Iklan Atas Zona Muslim

Penjelasan Tentang Hukum Haji Dan Keutamaanya
4/ 5 stars - "Penjelasan Tentang Hukum Haji Dan Keutamaanya" Bismillah. Dalam artikel ini in syaa Allah akan dibahas mengenai Definisi Haji, Hukum haji beserta dalilnya Dan Keutamaan-keutamaan haj...

Penjelasan Tentang Hukum Haji Dan Keutamaanya

Admin
Keutamaan haji

Bismillah. Dalam artikel ini in syaa Allah akan dibahas mengenai Definisi Haji, Hukum haji beserta dalilnya Dan Keutamaan-keutamaan haji.

Definisi Haji


Al-Hajj (dengan memfathahkan haa` atau bisa juga mengkasrahkannya namun tidak benar) secara bahasa: aslinya adalah maksud, maka dikatakan: hajjahu hajjan yang berarti bermaksud dengan suatu maksud. Ada juga yang mengatakan dari hajajtuhu, yang berarti aku mendatanginya lagi setelah pernah mendatanginya. Dan ada juga yang mengatakan selain itu, namun yang pertama adalah yang paling terkenal.

Haji secara istilah syar’i berarti: menuju baitullah al-haram dan tempat-tempat yang telah ditentukan untuk suatu ibadah, waktu dan cara tertentu.

Hukum Haji


Haji hukumnya wajib sekali seumur hidup atas setiap pelaksana ibadah (mukallaf) yang memiliki kemampuan. Haji adalah salah satu rukun islam. Telah ditetapkan kewajibannya dalam al-Qur`an, as-Sunnah dan Ijma’:

Dalil al-Qur`an


Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

(وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ)

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Bagi siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. [Al-Qur'an, Surat Aali `Imran 97]

Dalil as-Sunnah


Ada banyak sekali hadits (mencapai derajat mutawatir) yang meyakinkan dan suatu pengetahuan yang pasti akan adanya kewajiban ini, [Lihat at-Targhib wa at-Tarhib (2/211)] di antaranya:

Hadits Ibnu `Umar bahwa Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

(بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ)

Islam itu dibangun di atas lima hal: Syahadat bahwa tiada ilah yang berhak untuk disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa di bulan Ramadhan. [Shahih: Hadits riwayat: Al-Bukhariy (8), Muslim (16) dan selainnya]

b. Hadits Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- berkhutbah di antara kami dan bersabda:

(أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ، فَحُجُّوا»، فَقَالَ رَجُلٌ: أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَوْ قُلْتُ: نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ)

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah -subhanahu wa ta`ala- telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah.” Maka seorang lelaki berkata: “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” beliau diam hingga orang itu mengulangi pertanyaannya tiga kali. Kemudian Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: “Seandainya aku mengiyakannya maka itu akan menjadi wajib dan kalian tak akan sanggup.” [Shahih: Hadits riwayat: Muslim (1337)]

Dalil Ijma’


Umat telah bersepakat akan kewajiban haji (bagi yang mampu) sebanyak sekali seumur hidupnya, Ini jika dia tidak bernadzar untuk berhaji, adapun jika dia bernadzar untuk berhaji maka wajib baginya untuk melaksanakannya, haji merupakan suatu hal yang diketahui oleh semua orang dalam agama dan orang yang mengingkarinya dikafirkan. [Al-Mughny (3/217) dan al-Majmu’ (7/13)]

Apakah haji wajib dilakukan dengan segera atau boleh ditunda?


Mayoritas ulama berpendapat, Abu Hanifah (dalam riwayat yang paling benar dari dua riwayat), Abu Yusuf, Malik dan Ahmad. [Lihat : Al-Mughny (3/241), al-Majmu’ (7/85) dan al-Furu’ (3/242)] bahwa bagi siapa yang telah memenuhi syarat wajib haji (akan dijelaskan nanti) dan dipastikan keharusan berhaji atasnya, maka dia wajib untuk melaksanakannya dengan segera. Dia berdosa jika mengundurnya. Mereka berdalil dengan:

Firman Allah -subhanahu wa ta`ala-:

(وَللهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ)

"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah." [Al-Qur'an, Surat Aali `Imran 97]

b. Sabda Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-:

(أَيُّهَا النَّاسُ إن اللهُ كتب عَلَيْكُمُ الْحَجَّ، فَحُجُّوا)

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah. [Shahih: takhrijnya telah disebutkan]

Asal dari perintah adalah segera selama tidak ada dalil yang merubahnya. Oleh karena itu Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- marah (saat Perang Hudaibiyah) ketika beliau memerintahkan untuk bertahallul namun para Sahabat mengulur-ulurnya sebagaimana Hadits riwayat: Al-Bukhariy (2731)

c. Sabda Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-:

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ، فَلْيَتَعَجَّلْ

Bagi siapa yang ingin berhaji maka hendaklah dia bersegera melaksanakannya.[1]

d. Juga hadits yang diriwayatkan secara mauquf:

(مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تبْلِغُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ ولَمْ يَحُجَّ ، فَلا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا أَوْ نَصْرَانِيًّا)

Bagi siapa yang memiliki bekal dan kendaraan yang dengannya dia bisa sampai ke baitullah namun dia tidak berhaji, maka dia akan mati seperti seorang Yahudi atau Nasrani. [Dha’if: Hadits riwayat: At-Tirmidziy (812)]

Sedangkan di sisi lain Asy-Syafi`iy dan Muhammad bin al-Hasan, serta sebagian ulama terdahulu berpendapat akan kewajiban haji dapat diundur. Maka dia tidak berdosa jika mengakhirkannya (padahal dia sudah mampu) dengan syarat adanya tekad untuk melaksanakannya di waktu yang akan datang. Mereka berdalil bahwa Nabi -shallallahu 'alaihi wasallam- menaklukan kota Makkah di tahun ke-8 - Dan kewajiban haji diperselisihkan apakah di tahun ke 6, 7, 8, 9 atau 10 dari tahun Hijriyah. Lihat al-Majmu’ (8/87) dan Zaad al-Ma’aad (1/175) dan (3/25)- dan beliau tidak langsung berhaji kecuali di tahun ke-10. Jika memang wajib untuk disegerakan maka Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- tidak akan menyelisihi suatu hal yang telah diwajibkan atasnya, apalagi saat itu tidak ada alasan yang mencegah beliau semisal perang atau sakit!. Dan juga jika beliau mengakhirkannya lalu melaksanakannya setelah itu, maka itu bukanlah suatu ganti, jadi ini menunjukan bahwa haji boleh diundur.

Mereka menjawab pendalilan dengan ayat yang mulia tersebut bahwa perintah haji di dalamnya itu mutlak dan tidak terikat dengan waktu, maka boleh saja melaksakannya kapan saja. Maka tidak boleh memastikannya dengan penyegeraan karena itu adalah membatasidalil tanpa adanya dalil. Dan mereka juga melemahkan hadits yang memerintahkan untuk menyegerakan haji.

Penulis berkata: Dasar dari perselisihan ini adalah, apakah asal dari perintah itu adalah bersegera atau bisa diundur?. Bagaimanapun juga yang lebih baik adalah menyegerakannya dan tidak mengundurnya (ketika mampu) sebagai antisipasi, karena sesungguhnya dia tidak tahu barangkali umurnya tidak sampai ketika dia ingin berhaji. Allah Maha Tahu.

Keutamaan-Keutamaan Haji


Mengenai keutamaan haji ada banyak hadits yang menjelaskan hal itu. Setidaknya ada 5 keutamaan haji yang penulis sebutkan disini. Berikut ini keutamaan haji berdasar hadits Nabi

1. Haji menghapus dosa-dosa yang telah lalu


a. Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Bagi siapa yang berhaji dan tidak melakukan perbuatan keji dan fasiq, maka dia kembali seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya. [Shahih: Hadits riwayat: Al-Bukhariy (1521) danMuslim (1350)]

b. Ketika Amr bin al-‘Ash ingin membai’at Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- atas Islam, dia mensyaratkan agar diampuni dosa-dosanya, maka Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

(أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا؟ وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ؟)

Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Islam menghapus dosa-dosa yang sebelumnya?, sesungguhnya hijrah menghapus dosa-dosa yang sebelumnya? Dan sesungguhnya haji menghapus dosa-dosa yang sebelumnya? [Shahih: Hadits riwayat: Muslim (121)]

2. Haji adalah sebab untuk dibebaskan dari Neraka


Dari `A'isyah sesungguhnya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

(مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ، مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو، ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمِ الْمَلَائِكَةَ...)

Tiada hari yang ketika itu Allah paling banyak membebaskan hamba dari adzab Neraka selain hari `Arafah. Dan sesungguhnya Dia mendekat kemudian membanggakan mereka di antara para malaikat. [Shahih: Hadits riwayat: Muslim (1348)]

3. Pahala haji adalah Surga


Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ، كَفَّارَةُ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ، لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ، إِلَّا الْجَنَّةُ

Umrah ke umrah adalah penebus dosa di antara keduanya, dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur kecuali Surga. [Shahih: Hadits riwayat: Al-Bukhariy (1773) dan Muslim (1349)]

4. Haji adalah salah satu amalan yang paling utama


Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- ditanya:

(أَيُّ الأعَمَالِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ: «إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ». قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «جِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ» قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «حَجٌّ مَبْرُورٌ»)

“Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian ditanya lagi: “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.” Kemudian ditanya lagi: “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.” [Shahih: Hadits riwayat: Al-Bukhariy (26) dan Muslim (83)]

5. Haji adalah jihad terbaik bagi wanita


Dari `A'isyah sesungguhnya dia berkata:

(يَا رَسُولَ اللَّهِ، نَرَى الجِهَادَ أَفْضَلَ العَمَلِ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ؟ قَالَ: «لاَ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ»)

“Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad adalah amalan yang terbaik, maka tidakkah kami (kaum wanita) ikut berjihad?” Beliau berkata: “Tidak, namun jihad yang paling utama bagi kalian adalah haji yang mabrur.” [Shahih: Hadits riwayat: Al-Bukhariy (1520), an-Nasaa`I (5/114) dan Ibnu Majah (290)].

Demikian ringkasan tentang definisi, hukum dan Macam-Macam keutamaan haji. Semoga kita diberi kemampuan untuk menunaikannya. Aamiin.


Footnote:
[1] Dha’if: Hadits riwayat: Ahmad (1737), Ibnu Majah (2883), ath-Thabrany (18/287-296), al-Baihaqy (4/340) dan selain mereka dari jalur Abu Israil al-Mila`I dari Fudhail bin Amr dari Ibnu Jubair dari Ibnu `Abbas dari Fadhl. Dan Abu Israil ada kelemahan dalam dirinya juga banyak kesalahan. Dan Abu Israil memiliki taabi’ (namun kurang baik) yaitu Mihran Abu Shafwan dari Ibnu Abbas dengan jalur yang serupa yg Hadits riwayat: Abu Dawud (1732), Ibnu Abi Syaibah (3/227), Ahmad (1871), ad-Darimy (1784), al-Baihaqy (4/339) da selain mereka. Namun Mihran adalah rawi yang tidak dikenal maka tidak ada gunanya riwayatnya. Allah Maha Tahu.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru