Iklan Atas Zona Muslim

Etika dan Adab Berbisnis Bagi Muslimah
4/ 5 stars - "Etika dan Adab Berbisnis Bagi Muslimah" Pertanyaan:  Assalamualaikum wr wb. Pada saat ini, tidak sedikit perempuan yang berbisnis dengan segala kiprahnya. Sebenarnya bagaimana...

Etika dan Adab Berbisnis Bagi Muslimah

Admin

Pertanyaan: 

Assalamualaikum wr wb. Pada saat ini, tidak sedikit perempuan yang berbisnis dengan segala kiprahnya. Sebenarnya bagaimana pandangan Syariah terhadap perempuan yang berbisnis?

Jawab: 

Perempuan bekerja dan berbisnis itu diperkenankan menurut syariah. Bahkan dalam kondisi tertentu itu dianjurkan, atau diwajibkan, dengan rambu-rambu syariah yang harus diperhatikan.

Pertama, menjaga adab-adab sebagai seorang muslimah, diantaranya menghindari tabarruj dan khalwat yang menyebabkan fitnah, dan memastikan usahanya halal, seperti  industri keuangan dan bisnis syariah.

Kedua, (Khusus untuk isteri dan ibu rumah tangga) memastikan bahwa jenis profesi dan pekerjaannya tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai isteri dan ibu. Karena tugas utama isteri adalah melayani suami agar keluarganya sakinah, dan mendidik anak-anaknya agar menjadi anak-anak yang sholeh. Tugas ini sangat strategis karena setiap perubahan berawal dari SDM yang lahir dari rahim ibu dan keluarga.

Ketiga, mendapatkan izin dari suami. Dan suami juga bisa bijak dan proporsional dengan mempertimbangkan kondisi antara idealita dan realita. Karena pada dasarnya, tanggung jawab nafkah ada pada suami sehingga visi bekerjanya adalah untuk melengkapi kiprah suami dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan financial keluarga, seperti pendidikan, kesehatan, dan investasi jangka panjang.

Oleh karena itu, memilih jenis bisnis atau pekerjaan yang menguntungkan, tetapi juga menunaikan adab-adab pebisnis muslimah dan tanggung jawabnya sebagai isteri atau ibu menjadi keniscayaan.

Kesimpulan tersebut di atas berdasarkan Al-Qur’an, al-hadits dan mashlahat sebagai berikut:

Pertama, Setiap keluarga harus mandiri agar bisa memenuhi kebutuhan financial keluarga. Jika hal itu bisa dilakukan dengan perempuan ikut serta bekerja maka menjadi keharusan.

Kedua, laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang sama untuk beribadah dan berdakwah melalui perannya sebagai seorang ayah, ibu, pengusaha, dan lain sebagainya, yang akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat sebagai sosok yang terbaik. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt :

أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

Artinya: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain (Q.S. Ali Imran : 195).
Dan firman Allah Swt :

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya: “Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”(QS. Al-Mulk : 2).
Ketiga, hadits Rasulullah Saw;

قَدْ أَذِنَ اللَّهُ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian untuk keluar dari rumah untuk memenuhi hajat dan kebutuhan kalian” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hajat dan kebutuhan yang disebutkan dalam hadits ini umum dan mutlak. Oleh karena itu, profesi perempuan sebagai seorang pengusaha (pelaku bisnis) itu bagian dari memenuhi kebutuhan di luar rumah.

Keempat, perempuan itu adalah setengah dari populasi masyarakat dengan segala potensi dan kelebihannya. Di sisi lain, banyak sekali pekerjaan tertentu yang lebih tepat diemban oleh kaum hawa.

Kelima, Sirah. Diantara contohnya adalah Asma binti Abu Bakar yang berjualan keluar rumah membawa makanan dan Rasulullah beserta sahabat yang lain tidak melarangnya. Ummu Qailah pernah datang kepada Rasulullah Saw untuk meminta petunjuk mengenai pengelolaan jual beli. Zainab binti Jahsy aktif bekerja menyamak kulit binatang, menjualnya dan sebagian hasil usahanya disedekahkan. Asy-Syifa, yang ditugaskan oleh Khalifah Umar bin Khattab sebagai petugas yang mengatur manajemen perdagangan kota Madinah. Siti Khadijah adalah pebisnis yang sukses dan dijuluki at-thahirah (bersih suci). Ia memberikan seluruh hartanya untuk Islam. Walaupun kekayaannya melimpah, ia tetap hidup sederhana dan taat kepada suami. Walaupun pengusaha, ia tak melalaikan kewajiban sebagai seorang ibu ; keempat anaknya menjadi wanita-wanita luar biasa dalam sejarah, sebut saja Zainab, Ruqayah, Ummi Kultsum, dan Fatimah Az-Zahra.

Saat ini, kaum hawa telah berkiprah dengan sangat baik di dunia ekonomi syariah, baik di industri keuangan, bisnis, atau filantropi. Seperti di bank syariah, asuransi syariah, pembiayaan syariah, manajer investasi, lembaga zakat dan waqaf, dan lain-lain. Bahkan kiprah dan kontribusi kaum hawa menjadi bagian dari perjalanan ekonomi syariah khususnya di Indonesia. Wallahu a'lam.

Narasumber : Ustadz Dr. Oni  Sahroni, M.A.  Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI)

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru