Iklan Atas Zona Muslim

Penjelasan Hukuman Ta`zir Bagi Pelaku Kejahatan
4/ 5 stars - "Penjelasan Hukuman Ta`zir Bagi Pelaku Kejahatan" Definisi At-Ta`zir Secara bahasa At-Ta`Zir berarti kecaman, dan biasa dimutlakan dengan cambukan yang tidak sampai pada hukuman atau de...

Penjelasan Hukuman Ta`zir Bagi Pelaku Kejahatan

Admin

Definisi At-Ta`zir

Secara bahasa At-Ta`Zir berarti kecaman, dan biasa dimutlakan dengan cambukan yang tidak sampai pada hukuman atau dengan cambukan yang sangat keras. Dimaksudkan dari hukuman ringan ini untuk menunjukan kebesaran, keagungan dan menolong atas sesuatu. [Al-Qamus al-Muhith dan al-Mughny (9/176) cet. Maktabah Cairo]

Hukuman ringan dalam agama berarti: Suatu hukuman yang disyariatkan atas suatu kejahatan yang tidak ada hukuman ataupun hukuman setimpal (qishash) di dalamnya. Misalnya seperti orang yang mencuri sesuatu yang tak sampai ukuran, menggauli perempuan yang tidak halal namun bukan di kemaluan, menggauli istri dari dubur, menghina namun tak sampai qadzaf, berbuka sebelum waktunya di bulan Ramadhan atau hal-hal lain yang seperti itu dari perbuatan-perbuatan yang tak ada hukuman tertentu secara syar'i. Dalam hal ini hendaknya pemimpin memberi pelajaran dan menghukumnya dengan cara yang akan dijelaskan nanti.

Dasar Legalitasnya

Tak diragukan lagi bahwa agama dibangun atas dasar mendapatkan kebaikan dan meminimalisi kerusakan, oleh karena itu telah disyariatkan hukuman ringan untuk kejahatan yang tak ada hukuman ataupun hukuman setimpal (qishash) di dalamnya untuk memenuhi tujuan ini. Juga untuk merealisasikan budaya amar ma'ruf nahi munkar. Telah ada contoh dalam sunnah Nabi tanpa membatasi:

Perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam untuk memukul anak-anak yang tidak shalat ketika sudah berusia sepuluh tahun.

Tekad beliau Shallallahu 'alaihi wasallam untuk membakar rumah orang-orang yang tidak hadir dalam shalat jama'ah.

Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam membakar harta curian dari rampasan perang.

Perintahnya Shallallahu 'alaihi wasallam untuk memotong kepala patung sehingga menjadi seperti pohon dan memotong tirai (yang bergambar) untuk kemudian dijadikan bantal.

Perintah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam untuk memecahkan kendi khamr dan menyobek kantongnya.

Perintah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abdullah bin `Umar untuk membakar dua baju yang terkena warna kuning (dari za'faron)

Dilipatgandakan denda bagi orang yang mencuri dari selain tempat penyimpanan, orang yang mencuri buah-buahan namun tidak sampai nishab dan orang yang menyembunyikan ternak yang tersesat

Perintah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengambil setengah harta oang yang tak mau membayar zakat.

Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam memenjarakan beberapa orang karena menuduh.

Seluruh contoh ini dan selainnya telah tetap dari Nabi yang sebagiannya akan disebutkan haditsnya pada penjelasan bab ini dan sebagiannya tersebar di antara kitab ini dan telah disebutkan atau mungkin belum.

Maksud dari ini adalah bahwa sesungguhnya Nabi menghukuman ringan orang-orang yang berbuat kejahatan dan mensyariatkan bagi Shahabat dan wakil-wakil beliau untuk melakukannya. Beliau bersabda:

(لا يجلد فوق عشر جلدات إلا في حد من حدود الله)

Jangan mencambuk lebih dari sepuluh kali kecuali dalam hukuman dari hukum-hukum Allah. [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim]

Para khalifah setelah beliau menghukuman ringan dalam kejahatan yang tak ada hukuman atau qishash di dalamnya. Atsar mengenai perbuatan mereka sangatlah banyak dan akan disebutkan pada tempatnya nanti. Salah satunya adalah yang datang dari Ali tentang seorang lelaki yang berkata kepada lelaki lain: “Wahai orang yang buruk, wahai fasik.” Ali berkata: “Tak ada hukuman yang diketahui atasnya, maka pemimpin memberinya hukuman ringan berdasarkan pandangannya.” [Dihasankan oleh al-Albany, diriwayatkan oleh al-Baihaqy (8/253) dan lihat al-Irwa` (2393)]

Disepakati Bahwa Tak Ada Batasan Minimal Dalam Hukuman Ringan

Bahkan hukuman ringan dilakukan dengan segala sesuatu yang bisa mengecam manusia berupa perkataan, perbuatan dan meninggalkan pembicaraan dan perlakuan. Maka terkadang bisa dihukum ringan dengan menasehatinya, menjelek-jelekannya, bersikap keras kepadanya, memboikotnya, tidak menyapanya sampai dia bertaubat, diasingkan dari tempatnya, tidak memakainya dalam pasukan, memutus penghasilannya, memenjarakannya, menghitamkan wajahnya lalu menaikannya pada tunggangan dengan terbalik atau yang lainnya sesuai dengan yang dipandang oleh pemimpin bisa mencegah orang jahat dari kejahatannya dan memotivasinya untuk berbuat kebaikan. [Maratib al-Ijma’ (hal.136), Majmu' al-Fatawa (28/108, 244) dan lihat Ibnu 'Abidin (4/60), Fathu al-Qadir (5/516) dan al-Mughny (10/344 – dengan penjelasannya)]

Apakah Ada Batasan Maksimal Dalam Hukuman Ringan?

Ulama berselisih dalam hal ini menjadi tiga pendapat:

Pertama: Tidak lebih dari sepuluh cambukan, hal ini dituliskan oleh Ahmad dan perkataan Ishaq, al-Laits dan Ibn Hazm berserta pengikutnya. Argument mereka adalah hadits Abu Hurairah dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

(لا يجلد أحد فوق عشرة أسواط إلا في حد من حدود الله)

Janganlah seorang mencambuk lebih dari sepuluh kali kecuali dalam hukuman dari hukum-hukum Allah. [Hadits Shahih, takhrijnya telah disebutkan beberapa waktu lalu dan hadits ini muttafaq 'alaihi]

Ibn Hazm berkata: Bagi siapa yang melakukan banyak kejahatan, maka hendaknya hakim mencambuk untuk setiap kejahatannya dengan sepuluh kali cambukan, maka inilah hukuman paling sedikit atas perbuatannya.

Kedua: Hukuman ringan lebih sedikit dari hukuman terkecil, yang berpendapat dengan hal ini berselisih menjadi beberapa sisi, di antaranya:

Hendaknya hukuman ringan tidak sampai dengan hukuman terkecil yang disyariatkan secara mutlak: hal ini dikatakan oleh Abu Hanifah, asy-Syafi'I dan Ahmad dalam salah satu riwayat. [Al-hidayah (2/117), al-Badaa`i' (7/64), Raudhatu ath-Thalibin (10/174), Nihayatu al-Muhtaj (8/22), al-Mughny (10/347 – dengan asy-Syarh al-Kabir)]

Berdasarkan hal itu maka hukuman ringan paling banyak adalah tiga puluh sembilan kali cambukan (menurut asy-Syafi'I, karena hukuman khamr menurutnya adalah empat puluh cambukan) dan tujuh puluh sembilan (menurut Abu Hanifah).

Hendaknya hukuman ringan untuk setiap kejahatan tak sampai pada hukuman yang disyariatkan pada kejahatan yang serupa: ini adalah riwayat ketiga dalam madzhab Ahmad. Ibn Taimiyah menyetujui bagian ini sebagaimana yang akan disebutkan. Argument dari pendapat ini adalah:

a. Hadits yang diriwayatkan secara shahabat (marfu`):

(من بلغ حدا في غير حد, فهو من المعتدين)

Bagi siapa yang menghukum hingga sama dengan hukuman pada kejahatan yang tak ada hukuman, maka dia adalah orang yang telah melampaui batas. hadits ini dha`if dan tidak valid.

b. Diriwayatkan dari Ibnul Musayyab tentang seorang budak perempuan yang dimiliki oleh dua orang lelaki, maka salah satu di antara mereka berdua menggaulinya? Dia berkata: Dia dicambuk sebanyak sembilan puluh sembilan kali. [Sanadnya Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan lihat al-Irwa` (2398)] Pendapat ini diriwayatkan dari `Umar yang diriwayatkan oleh al-Asyram dan Ahmad berhujjah dengannya. Al-Albany berkata: Aku belum memastikan atas kualitas sanadnya.

c. Karena hukuman itu disesuaikan dengan kejahatan dan maksiatnya, sedangkan maksiat yang telah ada hukum-hukumnya adalah lebih besar daripada selainnya. Maka tidak boleh hukuman untuk suatu hal yang paling rendah di antara dua hal sama dengan yang paling besar. Jadi tidak boleh mencambuk seseorang yang mencium perempuan yang haram lebih dari hukuman zina, padahal zina dengan besarnya perkaranya dan kekejiannya, tidak boleh hukumannya lebih dari hukuman, maka apalagi yang di bawah itu.

Ketiga: Pemimpin bisa menghukum lebih dari hukuman jika melihat ada maslahat di dalamnya, ini adalah perkataan Malik dan salah satu dari pendapat-pendapat Abu Yusuf, perkataan Abu Tsaur dan sekelompok pengikut asy-Syafi'i dan merupakan salah satu sisi pada pendapat mereka, juga ath-Thahawy dari Hanafiyyah dan Syaikhul Islam menyetujuinya pada kejahatan-kejahatan yang tak ada hukuman pada jenisnya. [Al-Muhalla (11/403), al-Kafy karya Ibnu Abdilbarr (2/1073), al-Kharsyi (8/110), Raudhatu ath-Thalibin (10/174), al-Inshaf (10/243) dan al-Mughny (10/348 – dengan penjelasannya)] Yang berpendapat dengan hal ini berhujjah dengan hal-hal berikut:

Yang diriwayatkan dari an-Nu'man bin Basyir:

)أَنَّه رفع إليه رجل غشى جَارِيَةِ امْرَأَتِهِ، فَقَالَ: لَأَقْضِيَنَّ فِيها بِقَضِاء رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ كَانَتْ أَحَلَّتْهَا لَكَ جَلَدْتُكَ مِائَةً، وَإِنْ كانت لَمْ تحلهَا لَكَ رَجَمْتُكَ)

Sesungguhnya dilaporkan kepadanya tentang seorang lelaki yang menggauli budak istrinya, maka dia berkata: “Sungguh aku akan menghukumiya dengan yang diputuskan oleh Rasulullah. Jika istrinya menghalalkannya bagimu, maka aku cambuk engkau seratus kali. Dan jika dia tidak menghalalkannya untukmu maka aku akan merajammu.” hadits ini dha`if, diriwayatkan oleh Abu Dawud (4458), at-Tirmidzi (1451), an-Nasaa`i (6/123) dan Ibnu Majah (2551)

Suatu riwayat: bahwa Ma'an bin Za`idan membuat cap yang sama dengan cap baitul maal, kemudian dia mendatangi penjaga baitul maal dan mengambil harta dari dalamnya. Maka hal itu sampai kepada `Umar dan dia mencambuknya sebanyak seratus kali dan memenjarakannya. Kemudian `Umar menyidangnya dan mencambuk sebanyak seratus kali lagi dan menyidangkannya lagi setelah itu dan dia mencambuknya sebanyak seratus kali dan mengasingkannya.

Suatu riwayat bahwa dihadapkan kepada Ali seorang dari Najasyi yang minum khamr pada bulan Ramadhan. Maka Ali mencambuknya delapab puluh kali kemudian memerintahkannya untuk dipenjara. Lalu keesokan harinya Ali mengeluarkannya dari penjara dan mencambuknya lagi dua puluh kali kemudian berkata: “Sesungguhnya aku mencambukmu sebanyak dua puluh kali ini adalah karena kamu berbuka saat berpuasa Ramadhan dan keberanianmu melanggar larangan Allah.” [Al-Albany menghasankannya, diriwayatkan oleh ath-Thahawy (2/88) dan lihat al-Irwa` (2399). Aku berkata: dan ada juga yang serupa pada al-Baihaqy (321) dan najasyi di sini bukanlah an-Najasyi dari Habasyah yang terkenal]

Suatu riwayat: Sesungguhnya `Umar mencambuk Shabigh (karena melihat kebida'ahannya) dengan banyak cambukan yang tak terhitung jumlahnya.

Pendapat Yang Kuat (rajih)

Adapun pendapat pertama, maka yang mengatakannya berpegang pada hadits Abu Burdah tentang larangan mencambuk lebih dari sepuluh kali “kecuali pada hukuman dari hukum-hukum Allah.” Mereka membawa makna “hukuman” kepada hukuman yang telah ditentukan pada kejahatan-kejahatan yang memiliki hukuman, sedangkan yang lainnya memaknainya dengan: salah satu hak dari hak-hak Allah walaupun bukan maksiat yang telah ditentukan hukumannya, karena seluruh maksiat merupakan hukum-hukum Allah. Penulis berkata:Inilah pendapat yang lebih benar.

Sedangkan Syaikhul Islam Ibn taimiyah berpendapat bahwa maksud dari hukum-hukum Allah: segala sesuatu yang diharamkan dalam hak Allah. Beliau berkata: lafadz hudud dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah maksudnya adalah batas antara yang halal dan yang haram, seperti yang terakhir haram dan yang pertama halal. Maka dikatakan untuk yang pertama:

(تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا)

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. [Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah: 226]

Dan untuk yang terakhir:

(تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا)

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. [Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah: 187]

Adapun penamaan suatu hukuman yang telah ditentukan dengan hukuman merupakan pengertian baru, maka maksudnya dalam pengertian sekarang menjadi: bahwa sesungguhnya yang mencambuk untuk hak dirinya sendiri seperti cambukan seorang suami terhadap istri ketika tidak taat tidaklah lebih dari sepuluh cambukan. [Lihat as-Siyasah asy-Syar'iyyah (hal. 55,56)]

Penulis berkata: Di antara hal-hal yang menunjukan bolehnya meambah lebih dari 10 cambukan dalam hukuman ringan adalah yang akan disebutkan dari banyaknya gambaran hukuman ringan yang tak hanya berupa cambbukan atau pukulan. Dan ini sanagtlah jelas, segala puji bagi Allah.

Adapun yang mengatakan bahwa hukuman ringan tak sampai dengan hukuman terkecil, maka aku tidak melihat ada hujjah yang kuat untuknya. Yang tampak bagiku bahwa pendapat yang paling adil adalah: diperbolehkan menambah lebih dari hukuman pada hukuman ringan untuk kejahatan yang tak ada hukuman pada jenis kejahatannya. Adapun jika dalam jenis kejahatan tersebut ada hukumannya, maka tidak boleh dilebihkan dari hukumannya. Inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah.

Bolehkan Ta’zir Dengan Hukuman Mati?

Ada pembicaraan dalam Hanafiyyah, Malikiyyah dan Hanabilah pada beberapa bagian atas bolehnya hukuman ringan dengan pembunuhan. Ini adalah yang dipilih oleh Ibn Taimiyah, beliau berkata: Bagi siapa yang kejahatannya di bumi tidak bisa dicegah kecuali dengan pembunuhan, maka dia dibunuh. [Ibnu 'Abidin (4/62), Tabshirotu al-Ahkam karya Ibnu Farhun (2/206), al-Inshof (10/249), Raudhatu ath-Thalibin (10/174), al-Ahkam as-Sulthoniyyah (hal. 236) dan Majmu' al-Fatawa (28/108,109)]

Seperti orang yang memecah belah jama'ah kaum muslimin dan penyeru kepada kebid'ahan dalam agama, Allah berfirman:

(مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا)

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: Bagi siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. [Al-Qur'an, Surat Al-Ma'idah: 32]

Dalam ash-Shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:

(إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ، فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا)

Jika ada dua khalifah yang dibai'at, maka bunuhlah yang terakhir di antara keduanya.

beliau juga bersabda:

(من جاءكم و أمركم على رجل واحد يريد أن يفرق جماعتكم, فاضربوا عنقه بالسيف كائنا من كان)

Bagi siapa yang datang kepada kalian dan menyeru kalian pada seseorang yang ingin memecah-belah jama'ah kaum muslimin, maka bunuhlah dia siapapun orangnya.

Perintah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam untuk membunuh seorang lelaki yang dengan sengaja berdusta atasnya , ad-Dailamy bertanya kepada beliau tentang orang yang tidak berhenti minum khamr? Maka beliau bersabda:

(من لم ينته عنها فاقتلوه)

“Bagi siapa yang tidak berhenti darinya maka bunuhlah dia.”

Penulis berkata: Adapun dalam madzhab asy-Syafi'i tak ada petunjuk mengenai hukuman ringan dengan pembunuhan. Yang dapat disimpulkan dari madzhab Ibn Hazm adalah larangan membunuh untuk hukuman ringan tanpa ada keraguan, karena dasar bagi mereka adalah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:

(إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وأعراضكم وأبشاركم حَرَامٌ عَلَيْكُمْ)

Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian dan kulit kalian adalah haram di antara kalian….

sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam :

(لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ،يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، إِلَّا بِإِحْدَى ثَلاَثٍ:الثَّيِّبُ الزَّانِي،و النَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتارك لدينه المفارق لِلْجَمَاعَةِ)

Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah kecuali karena salah satu di antara tiga hal: hukuman setimpal (qishash), orang yang sudah pernah menikah yang berzina dan yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jama'ah.

Beberapa Bentuk Hukuman Ringan

1. Hukuman Harta

Disyariatkan hukuman ringan degan hukuman harta, hal itu bisa terjadi dalam tiga bentuk:

Pemusnahan. Disyariatkan untuk memusnahkan kemunkaran berupa benda-benda dan sifat-sifat yang boleh dihilangkan maka tempatnya juga mengikutinya dalam hukum. Ini adalah madzhab Malik dan Ahmad. [Lihat Majmu' al-Fatawa Ibnu Taimiyah (20/384), (28/113-117)]

Seperti memusnahkan patung yang disembah selain Allah, alat-alat yang melalaikan dan alat-alat musik dan wadah-wadah khamr, maka boleh untuk menghancurkan dan membakarnya. Dalam hadits Anas bahwa Thalhah berkata:

)يَا نَبِيَّ اللَّهِ، إِنِّي اشْتَرَيْتُ خَمْرًا لِأَيْتَامٍ فِي حِجْرِي، قَالَ: «أَهْرِقِ الخَمْرَ، وَاكْسِرِ الدِّنَانَ(»

“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku membeli khamr untuk budak-budak di rumahku.” Nabi bersabda: “Buanglah khamr itu dan pecahkanlah tempat-tempatnya.” [Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi]

Dari `Umar bahwa Rasulullah memerintahkan untuk membakar kedai yang menjual khamr milik Ruwaisyid ats-Tsaqafy, beliau bersabda: “Sesungguhnya kau adalah orang fasik kecil, bukan orang yang mendapat petunjuk.”

Beliau memerintahkan Ali untuk membakar suatu kampung yang di dalamnya dijual khamr. Pemusnahan kemunkaran benda-benda hanyalah jika benda itu menimbulkan kerusakaan bersama dengan tempatnya, bukan secara mutlak harus dimusnahkan, hal ini sebagaimana yang disimpulkan oleh Syaikhul Islam.

2. Perubahan.

Yaitu menghilangkan segala sesuatu yang pada dasarnya haram, seperti mematahkan alat-alat musik, merubah gambar makhluk bernyawa dengan memotong kepalanya atau yang semacamnya:

Dari Abu Hurairah dia berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

)أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: إِنِّي كُنْتُ أَتَيْتُكَ الليلة فَلَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَدَخَلْ عَلَيْكَ البَيْت إِلَّا أَنَّهُ كَانَ فِي بَابِ البَيْتِ تِمْثَالُ الرِّجَلِ، وَكَانَ فِي البَيْتِ قِرَامُ سِتْرٍ فِيهِ تَمَاثِيلُ، وَكَانَ فِي البَيْتِ كَلْبٌ، فَأمُرْ بِرَأْسِ التِّمْثَالِ
الَّذِي بِالبَيت يُقْطَعْ فَيصيرْ كَالشَّجَرَةِ، وَأمُرْ بِالسِّتْرِ يُقْطَعْ فيُجْعَلْ في وِسَادَتَيْنِ مُنْتَبَذَتَيْنِ تُوطَآنِ، وَمُرْ بِالكَلْبِ فَليُخْرَجْ "، فَفَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وإذا الكَلْبُ جَرْو لِلْحَسَنِ و الحُسَيْنِ تَحْتَ نَضَيدٍ لَهُم)

Jibril datang kepadaku lalu berkata: “Sesungguhnya aku datang kepadamu semalam, dan tak ada yang menghalangiku untuk masuk ke rumah kecuali karena di dalam rumah ada patung seorang lelaki, di rumah ada tirai yang bergambar dan di rumah ada anjing. Maka suruhlah agar kepala patung itu dipotong sehingga menjadi seperti pohon, suruhlah agar tirai itu dipotong kemudian dijadikan dua sarung bantal yang dipakai untuk bersandar dan suruhlah agar anjing itu dikeluarkan.” Maka Rasulullah melakukannya dan anjing itu ternyata adalah anak anjing milik Hasan dan Husain di bawah ranjang mereka. [Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasaa`i]

3. Denda.

Hukuman ringan dengan denda harta dibolehkan dalam madzhab Malik, asy-Syafi'i dan Ahmad (dengan adanya perselisihan dalam rinciannya), pendapat ini adalah yang dipilih oleh Syaikhul Islam. [Ibnu 'Abidin (4/62), Tabshiratu al-Ahkam (2/203), al-Ahkam as-Sulthaniyyah (hal. 295), Kasysyaf al-Qanaa' (4/74) dan al-Fatawa (28/118)] Mereka berargumentasi bahwa hal ini sesuai dengan keputusan-keputusan Nabi seperti misalnya:

Beliau membolehkan bagi yang menemukan buruan orang yang berburu di tanah haram Madinah jika menemukannya.

Pelipatgandaan denda bagi yang mencuri buah-buahan yang masih tergantung sebelum disimpan dalam keranjang. Dalam hadits `Amr bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya secara marfu`:

)وَمَنْ خَرَجَ بِشَيْءٍ مِنْهُ فَعَلَيْهِ غَرَامَةُ مِثْلَيْهِ وَالْعُقُوبَةُ، وَمَنْ سَرَقَ شَيْئًا مِنْهُ بَعْدَ أَنْ يُؤْوِيَهُ الْجَرِينُ، فَبَلَغَ ثَمَنَ الْمِجَنِّ فَعَلَيْهِ الْقَطْعُ، وَمَنْ سَرَقَ دُونَ ذَلِكَ فَعَلَيْهِ غَرَامَةُ مِثْلَيْهِ وَالْعُقُوبَةُ(»

Bagi siapa yang membawa sesuatu keluar darinya, maka dia harus mengganti dua kali lipatnya dan juga dihukum. Bagi siapa yang mencuri sesuatu darinya setelah disimpan dalam keranjang dan sampai seharga tameng, maka dipotong tangannya. Dan Bagi siapa yang mencuri kurang dari itu, maka dia harus mengganti dua kali lipatnya dan juga hukuman.

Pelipatgandaan denda bagi yang menyembunyikan hewan yang hilang.

Pengambilan setengah harta orang yang menolak membayar zakat.

Penulis berkata: Adapun Hanafiyyah dan Syafi'iyyah mereka melarang menghukum ringan dengan mengambil harta, mereka berkata: karena hal itu dapat membawa pemimpin-pemimpin yang dzhalim untuk mengambil hartanya kemudian memakannya.

Mereka berlebihan dalam berhati-hati dan lalai terhadap dalil yang telah disebutkan atau bahkan mereka berpendapat atas penghapusannya padahal batasan hukuman ringan dengan harta adalah pada tiga jenis hukuman ringan yang telah disebutkan tidak memperbolehkan bagi hakim untuk mengambil harta-harta orang-orang sebagai hukuman bagi mereka dengan kekuasaannya untuk menghukum ringan. Allah Maha Tahu.

Hukuman Ringan Dengan Penjara Dan Pengusiran

Disyariatkan dalam hukuman ringan dengan penjara menurut kesepakatan para ulama. [Tabyin al-Haqa`iq (4/179)] Dasarnya adalah firman Allah Subhanahu wata'ala :

(أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ)

Atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). [Al-Qur'an, Surat Al-Ma'idah: 33]

Ulama berkata: an-nafyu adalah penjara.

Dalam hadits Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya:

(إن النبي حبس رجلا في تهمة ثم خلى عنه)

Sesungguhnya Nabi memenjarakan seorang lelaki karena suatu tuduhan kemudian beliau melepaskannya. [Hasan, diriwayatkan oleh Abu Dawud (3630), an-Nasaa`i (2/255), at-Tirmidzi dan Ahmad (5/2)]

Dari al-Hirmas bin Habib dari bapaknya dia berkata:

)أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغَرِيمٍ لِي، فَقَالَ لِي: «الْزَمْهُ»، ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا أَخَا بَنِي تَمِيمٍ مَا تُرِيدُ أَنْ تَفْعَلَ بِأَسِيرِكَ؟)

Aku datang kepada Nabi dengan membawa orang yang berhutang kepadaku, maka beliau berkata: “Tahanlah dia.” Kemudian beliau berkata kepadaku: “Wahai saudara Bani Tamim, apa yang akan kau lakukan dengan tahananmu?” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah]

az-Zaila'y telah menukil konsesus atas legalitasnya.

Syaikhul Islam berkata: Sesungguhnya penahanan yang syar'i bukanlah memenjarakan di tempat yang sempit, namun dengan menahan seseorang yaitu mencegahnya untuk melakukan yang dia mau dengan dirinya apakah itu di dalam rumah, masjid atau menyerahkannya pada orang yang bermasalah dengannya atau wakilnya. Karena itulah Nabi menamainya dengan tahanan, tidak ada pada masa Nabi dan Abu Bakar penjara yang disiapkan untuk menahan orang. Namun ketika semakin banyak penduduk di masa `Umar bin Al-Khaththab beliau membeli suatu rumah di Mekkah dan menjadikannya sebagai penjara untuk digunakan sebagai tempat tahanan..... [Majmu' al-Fatawa (35/398)]

b. Begitupula pengusiran adalah disyariatkan berdasarkan makna luar firman Allah:

أَوْ يُنفَوْا مِنَ الْأَرْضِ

Atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). [Al-Qur'an, Surat Al-Ma'idah: 33]

Nabi pernah menhukuman ringan orang-orang yang bertingkah seperti wanita dengan pengusiran. `Umar bin Al-Khaththab juga mengusir Nashr bin Hajjaj ke Bashrah ketika para wanita terfitnah dengannya. Mayoritas berpendapat bolehnya hukuman ringan dengan pengusiran. Hanabilah berkata: tak ada pengusiran kecuali pada zina dan orang yang membanci.

Apakah Wajib Hukuman Ringan Atas Perbuatan Yang Disyariatkan Hukuman Ringan?

Ulama berselisih jika ada yang melakukan sesuatu yang disyariatkan hukuman ringan di dalamnya, apakah wajib bagi hakim untuk menjatuhinya hukuman ringan? Ada dua pendapat [Lihat Al-Hidayah (2/116), al-Kafy karya Ibnu Abdilbarr (2/1073), al-Mughny (9/178), al-Inshaf (10/242) dan Nihayatu al-Muhtaj (8/19,23)]

Pertama: Wajib baginya, ini adalah madzhab Abu Hanifah, Malik dan Ahmad. Hanabilah menuliskan bahwa segala perbuatan yang ada dalil hukuman ringannya maka wajib untuk melakukannya sebagai bentuk pelaksanaan terhadap perintah di dalamnya. Adapun yang tidak ada dalil tentang hukuman ringannya: jika pemimpin melihat ada kepentingan di dalamnya atau tahu bahwa hal itu tak dapat dicegah kecuali dengan hukuman ringan, maka dia wajib untuk melakukannya, karena pencegahan dalam pelanggaran hak Allah itu disyariatkan. Maka wajib pula dilakukan seperti hukuman dan meninggalkannya berarti suatu penyepelean.

Kedua: Tidak wajib, ini adalah madzhab asy-Syafi'i. Beliau berhujjah dengan kejadian-kejadian yang terjadi pada masa Rasulullah yang meninggalkan hukuman ringan atasnya, seperti:

Hadits:

(أن رجلا جاء إلنبي فقال: إني رأيت امرأة, فأصبت منها ما دون أن أطأها, فقال: أصليت معنا؟ قال: نعم, فتلا عليه قوله تعالى: إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ)

Seorang lelaki datang kepada Nabi dan berkata: “Sesungguhnya aku melihat seorang perempuan, lalu aku melakukan sesuatu kepadanya yang tidak sampai menggaulinya.” Maka beliau berkata: “Apakah engkau shalat bersama kami?” Lelaki itu berkata: “Iya.” Maka Nabi membacakan kepadanya firman Allah:

(إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ)

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. [Al-Qur'an, Surat Huud: 114

Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim (2763)]

b. Dari Anas bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

(إِنَّ الْأَنْصَارَ كَرِشِي وَعَيْبَتِي، وَإِنَّ النَّاسَ سَيَكْثُرُونَ وَيَقِلُّونَ، فَاقْبَلُوا مِنْ مُحْسِنِهِمْ و تجاوزوا عَنْ مُسِيئِهِمْ)

Kaum Anshar itu adalah perut dan kantongku (Maksudnya adalah tempat rahasia dan amanahku) dan sesungguhnya manusia akan bertambah banyak dan kaum Anshar semakin sedikit. Maka terimalah kebaikan mereka dan maafkanlah keburukan mereka. [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhariy (3799) dan Muslim (2510)]

c. Dari Abdullah bin az-Zubair dia berkata:

)خَاصَمَ الزبير رَجُلًا مِنَ الأَنْصَارِ فِي أ شِرَاجٍ الحَرَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «اسْقِ يَا زُبَيْرُ، ثُمَّ أَرْسِلْ إِلَى جَارِكَ»، فَقَالَ الأَنْصَارِيُّ،: يَا رَسُولَ اللَّهِ، آنْ كَانَ ابْنَ عَمَّتِكَ؟ فَتَلَوَّنَ وَجْهُه، ثُمَّ قَالَ: «اسْقِ يَا زُبَيْرُ، ثُمَّ احْبِسْ الماء حَتَّى يَرجع إلى الجَدْرَ,ثُمَّ أَرْسِلْ الماء إِلَى جَارِكَ (

Sesungguhnya az-Zubair berselisih dengan seorang lelaki dari Anshar mengenai saluran air, maka Nabi berkata: “Ambilah secukupnya wahai Zubair kemudian berikan kepada tetanggamu.” Maka orang Anshar itu berkata: “Wahai Rasulullah, apakah itu karena dia anak bibimu?” Maka memerahlah wajah beliau, kemudian beliau berkata: “Ambilah airnya wahai Zubair kemudian tahanlah sampai penuh baru kemudian berikan kepada tetanggamu.” [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhariy (2708) dan Muslim (2357)]

Dalam hadits ini tak ada keterangan bahwa beliau memberi hukuman ringan.

d. Dari Ibn Mas'ud dia berkata:

)قَسَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْمًا، فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّهَا لَقِسْمَةٌ مَا أُرِيدَ بِهَا وَجْهُ اللهِ، قَالَ: فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَارَرْتُهُ، فَغَضِبَ مِنْ ذَلِكَ غَضَبًا شَدِيدًا، وَاحْمَرَّ وَجْهُهُ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي لَمْ أَذْكُرْهُ لَهُ، قَالَ: ثُمَّ قَالَ: «قَدْ أَوُذِيَ مُوسَى بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَر)َ

Rasulullah membagi dalam suatu pembagian, maka seorang lelaki berkata: “Sesungguhnya pembagian ini tidaklah untuk mengharap wajah Allah.” Ibn Mas'ud berkata: Maka aku mendatangi Nabi dan membisikan hal itu kepada beliau, maka sangat marahlah beliau karena perkataan itu dan memerah wajah beliau sampai aku berharap aku tidak memberitahukan hal itu kepada beliau. Ibn Mas'ud berkata: kemudian beliau bersabda: “Musa telah disakiti dengan yang lebih dari ini lalu dia bersabar.”

Dalam hadits ini tak ada penyebutan bahwa beliau memberi hukuman ringan.

Pendapat Yang Kuat (Rajih)

Pendapat yang kuat adalah tidak wajib untuk melaksanakan hukuman ringan dan hal ini dikembalikan kepada ijtihad hakim dengan syarat dia adalah seorang yang terpercaya. Hal ini berdasarkan hadits tentang seorang lelaki yang mencium seorang perempuan dan di dalamnya tak ada penyebutan bahwa Nabi menjatuhinya hukuman ringan. Adapun dalil-dalil lainnya maka dapat disanggah bahwa Nabi tidak membalas bagi dirinya sendiri. Begitupula mengenai perintah untuk memaafkan perbuatan buruk dari orang-orang Anshar hanyalah pada sesuatu yang tidak sampai pada kemunkaran. Dalam hadits `A'isyah:

(مَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ حَتَّى يُنْتَهَكَ مِنْ حُرُمَاتِ اللَّهِ)

Rasulullah tidak balas dendam untuk dirinya karena sesuatu kejahatan yang dilakukan kepada beliau, kecuali jika sampai melanggar kebesaran Allah.

Wallahu a'lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru