Iklan Atas Zona Muslim

Tuanku Imam Bonjol, Tokoh Penggerak Perang Paderi
4/ 5 stars - "Tuanku Imam Bonjol, Tokoh Penggerak Perang Paderi" Untuk menguasai negeri kita, dulu penjajah Belanda emang “pintar” memakai berjuta cara. Antara lain ndompleng konflik antar yang sedang t...

Tuanku Imam Bonjol, Tokoh Penggerak Perang Paderi

Admin

Untuk menguasai negeri kita, dulu penjajah Belanda emang “pintar” memakai berjuta cara. Antara lain ndompleng konflik antar yang sedang terjadi di masyarakat kita sendiri. Mereka mendukung kelompok yang menguntungkan, alias yang nggak berpihak pada perjuangan Islam juga. Tuanku Imam Bonjol adalah satu di antara berjuta pejuang Islam yang pantas diacungi jempol dan ditiru semangatnya.

Tuanku Imam Bonjol lahir tahun 1772 di Kampung Bunga, Nagari Alahan Panjang, Sumatera Barat. Nama aslinya Muhammad Syahab, kemudian diubah menjadi Peto Syarif. Ayahnya Tuanku Nuddin seorang guru ngaji. Dan pada ayahnya sendiri ia belajar mengaji. Selain membaca dan menulis huruf Qur'an, ia juga mendalami ajaran Islam lain, seperti tauhid plus fiqh.

Imam Bonjol adalah seorang yang dikenal sebagai pemimpin perang Paderi. Gerakan Paderi awalnya dimotori oleh tiga orang ulama yang baru pulang dari tanah suci Makkah. Tiga ulama itu adalah Haji Miskin, Haji Abdul Rahman dan Haji Muhammad. Mereka gencar mengajarkan kebaikan dan menyadarkan masyarakat yang kala itu dipenuhi kemaksyiatan, seperti judi, sabung ayam dan mabuk-mabukkan. Kaum Paderi yang juga berarti para ulama berusaha mengembalikan ajaran Islam yang sudah banyak disepelekan.

Imam Bonjol adalah salah seorang yang mempelajari pemurnian agama di Luhak Agam. Setelah selesai ia pun kembali ke Alahan Panjang dan mencoba mengamalkan ilmu yang didapatnya. Tanpa disangka usaha tersebut ditentang oleh kepala adat di sana. Datuk Sati namanya. Imam Bonjol yang kala itu sudah bergelar Tuanku Muda alias Malin Basa menyatakan perlawanan dan pergi dengan pasukannya ke lereng Bukit Tajadi di daerah Bonjol. Daerah inilah yang ia jadikan base camp pasukannya. Dan sinilah nama Imam Bonjol didapatkan.

Ditempatnya yang baru ini, Imam Bonjol tak hanya memberikan perlawanan tapi juga melakukan pembangunan. Dibangun sebuah masjid yang besar sebagai pusat kegiatan, sawah-sawah subur dan penduduk makmur. Untuk menjaga keamanan daerah ini dan serbuan musuh dibangun benteng setinggi empat meter dan tebal enam meter. Di atas dinding ditanami pohon berduri dan didirikan sembilan puluh kubu pertahanan dan menara pengintai.

Pertentangan lawan kaum adat terus berlangsung, dan 1809 sampai 1821. Nah, karena kewalahan, pada 1821 kaum adat meneken perjanjian bareng Belanda buat melawan kaum Paderi. “Pucuk dicinta ulam tiba”, Belanda segera mengadakan intervensi militer. Dan meletuslah “Perang Paderi”, perang para ulama melawan Belanda.

MuIa-mula Belanda menyerang Tanah Datar, di sekitar pusat kerajaan Minangkabau. Sesudah berhasil melumpuhkan perlawanan Tuanku Halaban di Luhak Lima Puluh Kota, kaum kanr ini menyerang Bukittinggi. Sasaran berikutnya adalah Bonjol, yang sudah jadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. Tidak tanggung-tanggung, pada 10 September 1833. Belanda menyerang Bonjol dari tiga jurusan. Bukittinggi, Pariaman plus Tapanuli Selatan dan Rao. Benteng Bonjol sempat jatuh ke tangan Belanda.
Tapi perlawanan rakyat sudah tak bisa dibendung. Pada Januari 1934 dipimpin Tuanku Imam Bonjol, penduduk Bonjol kembali berjihad, diikuti daerah-daerah lain. Perang lawan Belanda meletus di seantero Minangkabau. Buat meredam perlawanan, Belanda sampai menangkap dan membuang Raja Minangkabau, Sultan Begagar Syah ke Batavia. Bahkan beberapa pemuka adat dan ulama digantung.

Karena kewalahan, Belanda mendatangkan bantuan militer dari Jawa, dan berusaha merebut Bonjol kembali. Pada 30 April 1835 kaum kafir ini mulai menyerang Bonjol dan jurusan Matur, Palembayan plus Tapanuli Selatan. Serangan besar-besaran ini berhasil mengepung Bonjol. Tapi jangan ditanya periawanan Tuanku Imam Bonjol dan pasukan mujahidnya. Mereka menyongsong syahid, sementara para prajurit Belanda tak sedikit yang mati sia-sia.

Segala cara dipakai Belanda buat menaklukan Bonjol. Mereka membangun kubu dekat Benteng Bonjol, dan pada Agustus 1835 datang bala bantuan hingga 14.000 prajurit Tapi Bonjol tetap tak tertaklukkan. Akhirnya presiden Belanda di Padang mengirim surat ajakan berunding ke Tuanku Imam Bonjol. Tawaran ini diterima Tuanku Imam Bonjol, tapi syaratnya, jalan dan Bukittinggi ke Rao tidak boleh melewati Bonjol, rakyat Minangkabau tidak boleh dipaksa ikut rodi dan Belanda harus menghentikan campur tangannya di Minangkabau. Karena syarat-syarat ini diterima, sempat terjadi gencatan senjata.

Rupanya gencatan senjata ini cuma taktik belaka. Secara tiba-tiba, Belanda yang licik ini, menyerang Bonjol (akhir November 1836). Benteng Bonon dihujani meriam sampai terbakar. Pada 3 Desember 1836 dini hari pasukan Belanda berhasil menerobos masuk lewat dinding benteng yang jebol terhantam meriam. Mereka langsung menuju rumah Tuanku Imam Bonjol. Dengan keji menyeret para wanita ke luar rumah. Pada hari itu. Mahmud, putra Tuanku imam Bonjol syahid.

Tapi kedatangan Tuanku imam Bonjol yang pada malamnya tidak tidur di rumah semakin meningkatkan perlawanan. Walaupun menggunakan taktik licik, Belanda gagal merebut Benteng Bonjol.

Pada 9 Maret 1837 melalui Panglima Tentara Hindia Belanda Mayor Jenderal Cochius, lagi-Iagi Belanda mengajak berunding. Dengan tegas tawaran ini ditolak Tuanku Imam Bonjol. Perang kembali meletus, Benteng Bonjol dihujani tembakan terus menerus dan rusak berat. Tuanku Imam Bonjol bersama pasukannya kembali bertempur dengan gagah berani. Walaupun akhirnya Benteng Bonjol jatuh (16 Agustus 1837). Belanda tidak berhasil melumpuhkan Tuanku Imam Bonjol. Ia berhasil Iolos, malah memimpin perang gerilya di hutan-hutan.

Dalam perang gerilya itu Tuanku lmam Bonjol terpaksa menyingkir ke Koto Marapak. kemudian ke Bukit Gadang. Belanda Iagi-Iagi menunjukan kecurangannya, pada 28 Oktober 1837, Belanda mengundang Imam Bonjol ke Padang. Tapi setelah datang bukan sambutan yang diterima melainkan tangkapan yang ada.

Pejuang besar ini mula-mula dipenjarakan di Bukittinggi, tapi khawatir akan pengaruhnya yang dapat membangkitkan semangat jihad penduduk, Belanda memindahkan Tuanku Imam Bonjol ke Padang. Tapi karena kharismanya begitu besar, kaum kafir ini masih khawatir, dan memindahkannya ke Cianjur, Jawa Barat (23 Januari 1838). Hingga pada 19 Januari 1939. Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Ambon, dan pada 1841 ke Manado. Di tempat iniiah pada 6 November 1864 ulama besar ini menemui Rabb-nya pada usia 92 tahun, sesudah 27 tahun lamanya menjadi tawanan.

Atas semua jasanya, Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai “Pahlawan Perintis Kemerdekaan”. Namanya juga diabadikan oleh institut Agama Islam Negeri imam Bonjol Padang. Tapi tentu bukan itu yang diharapkan imam Bonjol. la “cuma” Ingin Islam tegak di bumi nusantara tercinta tanpa penjajahan tanpa pemasungan. Sekarang, tugas kita melanjutkannya. [Sumber: Majalah Sabili, edisi th 2000]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru