Iklan Atas Zona Muslim

Bak Perisai, Inilah Sahabat Yang Rela Terkoyak Tubuhnya Demi Melindungi Rasulullah
4/ 5 stars - "Bak Perisai, Inilah Sahabat Yang Rela Terkoyak Tubuhnya Demi Melindungi Rasulullah" Suasana kemenangan pasukan Islam di bukit Uhud, berubah menjadi ketakutan yang mencekam. Beberapa sahabat yang berjaga di atas bukit mene...

Bak Perisai, Inilah Sahabat Yang Rela Terkoyak Tubuhnya Demi Melindungi Rasulullah

Admin

Suasana kemenangan pasukan Islam di bukit Uhud, berubah menjadi ketakutan yang mencekam. Beberapa sahabat yang berjaga di atas bukit menemui syahidnya, tak terkecuali Abdullah bin Zubair sang komandan pasukan panah. Mereka tak kuasa menahan gempuran balik pasukan Quraisy di bawah komando Khalid bin Walid. Pasukan muslim kian kocar-kacir setelah sebagian besar pasukan panah turun bukit karena tergiur harta rampasan perang yang melimpah.

Suasana kian mencekam, pasukan panah muslim, completely sudah dihancurkan. Pasukan Quraisy semakin  bersemangat memburu pasukan muslim yang sedang kebingungan. Dalam keadaan yang seperti itu, tiba-tiba seorang wanita dari golongan Quraisy maju ke medan laga. Ia memungut dan mengibarkan bendera perang pasukan Quraisy yang sudah tergeletak di tanah tanda kekalahan. Kontan saja, setelah melihat bendera mereka berkibar kembali, semangat pasukan Quraisy bak orang kesetanan. Mereka segera menghimpun dan merapikan pasukan kembali. Umat Islam terjepit dan kuwalahan, nasibnya seolah berada di tengah batu gilingan, mengenaskan.

Kini, giliran pasukan Islam yang tunggang Ianggang mencari selamat. Mereka terkepung dari dua arah. Rosulullah pun tak luput dari ancaman. Bertubi-tubi tombak dan panah meluncur ke arah beliau hingga mengancam keselamatan. Sembilan sahabat yang melindungi Rasulullah pun sudah tampak keteteran. Sambil terus bertahan Rasulullah berseru agar pasukan muslimin bersatu dan berkumpul dengan beliau.

“Yaa ibaadalIah, berkumpulah kepadaku,” kata Rasulullah.

Rasulullah yang mengalami cedera pada beberapa bagian tubuhnya itu terus saja memberi semangat dan berseru untuk berkumpul dengannya. Sementara, di kalangan sahabat yang posisinya jauh dari Rasulullah, bertiup kabar Nabi telah gugur di medan laga. Maka gemparlah pasukan muslim. Mereka yang masih lemah imannya, kehilangan semangat. Bahkan beberapa sudah seperti daun yang runtuh dari pohonnya, melemparkan pedang dan menyerah kalah. Kabar kematian Rosulullah telah menyurutkan semangat sebagian besar pasukan muslim di kaki bukit Uhud saat itu.

Sebagian dari pasukan muslim ada yang berpikir untuk menghubungi Abdullah bin Ubay, gembong munafik, dan memintanya untuk memohon perlindungan dari Abu Sofyan. Ada pula yang mengajak menyudahi peperangan dan meninggalkan bukit Uhud untuk kembali ke rumah.

“Apa artinya kita berada di medan Uhud, jika Nabi panglima perang tertinggi telah wafat?"

Nada-nada putus asa banyak terdengar dan dilontarkan sebagian besar pasukan muslim saat itu. Salah seorang sahabat, Anas bin Nadhar, memberi semangat dan mengingatkan tak sepantasnya pasukan muslim berkata demikian. Menurut Anas, kaum beriman harus tetap berjihad meski tanpa Nabi sebagai pemimpin perang.

“Untuk apa lagi kita hidup jika beliau sudah gugur? Mari kita mati menyusul!” Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Anas menengadahkan tangan memanjatkan do'a.

“Ya Allah, Tuhanku, semoga Engkau menjadi saksi, bahwa aku sama sekali tidak berpikir seperti apa yang dikatakan mereka. Ampunkan aku dari kata-kata yang keluar dari mulut mereka,” Anas bin Nadhar lalu menghunus pedang, bak singa terluka ia menyerang kaum kuffar dengan semangat membara.

“Wahai Anas, hendak ke mana engkau?” tanya seorang sahabat pada Anas yang sudah menerjang menyongsong lawan.

“Saudaraku, sesungguhnya aku mencium aroma wangi surga di bukit Uhud? Kemudian ia bertempur hingga syahid datang menjemputnya. Delapan puluh luka tusukan tombak dan sabetan pedang menghiasi tubuhnya dan mengalirlah darah menebar aroma wangi surga.

Banyak kisah pengorbanan luar biasa para sahabat ketika ingin melindungi Rasulullah dalam perang Uhud tersebut Para sahabat rela bermandi darah dan meregang nyawa, melindungi dan menyelamatkan tubuh Nabi. Mereka berdiri rapat, membentuk perisai membentengi tubuh nabi dari hujan anak panah dan tombak. Bayangkan, para sahabat tak rela secuil pun kulit nabi terluka. Sebaliknya mereka bersimbah darah untuk menyelamatkan manusia mulia tersebut dari serangan musuh yang kian menggila.

Dalam Shahihnya, Imam Bukhari meriwayatkan, seorang sahabat nabi, Abu Thalhah, seorang pemanah ulung yang menjadikan tubuhnya sebagai perisai pelindung tubuh Nabi. Sambil menjadi perisai, dia terus melepaskan panah ke arah musuh. Selain Abu Thalhah ada juga seorang yang tak kalah heroiknya, namanya Abu Dujanah. Abu Dujanah terkenal sebagai seorang yang berjalan gagah berani dan bersurban merah. Ia juga merelakan tubuhnya untuk menangkis hujan panah ke tubuh nabi tercinta.

Seorang sahabat lain, Ziad bin Sakan, juga bertindak sama. Akhimya ia juga turut syahid bersama para sahabat lainnya. Selain tiga sahabat tersebut, ada pula sahabat bernama Umar bin Yazid bin Sakan yang juga tak kalah heroiknya. la melindungi dan membentengi tubuh Rasulullah dengan tubuhnya. Sampai-sampai ia tak bisa lagi menggerakkan senjatanya karena luka di tubuhnya terlalu parah oleh hujan panah. Ketika nabi tahu bahwa luka Umar bin Yazid bin Sakan sudah terlalu parah, beliau menarik tubuh Umar bin Yazid dan meletakkan kepala Umar di kakinya dan menjaganya. Akhirnya Umar pun menghembuskan nafas terakhir, pipinya di atas kaki Rasulullah.

Sebuah kematian yang mulia, kelak kaki Rasulullah akan menjadi saksi di hadapan Allah, bahwa Umar bin Yazid telah menemui syahidnya dalam membela dan melindungi nabiyullah. [Sumber: Majalah Sabili Th 2000]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru