hal-hal yang haram/najis dalam kondisi darurat. Dengan mengikuti pandangan ini, kita dapat membenarkan penggunaan cacing untuk obat dengan catatan tidak ada alternatif lain (darurat), sejalan dengan kaidah “ad-Dharurah tubihu al-Makzhurah”, selama menurut para ahli tidak membahayakan.

Lalu bagaimana kalau cacing tersebut untuk keperluan kosmetika? Menurut hemat penulis kosmetika bisa termasuk hajiyah (kebutuhan sekunder) dan dapat juga termasuk tahsiniyah (pelengkap dan penyempurna), tergantung sikonnya. Bahkan dapat meningkat menjadi hajiyah yang menempati level dharuriyah (kebutuhan yang mendesak) sejalan dengan kaidah: “al-hajah tunazzalu manzilat ad-darurah”, seperti apabila keharmonisan rumah tangga suami istri banyak tergantung dengan ukuran-ukuran tertentu dalam bersolek yang mesti dilakukan oleh seorang istri. Dalam kondisi semacam ini jelas dibenarkan bagi seorang istri mempercantik dirinya dengan kosmetika yang ramuannya terbuat dari cacing. Tentu selama tidak membahayakan. Hal ini lebih bisa dibenarkan lagi kalau kita mengikuti pandangan Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan Auza'i yang menyatakan bahwa al-Hasyardt seperti cacing adalah halal. Artinya ia tidak najis.

Perlu diketahui bahwa maslahat hajiyah yang menempati level dharuriyah menurut al-Ghazali dapat dijadikan istishlah/mashlahah mursalah untuk menetapkan hukum Islam. Sementara itu asy-Syatibi, mayoritas ulama Malikiyah dan Hanabilah membenarkan maslahat dengan semua tingkatannya (dharuriyah, hajiyah, dan tahsiniyah) sebagai istishlah/mashlahah mursalah dalam penetapan hukum Islam.

Penutup

Dari uraian di atas kiranya dapat penulis simpulkan bahwa sepanjang kajian fikih, baik lewat pendekatan kaidah al-Ashlu fi al-Manafi’ al-Ibahah, mashlahah mursalah maupun maqashid syari’ah, budidaya cacing untuk keperluan pengobatan dan kosmetika serta budidaya jangkrik untuk pakan burung jelas dapat dibenarkan. Hukumnya mubah/halal dengan argumentasi sebagaimana telah disebutkan.

Mubah/halal ini merupakan hukum asal. Ia bisa bergeser menjadi wajib, haram, makruh, sunah sesuai dengan perubahan kondisi dan situasi, sejalan dengan kaidah”:

Tidak dapat diingkari adanya perubahan dan perbedaan fatwa sesuai dengan perubahan kondisi, situasi, motivasi, dan tujuan.

Hukum itu beredar bersama ilatnya, ketika ada maupun tidak adanya.

Sebagai contoh, misalnya seorang kepala rumah tangga yang harus menghidupi keluarganya terkena PHK. Ia sulit menemukan lapangan kerja baru. Semua usahanya gagal. Akhirnya ia beternak cacing atau jangkrik, dan inilah satu-satunya usaha yang harus digelutinya. Dalam kondisi semacam ini, wajib baginya mengatasi problem ekonomi keluarganya melalui budi daya cacing atau jangkrik tersebut. Sebab, bila tidak ia dan keluarganya akan mati kelaparan.

Demikian juga budidaya jangkrik itu dapat dihukumi haram, apabila tujuannya untuk diadu, apalagi bila disertai taruhan. Tentu nilai keharamannya akan lebih berat lagi. Sebab dalam kondisi semacam ini telah berubah menjadi maisir/judi. Dan budidayanya itu sendiri menjadi dzari’atan ila al-maisir (sarana bagi terjadinya perjudian). Berdasarkan Sadd adz-Dzari’ah maka budidayanya itu hukumnya menjadi haram, kendati masalah ini masih diperselisihkan di kalangan fuqaha”.

Berbeda halnya misalnya ada seorang pemuda yang amat sangat kepingin kawin. Sementara ia tidak menemukan bd’ah (biaya nikah). Ia pun tidak sanggup berpuasa untuk membentengi dorongan biologisnya. Baginya tidak ada kemampuan lain kecuali beternak cacing atau jangkrik untuk menghasilkan biaya pernikahannya. Dalam kondisi semacam ini, berdasarkan kaidah Ma La Yatimm al-Wajib illa bihi Fahuwa Wajib,” wajib bagi pemuda tersebut melakukan budidaya cacing atau jangkrik untuk mengatasi problem pribadinya.

Demikian juga, budidaya cacing dan jangkrik itu bisa menjadi sunah apabila dimaksudkan untuk pelestarian alam, objek penelitian, tafakkur ‘ala Allah, guna memantapkan iman, sehingga muncullah ucapan yang tulus dari mulutnya: Rabbana Ma Khalaqta Hadza Bathila...Wallahu A'lam.


Memutuskan

MENETAPKAN: FATWA TENTANG MAKAN DAN BUDIDAYA CACING DAN JANGKRIK 

Pertama: Hukum yang berkaitan dengan cacing. 

1. Cacing adalah salah satu jenis hewan yang masuk ke dalam kategori al-Hasyarat. 

2. Membenarkan adanya pendapat ulama (Imam Malik, Ibn Abi Laila, dan al-Auza’i) yang menghalalkan memakan cacing sepanjang bermanfaat dan tidak membahayakan; dan pendapat ulama yang mengharamkan memakannya. 

3, Membudidayakan cacing untuk diambil manfaatnya, tidak untuk dimakan, tidak bertentangan dengan hukum Islam. 

4. Membudidayakan cacing untuk diambil sendiri manfaatnya, untuk pakan burung misalnya, tidak untuk dimakan atau dijual, hukumnya boleh (mubah). 

Kedua: Hukum yang berkaitan dengan jangkrik 

1. Jangkrik adalah binatang serangga yang sejenis dengan belalang. 

2. Membudidayakan jangkrik untuk diambil manfaatnya, untuk obat/kosmetik misalnya, untuk dimakan atau dijual, hukumnya adalah boleh (mubah, halal), sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudarat). 

Ketiga: Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan 

Jakarta, 18 April 2000 

Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia

Ketua
Prof. KH. Ibrahim Hosen LML

Sekretaris
Drs. H. Hasanuddin M. Ag

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru