Iklan Atas Zona Muslim

Shalat Yang Boleh Dikerjakan Pada Waktu-waktu Terlarang
4/ 5 stars - "Shalat Yang Boleh Dikerjakan Pada Waktu-waktu Terlarang" Berikut ini adalah Shalat yang dikecualikan dari larangan, yaitu boleh dilakukan meskipun waktu tersebut asalnya dilarang: 1. Tengah hari ...

Shalat Yang Boleh Dikerjakan Pada Waktu-waktu Terlarang

Admin

Berikut ini adalah Shalat yang dikecualikan dari larangan, yaitu boleh dilakukan meskipun waktu tersebut asalnya dilarang:

1. Tengah hari pada hari jum’at

Disunnahkan untuk mengerjakan shalat sunnah sebelum melaksanakan shalat jum’at hingga Imam keluar, ketika Imam telah keluar, maka tidak boleh lagi. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الجُمُعَةِ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى

“Apabila seseorang mandi pada hari jum’at dan ia bersuci semampunya, kemudian ia memakai wangi-wangian dari rumahnya dan keluar rumah serta tidak memisahkan diantara keduanya. kemudian ia mengerjakan shalat yang diwajibkan dan tidak berbicara ketika imam berkhutbah. Maka ia akan mendapatkan ampunan antara Jum’at yang satu dan Jum’at yang lain”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (883)]

Hadist diatas, dijadikan Imam Syafi’i sebagai dalil dan juga hadist dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن الصلاة نصف النهار حتى تزول الشمس، الا يوم الجمعة

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang melaksanakan shalat pada tengah hari sampai tergelincirnya matahari, kecuali pada hari Jum’at”. Akan tetapi hadist tersebut dhaif. [Hadits Riwayat: As-syafi’I dalam kitab al-Umm (1/226), Al-Baihaqi (2/464). Sanadnya rusak]

Ada dua pendapat ulama lainnya:

Pertama: Tidak makruh bagi seseorang melaksanakan shalat pada siang hari jum’at ataupun selainnya. Pendapat ini menurut Mazhab Imam malik dan dalilnya adalah amal ahli Madinah. Akan tetapi hujjah ini tertolak dengan adanya hadist di atas.

Kedua: Menurut Mazhab Abu Hanifah dan kalangan dari Ahmad, makruh melaksanakan shalat pada siang hari jum’at ataupun selainnya.

Mazhab Imam Syafi’I lebih rajih dan pendapat tersebut adalah pilihan Syaikh Islam. [Zadul Ma’aad - Ibnul Qayyim (1/378) cetakan ar-Risalah]

2. Shalat dua rakat shalat sunnah thawaf di Baitul Haram

Tidak dilarang melakukan shalat dua raka’at thawaf pada waktu-waktu terlarang di atas. Dalilnya sebagai berikut:

Hadist Jabir bin Math’am radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا البَيْتِ، وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ

“Wahai bani Abdu Manaf, janganlah kalian melarang seseorang untuk thawaf dan shalatlah di tempat ini pada waktu apapun, malam atupun siang”. [Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (869), al-Nasa’i (1/284), Ibnu Majjah (1254). Shahih]

Ibnu Abbas, Hasan, Husein dan sebagian salaf telah melakukannya (dua reka’at thawaf).

Bahwa shalat dua raka’at thawaf, mengikuti kepadanya. Jika dia (yang diikuti membolehkan, maka boleh diikuti.

Hal ini menurut Mazhab Imam Syafi’i dan Ahmad, diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dan ibnu az-Zubai, ‘Atha’, thawus, dan Abu Tsur. [Al-Umm (1/150), al-Majmu’ (4/72), al-Mughni (2/81)]

3. Mengqadha shalat pada waktu-waktu yang terlarang

Ulama berbeda pendapat tentang hukum mengqadha shalat yang tertinggal pada waktu-waktu yang terlarang, ulama’ ada dua pendapat:

Pertama: Tidak boleh mengqadha pada waktu-waktu yang terlarang. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu hanifah dan Ashabul ra’yu. [Al-Mabsuth (1/150)] Dalil mereka sebagai berikut:

Hadits rasul Shallallahu 'alaihi wasallam

ان النبى صلى الله عليه و سلم لم نام عن صلاة الصبح حتى طلعت الشمس أخّرها حتى ابيضت الشمس

“Bahwa nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ketika tertidur dari shalat shubuh sampai munculnya matahari, beliau mengakhirkan shalatnya sampai matahari menjadi terang”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (344), Muslim (682) dari ‘Imran Bin Hashin]

Mengqadha shalat yang tertinggal masih dalam kategori shalat, maka tidak boleh shalat pada waktu-waktu terlarang tersebut, seperti halnya shalat sunnah

Diriwayatkan dari Abu Bakar radhiallahu 'anhu:

أنه نام فى دالية، فاستقيظ عند غروب الشمس، فانتظر حتى غابت الشمس ثم صلاها

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tertidur di bawah pohon anggur dan nabi terbangun saat matahari terbenam. Kemudian beliau menunggu sampai matahari benar-benar terbenam, kemudian shalat ashar” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (2/66), Abdul Razaq (2250). Sanadnya shahih]

Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ajrah:

“Anaknya Ka’ab bin ‘Ajrah tertidur hingga tampaklah bagian dari ujung matahari kemudian Ka’ab bin ‘Ajrah membangunkannya. Ketika matahari telah meninggi berkatalah ka’ab bin ‘ajrah kepada anaknya, shalatlah sekarang “ [At-Tirmidzi menyebutkannya sebagai ta’liq (1/158), Ibnu Abi Syaibah menyambungnya (2/66).Sanadnya dhaif]

Kedua: boleh mengqadha shalat yang tertinggal pada waktu-waktu yang terlarang dan selainnya. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Malik, Syafi’I, Ahmad serta jumhur sahabat dan tabi’in. [Al-Mudawanah (1/130), al-Umm (1/148), al-Mughni (2/80), al-Ausath (2/411)] Dalil mereka sebagai berikut:

Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

مَن نامَ عن صلاةٍ أو نسيَها فليُصلِّها إذا ذكَرَها، لا كفارة له الا ذلك

“Siapa yang tertidur dari shalat atau lupa, maka shalatlah ketika mengingatnya. Tidak ada kafarat baginya kecuali qadha tersebut”.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah secara marfu’ :

إِنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا

“Sesungguhnya kelalaian pada orang yang sadar adalah seseorang yang tidak mengerjakan shalat sampai datang waktu shalat yang lain, maka siapa yang melakukan hal tersebut, shalatlah ketika ia teringat”. [Hadits Riwayat: Muslim (311) dan selainnya]

Dua hadist tersebut terdapat perintah untuk mengerjakan shalat ketika ingat atau sadar tanpa adanya pengecualian atas waktu-waktu yang terlarang.

Penulis berkata: pendapat ini rajih, adapaun Rasulullah yang mengakhirkan shalat hingga matahari bersinar terang karena mereka belum terbangun kecuali saat matahari telah panas. Rasulullah menjelaskan alasan mengakhirkan shalat dengan sabdanya, “Tempat ini telah dihadiri oleh setan”. Maka alasan pengakhirannya adalah karena tempatnya, bukan karena waktunya. Wallahu a’lam.

4. Mengqadha shalat sunnah rawatib pada waktu yang terlarang

Boleh mengqadha shalat sunnah rawatib meskipun pada waktu-waktu yang terlarang dari melaksanakan shalat. Dalilnya sebagai berikut:

Hadist Ummu Salamah, bahwa beliau melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat dua raka’at setelah ashar, kemudian ia bertanya kepada Rasulullah tentang perihal tersebut. Rasulullah pun besabda,

يَا بِنْتَ أَبِي أُمَيَّةَ، سَأَلْتِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ العَصْرِ، وَإِنَّهُ أَتَانِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ القَيْسِ، فَشَغَلُونِي عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ فَهُمَا هَاتَانِ

“Wahai putri Abu umayyah, kamu bertanya tentang dua raka’at setelah ashar, sesungguhnya telah datang kepadaku orang-orang dari bani Abdul qais. Mereka menyibukkanku dari mengerjakan dua rakaat shalat rawatib setelah zuhur, maka dua rakaat yang kamu tanyakan adalah dua raka’at tersebut “. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari(1233), Muslim (297)]

Hadist yang diriwayatkan oleh qais bin ‘amru berkata, Rasulallah shallallahu 'alaihi wasallam melihatku ketika aku shalat dua raka’at fajar setelah shalat shubuh, kemudian Rasulullah bersabda, “Dua raka’at apa ini, wahai qais?”. Saya jawab, “Ya Rasulullah, saya tidak sempat shalat dua raka’at sebelum shalat shubuh” dan Rasulullah pun mendiamkannya. Dalam satu riwayat disebutkan (nabi tidak mengingkarinya)[Hadits Riwayat: Abu Daud (1267), At-Tirmidzi (422), Ahmad (5/447)]

Keumuman Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

مَنْ نَسِيَ صَلَاةً، فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Siapa yang terlupa shalat maka shalatlah ketika mengingatnya”. [Hadits Riwayat: Ibnu Majah (697) Shahih] Dalil ini menurut mazhab Imam Malik dan Imam Syafi’i. [Bidayatul Mujtahid (1/137), al-Umm (1/139)]

5. Shalat jenazah setelah shalat Shubuh dan Ashar

Seluruh ulama’ sepakat boleh shalat jenazah setelah shubuh dan ashar. [Ibnu Qodamah menukil dalam kitab (al-Mughni) (2/82)] Tetapi mereka berselisih jika shalat tersebut dikerjakan pada waktu yang disebutkan oleh hadist ‘Uqbah bin ‘Amir, ketika munculnya matahari sampai meninggi, ketika matahari tepat berada di atas kepala sampai tergelincirnya dan ketika matahari miring hendak tenggelam hingga benar-benar tenggelam. Dalam permasalahan ini ada dua pendapat:

Pertama: Tidak boleh shalat jenazah pada ketiga waktu tersebut. Pendapat ini menurut Abu Hanifah, Imam Malik, Ahmad dan mayoritas ahli ilmu [Al-Mudawanah (1/190), al-Mabsuth (1/152), al-Mughbi (2/82), al-Ma’alimul Sunnan (1/313)] dengan landasan hadist ‘Uqbah bin ‘Amir,

ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ أَوْ نَقْبِرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا

“Tiga waktu dimana rasulallah melarang kita shalat di dalamnya atau melarang kita untuk mengubur jenazah waktu tersebut..”

Kedua, Boleh shalat jenazah pada keseluruhan waktu-waktu yang terlarang. Pendapat ini menurut Mazhab Imam Syafi’i dan sebuah riwayat dari Ahmad. [Al-Umm (1/150), al-Majmu’ (4/68)] Imam Syafi’i beralasan bahwa shalat jenazah adalah shalat yang mempunyai sebab, maka dikecualikan dari pelarangan.

Penulis berkata: Yang rajih adalah shalat jenazah tidak boleh dilakukan pada ketiga waktu tersebut, karena adanya nash. Dalam hadits di atas disebutkan tentang pelarangan dari shalat serta mengubur jenazah pada waktu-waktu tersebut. Bisa ditarik kesimpulan, shalat jenazah pada waktu tersebut juga dilarang dan tidak ada pengecualian. Ketiga waktu tersebut adalah waktu yang singkat, sahingga tidak perlu dikhawatirkan akan terjadi sesuatu jika menunggunya sampai hilang waktu tersebut.. Wallahu a’lam.

Shalat-shalat yang mempunyai sebab: Seperti tahiyatul masjid, shalat sunnah wudhu’, shalat gerhana matahari dan sebagainya. Dalam permasalahan ini ulama’ berbeda dalam dua pendapat.

Pertama: Tidak boleh shalat pada waktu-waktu terlarang. Pendapat ini dikemukakan oleh Mazhab Abu Hanifah dan masyhur dari Mazhab Ahmad. [Al-Mabsuth (1/152), Syarah Fathul Qodir (1/204), Al-Mughni (2/90)]

Kedua: Boleh. yaitu Mazhab Imam Syafi’i (lihat Al-Umm (1/149), Al-Majmu’ (4/69) dan riwayat kedua dari Ahmad. Dalil mereka adalah:

Ketetapan bolehnya dua raka’at thawaf setiap waktu, seperti yang telah dijelaskan di atas.

Ketetapan bolehnya shalat sunnah wudhu’ pada waktu apapun, seperti yang telah diterangakan dalam hadist Bilal dan pertanyaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Bilal

أخبرنى بأرجى ‘ما عملته فى الإسلام فقال: ما عملت عملا أرجى عندى أنى لم أتطهر طهورا فى ساعة من ليل أو نهار إلا صليت بذلك الطهور ما كتب لى أن أصلي

“Bilal, beritahu kepadaku amalan apa yang paling memberi harapan yang telah engkau perbuat dalam Islam”. Kemudian Bilal berkata, “Tidak ada satu amalan yang paling aku harapkan (kecuali) bahwa setiap kali aku selesai bersuci baik pada waktu malam ataupun siang, pasti aku selalu shalat semampuku melakukannya”.

Hadist Rasulullah tentang shalat gerhana matahari:

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ

“Apabila kalian melihatnya, maka bersegeralah untuk shalat”.

Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“ Jika seseorang dari kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua rakaat terlebih dulu”

Rasulullah melakukan shalat sunnah zuhur setelah shalat ashar, seperti yang telah diterangkan sebelumnya.

Ijma’ para ulama atas bolehnya shalat jenazah setelah shubuh dan ashar. Mereka berkata, “Semua shalat ini mempunyai sebab dan boleh melaksanakannya secara mutlak dan dikecualikan dari pelarangan”.

Penulis berkata, Mazhab ini mengambil dalil sebagai berikut:

Hadist Abu Dzar Rasullullah shallallahu 'alaihi wasallam, berkata kepadanya:

كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟ - أَوْ - يُمِيتُونَ الصَّلَاةَ عَنْ وَقْتِهَا؟» قَالَ: قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي؟ قَالَ: «صَلِّ الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا، فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ، فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

“Wahai Abu Dzar, apa yang hendak engkau lakukan tatkala melihat para pemimpin yang mengakhirkan atau mematikan shalat dari waktunya?, aku berkata, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah bersabda, “Shalatlah pada waktunya dan apabila kamu melihat mereka, maka shalatlah lagi. Sesungguhnya shalat itu adalah sunnah bagimu”. [Hadits Riwayat: Muslim (648), Abu Daud (431), Lihat Ta’zhim Qadru ash-Shalah (1008)]

Dalam hadist Ibnu Mas’ud secara mauquf[Hadits Riwayat: Muslim (534) dan lainnya. Lihat Ta’zhim Qadru ash-Shalah (1015)]

ستكون أمراء يسيئون الصلاة يخنقونها إلى ِشرف الموتى، يعنى: إلى أخر النهار

“Akan ada masa dimana para pemimpin dalam menjalankan shalat menahannya sampai ke arah kematian, (yaitu: mengakhirkan sampai akhir waktunya).

Penjelasan yang dipaparkan oleh Hadist Abu Dzar membolehkan shalat sunnah pada waktu makruh, disebabkan hadist tersebut.

Hadist Yazid bin Al-Aswad berkata, “Saya bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan haji. Saya shalat shubuh bersama beliau di Masjid al-Khaif dari Mina. Ketika beliau menyelesaikan shalatnya, datang dua laki-laki pada akhir shaf shalat dan keduanya belum shalat. Kemudian Rasulullah mendatangi mereka berdua yang sedang merenggangkan otot-otot pinggangnya kemudian beliau pun berkata,“Apa yang mencegah kalian berdua shalat bersama kita?”. Keduanya menjawab, “Kami sudah shalat di perjalanan”. Rasulullah berkata, “Kalian berdua jangan lakukan seperti itu, jika kalian berdua sudah shalat dalam perjalanan, kemudian mendatangi masjid yang di dalamnya sedang berjama’ah, maka shalatlah bersama mereka, sesungguhnya shalat itu bagi kalian berdua adalah sunnah [Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (219), al-Nasa’i (2/112). Dan selain keduanya. Shahih]

al-Khitabi berkata, dalam sabda nabi terdapat lafaz “shalat tersebut adalah tambahan” merupakan dalil atas bolehnya shalat sunnah setelah shubuh dan sebelum munculnya matahari, karena adanya suatu sebab [Ma’alimul Sunan (1/165)]

Penulis berkata, sesuai dengan apa yang telah diterangkan di atas. Sesungguhnya pelarangan shalat pada waktu-waktu yang telah disebutkan dalam nash adalah khusus untuk shalat sunnah tanpa adanya sebab dan bagi seseorang yang dengan menyengaja shalat pada waktu-waktu yang dilarang. Hadist Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَتَحَرَّى أَحَدُكُمْ، فَيُصَلِّي عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلاَ عِنْدَ غُرُوبِهَا

“Janganlah salah seorang dari kalian menyengaja shalat ketika terbitnya matahari dan ketika terbenamnya”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (585), Muslim (828)]

Catatan tambahan: waktu-waktu yang dilarang diatas adakalanya berhubungan dengan waktu-waktu asli. Dan adakalanya berhubungan diluar dengan waktu-waktu aslinya. Wallahu a'lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru