Iklan Atas Zona Muslim

Hukum Nadzar Dengan Sesuatu Yang Haram
4/ 5 stars - "Hukum Nadzar Dengan Sesuatu Yang Haram" Maksud nadzar dengan sesuatau yang haram adalah: nadzar yang bertujuan kepada larangan dari sesuatu atau anjuran atas mengerjakan sesuatu...

Hukum Nadzar Dengan Sesuatu Yang Haram

Admin

Maksud nadzar dengan sesuatau yang haram adalah: nadzar yang bertujuan kepada larangan dari sesuatu atau anjuran atas mengerjakan sesuatu, bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti perkataan: (jika aku melakukan ini, maka demi Allah atasku haji atau sedekah atau puasa) dan sejenisnya.

Ini telah keluar dari arti sumpah, karena orang yang bernadzar di sini tidak menghendaki pendekatan diri, pertimbangan dalam suatu perkataan dengan maknanya bukan dengan lafazhnya, maksudnya adalah dorongan untuk melakukan atau larangan darinya, atas ini maka tidak diharuskan untuk memenuhinya, dan diwajibkan atasnya kafarat sumpah jika melanggar, ini adalah mazhab Ahmad -di dalam pendapat yang terkenal- dan Syafi`iy -dalam suatu pendapat-, juga yang menjadi rujukan Abu Hanifah, pendapat Ishaq, Abu Ubaid, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir, serta merupakan pilihan syaikhul islam. Ini adalah pendapat `Umar, Ibnu `Abbas, `A'isyah dan selain mereka dari kalangan sahabat. [Fathul Qadir (5/93), al Majmu’ (8/459), al Mughni (11/194-beserta penjelasan), Majmu’ al-Fatawa (35/253)]

Diriwayatkan dari `Imran bin Hushain secara mauquf:

(لا نذر في غضب, و كفارته كفارة يمين)

“Tidak ada nadzar karena kemarahan, dan kafaratnya adalah kafarat sumpah. [Dha`if, Hadits riwayat: Ahmad (4/433) dan selainnya, dan lihat al irwaa (2587)] Tetapi hadits ini dha`if, tidak shahih.

(و سئل ابن عباس: ما تقول في امرأة جعلت بردها عليها هديا ان لبسته؟ فقال ابن عباس: في غضب أم في رضا؟ قالوا: في غضب, قال: إن الله – تعالى – لا يتقرب إليه بالغضب, لتكفر عن يمينها)

“Ibnu `Abbas ditanya: tentang apa yang dikatakan oleh seorang perempuan yang menjadikan pakaiannya sebagai hadiah jika dipakai? Lalu Ibnu `Abbas bertanya: dalam keadaan marah atau ridha? mereka menjawab: dalam keadaan marah, Ibnu `Abbas menjawab: sesungguhnya Allah tidak didekati dengan kemarahan, maka bayarlah kafarat dari sumpahnya. [Sanadnya layyin, syaikhul islam menyandarkannya (35/256) kepada Atsram berkata: meriwayatkan kepada kami `Abdullah bin Rajaa bahwa `Imran dari Qatadah menepatinya]

Malik dan Abu Hanifah -dalam pendapatnya yang lama- berpendapat bahwa dia harus memenuhi nadzarnya. Wallahu a'lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru