Iklan Atas Zona Muslim

Hukum Mengusap Penutup Kepala Seperti Sorban Dan Sejenisnya Saat Wudhu
4/ 5 stars - "Hukum Mengusap Penutup Kepala Seperti Sorban Dan Sejenisnya Saat Wudhu" Mengenai hukum bolehnya Mengusap Penutup Kepala semisal sorban, peci jilbab dan perban saat wudhu ada telah dijelaskan oleh para ulama s...

Hukum Mengusap Penutup Kepala Seperti Sorban Dan Sejenisnya Saat Wudhu

Admin

Mengenai hukum bolehnya Mengusap Penutup Kepala semisal sorban, peci jilbab dan perban saat wudhu ada telah dijelaskan oleh para ulama sebagai berikut.

1. Mengusap Sorban

Seseorang yang berwudhu’ boleh secara mutlak mengusap sorban sebagai ganti dari mengusap kepala. Ini pendapat Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Auza’i, Ibn Hazm dan Ibn Taimiyah. Juga merupakan pendapat Abu Bakar, Umar, Anas dan lainnya dari kalangan Shahabat. [Masail Abu Daud (8), al-Mughni (1/300), al-Majmu (1/406), al-Aushath (1/468), al-Muhalla (2/58) dan Majmu al-Fatawa (21/184)]

Dari Amr bin Umayyah Adz-Dzamri berkata,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى عِمَامَتِهِ

“Aku melihat Rasulullah mengusap sorbannya” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (205)]

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Mughirah bin Syubah. Dari Bilal berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَالْخِمَارِ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengusap kedua khuf dan khimar.” [Hadits Riwayat: Muslim (285)]

Yang dimaksud khimar dalam hadits ini adalah penutup kepala, yaitu sorban.

Abu Hanifah dan para pengikutnya, Malik dan Syafii berpendapat bahwa tidak boleh hanya mengusap sorban saja, melainkan juga harus mengusap ubun-ubun. Sehingga, berdasarkan pendapat mereka yang membolehkan mengusap sebagian kepala, mengusap ubun-ubun adalah wajib, dan mengusap sorban adalah tambahan. Tetapi, Imam Syafii berkata bahwa jika hadits mengusap sorban shahih, maka ia pun membolehkannya. Dan memang, hadits tersebut shahih.

Para ulama yang melarang mengusap sorban berdalil dengan hadits dari Jabir bin Abdullah

رأيت النبي صلى الله عليه وسلم حسر العمامة عن رأسه ومسح على ناصيته

“Aku melihat Rasulullah membuka sorban dari kepalanya dan mengusap ubun-ubunnya”.

Namun penulis belum menemukan sanad hadits ini.

Mereka juga berdalil dengan hadits Mughirah bin Syubah:

أن النبي صلى الله عليه وسلم مسح على عمامته وعلى الناصية والخفين

“Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengusap sorban dan ubun-ubunnya, (dan mengusap juga) kedua khufnya”

Penulis berkata: Pendapat yang rajih adalah boleh mengusap sorban secara mutlak, karena adanya hadits shahih dari Rasulullah, juga perbuatan dua khalifah setelahnya. Juga, karena tidak ada dalil yang kuat dari pendapat yang melarang mengusap sorban. Yang lebih baik adalah mengusap sorban dengan sebagian ubun-ubun, untuk keluar dari perselisihan. Wallahu A’lam.

2. Mengusap Jilbab

Syaikhul Islam berkata, jika seorang wanita takut akan dingin dan sejenisnya, boleh baginya mengusap jilbabnya ketika berwudhu’. Ummu Salamah pernah mengusap jilbabnya ketika berwudhu’. Hendaknya, mengusap jilbab juga diikuti dengan mengusap sebagian rambutnya. Namun, bila tidak ada suatu keperluan, maka ada perbedaan ulama dalah hal tersebut. [Majmu al-Fatawa (21/218)]

Mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi, dan salah satu riwayat mazhab Hambali berpendapat bahwa hal tersebut tidak boleh, sebagaimana riwayat dari Aisyah bahwa ia memasukkan tangannya ke dalam jilbab, lalu mengusap kepalanya, dan ia berkata, “Demikianlah Rasulullah memerintahkanku.” Mereka berpendapat bahwa jilbab adalah bagian dari pakaian wanita yang tidak ada kesulitan untuk melepasnya. Sehingga tidak boleh mengusapnya ketika berwudhu’ tanpa suatu keperluan.

Sementara itu, Hasan al-Bashri berpendapat bahwa boleh mengusap jilbab. Ini pendapat mazhab Hambali. Namun, mereka mensyaratkan agar jilbab tersebut dililitkan dibawah leher, sebagaimana dikiaskan atas penutup kepala. Karena jilbab adalah benda yang biasa digunakan untuk menutup kepala.

Penulis berkata: Jika hadits dari Aisyah tersebut shahih, maka cukup tegas untuk melarang mengusap jilbab ketika berwudhu’. Jika tidak, maka bisa dikiaskan dengan mengusap penutup kepala. Yang lebih utama, adalah mengusap jilbab beserta ujung kepalanya.Wallahu A’lam.

3. Mengusap Peci, topi

Jumhur ulama berpendapat, bahwa tidak boleh mengusap peci saat berwudhu’ sebagai ganti dari mengusap kepala. Sebab yang diwajibkan adalah mengusap kepala, dan boleh diganti dengan mengusap sorban karena suatu halangan untuk melepasnya, sebagaimana pendapat jumhur ulama, atau sesuai dengan nash menurut pendapat Ahmad bin Hanbal.

Sementara Ibn Hazm, Ibnu Taimiyah dan para ulama lain berpendapat bahwa boleh mengusap peci saat berwudhu’. Karena, ketika Rasulullah mengusap sorbannya, bisa dipahami bahwa terbasahinya kepala dengan air secara langsung tidaklah wajib. Sehingga, boleh mengusap apa yang dipakai diatas kepala, meskipun tidak menutupi semua bagian kepala yang wajib dibasuh, dan meskipun tidak ada kesulitan untuk melepasnya. Ini pendapat yang benar. Wallahu A’lam.

Catatan tambahan:

Tidak disyaratkan memakai penutup kepala dalam keadaan suci untuk dapat mengusapnya. Permasalahan ini tidak bisa dikiaskan dengan khuf karena tidak ada kesamaan illat antara keduanya. Jika hal tersebut disyaratkan, pastilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskannya. [Al-Muhalla (2/64)]

Penulis berkata: Bahwa khuf sebagai pengganti atas apa yang diwajibkan dibasuh. Adapun kepala, maka diwajibkan untuk diusap, sehingga segala hal yang ada di atas kepala bisa mengambil hukum tersebut.

Selain itu, juga tidak ada batas waktu bolehnya mengusap penutup kepala saat berwudhu’. Sebab, hal ini tidak bisa dikiaskan dengan mengusap khuf, dan bahwa Rasulullah pernah mengusap sorban tanpa menyebutkan batas waktu bolehnya. Ini yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab. [ Al-Muhalla (2/65)]

4. Mengusap Jabirah (Pembalut Tulang dan sejenisnya)

Jabirah adalah dua bilah yang membalut tulang yang patah agar bisa kembali bersatu, yang saat ini telah digantikan dengan gips. Seseorang yang tengah menggunakan jabirah, boleh mengusapnya menurut pendapat jumhur ulama dari empat mazhab dan lainnya. [Syarh Fath al-Qadir (1/140), al-Mudawwanah (1/23), al-Mughni (1/203) dan al-Majmu (2/3327)] Mereka menggunakan dalil-dalil berikut:

Hadits Jabir tentang seseorang yang terkena memar dikepala. Rasulullah bersabda:“Cukuplah baginya membalut lukanya, lalu mengusapnya ketika bersuci.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (236) dan lainnya. Lihat al-Irwa (105). Hadits dhaif]

Perkataan Ibnu Umar:

من كان له جرح معصوب عليه, توضأ ومسح على العصائب, ويغسل ما حول العصائب

“Siapa yang lukanya terbalut, maka cukuplah baginya ketika berwudhu’ untuk mengusapnya, dan membasuh sekitar perban tersebut.” [Hadits Riwayat: Ibn Abi Syaibah (1/126) dan Al-Baihaqi (1/228). Sanadnya shahih]

Tidak diketahui pendapat yang berbeda dari kalangan para Shahabat.

Pengkiasan terhadap mengusap khuf, bahwa mengusap khuf boleh tanpa adanya keperluan. Sehingga, mengusap jabirah karena adanya halangan lebih utama.

Ibn Hazm berpendapat, “Siapa yang memakai jabirah, tidak boleh mengusapnya ketika berwudhu’, dan itu menjatuhkan hukum tempat tersebut. [Al-Muhalla (2/74)]

Penulis berkata: Ibnu Hazm berpendapat demikian karena ia memandang hadits-hadits yang berkaitan dengan mengusap perban adalah dhaif. Ia juga berpandangan bahwa qiyas tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Hadits-hadits yang berkaitan dengan mengusap sorban, seperti yang dikatakan oleh Ibn Hazm, memang tidak shahih. Adapun qiyas, tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut bisa menjadi hujjah, bila semua rukun dan syaratnya terpenuhi. Namun, kadang dikatakan bahwa qiyas pada permasalahan ini tidak sah, karena adanya perbedaan antara hukum furu’, yaitu wajib mengusap sorban sebagaimana pendapat jumhur, dengan hukum asalnya yaitu boleh mengusap khuf. Sehingga, dalam masalah ini pendapat Ibn Hazm lebih baik. Wallahu A’lam.

Catatan tambahan:

Mengusap jabirah bisa dilakukan saat wudhu’ maupun mandi junub. Sebab, jabirah dipakai ketika dalam keadaan darurat sehingga tidak ada perbedaan didalamnya antara hadas besar dan kecil. Hal ini berbeda dengan mengusap khuf yang merupakan keringanan.

Tidak disyaratkan memakai jabirah dalam keadaan suci dan tidak ada batasan waktu tertentu untuk boleh mengusapnya saat bersuci. Karena jika demikian, akan bertentangan dengan maksud Allah Subhanahu wata’ala yang menghendaki kemudahan bagi para hamba-Nya. Juga karena jabirah dipakai dalam keadaan darurat yang kadang bisa datang secara tiba-tiba, serta karena tidak ada nash atau ijma tentang hal ini. Begitu juga tidak ada batasan waktu boleh mengusap jabirah ketika bersuci, maka ketika seseorang melepasnya atau sudah sembuh dari sakitnya, maka ia tidak boleh lagi mengusapnya ketika bersuci.

Perban yang kini banyak digunakan untuk membalut luka mengambil hukum jabirah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam. [Majmu al-Fatawa (21/185)]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru