Iklan Atas Zona Muslim

Inilah Posisi Imam Ketika Shalat Jenazah
4/ 5 stars - "Inilah Posisi Imam Ketika Shalat Jenazah" Sebagaimana mafhum, bahwa tata cara shalat jenazah berbeda dengan shalat wajib dan shalat lainnya. Adapun mengenai Posisi Imam Ketika Sha...

Inilah Posisi Imam Ketika Shalat Jenazah

Admin

Sebagaimana mafhum, bahwa tata cara shalat jenazah berbeda dengan shalat wajib dan shalat lainnya. Adapun mengenai Posisi Imam Ketika Shalat Jenazah ada beberapa pendapat ulama seperti pada uraian dibawah ini.

Pendapat Pertama:

Posisi imam berada sejajar dengan kepala mayit laki-laki, dan bagi wanita tepat sejajar dengan pinggulnya. Pendapat ini menurut Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq [Al-Majmu’ Nawawi (5/225)] dan sebagian Madzhab Hanafiyah [Al-Hidayah (1/426), dan kitab Syarhul Ma’ani (1/284)] dan Imam Syaukani juga membenarkannya.

Dalil yang menguatkan pendapat tersebut diriwayatkan dari Anas bin malik radhiallahu 'anhuma :

“Bahwa Abu Ghalib Al-Khayyat berkata: “Aku menyaksikan Anas bin Malik menshalatkan jenazah seorang laki-laki, ia berdiri di sisi kepalanya (dalam riwayat lain: sisi kepala tempat tidur), ketika jenazah itu diangkat, didatangkan lagi jenazah seorang wanita Quraisy atau Anshar. Lalu dikatakan kepadanya. Wahai Abu Hamzah ini adalah jenazah fulanah binti fulan maka shalatkanlah ia. Lalu ia menshalatkannya dengan berdiri di tengahnya (dalam riwayat lain: di sisi pinggulnya dan di atasnya kerenda hijau). Dianatara kami ada Ala’ bin Ziyad al-Adawi. Tatkala melihat perbedaan berdirinya terhadap jenazah laki-laki dan perempuan ia berkata, “Wahai Abu Hamzah seperti inikah rasulullah berdiri sebagaimana yang engkau lakukan?. Ia menjawab, Ya. Lalu Ala’ menoleh kepada kami dan berkata hafalkanlah itu”. [Hadits Riwayat: Abu Daud (3194), At-Tirmidzi (1034), dan di hasankan oleh Ibnu Majah (1494), Ahmad (3/118, 304) Al-Baihaqi (4/33), Thayalisi (2149), Ahkamul janaiz Alamah Albani (hal:138). Al-albani Menshahihkannya]

Hadits yang diriwayatkan dari Samurah Bin Jundab ia berkata:

صَلَّيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَصَلَّى عَلَى أُمِّ كَعْبٍ، مَاتَتْ وَهِيَ نُفَسَاءُ، «فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلصَّلَاةِ عَلَيْهَا وَسَطَهَا

“Aku shalat di belakang nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang menshalatkan Ummu Ka’ab yang meninggal dalam keadaan nifas. Kemudian rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berdiri menshalatkannya pada sisi tengahnya”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1332), Muslim (964)]

Pendapat Kedua:

Berdiri tepat di sisi dada mayit, baik laki laki ataupun wanita. Menjawab atas hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa berdiri tepat di arah tengah bagi mayit wanita, untuk menutupinya karena tidak tertutup keranda. Mereka berdalil dengan tambahan redaksi yang diriwayatkan dari Abu Daud dari Anas bin Malik yang lalu, Abu Ghalib berkata:

فَسَأَلْتُ عَنْ صَنِيعِ أَنَسٍ فِي قِيَامِهِ عَلَى الْمَرْأَةِ عِنْدَ عَجِيزَتِهَا، فَحَدَّثُونِي أَنَّهُ إِنَّمَا كَانَ لِأَنَّهُ لَمْ تَكُنِ النُّعُوشُ، فَكَانَ الْإِمَامُ يَقُومُ حِيَالَ عَجِيزَتِهَا يَسْتُرُهَا مِنَ الْقَوْمِ

“Aku bertanya tentang apa yang diperbuat oleh Anas, yaitu ia berdiri pada sisi tengah jenazah wanita. Lalu mereka menceritakan kepadaku bahwa ia melakukan seperti itu karena tidak ada keranda yang menutupinya. Maka imam berdiri sejajar pada bagian tengah jenazah untuk menutupinya dari pandangan orang-orang.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (3194)]

Syeikh al-Albani menjawab pendapat yang dipilih Madzhab Hanafi, bahwa alasan itu di tolak dari beberapa sisi:

1. Sumber yang tidak jelas dan tidak ada dasar yang mendukung.

2. Hal ini bertentangan dengan hadits dari Anas bin Malik, bahwa berdiri di tengah mayit wanita yang ada kerandanya. Dalil itu dibatalkan dengan alasan tersebut. [Lihat Ahkamul Janaiz Albani membid’ahkan hal itu (hal : 139)]

Ibnu Hazm berkata dalam al-Muhalla, “Bagi seorang imam yang menshalatkan jenazah berdiri dan menghadap kiblat dan makmum berada di belakangnya, imam berdiri tepat di posisi kepala bagi laki–laki dan tepat berada di posisi tengah jika mayitnya wanita. [Al-Muhalla Ibnu Hazm (5/123)]

Dianjurkan Membuat Tiga Shaf Di Belakang Imam, Sekalipun Jumlahnya Sedikit

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيُصَلِّي عَلَيْهِ ثَلَاثَةُ صُفُوفٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، إِلَّا أَوْجَبَ

“Tidaklah seorang mayit yang meninggal kemudian dishalatkan dengan tiga shaf kaum muslimin kecuali ia berhak mendapatkan pahalanya (di surga).” [Hadits Riwayat: Abu Daud (3166), At-Tirmidzi (1033), Ibnu Majah (1490). Al-albani menghasankannya]

Semakin banyak jamaah yang menshalatkannya maka semakin utama bagi si mayit. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً، كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ، إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah mayit dishalatkan oleh umat kaum muslimin yang mencapai seratus orang, seluruh mereka memintakan syafaat kepadanya melainkan mereka dapat memberikan syafaat padanya”. [Hadits Riwayat: Muslim (947), At-Tirmidzi (1024), An-Nasa`i (4/75)]

Berkumpulnya Jenazah Laki–Laki Dan Wanita

Jika ada mayit laki-laki maupun wanita, bagi imam cukup menshalatkan mereka sekali secara bersamaan. Diriwayatkan dari Nafi’ :

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، صَلَّى عَلَى تِسْعِ جَنَائِزَ جَمِيعَا، فَجَعَلَ الرِّجَالَ يَلُونَ الْإِمَامَ، وَالنِّسَاءَ يَلُونَ الْقِبْلَةَ، فَصَفَّهُنَّ صَفًّا، وَوُضِعَتْ جِنَازَةُ أُمِّ كُلْثُومِ ابْنَةِ عَلِيٍّ امْرَأَةُ عُمَرَ بْنِ الْخطَّابِ وَابْنٍ لَهَا يُقَالُ لَهُ: زَيْدٌ، وُضِعَا جَمِيعًا، وَالْإِمَامُ يَوْمَئِذٍ سَعِيدُ بْنُ الْعَاصِ، وَفِي النَّاسِ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَأَبُو هُرَيْرَةَ، وَأَبُو سَعِيدٍ، وَأَبُو قَتَادَةَ، فَوَضَعَ الْغُلَامَ مِمَّا يَلِي الْإِمَامَ، قَالَ رَجُلٌ: فَأَنْكَرْتُ ذَلِكَ فَنَظَرْتُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي قَتَادَةَ فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ فَقَالُوا: هِيَ السُّنَّةُ

“Bahwa Ibnu Umar menshalatkan sembilan jenazah sekaligus, ia meletakan jenazah laki-laki dekat dengan imam, dan meletakan jenazah wanita di dekat kiblat dan meletakan mereka satu baris. Dan jenazah Ummu Kultsum binti Ali, istri Umar bin Khatthab dan putranya bernama Zaid diletakan sekaligus. Imam shalat pada waktu itu Sa’id bin Ash, dan diantaranya ada ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id, Abu Qatadah. Lalu jenazah anak itu diletakan di depan imam, seseorang berkata, aku mengingkari hal ini. Aku (nafi’) memandang kepada ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Sa’id dan Abu Qatadah, lalu aku berkata, apa ini?, Mereka menjawab, “ini adalah sunnah.” [Hadits Riwayat: An-Nasa`i (4/71), Daruqutni (2/79), Al-Baihaqi (4/33), Abdurrazzaq (6337). Sanadnya shahih]

Wanita Boleh Menshalatkan Jenazah

Dibolehkan bagi wanita untuk menshalatkan jenazah, selama tidak ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zubair radhiallahu 'anhuma :

أَنَّ عَائِشَةَ، أَمَرَتْ أَنْ يَمُرَّ بِجَنَازَةِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَتُصَلِّيَ عَلَيْهِ، فَأَنْكَرَ النَّاسُ ذَلِكَ عَلَيْهَا، فَقَالَتْ: مَا أَسْرَعَ مَا نَسِيَ النَّاسُ، «مَا صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى سُهَيْلِ ابْنِ الْبَيْضَاءِ إِلَّا فِي الْمَسْجِدِ»

“Bahwa Aisyah memerintahkan melewatkan jenazah Sa’ad bin Abi Waqash di masjid agar ia dapat menshalatkannya. Orang-orang mengingkari hal itu, lalu ia berkata, “Alangkah cepatnya manusia melupakan. Tidaklah rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menshalatkan Suhail bin al-Baidha’ melainkan di masjid”. [Hadits Riwayat: Muslim (973), Abu Daud (3173), An-Nasa`i (4/68)]

Catatan tambahan: Dalam hadits ini dibolehkan shalat jenazah di dalam masjid, yang lebih utama shalat jenazah dilakukan di luar masjid, pada suatu tempat yang sudah dipersiapkan untuk shalat jenazah, hal ini adalah sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan itu yang sering dilakukan beliau. [Al-Wajiz (hal : 174)]

Apakah dishalatkan sebagian dari anggota tubuh mayit ?

Banyak atsar dhaif maupun mursal dari sebagian sahabat yang menshalatkan potongan tubuh mayit :

Diriwayatkan dari Khalid bin Ma’dan bahwa Abu Ubaidah menshalatkan potongan kepala di Syam [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (4013), Al-Baihaqi (4/18). Mursal]

Hadits Abu Ayyub bahwa beliau menshalatkan potongan kaki [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (3/40). Dhaif]

Hadits Umar bahwa beliau menshalatkan tulang belulang di Syam. [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (3/41). Mursal]

Ada tiga pendapat Ulama tentang masalah ini :

1. Bahwa menshalatkan sebagian anggota tubuh sama halnya menshalatkannya secara utuh. Ini pendapat Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan dipilih oleh Ibnu Hazm. [Al-Muhalla Ibnu Hazm (5/138) pada masalah hal : 580]

2. Apabila ditemukan lebih dari separuh maka dimandikan dan dishalatkan, namun apabila hanya ditemukan kurang dari separuh maka tidak dimandikan dan dishalatkan. Ini pendapat Abu Hanifah.

Sedangkan Imam malik berpendapat bahwa tidak menshalatkannya. Dengan alasan untuk mempermudah. [Al-Majmu’ An-Nawawi (5/214)]

3. Tidak dishalatkan secara mutlak. Ini pendapat Daud. [Al-Majmu An-Nawawi (5/214)]

Penulis berkata: Jika mayit sudah dishalatkan dan kemudian ditemukan potongan tubuhnya, maka tidak perlu lagi dishalatkan, namun cukup dimandikan dan kemudian dikuburkan. Wallahu A’lam.

Potongan Tubuh Orang Yang Masih Hidup Tidak Dishalatkan

Tidak ada penukilan yang berasal dari Rasulullah ataupun para sahabat, bahwa mereka melakukan shalat atas anggota badan yang terpisah ketika masih hidup. Dan telah menjadi berita mutawatir bahwa hudud (hukuman) yang dilaksanakan pada masa nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan masa sahabat setelah beliau meninggal, seperti potong tangan, tidak ada disebutkan bahwa mereka mencuci dan menshalatkannya. Wallahu a’lam.

Menshalatkan Janin Yang Gugur Dan Anak-Anak

Anak-anak yaitu yang belum baligh (mimpi junub) dan di syariatkan untuk dishalatkan.

Diriwayatkan dari Aisyah ia berkata, dibawa kepada Rasulullah jenazah anak-anak dari kaum anshar, kemudian rasulullah menshlatkannya. kemudian Aisyah berkata, beruntunglah anak ini, ia menjadi burung dari burung-burung surga. Ia tidak melakukan keburukan dan belum mengetahuinya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَوَ لَا تَدْرِينَ أَنَّ اللهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ وَخَلَقَ النَّارَ، فَخَلَقَ لِهَذِهِ أَهْلًا وَلِهَذِهِ أَهْلًا

“Apakah engkau tidak mengetahui, bahwa Allah menciptakan surga dan neraka, kemudian Ia menciptakan masing-masing penghuninya”. [Hadits Riwayat: Muslim (2662), An-Nasa`i (1/76), Ahmad (6/208)]

Menshalatkan bayi yang meninggal

Para ulama tidak berbeda pendapat tentang masalah ini, bahwa bayi, ketika ia sudah bisa menangis atau bersin maka harus dishalatkan.

Ibnul Mundzir berkata, “Ulama sepakat apabila seorang anak sudah diketahui ia hidup dan sudah menangis maka dishalatkan”. [Al-Ijma’ (hal :3)]

Terhadap Bayi Yang Belum Menangis – ada perbedaan pendapat

Tidak dishalatkan. Ini pendapat Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas, Az-zuhri, ats-Tsauri, Awzai, Malik dan Syafi’i. Dalil yang memperkuat atas pendapat ini dari Jabir bin Abdullah :

لَا يَرِثُ الصَّبِيُّ حَتَّى يَسْتَهِلَّ صَارِخًا

“Seorang bayi tidak mendapatkan warisan hingga ia menjerit (ketika lahir)”. [Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (1032), An-Nasa`i dalam Al-Kubra (6358-6359), Ibnu Majah (1508, 2750 dan 2751), Ad-Darimi (4126) , Ibnu Abi Syaibah (11603) Abdurrazzaq (6608), Ibnu Hibban (6032), Hakim (4/348), (1/363) Al-Baihaqi (4/8). Shahih]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا اسْتَهَلَّ الْمَوْلُودُ وُرِّثَ

“Apabila seorang bayi yang dilahirkan menjerit maka ia mendapatkan warisan.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (2920). Dishahihkan oleh al-Albani]

Pendapat lain mengatakan bahwa anak tersebut wajib dishalatkan. Ini pendapat Ibnu Umar, Abu Hurairah, Ibnu Sirrin , Ibnu Musayab dan dipilih oleh Ahmad dan Ishak. [Syarh as-Sunnah al-Baghawi (5/373)]

Adapaun dalilnya dari hadits Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu 'anhuma ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

السِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ

“Bayi gugur dishalatkan dan kedua orang tuanya didoakan agar mendapat ampunan dan rahmat”. [HR. At-Tirmidzi (1031). An-Nasa`i (4/358, 360), Ibnu Majah (1507), Ahmad (4/247, 249) dan selainnya. Shahih]

Ishaq menjawab atas dalil yang pertama : “Bahwa syarat mendapatkan warisan adalah bayi yang sudah menangis, adapaun shalat tidak disyaratkan seperti itu, karena ia adalah jiwa yang telah ditetapkan penderitaan dan kebahagiaannya. [Syarh as-Sunnah al-Baghawi]

Al-Khitabi menukilkan dari Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih keduanya mengatakan bahwa setiap jiwa yang telah ditiupkan ruh dan sempurna empat bulan sepuluh hari maka ia dishalatkan.

Imam Nawawi berkata, “Zahirnya bahwa bayi yang meninggal apabila sudah ditiupkan ruhnya dan sudah sempurna empat bulan, maka wajib dishalatkan, apabila kurang dari itu tidak dishalatkan, karena bukanlah mayit.

Berdasarkan hadits marfu’ dari Abdullah bin Masud radhiallahu 'anhuma :

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا … ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ

“Sesungguhnya penciptaan diantara kalian dikumpulkan di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah selama masa itu juga, kemudian menjadi segumpal daging selama masa itu juga, kemudian diutuslah malaikat…kemudian ditiupkan ruh”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (3208), Muslim (2643)]

Menshalatkan Ahli Bid’ah, Pelaku Dosa Besar Dan Kemaksiatan

Sebagaimana perkataan ulama bahwa wajib dishalatkan atas setiap muslim, meski ia melakukan dosa besar, fasik, atau ahli bid’ah, selama bid’ahnya tidak melampaui kekafiran. Apabila tokoh agama ataupun orang yang punya peranan penting di wilayah tersebut meninggalkan menshalatkannya karena sebagai bentuk pengingkaran atau penghinaan atas kelakuan yang telah dilakukannya maka hal ini dibolehkan dan baik, seperti halnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melarang menshalatkan orang yang mati bunuh diri dan nabi berkata kepada sahabat, “Shalatkanlah oleh kalian”. Ini pendapat Malik, Ahmad dan para imam lainnya. [Al-Mudawanah (1/165), Al-Mughni (2/355), Majmu’ Al-Fatawa (24/279)]

Menshalatkan Jenazah Yang Mempunyai Hutang

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ المُتَوَفَّى، عَلَيْهِ الدَّيْنُ، فَيَسْأَلُ: «هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ فَضْلًا؟»، فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ لِدَيْنِهِ وَفَاءً صَلَّى، وَإِلَّا قَالَ لِلْمُسْلِمِينَ: «صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ»، فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الفُتُوحَ، قَالَ: «أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنَ المُؤْمِنِينَ فَتَرَكَ دَيْنًا، فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ، وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ»

“Bahwa seorang jenazah laki-laki yang mempunyai hutang dibawa kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bertanya, “Apakah ia mempunyai sesuatu untuk melunasi hutangnya?, apabila dikatakan ada untuk melunaskan hutangnya, maka beliau shalatkan, jika dikatakan tidak maka beliau berkata kepada kaum muslimin, “Shalatkanlah sahabat kalian ini”. Ketika Allah membukakan kemenangan kepada beliau, beliau bersabda, “Aku lebih utama terhadap orang yang beriman daripada diri mereka, maka siapa diantara orang beriman yang meninggal dan mempunyai hutang maka aku yang menanggung pelunasannya, dan siapa yang meninggalkan warisan maka untuk ahli warisnya”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (2298), Muslim (1619)]

Imam an-Nawawi berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak menshalatkan jenazah yang meninggalkan hutang, karena sebagai dorongan untuk melunasi hutang semasa hidupnya. Tatkala Allah Subhanahu wata'ala telah memberikan kemenangan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliau menshalatkan dan melunasi hutang mereka apabila tidak ada sesuatu untuk melunasinya.

Atas hal ini maka tidak semestinya bagi siapapun dari kaum muslimin untuk tidak menshalatkan terhadap orang yang masih mempunyai hutang. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin

Menshalatkan Pelaku Bunuh Diri

Ada tiga pendapat ulama :

Pertama: Tidak wajib dishalatkan. Ini pendapat Umar bin Abdul Aziz dan Auza’i [Muslim syarah Nawawi (11/60)] dalil dari keduanya adalah riwayat Jabir bin Samurah :

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ، فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ

“Didatangkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mayit seorang laki–laki yang mati bunuh diri menggunakan anak panah dan beliau tidak menshalatkannya”. [Hadits Riwayat: Muslim (978)]

Kedua: Wajib dishalatkan. Ini pendapat Hasan, an-Nakhai , Qatadah, Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dan jumhur ulama. Mereka menjawab atas hadits dari Jabir yang lalu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak menshalatkan mayit yang bunuh diri, sebagai peringatan bagi manusia atas perbuatan itu. Sedangkan para sahabat menshalatkannya dan hal ini juga terjadi ketika Rasulullah meninggalkan shalat bagi orang yang mati meninggalkan hutang sebagai peringatan bagi mereka yang bersikap toleran dari pinjaman dan ceroboh dalam pelunasan. Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menshalatkannya,“Shalatkanlah sahabat kalian ini”

Qadhi berkata, “Seluruh mazhab ulama berpendapat bahwa menshalatkan setiap muslim, yang mati karena dikenai hukuman, yang dirajam, bunuh diri dan anak zina. [An-Nawawi Syarah muslin (7/47)]

Ketiga: Orang-orang shalih yang mempunyai keutamaan di tengah-tengah masyarakat agar tidak menshalatkan mereka. Ini pendapat Malik dan lainnya. [An-Nawawi, Syarah Muslim (7/47)] Ini adalah pendapat yang paling jelas.

Ibnu Taimiyah memilih pendapat boleh bagi umat islam secara umum untuk menshalatkannya. Adapun tokoh agama yang menjadi panutan, apabila ia meninggalkan menshalatkan jenazah tersebut maka sebagai peringatan kepada yang lain dan mengikuti Rasululah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan ini adalah benar. [Majmu Al-fatawa (24/289)] Wallahu A’lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru