Iklan Atas Zona Muslim

Adab-adab Qurban Sesuai Syariat
4/ 5 stars - "Adab-adab Qurban Sesuai Syariat" Berikut ini adalah Adab-Adab Kurban (Nahr) sesuai dengan sunnah dan penjelasan para ulama. Dianjurkan dalam nahr semua yang dianjurkan ...

Adab-adab Qurban Sesuai Syariat

Admin

Berikut ini adalah Adab-Adab Kurban (Nahr) sesuai dengan sunnah dan penjelasan para ulama.

Dianjurkan dalam nahr semua yang dianjurkan di dalam dzibh (penyembelihan), Kecuali bahwa unta disembelih dalam keadaan berdiri di atas tiga kaki, dan mengikat kaki kiri depannya :

Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

(وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ)

“Kami (Allah) jadikan unta-unta sembelihan itu adalah bagian dari syiar Allah, yang terdapat kebajikan bagi kalian dalam pelaksanaannya, maka sebutlah nama Allah ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri rapi”. [Surat al Hajj, 36]

Maksud berdiri rapi: berdiri rapi sejajar, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu `Abbas. [Al Badaai’ (5/41), Nihaayatul Muhtaj (8/111), al Muqni’ (1/474)]

b. Dalam hadits Anas bin Malik -radhiyallahu `anhu- dalam hajinya nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam--:

وَنَحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ سَبْعَ بُدْنٍ قِيَامًا، وَضَحَّى بِالْمَدِينَةِ كَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ

“Nabi menyembelih dengan tangannya sebanyak tujuh ekor unta betina dalam keadaan berdiri, dan berkurban di Madinah dua domba yang bagus dan bertanduk”. [Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (1714), dan Muslim (690)]

c. Dari Zaid bin Jubair berkata:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، أَتَى عَلَى رَجُلٍ قَدْ أَنَاخَ بَدَنَتَهُ يَنْحَرُهَا قَالَ: «ابْعَثْهَا قِيَامًا مُقَيَّدَةً سُنَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku melihat Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhuma- mendatangi seorang lelaki yang telah menyebabkan unta betinanya bersuara berderum untuk disembelih, dia berkata: lepaskanlah dalam keadaan berdiri dan terikat. Itulah sunnah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.” [Shahih, Hadits riwayat:Al-Bukhariy (1713), dan Muslim (1320)]

Jika Tidak Memungkinkan Bagi Hewan-Hewan Tersebut Untuk Disembelih :

Jika tidak memungkinkan bagi hewan-hewan tersebut, dan tidak bisa disembelih, karena lari dan sejenis itu, maka boleh menusuknya, memanahnya dan sejenisnya pada bagian manapun di tubuhnya yang dapat melukai dan membunuhnya. [Al Muhallaa (7/446), Nailiul Awthar (8/163), as Sailul Jarraar (4/68)] Seperti ini halal dimakan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama -berbeda dengan pendapat Malik dan Laits-. Berdasarkan hadits Rafi’ bin Khadij ia berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَنَدَّ بَعِيرٌ مِنَ الإِبِلِ، قَالَ: فَرَمَاهُ رَجُلٌ بِسَهْمٍ فَحَبَسَهُ، قَالَ: ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ لَهَا أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الوَحْشِ، فَمَا غَلَبَكُمْ مِنْهَا فَاصْنَعُوا بِهِ هَكَذَا»

“Kami bersama dengan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- di dalam perjalanan lalu seekor unta melarikan diri dari unta-unta suatu kaum, mereka tidak memiliki unta untuk mengejarnya, maka seorang lelaki memanah dan menangkapnya. Lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: sesungguhnya hewan-hewan ini mempunyai kebiasaan seperti kebiasaan hewan liar. Apabila hewan itu melakukannya, maka lakukanlah dengannya seperti ini.” [Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (5543), dan Muslim (1968)]

Dalam lafazh lain: jika sesuatu mengalahkan kalian maka lakukanlah dengannya seperti itu.

Penyembelihan Janin Adalah Penyembelihan Induknya

Jika seekor hewan disembelih kemudian keluar dari perutnya janin yang telah mati, maka pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat ulama: bahwa janin itu halal dimakan karena merupakan sembelihan dengan penyembelihan induknya. Ini adalah pendapat mayoritas berbeda dengan Abu Hanifah. Pendapat ini dikuatkan dengan hadits Abi Sa`id ia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang janin? Lalu beliau menjawab: “Makanlah jika kalian ingin”. [Al Majmu’ (9/147), Nailul Awthar (8/164), Subulusu Salam (4/1412)]

Dalam suatu riwayat:

يَا رَسُولَ اللَّهِ نَنْحَرُ النَّاقَةَ، وَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ وَالشَّاةَ فَنَجِدُ فِي بَطْنِهَا الْجَنِينَ أَنُلْقِيهِ أَمْ نَأْكُلُهُ؟ قَالَ: «كُلُوهُ إِنْ شِئْتُمْ فَإِنَّ ذَكَاتَهُ ذَكَاةُ أُمِّهِ

“Wahai Rasulullah, kami menyembelih seekor unta betina, sapi dan domba lalu kami menemukan janin di dalam perutnya, apakah kami buang janin itu atau kami makan? Beliau menjawab: makanlah itu jika kalian ingin. Karena penyembelihannya adalah penyembelihan induknya”. [Shahih, Hadits riwayat: Abu Daud (2827), At-Tirmidziy (1476), Ibnu Majah (3199)]

Adapun jika keluar janin dalam keadaan sempurna hidup, maka tidak halal dimakan kecuali dengan penyembelihannya. Allah Maha Tahu.

Hewan Yang Dipotong Dalam Keadaan Hidup

Dari Abu Waqid al-Laitsi bahwa nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Sesuatu yang dipotong dari hewan dalam keadaan hidup adalah bangkai”. [Hasan, Hadits riwayat: Abu Daud (2858), dan At-Tirmidziy (1480) dan memiliki penguat]

Ibnu Hazm rahimahullah bertaka: “Sesuatu yang dipotong dari hewan dalam keadaan hidup, atau sebelum disempurnakan penyembelihannya, maka itu adalah bangkai tidak halal dimakan. Jika telah sempurna penyembelihannya setelah memotong sesuatu itu maka hewannya dimakan, dan potongan itu tidak dimakan. Ini tidak ada perbedaan di dalamnya. Karena potongan itu telah terpisah dari tubuh hewan maka haram dimakan. Tidak berlaku penyembelihan atasnya setelah terpisahnya dari hewan yang dipotong”. [Dari saudara kita Muhammad al-‘alawi- Hafizhahullah- suatu kitab yang bermanfaat di dalamFiqhul Adhhiyah]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru