Iklan Atas Zona Muslim

Benarkah Pemimpin Pendusta Merupakan Tanda-tanda Kiamat?
4/ 5 stars - "Benarkah Pemimpin Pendusta Merupakan Tanda-tanda Kiamat?" Adalah jamak di dalam suatu negara yang menganut ideologi dan system Demokrasi, maka Kepala Pemerintahan atau anggota Dewan Legislatif it...

Benarkah Pemimpin Pendusta Merupakan Tanda-tanda Kiamat?

Admin

Adalah jamak di dalam suatu negara yang menganut ideologi dan system Demokrasi, maka Kepala Pemerintahan atau anggota Dewan Legislatif itu dipilih melalui sistem pemilihan umum, baik itu dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung, di mana biasanya dalam proses pemilihan itu didahului dengan masa kampanye. Pada masa kampanye tersebut para kandidat seringkali menebar janji-janji yang muluk-muluk kepada rakyat yang memiliki hak suara agar memilihnya pada saat hari pemungutan suara kelak.

Namun, setelah terpilih, seringkali para pejabat itu kemudian mengingkari janji-janji yang mereka buat sendiri pada masa kampanye. Mereka seakan tak peduli sama-sekali dengan janji-janji yang mereka ucapkan. Maka tidak bisa disalahkan bahwa orang-orang lalu berkata: "Mana ada sih politisi yang jujur?", atau bahkan lebih ekstrim berkata: "Politicians lie for a living!".

Lalu bagaimana Islâm memandang hal ini…?

DISCLAIMER: tulisan ini tidak membahas tentang sistem demokrasi dari sudut pandang Islâm.

Seorang Mu’min Tak Berbohong & Berusaha Sekuat Tenaga Menepati Janjinya

Seorang Muslim, apalagi seorang Mu’min, wajib untuk berkata yang benar (tidak berbohong) dan menepati perjanjian dan persyaratan yang telah disepakatinya.
Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ

(arti) “Wahai orang-orang yang berîmân, penuhilah aqad-aqad itu.” [QS al-Mâ-idah (5) ayat 1].

Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:

وَأَوْفُوا۟ بِٱلْعَهْدِ ۖ إِنَّ ٱلْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔولًۭا

(arti) “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” [QS al-Isrô’ (17) ayat 34].
Adapun perbuatan tidak menepati (ingkar) janji itu mengundang kemurkaan yang sangat besar dari الله.

Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

(arti) “Amatlah besar kebencian di sisi Allôh apabila kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan!” [QS ash-Shoff (61) ayat 3].
Kewajiban untuk menepati syarat-syarat yang telah disepakati di dalam perjanjian itu adalah selama syarat-syarat atau perjanjian tersebut tidaklah bertentangan dengan Kitâbullôh dan Sunnah Nabî ﷺ.
Kata Baginda Nabî ﷺ:

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُ رُوْطِهِمْ

(arti) “Kaum Muslimîn wajib memenuhi syarat-syarat (perjanjian) yang telah mereka sepakati.” [HR Abû Dâwud no 3120].
Di dalam riwayat yang lain, kata Nabî ﷺ:

الْمُسْلِمُوْنَ عَلىَ شُرُوْطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

(arti) “Kaum Muslimîn (harus menjaga) atas persyaratan (perjanjian) mereka, kecuali persyaratan yang mengharômkan yang dihalâlkan, atau menghalâlkan yang harôm.” [HR at-Tirmidzî no 1352; Ibnu Mâjah no 2353 ~ dishohîhkan oleh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, Irwâ’ul-Gholîl no 1303].

Prinsip tersebut dibuktikan oleh Baginda Nabî ﷺ dan para Shohâbat-nya رضي الله عنهم pada saat memulangkan Abû Jandal ibn Suhail رضي الله عنهما yang melarikan diri ke Madînah dari pasungan kaum Musyrikîn di Makkah setelah Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani. Padahal Abû Jandal itu adalah seorang yang berîmân, dan ia melarikan diri dari penjara kaum Musyrikîn, namun Baginda Nabî ﷺ tetap memulangkan Abû Jandal [lihat: Fath al-Bâri XI/173-176 no 2731 & 2732].

Begitulah teladan yang diberikan oleh Baginda Nabî ﷺ yang menunjukkan bagaimana seharusnya orang-orang yang berîmân menyikapi suatu perjanjian yang telah dibuat dan disepakatinya.
Sebaliknya, seorang penipu yang suka ingkar janji itu bukanlah termasuk bagian dari orang-orang yang berîmân.
Kata Baginda Nabî ﷺ:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

(arti) “Siapa saja yang menipu kami, maka ia bukanlah termasuk dari golongan kami.” [HR Muslim no 101; Ibnu Mâjah no 2225; Ahmad no 9027].

Karenanya, menepati janji adalah bagian dari îmân, sebab siapa saja yang tidak menjaga perjanjiannya, maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula halnya dengan ingkar janji, ia termasuk tanda dari tanda-tanda kemunâfiqkan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati (qolbû).
Kata Baginda Nabî ﷺ:

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

(arti) “Empat hal yang apabila ada pada seseorang maka ia adalah seorang munâfiq sejati, dan siapa saja yang terdapat pada dirinya satu shifat dari empat hal tersebut, maka pada dirinya terdapat shifat nifâq hingga ia meninggalkannya, yaitu: ⑴ apabila ia diberi amanah, ia berkhianat, ⑵ apabila ia berbicara, ia berdusta, ⑶ apabila ia berjanji, ia mengingkari, dan ⑷apabila ia berseteru, ia berbuat kefâjiran (jahat dan melampaui batas).” [HR al-Bukhôrî no 34, 2459, 3178; Muslim no 58; Abû Dâwud no 4688; at-Tirmidzî no 2632; an-Nasâ-î no 5020; Ahmad no 6479, 6568].

Kedustaan dan ingkar janji itu hanyalah akan mengantarkan kepada perbuatan jahat belaka. Tiada kebaikan di dalam kedustaan dan ingkar janji
Kata Baginda Nabî ﷺ:

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

(arti) “Sungguh-sungguh kedustaan itu hanya akan mengantarkan kepada kejahatan, dan sungguh-sungguh kejahatan itu akan menggiring ke Neraka, dan sungguh-sungguh apabila seseorang yang selalu berdusta maka ia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” [HR al-Bukhôrî no 6094; Muslim no 2607; at-Tirmidzî no 1971; Ahmad no 3456].

Seorang mu’min itu tidak bisa sekaligus jadi seorang munâfiq, baik secara perilaku (akhlâq), perkataan, apalagi di dalam hati sanubarinya.

Kata Baginda Nabî ﷺ:

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَانًا فَقَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلًا فَقَالَ نَعَمْ فَقِيلَ لَهُ أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّابًا فَقَالَ لَا

(arti) “Ditanyakan kepada Rosûlullôh ﷺ: "Apakah seorang mu’min bisa menjadi penakut?" ; Beliau ﷺ menjawab: “Ya” ; Kemudian ditanyakan lagi: "Apakah seorang mu’min bisa menjadi pelit?" ; Beliau ﷺ menjawab: “Ya” ; Lalu ditanyakan lagi: "Apakah seorang mu’min bisa menjadi pendusta?" ; Beliau ﷺ menjawab: “Tidak!””. [HR Mâlik no 1913 ~ hadîts ini dinilai dho’if oleh sebagian ‘ulamâ’ ahli hadîts].

Hal yang senada juga diriwayatkan dari Shohâbat ‘Abdullôh ibn Mas‘ûd رضي الله عنه, bahwa beliau pernah berkata: "Seorang mu’min bisa dilekati dengan semua aib (cela) selain dari khianat dan dusta” [Atsar Riwayat Ibnu Abî Syaibah, al-Mushonaf no 26116].

Seorang mu’min itu apabila ia berbicara, maka ia jujur di dalam ucapannya, apabila telah berjanji maka ia akan berusaha keras menepati janjinya, dan apabila ia dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya dengan sungguh-sungguh. Sikap jujur dan menepati janji itu adalah barometer yang dengannya diketahui seseorang itu masuk ke golongan baik atau ke golongan orang buruk, dan ia juga memisahkan antara orang mulia dengan orang rendahan.
Karena begitu pentingnya menjaga amanah dan menepati janji itu, kata Baginda Nabî ﷺ:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

(arti) “Tiada îmân bagi orang yang tidak menunaikan amanah, dan tiada agama bagi yang tidak menepati janji!” [HR Ahmad no 12108].
Bagaimana jika perjanjian itu dibuat dengan orang Musyrik?
Sebagaimana semua perjanjian, maka demikian juga halnya dengan janji yang dibuat dengan orang-orang musyrik, maka janji itu tetap wajib dipenuhi selama batas waktunya dan selama tidak ada pelanggaran oleh kaum Musyrikîn terhadap perjanjian tersebut sehingga berakibat perjanjian itu menjadi batal.
Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:

إِلَّا ٱلَّذِينَ عَـٰهَدتُّم مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنقُصُوكُمْ شَيْـًۭٔا وَلَمْ يُظَـٰهِرُوا۟ عَلَيْكُمْ أَحَدًۭا فَأَتِمُّوٓا۟ إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَىٰ مُدَّتِهِمْ

(arti) “Kecuali orang-orang Musyrikîn yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjiannya dengan)mu dan tidak (pula) mereka membantu orang yang memusuhimu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya.” [QS at-Tawbah (9) ayat 4].

Perilaku suka berbohong, suka menyebarkan berita bohong, dan suka mengubah-ubah dan merusak Kitâbullôh, maka itu adalah perilaku orang-orang musyrik dari kalangan Ahlu Kitâb, yaitu kaum Yahûdi.

Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:

وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ ۛ سَمَّـٰعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّـٰعُونَ لِقَوْمٍ ءَاخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ ٱلْكَلِمَ مِنۢ بَعْدِ مَوَاضِعِهِۦ

(arti) “Dan juga orang-orang Yahûdi itu amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka merubah perkataan-perkataan (Taurôt) dari tempat-tempatnya.” [QS al-Mâ-idah (5) ayat 41].

Banyaknya Pendusta & Tersebarnya Kedustaan = Sebagian Tanda Kedatangan Qiyâmat

Kalau dilihat, keadaan masa kini di mana begitu banyaknya pendusta dan tersebar luasnya kedustaan adalah sebagian dari tanda-tanda (kecil) kedatangan hari Qiyâmat.
Kata Baginda Nabî ﷺ:
سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ مَالَمْ تَسْمَعُو أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ
(arti) “Akan ada orang-orang pada akhir ummatku yang akan berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya, yang tidak pula pernah didengar oleh bapak-bapak kalian, maka berhati-hatilah kalian dan hindarilah mereka (agar tidak menimpakan fitnah kepada kalian).” [HR Muslim no 6; Ahmad no 7919].
Telah tampak pada masa sekarang ini betapa banyak orang yang sudah tidak berhati-hati lagi dengan banyak berbicara kedustaan dan menukil berita tanpa terlebih dulu memastikan kebenarannya. Hal itu jelas menyesatkan manusia dan menjerumuskan mereka ke dalam fitnah – sebab banyaknya kedustaan telah membuat sebagian manusia tak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang dusta. Karena itulah Baginda Nabî ﷺ memberi peringatan agar tidak membenarkan mereka bahkan menjauhi mereka.
Menjelang datangnya hari Qiyâmat, maka akan banyak orang yang memberikan persaksian palsu.
Kata Baginda Nabî ﷺ:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ … شَهَادَةُ الزُّورِ وَكِتْهَانُ شَهَادَةِ الْحَقِّ
(arti) “Sungguh-sunggguh menjelang kedatangan Qiyâmat … (akan banyak) persaksian palsu dan menyembunyikan persaksian yang benar.” [HR Ahmad no 3676 ~ lihat: Tafsir Ibnu Katsir VI/140 dan Fath al-Bâri V/262].
Di dalam riwayat yang lain, kata Baginda Nabî ﷺ:
خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ … إِنَّ بَعْدَكُمْ قَوْمًا يَخُونُونَ وَلاَ يُؤْتَمَنُونَ، وَيَشْهَدُونَ ، وَلاَ يُسْتَشْهَدُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلاَ يَفُونَ، وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ
(arti) “Generasi manusia terbaik adalah generasi di mana aku hidup bersamanya, kemudian yang datang setelahnya, dan kemudian yang datang setelahnya … kemudian akan datang orang-orang setelah kalian yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya, dan mereka memberikan persaksian padahal tidak diminta, dan mereka berjanji namun tidak akan menepati apa yang mereka janjikan itu, dan akan tampak tanda-tanda kegemukan di antara mereka.” [HR al-Bukhôrî no 2651, 3650, 6428, 6695; Muslim no 2535; an-Nasâ-î no 3809; Ahmad no 18994].

Janji Penguasa Itu Sangat Berat!

Prinsip-prinsip menepati perjanjian dan memenuhi persyaratan yang telah disepakati ini bahkan lebih keras lagi terhadap orang-orang yang telah diberi amanah kepemimpinan untuk menjadi penguasa kaum Muslimîn.
Kenapa bisa begitu berat bagi penguasa?
Karena bukankah penguasa itu pada saat diangkat ia telah diambil perjanjian dengan menyebut nama الله Subhânahu wa Ta‘âlâ?
Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:
وَأَوْفُوا۟ بِعَهْدِ ٱللَّهِ إِذَا عَـٰهَدتُّمْ وَلَا تَنقُضُوا۟ ٱلْأَيْمَـٰنَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ ٱللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا
(arti) “Dan tepatilah perjanjian dengan Allôh apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allôh sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu).” [QS an-Nahl (16) ayat 91].
Kata Baginda Nabî ﷺ:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
(arti) “Siapa saja yang diberi beban oleh Allôh untuk memimpin rakyatnya lalu ia mati dalam keadaan mendustai rakyatnya, niscaya Allôh mengharômkan Syurga atasnya.” [HR Muslim no 142, 3409; ad-Dârimî no 2838].
Oleh karena itu, bagi seorang penguasa yang melanggar janji-janji yang telah diucapkannya, maka kelak di hari Qiyâmat ia takkan diajak berbicara oleh Robbul ‘Âlamîn, takkan disucikan (diampuni dosa-dosanya), dan karenanya langsung dicampakkan ke dalam adzab yang sangat keras Neraka.
Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ ٱللَّهِ وَأَيْمَـٰنِهِمْ ثَمَنًۭا قَلِيلًا أُو۟لَـٰٓئِكَ لَا خَلَـٰقَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ وَلَا يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۭ
(arti) “Sungguh-sungguh orang-orang yang menukar janjinya (dengan) Allôh dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu takkan mendapat bagian (pahala) di Âkhirot, dan Allôh takkan berbicara dengan mereka dan takkan melihat kepada mereka pada hari Qiyâmat, dan takkan (pula) mensucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih!” [QS Âli ‘Imrôn (3) ayat 77].
Kata Baginda Nabî ﷺ:
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ
(arti) “Ada tiga orang yang takkan diajak berbicara oleh Allôh pada hari Qiyâmat, tidak pula Allôh sucikan, tidak pula Allôh lihat, dan bagi mereka adzab yang menyakitkan, (yaitu): orang tua yang suka berzina, penguasa yang suka berdusta, dan orang miskin yang sombong.” [HR Muslim no 107; Ahmad no 10227; al-Baghowi no 3591].
Di dalam riwayat lain, kata Nabî ﷺ:
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ رَجُلٌ حَلَفَ عَلَى سِلْعَةٍ لَقَدْ أَعْطَى بِهَا أَكْثَرَ مِمَّا أَعْطَى وَهُوَ كَاذِبٌ وَرَجُلٌ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ كَاذِبَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ رَجُلٍ مُسْلِمٍ وَرَجُلٌ مَنَعَ فَضْلَ مَاءٍ فَيَقُولُ اللَّهُ الْيَوْمَ أَمْنَعُكَ فَضْلِي كَمَا مَنَعْتَ فَضْلَ مَا لَمْ تَعْمَلْ يَدَاكَ
(arti) “Ada tiga jenis orang yang Allôh takkan berbicara dengan mereka dan takkan pula melihat mereka pada hari Qiyâmat, yaitu: seorang penjual yang bersumpah terhadap dagangannya dan ia mengaku telah memberi lebihan kepada si pembeli dibandingkan yang ia berikan kepada orang yang lain, padahal ia berdusta, dan seseorang yang bersumpah dengan sumpah palsu setelah waktu ‘Ashr yang dengan sumpahnya itu ia berambisi untuk mengambil harta orang muslim, dan seseorang yang menolak membagi-bagikan kelebihan air sehingga Allôh akan berfirman pada hari Qiyâmat: “Aku takkan memberi karunia-Ku kepadamu karena kamu telah menghalangi sesuatu yang bukan dari hasil kerjamu!”” [HR al-Bukhôrî no 2369, 7446].
Kata Baginda Nabî ﷺ:
أَيُّمَارَا عٍ اسْتُرْعِيَ رَعِيَّةً فَغَشَّهَا فَهُوَ فِي النَّارِ
(arti) “Siapa saja yang diminta untuk memimpin suatu wilayah lalu ternyata ia menipu mereka, maka orang tersebut berada di dalam Neraka.” [lihat: as-Silsilah al-Ahâdîts ash-Shohîhah no 1754].
Di dalam riwayat yang lain, kata Nabî ﷺ:
مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
(arti) “Tidaklah seorang pemimpin memimpin kaum Muslimîn, lantas ia wafat dalam keadaan menipu mereka, melainkan Allôh mengharômkan Syurga baginya.” [HR al-Bukhôrî no 7151].
Di dalam riwayat lain:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
(arti) “Siapa saja yang diberi beban oleh Allôh untuk memimpin rakyatnya lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, niscaya Allôh akan mengharômkan Syurga baginya.” [HR Muslim no 142; ad-Dârimî no 2838].
Begitu buruknya seorang pemimpin yang suka khianat serta suka berbohong, maka kelak di hari Qiyâmat akan ditancapkan bendera tanda pengenal bahwa ia pengkhianat di duburnya.
Kata Baginda Nabî ﷺ:
لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُعْرَفُ بِهِ عِنْدَ اسْتِهِ
(arti) “Setiap pengkhianat di hari Qiyâmat akan ditancapkan bendera sebagai tanda pengenal di duburnya.” [HR al-Bukhôrî no 3186, 6966; Muslim no 1736, 1737, 1738; at-Tirmidzî no 2191].
Sedangkan apabila sang penguasa berdalih ini dan itu untuk mengingkari janji yang telah diucapkannya, walau mungkin bukti-bukti kutipan di media masa menunjukkan bahwa memang benar ia pernah menjanjikan yang demikian, maka ingatlah bahwa الله Subhânahu wa Ta‘âlâ itu Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi.
Kata الله Subhânahu wa Ta‘âlâ:
مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌۭ
(arti) “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malâ-ikat pengawas yang selalu hadir.” [QS Qôf (50) ayat 18].

Larangan Membela Orang Yang Berbohong Lagi Khianat

Berfirman الله Subhânahu wa Ta’âla pada ayat yang agung:
إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ بِٱلْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ ٱلنَّاسِ بِمَآ أَرَىٰكَ ٱللَّهُ ۚ وَلَا تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًۭا ، وَٱسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا ، وَلَا تُجَـٰدِلْ عَنِ ٱلَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنفُسَهُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًۭا
(arti) “Sungguh-sungguh Kami telah menurunkan al-Kitâb kepada kamu dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah Allôh wahyukan kepadamu. Dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allôh. Sungguh-sungguh Allôh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh-sungguh Allôh tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” [QS an-Nisâ’ (4) ayat 105-107].
Adapun sebab turunnya ayat-ayat tersebut adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imâm Muḥammad ibn ‘Îsâ at-Tirmidzî (lihat: HR at-Tirmidzî no 3036), Imâm Muhammad ibn ‘Abdullôh al-Hâkim an-Naisâbûrî, serta yang lainnya, dari Shohâbat Qotâdah ibn an-Nu‘mân رضي الله عنه. Kejadian ringkasnya adalah bahwa paman Qotâdah, yaitu Rifâ‘ah ibn Zaydرضي الله عنه membeli bahan makanan yang ia simpan di dalam lumbung bersama senjata, baju besi dan pedang. Suatu saat, lumbung tersebut dibobol oleh pencuri hingga makanan dan senjatanya raib. Rifâ‘ah lalu menyuruh Qotâdah untuk mencari tahu siapa yang mengambilnya, lalu ada yang memberi tahu bahwa Banî Ubayriq memasak makanan tadi malam yang mana diindikasikan adalah hasil curian karena mereka itu orang-orang yang melarat dan ada pula orang munâfiq di antara mereka. Qotâdah pun melakukan penyelidikan sampai ia tak merasa ragu lagi bahwa memang Banî Ubayriq lah yang telah mencurinya, maka ia melaporkan hal itu kepada Baginda Nabî ﷺ, di mana Beliau menanggapinya seraya mengataka: “Aku akan meninjau hal tersebut”. Tatkala Banî Ubayriq mengetahui hal itu, maka mereka bermufakat jahat untuk berbohong kepada Baginda Nabî ﷺ dan mereka pun mendatangi Beliau dan berkata: "Wahai Rosûlullôh, sungguh-sungguh Qotâdah ibn an-Nu‘mân dan pamannya menuduh keluarga kami yang muslim lagi baik-baik dengan tuduhan mencuri tanpa bukti dan kejelasan!". Maka Baginda Nabî ﷺ kemudian berkata kepada Qotâdah tatkala ia datang: “Kamu menyengaja menuduh keluarga muslim yang baik-baik dengan tuduhan pencurian tanpa bukti dan kejelasan?”. Maka Qotâdah mengabarkan hal itu kepada pamannya dan pamannya pun berkata: "Hanya الله sajalah tempat meminta pertolongan.". Kemudian tak lama kemudian turunlah wahyu firman الله Subhânahu wa Ta’âla pada QS an-Nisâ’ (4) ayat 105-107 tersebut.
Dari ayat-ayat tersebut dan hadîts sebab turunnya jelas bahwa para pengkhianat itu atau orang-orang yang mengkhianati dirinya sendiri adalah Banî Ubayriq, yaitu para pencuri yang berusaha "cuci tangan" seraya menutupi kejahatan mereka dengan berupaya menipu Baginda Nabî ﷺ agar Beliau membela mereka dari tuduhan pencurian. Bahkan hampir saja Beliau ﷺ menyalahkan para pemilik hak yang tidak bisa menghadirkan bukti tuduhan, sampai akhirnya الله yang membongkar tipu-daya dan muslihat licik Banî Ubayriq yang terselubung itu. Maka الله memerintahkan Baginda Nabî ﷺ untuk istighfar atas ucapannya kepada Qotâdah, padahal sebenarnya putusan Rosûlullôh ﷺ itu adalah benar secara apa yang tampak di mata manusia, karena pihak yang menuduh itu tidak dapat membawa bukti sedangkan pihak yang dituduh pun mengingkari tuduhan itu. Oleh karena itu, Rosûlullôh ﷺ lalu memutuskan hanya berdasarkan apa yang tampak bagi Beliau.
Kata Baginda Nabî ﷺ:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ ، وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَىَّ ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِي نَحْوَ مَا أَسْمَعُ ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا فَلاَ يَأْخُذْهُ ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ
(arti) “Sungguh-sungguh kalian bersengketa kepadaku, sedangkan bisa saja sebagian dari kalian lebih pandai mengutarakan alasannya daripada sebagian yang lain, sehingga aku memutuskan untuk (kemenangan)nya berdasarkan apa yang aku dengar darinya. Oleh sebab itu, siapa saja orangnya yang aku putuskan baginya sesuatu dari hak saudaranya, maka sebenarnya aku hanyalah memotongkan baginya sepotong dari api Neraka!” [HR al-Bukhôrî no 2458, 6967, 7169, 7181, 7185; Muslim no 1713; Abû Dâwud no 3583, 3584, 3585; Ibnu Mâjah no 2317, 2318; Ahmad no 8044, 25409; ad-Dârimî no 1462].
Perhatikan, QS an-Nisâ’ (4) ayat 105-107 tersebut adalah bentuk teguran dari الله Subhânahu wa Ta‘âlâ kepada Baginda Rosûlullôh ﷺ karena Beliau telah membela suatu kaum yang berbohong – disebabkan karena Beliau tidak tahu keadaan yang sebenarnya.
Maka bagaimana lagi halnya dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang zaman sekarang yang tenaga, ‘ilmu, dan pikiran, serta waktunya, dikerahkan untuk membela-bela orang-orang yang jelas-jelas suka pembohong lagi khianat…???
Cobalah bandingkan antara kejadian di masa kini di mana tampak jelas kasus-kasus kebohongan dan cedera janji dari para pembohong itu yang terlihat sangat jelas dan kasar ~ bahkan itu dilakukan terang-terangan di hadapan umum dan sama sekali tidak tersamar kecuali bagi orang-orang yang tuli lagi buta, atau orang-orang yang telah dibutakan mata hatinya ~ sementara kasus pencurian makanan yang dilakukan oleh Banî Ubayriq dalam riwayat hadîts itu adalah terselubung lagi dilakukan secara diam-diam tanpa ada saksi mata?
Kata Baginda Nabî ﷺ:
عَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ … أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي
(arti) “Semoga Allôh melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang dungu … (yaitu) para penguasa negara sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan di atas sunnahku. Siapa saja yang membenarkan kedustaan mereka serta menolong mereka dalam kezhôlimannya, maka dia bukanlah golonganku dan aku bukan pula termasuk dari golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di telagaku. Siapa saja yang tidak membenarkan kedustaan mereka serta tidak menolong kezhôlimannya, maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka, serta mereka akan mendatangiku di telagaku.” [HR Ahmad no 13919, 14746].
Demikian risalah singkat ini, semoga الله Subhânahu wa Ta‘âlâ memberikan kita kefahaman atas ayat-ayat suci dan hadîts-hadîts mulia yang dinukilkan di atas.K

Mari kita berdo'a:
اللّهُـمَّ إِنِّـي أَعـوذُ بِكَ أَنْ أَضِـلَّ أَوْ أُضَـل أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَل أَوْ أَظْلِـمَ أَوْ أَظْلَـم أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُـجْهَلَ عَلَـيّ
{allôhumma innî a-‘ûdzubika an adhilla aw udholla aw azilla aw uzalla aw azhlima aw uzhlama aw ajhala aw yujhal ‘alayya}
(arti) "Wahai Allôh, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan oleh orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan oleh orang lain, dari menzhôlimi diriku atau dizhôlimi oleh orang lain, dari berbuat bodoh atau dibodohi oleh orang lain." [Penulis : Arsyad Syahrial]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru