Iklan Atas Zona Muslim

Leher Jerapah, Antara Evolusi Jahiliyah VS Akal Sehat
4/ 5 stars - "Leher Jerapah, Antara Evolusi Jahiliyah VS Akal Sehat" Konon nenek moyang jerapah tak punya leher panjang. Leher panjang itu berawal dari upayanya menengadahkan kepala ke langit agar dapat menj...

Leher Jerapah, Antara Evolusi Jahiliyah VS Akal Sehat

Admin

Konon nenek moyang jerapah tak punya leher panjang. Leher panjang itu berawal dari upayanya menengadahkan kepala ke langit agar dapat menjangkau dedaunan kesukaannya yang cukup tinggi. Hal ini berlangsung terus-menerus sepanjang hari. Akibatnya terjadilah perubahan secara berangsur-angsur pada bentuk lehernya, yang semakin memanjang sebagaimana kita lihat sekarang. Sementara, jerapah yang tak mampu beradaptasi punah dengan sendirinya karena tidak dapat mengkonsumsi dedaunan. Logika berpikir semacam inilah yang sering dikatakan orang sebagai Teori Evolusi Darwin.

Lepas dari pengakuan dan keabsahan akan kebenaran teori tersebut, dalam hal ini penulis lebih tertarik untuk membahas proses evolusi yang terjadi, yang mungkin tidak saja terjadi pada jerapah, melainkan sangat boleh jadi terjadi pula pada peristiwa-peristiwa lain. Proses nasyrul jahiliyah, yaitu proses tersebar luasnya kerusakan disemua aspek kehidupan dan lapisan masyarakat, juga bagian dari evolusi.

Evolusi berarti perubahan secara berangsur-angsur dan terus-menerus dalam rentang waktu cukup lama. Sedang jahiliyah berarti saat kebathilan mendominasi hampir disemua segi kehidupan. Evolusi jahiliyah berarti perubahan secara perlahan-lahan menuju pada dominasi kebatilan atas al-haq, yang karena prosesnya berlangsung lama, sangat mungkin ummat tidak dapat merasakan adanya perubahan.

Ketika zaman kakek-nenek kita masih remaja, merupakan suatu 'aib (dalam pandangan masyarakat) jika seorang lelaki yang bertandang ke salah satu teman wanitanya lalu berbincang-bincang tanpa disertai muhrim.

Namun akibat terbukanya hubungan dengan dunia luar (Barat) dan semakin gencarnya propaganda jahiliyyah yang menyuarakan kebebasan, tata krama semacam itu dianggap kolot, usang dan ketinggalan jaman sehingga secara perlahan tetapi pasti mulai bergeser. Berdua-duaan di tempat yang gelap (apalagi di tempat yang terang) dengan yang bukan muhrim dibiarkan.

Bahkan hidup dalam satu rumah pun sebagaimana layaknya suami istri ditolerir. Walhasil, perkosaan, aborsi, penyakit kelamin, gila, kecanduan obat, frustasi dan bunuh diri sebagai kompensasi, semakin merajalela di tengah-tengah masyarakat tanpa terkendali. Sebuah bom waktu rakitan mereka sendiri yang bisa meledak setiap saat.

Apakah budaya semacam itu terjadi sekaligus tanpa melalui proses? Tidak! Kerusakan itu tidak terjadi sekonyong-konyong, melainkan bertahap dan berawal dari sesuatu yang 'sepele' dan 'tidak mungkin' menimbulkan dampak negatif, yang telah berlangsung sekian lama sehingga mereka lupa bahwa gaya hidupnya sudah menyimpang dan semakin jauh dari kebenaran.

Tengok misalnya, cara berpakaian wanita yang semakin minim dan terkesan seronok. Mereka tak segan mempertontonkan aurat, bahkan ada semacam kebanggaan jika mampu tampil terbuka dengan segala lekak-lekuk tubuhnya. Malah mereka dengan suka rela mengekploitasi diri sendiri untuk sekedar mencari sensasi dan menarik perhatian laki-laki (yang tak beriman tentunya) dengan dalih “Gadis Sampul”, ”Lomba Mirip Artis", Lomba Fotogenik”, ”Festival Kecantikan”, ”Senam Kebugaran” dan entah berapa puluh dalih lagi yang sengaja mereka cari-cari kemudian dikemas dalam bentuk yang apik dan pas.

Demikian pula dengan hiburan dan informasi. Sebut saja diskotik. Tak jelas sama sekali didirikannya. Sudah bukan rahasia lagi jika di dalamnya terjadi berbagai macam transaksi yang ilegal. Mulai dari pil-pil ”ringan" penghilang ”penat" dan pemberi kenikmatan, obat-obat penenang semacam ganja dan turunannya, ectasy, heroin, morfin dan segala jenis narkoba sampai transaksi seks dan perbuatan cabul. Anehnya, kegiatan ini tetap diizinkan. Alasanya, harapan mendapakan iming-iming pajak yang tinggi. Padahal seringkali petugas keamanan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menggerebek kejahatan yang sering terjadi di dalam diskotik.

Belakangan internet menyuguhkan cyberporn saluran yang isinya khusus menampilkan segala bentuk pornografi jika bukan bertujuan untuk merusak moral dan mematikan kreativitas sekaligus menempatkan wanita pada posisi yang paling rendah, hanya sebatas pemuas nafsu birahi belaka.

Pendek kata, lambat laun segala bidang kehidupan selalu diintip dan kemudian disusupi dengan ide-ide jahiliyah yang ujung-ujungnya selalu menggiring manusia menuju pintu kehancuran, sebagai wujud azam setan untuk terus menerus merusak keimanan manusia ”...saya benar-benar akan ( menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka...” (QS. Al-A'raaf: 16-17)

Lalu langkah apa yang sebaiknya kita lakukan agar penyakit ini tidak sempat tumbuh apalagi menular kemana-mana? Banyak. salah satunya tindak pencegahan (preventif) selalu lebih dari pengobatan (kuratif). Jangan langkahkan kaki, walau sedepa, untuk mengikuti trend yang bathil. Ini memang melawan arus ( yang bathil). Ketidak-mampuan mengikuti kebiasaan jahiliyah takkan membuat kita mati seperti jerapah, melainkan akan semakin immun (kebal) terhadap serangan virus, sebagaimana ikan dikolam air deras yang semakin cepat tumbuh dan dewasa karena selalu melawan arus. Wallahu a'lam bishshawab. [Majalah Ishlah, Edisi 53/1995]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru