Iklan Atas Zona Muslim

Dalil Bolehnya Wanita Menampakan Wajah dan Telapak tangan
4/ 5 stars - "Dalil Bolehnya Wanita Menampakan Wajah dan Telapak tangan" Sebagian Ulama Berpendapat Bahwa Perempuan Boleh Menampakan Wajah Dan Kedua Telapak Tangannya, Dan Menutupnya Adalah Sunnah Dan Bukan Waj...

Dalil Bolehnya Wanita Menampakan Wajah dan Telapak tangan

Admin

Sebagian Ulama Berpendapat Bahwa Perempuan Boleh Menampakan Wajah Dan Kedua Telapak Tangannya, Dan Menutupnya Adalah Sunnah Dan Bukan Wajib. Mereka berdalil dengan sejumlah dalil, di antaranya adalah sebagai berikut. [Lihat Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah karya al-Albani]

1. Firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) tampak darinya.” [Surat an-Nur:31]

Mereka mengatakan bahwa maksud kalimat “kecuali yang (biasa) tampak darinya”adalah wajah dan dua telapak tangan.[1]

2. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Asma’ binti Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis, maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling darinya sambil bersabda,

يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا

“Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan jika telah mengalami haid, maka tidak pantas terlihat darinya kecuali bagian ini dan ini.” Kemudian beliau memberi isyarat ke wajah dan dua telapak tangannya.[2]

Ucapan beliau ini merupakan dalil yang paling gamblang, namun sanadnya sangat lemah.

Mereka juga berdalil dengan sejumlah dalil yang menunjukkan bahwa perempuan-perempuan muslimah biasa menampakkan wajah atau telapak tangan mereka saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada bersama mereka dan beliau tidak melarangnya. Di antara dalil-dalil itu adalah sebagai berikut.

3. Hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu tentang kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasehati kaum perempuan saat Hari ‘Id. Disebutkan di dalamnya: “Maka seorang perempuan berpipi merona hitam berdiri dari tengah-tengah mereka. Dia bertanya, “Mengapa bisa begitu, wahai Rasulullah?” [Muslim (885), an-Nasa’i (I/233), dan Ahmad (III/318)]

Mereka berkata bahwa ucapan Jabir “perempuan yang berpipi merona hitam”merupakan dalil bahwa perempuan itu menampakkan kedua pipinya.

4. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membonceng al-Fadhl bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma saat Haji Wada` dan seorang perempuan meminta fatwa kepada beliau. Disebutkan di dalamnya: “Maka al-Fadhl pun menoleh kepada perempuan itu. Dia seorang perempuan yang cantik. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang dagu al-Fadhl lalu memalingkannya ke arah yang lain.” [Shahih. Hadits Riwayat: Al-Bukhari (6228) dan Muslim (1218)]

Dalam riwayat lain dari hadits Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di dekat tempat penyembelihan hewan sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melempar jumrah [Hadits riwayat: At-Tirmidzi (885), dan Ahmad (562) dengan sanad yang jayyid. Lihat Fath al-Bari(IV/67)] artinya perempuan tersebut bertanya kepada beliau setelah beliau melakukan tahallul dari ihram, yaitu tahallul sughra.

Ibnu Hazm berkata, “Seandainya wajah perempuan itu aurat yang wajib ditutup, niscaya beliau tidak akan membiarkan perempuan tersebut membuka wajahnya di hadapan orang-orang, dan tentulah beliau akan menyuruhnya menutup wajahnya dengan menurunkan kain dari atas kepalanya. Seandainya wajahnya saat itu tertutup, tentulah Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tidak akan mengetahui kalau dia perempuan yang cantik atau tidak.”

5. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata, “Perempuan-perempuan mukminah dahulu ikut menghadiri shalat subuh yang diimami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan (datang ke masjid) menyelubungi tubuh mereka dengan pakaian mereka, kemudian mereka kembali ke rumah-rumah mereka setelah shalat dalam keadaan tidak bisa dikenali karena keadaan yang masih ghalas (gelap remang-remang).” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (578) dan Muslim (645)]

Mereka mengatakan bahwa pengertian hadits ini menunjukkan bahwa kalau bukan karena keadaan yang gelap, pastilah mereka bisa dikenali, dan biasanya cara mengenali mereka adalah dari wajah mereka yang terbuka.

6. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang kisah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati kaum perempuan pada Hari ‘Id dan menganjurkan mereka untuk bersedekah. Disebutkan di dalamnya: “Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh mereka untuk bersedekah, maka aku melihat mereka mengulurkan tangan-tangan mereka melemparkan (apa yang mereka ulurkan) --dalam riwayat lain: maka mereka melemparkan cincin bermata dan tak bermata-- ke dalam pakaian Bilal.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (997), Abu Dawud (1142), dan an-Nasa’i (I/227)]

7. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa seorang perempuan mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membaiatnya, dan saat itu dia belum mewarnai tangannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak (mau) membaiatnya hingga dia mewarnai tangannya.” [Hadits Riwayat: Abu Dawud (4166), dan darinya al-Baihaqi (VII/86). Al-Albani menilainya shahih]

Mereka juga berdalil dengan sejumlah atsar yang menunjukkan berlakunya kebiasaan membuka wajah dan telapak tangan di kalangan perempuan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [Silakan melihatnya di dalam Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah karya al-Albani halaman 96 dan sesudahnya]

Dan untuk diketahui bahwa kedua kelompok ini saling mengajukan bantahan terhadap dalil-dalil yang diajukan kelompok lain. Namun, bukan di sini tempatnya untuk mengurai dan membahasnya karena sangat panjang. [Lihat al-Hijab: Adillah al-Mujibin wa Syubah al-Mukhalifin karya syaikh kami Musthafa al-‘Adawi,‘Audah al-Hijab karya Syaikh Muhammad bin Isma‘il, dan Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah karya al-‘Allamah al-Albani]

Tujuan penulis mengutarakan pendapat kedua kelompok tersebut beserta sejumlah dalil yang mereka gunakan hanyalah untuk menampakkan bahwa masalah ini --yaitu hukum memakai niqab (cadar)-- telah menjadi perdebatan di kalangan ulama, baik dahulu maupun sekarang, dan bahwa perbedaan pendapat tersebut masih termasuk yang diperbolehkan sehingga tidak sepatutnya bersikap sangat keras kepada pihak yang beda pendapat.

Tidak lupa dalam kesempatan ini penulis ingin mengingatkan para pembaca tentang kelompok ketiga --yang sama sekali bukan dari kalangan ulama-- yang berpendapat bahwa menutup wajah adalah perbuatan bid‘ah dan sikap berlebih-lebihan dalam agama. Bahkan salah seorang dari mereka begitu bodohnya sampai menulis suatu kitab yang menyatakan bahwa perbuatan perempuan menutup wajahnya (dengan cadar) adalah haram!?.

Penulis berkata: menutup pembahasan ini dengan menyimpulkan beberapa poin berikut.

1. Para ulama telah bersepakat bahwa perempuan yang bukan budak sahaya wajib menutup tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.

2. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai wajah dan telapak tangan perempuan, sebagaimana telah diisyaratkan di atas.

3. Kelompok ulama, yang berpendapat bahwa perempuan tidak wajib menutup wajahnya, juga berpendapat bahwa menutup wajah tetap lebih utama dilakukan khususnya pada zaman fitnah.

Syarat Kedua: Hendaknya Pakaian Tersebut Asalnya Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan.

Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) tampak darinya.” [Surat An-nuur: 31]

Ayat ini dengan keumumannya mencakup pakaian yang tampak jika pakaian tersebut dihiasi dengan perhiasan yang menarik pandangan laki-laki kepadanya.

Kemudian, juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

ثَلَاثَةٌ لَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ: رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا، وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ، وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ، فَلَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ

“Ada tiga (jenis manusia), jangan engkau bertanya tentang mereka [Karena mereka termasuk orang-orang yang akan binasa] : (1) seseorang yang memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin, mendurhakai pemimpinnya dan mati dalam keadaan durhaka, (2) budak wanita atau budak laki-laki yang melarikan diri (dari majikannya) lalu mati, dan (3) perempuan yang ditinggal pergi suaminya dalam keadaan telah memberinya nafkah dunia yang mencukupi, lalu dia ber-tabarruj setelah kepergiannya. Jangan engkau bertanya tentang mereka.” [Ahmad (VI/19), al-Hakim (I/119) dan selain keduanya. Hadits ini shahih]

Tabarruj adalah seorang perempuan dengan sengaja memperlihatkan perhiasan dan kecantikannya, serta semua yang wajib dia tutupi karena dapat mengundang syahwat laki-laki kepadanya. [Fath al-Bayan (VII/274)]

Maksud dari perintah berjilbab adalah menutupi perhiasan perempuan (dari pandangan laki-laki yang tidak berhak memandangnya), maka adalah tidak masuk akal jika jilbabnya sendiri adalah perhiasan. [Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah halaman 120]

Perhatian:

Sebagian perempuan muslimah, yang konsisten menjalankan ajaran agamanya, menyangka bahwa semua pakaian yang berwarna selain hitam adalah perhiasan itu sendiri. Sangkaan ini jelas keliru karena dua alasan berikut.

Pertama, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

خَيْرُ طِيبِ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِيَ رِيحُهُ

“Wangi-wangian terbaik bagi perempuan adalah yang tampak warnanya tetapi samar baunya.” [Ini hadits hasan, Hasan dengan jalan-jalannya. Hadits Riwayat: at-Tirmidzi (2788) dan Abu Dawud (2174)]

Kedua, sudah menjadi kebiasaan perempuan-perempuan sahabat untuk memakai pakaian yang berwarna selain hitam. Di antara dalilnya adalah sebagai berikut.

Hadits ‘Ikrimah bahwa Rifa‘ah menceraikan istrinya, maka Abdurrahman bin az-Zubair menikahinya. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Dia saat itu memakai kerudung hijau.” Dia kemudian mengadu kepada Aisyah radhiallahu ‘anha dan memperlihatkan bekas hijau (memar) di kulitnya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, Aisyah berkata kepadanya, “Belum pernah aku lihat seperti yang dialami perempuan-perempuan mukminah ini. Sungguh bekas hijau di kulitnya itu lebih hijau daripada warna kerudungnya.” [Al-Bukhari (5825)]

2. Disebutkan di dalam hadits Ummu Khalid binti Khalid: “Didatangkan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa potong pakaian. Di antaranya adalah selembar pakaian luar berwarna hitam berukuran kecil dari sutra. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Menurut kalian siapa yang pantas kita pakaikan pakaian ini?” Para sahabat diam, tidak menjawab. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bawa Ummu Khalid ke sini.” Maka Ummu Khalid pun didatangkan dengan digendong (karena masih kecil). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengambil pakaian tadi dengan tangannya sendiri lalu mengenakannya ke Ummu Khalid seraya berdoa, “Semoga tahan lama sampai usang (semoga panjang umur).”Kemudian (beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat) corak hijau atau kuning pada pakaian itu, maka beliau berkata, “Wahai Ummu Khalid, ini sungguh sanah.” Dalam bahasa Habasyah [Ummu Khalid dilahirkan di Habasyah saat orang tuanya hijrah ke sana, kemudian dibawa ke Madinah saat masih kecil. -Pent] sanah [berarti bagus].”

3. Dari al-Qasim bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha pernah memakai pakaian yang dicelup dengan warna kuning padahal dia sedang berihram. [Ibnu Abi Syaibah (VIII/372)]

Penulis berkata:

1. Yang jelas adalah bahwa pakaian yang merupakan perhiasan itu sendiri adalah pakaian yang ditenun dengan beberapa warna, atau pakaian yang memiliki sulaman emas dan perak yang menarik pandangan orang.

2. Dalil-dalil yang kami sampaikan di atas tidak menafikan keberadaan pakaian hitam sebagai pakaian yang paling utama untuk dikenakan kaum perempuan dan paling menutup aurat mereka. Inilah pakaian yang dikenakan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah tentang kisah dirinya dilihat oleh Shafwan di mana disebutkan: “Dia melihat bayangan hitam manusia yang sedang tidur.”

Juga disebutkan di dalam hadits Aisyah yang lain bahwa perempuan-perempuan Anshar keluar dari rumah-rumah mereka seakan-akan di atas kepala-kepala mereka bertengger burung-burung gagak. [Shahih Muslim (2128). Sudah disebutkan sebelum ini]

Syarat Ketiga: Hendaknya Tebal Sehingga Tidak Menampakkan Lekuk Tubuh.

Telah disebutkan sebelum ini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: ... وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ... لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat, yaitu: ... dan perempuan-perempuan yang berpakaian, tetapi pada hakikatnya telanjang... Perempuan-perempuan tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga, padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sejauh begini dan begini.” [Shahih Muslim (2128). Sudah disebutkan sebelum ini]

Maksud beliau adalah perempuan-perempuan yang memakai pakaian tipis, bukannya menutupi tubuh bahkan menampakkan lekuk-lekuknya. Namanya saja mereka berpakaian, tetapi hakikatnya telanjang. [Dinukil oleh as-Suyuthi di dalam Tanwir al-Hawalik (III/103) dari Ibnu Abdilbarr]


Footnote:
[1] Ini yang dipilih oleh ath-Thabari dalam tafsirnya (XVIII/84). Tentang ayat ini, ada beberapa tafsir yang lain. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah apa yang tampak dengan tidak disengaja oleh mereka. Ada pula yang mengatakan bahwa itu pakaian. Yang lain mengatakan bahwa itu celak, cincin, gelang dan sebagainya.

[2] Dha‘if. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4104). Di dalam sanadnya ada empat ‘illat (cacat). Pertama, rawi yang bernama Khalid bin Duraik tidak pernah bertemu dengan Aisyah radhiallahu 'anha, sehingga dengan begitu sanad hadits ini munqathi‘ (terputus). Kedua, ‘an‘anah yang dilakukan Qatadah, sementara dia seorang mudallis. Ketiga, rawi yang bernama Sa‘id bin Basyir adalah rawi yang dha‘if, khususnya riwayatnya yang dari Qatadah. Keempat, ‘an‘anah yang dilakukan al-Walid bin Muslim, sementara dia melakukan tadlis taswiyyah.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru