Iklan Atas Zona Muslim

Seorang Mukmin Adalah Cermin
4/ 5 stars - "Seorang Mukmin Adalah Cermin" Seperti apakah seharusnya seorang mukmin itu? Simak hadits Rasululloh saw. Di bawah ini. الْمُؤْمِنُ مَرْآةُ  الْمُؤْمِنُ “Seorang ...

Seorang Mukmin Adalah Cermin

Admin

Seperti apakah seharusnya seorang mukmin itu? Simak hadits Rasululloh saw. Di bawah ini.


الْمُؤْمِنُ مَرْآةُ الْمُؤْمِنُ

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.”
(Diriwayatkan Ath-Thabrani dari Anas ra.)

Penilaian terhadap hadits

Hadits ini dihasankan oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-jami’ush Shaghir (9141), dan dishahihkan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahihul jami'ish Shaghir (6655).

Sekilas penjelasan hadits

Islam menghendaki agar masyarakat muslim menjadi masyarakat yang ideal dalam aspek moralitas. Karena itu, setiap muslim memiliki kewajiban untuk memperbaiki moralitas pribadinya sehingga masyarakat bisa meneladani kebaikannya. Itulah pribadi yang dikehendaki oleh Rasulullah saw. Pribadi yang senantiasa memotivasi orang lain untuk berbenah diri karena keteladanan yang diberikan. Persis seperti Cermin yang mendorong setiap orang yang berdiri di depannya untuk berbenah diri dan merapikan penampilan yang masih kurang rapi.

Hikmah Perumpamaan “Seorang Mukmin Bagaikan Cermin”

Rasulullah saw. menggambarkan seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain. Dengan perenungan sejenak seorang muslim bisa menggali hikmah dan pelajaran yang sangat berharga, kemudian setelah itu melaksanakan apa yang menjadi konsekuensinya. Di antara pelajaran dan konsekuensi itu adalah:

a. Seorang mukmin hendaknya menjadi teladan kebaikan bagi mukmin yang lain. Orang lain akan melihat dan memperhatikannya serta meniru sifat, perkataan dan perbuatannya. Oleh karena itu, ia harus senantiasa menjaga setiap perkataan dan perbuatannya dan memperbaiki sifat-sifat kepribadiannya. Jangan sampai ia menjadi teladan keburukan bagi orang lain karena keburukan sifat dan prilakunya, serta ketercelaan sikap dan tutur-katanya.

b. Seorang mukmin memiliki tanggungjawab sosial untuk memperbaiki masyarakatnya. Ia harus selalu mendatangkan perubahan yang baik bagi mereka. Bertekad menularkan semua kebaikan dirinya agar menjadi sifat dan karakter masyarakatnya. Sehingga menjadi masyarakat yang bermartabat dan penuh wibawa serta dihormati oleh masyarakat lain. Persis seperti cermin yang selalu membawa perubahan, siapa pun yang berdiri di depannya, mendorongnya untuk merapikan apa yang masih acak-acakan, membersihkan kotoran yang melekat di badan dan pakaiannya, dan menyadarkan bahwa dirinya memiliki kelebihan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain sehingga tetap percaya diri dengan segenap kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya.

Baca juga : Seperti Apa Ciri-Ciri Thaifah Manshurah?

c. Menyadari bahwa ia bisa mempengaruhi dan dipengaruh orang lain. ia selalu waspada untuk menjaga tutur kata dan perilakunya agar tidak memberikan pengaruh yang buruk bagi orang lain. Senantiasa menjaga pergaulan dan selektif terhadap orang-orang yang akan dijadikan sebagai teman dekat dan sahabat karibnya, karena keburukan teman dan sahabat akan memberikan pengaruh buruk bagi dirinya. Rasulullah saw. bersabda. "Seseorang akan mengikuti agama teman karibnya" (HR Abu Dawud)

Belajar Dari Sifat-Sifat Cermin

a. Kualitas yang terbaik

Kaca termasuk barang yang terbuat dari pasir dari jenis yang terbaik apabila dibandingkan dengan barang-barang lain yang terbuat dari pasir seperti batako, tegel, keramik dan perkakas lainnya. Terutama untuk membuat kaca cermin, dibutuhkan pasir yang terbaik dari yang terbaik. Apabila kualitas kurang bagus, kaca yang dihasilkan tidak bisa digunakan untuk becermin, karena tidak bisa menghasilkan pantulan yang sempurna sehingga gambar yang ditampilkan tidak terlihat sebagaimana wajah aslinya.

Seorang mukmin hendaknya menyadari bahwa ia adalah manusia. Untuk sekadar lahir ke dunia ia harus melewati berbagai seleksi dan kompetisi. Lahir sebagai makhluk mulia. Ia juga menyadari bahwa seorang mukmin adalah termasuk orang pilihan, karena Allah telah memilihnya di antara milyaran manusia untuk menerima anugerah terbasar yaitu anugerah iman dan Islam. Kesadaran ini akan melahirkan sikap izzah sebagai seorang mukmin, sikap waspada dan kehati-hatian untuk menjaga tutur-kata dan prilakunya agar tidak sampai menurunkannya dari kemuliaan yang telah dianugerahkan kepadanya. Kesadaran ini juga akan melahirkan tindakan-tindakan konkrit untuk terus-menerus melakukan perbaikan diri sehingga bisa mempertahankan kedudukannya bahkan semakin meningkatkan derajatnya di sisi Allah maupun di sisi manusia.

b. Bermanfaat untuk semua kalangan

Di mana cermin ini bisa kita dapatkan di setiap rumah yang menjadi tempat tinggal manusia, baik di hotel yang termewah maupun di gubug reot di kolong jembatan. jadi, cermin termasuk kebutuhan pokok untuk memperbaiki penampilan seseorang, baik dia orang yang terkaya maupun orang yang termiskin di dunia. Begitu juga hendaknya seorang mukmin, ia harus menjadi orang yang dibutuhkan oleh semua kalangan dan memberikan kemanfaatan kepada semua orang, tanpa membedakan status orang yang membutuhkan peran dan bantuannya. Karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberikan kemanfaatan kepada orang lain.

c. Menasehati dengan bijak

Setiap orang yang bercermin pasti akan mengikuti apa yang menjadi nasihat sang cermin dan dengan segera melakukan apa yang menjadi arahannya. Apabila ia melihat dirinya di cermin kurang rapi, atau ada kotoran di badan dan pakaiannya, atau rambutnya acak-acakan, ia langsung merapikan, membersihkan kotoran dan menyisir rambutnya dengan segera dan sama sekali tidak tersinggung serta marah kepada cermin yang menunjukkan kekurangan-kekurangannya. Oleh karena itu, setiap mukmin hendaknya meneladani sang cermin dalam memberikan nasihat dan arahan kepada orang tain. Ia harus memperhatikan adab-adab dalam memberi nasihat, jangan memberi nasihat dengan kata-kata kasar, sikap arogan, dan dengan niat menjelek-jelekan orang yang dinasihati. Karena ia akan tersinggung dan menolak nasihat-nasihatnya bahkan akan berlaku kasar terhadapnya karena dianggap telah menodai harga dirinya.

Baca juga : Seruan Ulama Untuk Muslim Indonesia Agar Ikut Pemilu

d. Menjaga rahasia

Cermin tidak pernah membuka rahasia siapa pun orang yang pernah berdiri di depannya. Ia tidak pernah mengatakan kepada orang yang bercermin, ”Apakah engkau kenal dengan si fulan, ia tadi bercermin dan sungguh saya merasa muak dengan penampilannya, saya mau muntah mencium bau badannya, bahkan kalau bisa memukul saya akan melakukannya.” Sehingga ketika seseorang ingin mengetahui kekurangan-kekurangannya ia meminta bantuan kepada cermin untuk membenahi penampilan dirinya, tanpa pernah merasa takut rahasia dan kekurangannya akan disampaikan kepada orang lain. Begitu juga hendaknya seorang mukmin, ia harus menjaga rahasia saudaranya dan menutup aibnya, karena ia menyadari betul hadits Rasulullah saw.

“Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)

e. Kejujuran

Cermin tidak pernah berbohong kepada orang yang berdiri di depannya, kalau orang itu acak-acakan, maka ia akan memperlihatkan bayangan yang acak-acakan, kalau ia berpenampilan rapi maka ia juga akan memunculkan bayangan yang rapi. Tidak pernah seorang pun yang berdiri di depan cermin dengan acak-acakan lalu cermin memperlihatkan bayangannya dengan rapi karena takut dipecah oleh orang yang becermin. Seorang mukmin akan senantiasa berkata jujur kepada siapa pun dan berada di mana pun, kecuali ketika berada di medan perang, atau berbohong untuk membahagiakan isteri dan mendamaikan dua pihak yang berseteru. Karena kebohongan tidak akan berpadu dengan keimanan.

Baca juga : Fatwa Perhimpunan Al-Irsyad Tentang Bolehnya Organisasi Untuk Dakwah

Rasulullah saw. pernah ditanya, "Apakah seorang mukmin bisa menjadi orang yang pengecut?" Beliau menjawab, ”Ya" Apakah seorang mukmin bisa menjadi orang yang kikir?” Beliau menjawab "ya" Apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta? Beliau menjawab, 'Tidak' (HR. Muslim)

f. Membutuhkan orang lain untuk menjaga dan membersihkannya

Betapapun cermin memiliki berbagai sifat kebaikan, namun ia juga memiliki kekurangan, ia akan pecah kalau tidak dijaga dan dilindungi, ia akan kotor berdebu kalau tidak dibersihkan secara rutin oleh orang yang memakainya. Jadi sehebat apa pun seorang mukmin ia masih membutuhkan nasihat dan sumbangsih pemikiran dari orang lain. Ia membutuhkan perlindungan diri dari godaan setan jin dan manusia dengan hidup di tengah lingkungan yang baik dan di antara orang-orang yang shalih. Kisah ahli ibadah yang akhirnya mengalami su'ul khatimah dengan bersujud kepada setan untuk mendapat perlindungan darinya setelah melakukan perzinaan dan pembunuhan terhadap seorang gadis kiranya menjadi pelajaran yang sangat penting bagi seorang mukmin untuk tidak hidup berjamaah. Karena salah satu faktor yang menyebabkan ia sampai terpeleset jauh adalah apabila ia hidup menyendiri dan tidak berada di tengah lingkungan orang-orang shalih Rasulullah saw. bersabda,

”Hendaknya kamu senantiasa komitmen terhadap jamaah, karena setan akan bersama orang yang sendirian, dan dari dua orang ia akan lebih jauh." (HR. Ahmad). Wallahu a'lam.


[Disalin dari buku: Arbain Tarbawiyah, Karya Ust. Fakhruddin Nursyam Lc.]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru