Iklan Atas Zona Muslim

Penjelasan Hukum Qadha` Shalat Witir
4/ 5 stars - "Penjelasan Hukum Qadha` Shalat Witir" Jika seseorang ketiduran atau lupa tidak mengerjakan witir, maka dibolehkan –meng-qadha'nya– dengan mengerjakan shalat witir tersebut...

Penjelasan Hukum Qadha` Shalat Witir

Admin

Jika seseorang ketiduran atau lupa tidak mengerjakan witir, maka dibolehkan –meng-qadha'nya– dengan mengerjakan shalat witir tersebut kapan saja ketika ia bangun atau teringat. Hal tersebut berlandaskan hadits riwayat Abu Sa'id al-Khudri radhiallahu 'anhubahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَهُ

“Siapa yang ketiduran dari shalat witir (hingga tidak mengerjakannya) atau karena lupa, maka qadha'lah shalat witir tersebut saat masuk pagi (terbangun) atau ketika ia mengingatnya”[Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (465), Abu Daud (1431), Ibnu Majah (1188), dan Ahmad (3/44). Shahih. Irwa' al-Ghalil (2/153)]

Dan juga berlandaskan keumuman sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam :

مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Siapa yang ketiduran –hingga tidak mengerjakan– shalat, atau lupa; maka hendaknya ia meng-qadha' shalat tersebut ketika mengingatnya.”[Shahih, telah dibahas berulang-kali]

Baca juga: Pengertian Shalat Witir, Hukum Dan Waktu Pelaksanaannya

Hadits ini bersifat umum dan berlaku untuk seluruh jenis shalat baik fardhu maupun sunnah. Sehingga perintah qadha' dalam shalat fardhu hukumnya wajib, dan perintah qadha' dalam shalat sunnah hukumnya sunnah.

Demikian juga jika seseorang belum sempat shalat witir karena sakit atau sebab lainnya (maka dianjurkan untuk meng-qadha'nya).

Penulis Berkata: siapa yang sengaja meninggalkan witir tanpa adanya halangan tertentu hingga masuknya waktu Subuh, maka selamanya tidak diwajibkan baginya untuk meng-qadha' witir tersebut, sebagaimana kami uraikan dalam bab "Qadha' Shalat". Wallahu A'lam

Berapa Rakaat Shalat Witir Yang Diqadha'

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ ، أَوْ مَرِضَ صَلَّى بِالنَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila tertidur di malam hari atau saat sakit, beliau meng-qadha' –shalat malam– pada siang hari dengan dua belas rakaat.”[Hadits Riwayat: Muslim (746) dan selainnya]

Dan telah diketahui bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat malam sebelas rakaat, dan diketahui pula bahwa witir jika diqadha' di siang hari maka rakaatnya menjadi genap. Maka bagi siapa yang terbiasa shalat witir di malam hari dengan satu rakaat, ketika diqadha' witir tersebut di siang hari menjadi dua rakaat. Dan yang terbiasa witir tiga rakaat maka saat qadha' di siang hari witirnya menjadi empat rakaat. Begitu juga seterusnya.

Dianjurkan Mengqadha' Witir Sesegera Mungkin Sebelum Masuk Waktu Zhuhur

Hal tersebut agar shalat qadha'nya mendapat pahala –seperti– shalat di malam hari. Hal tersebut sebagaimana hadits riwayat Umar bin Khattab radhiallahu 'anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ أَوْ عَنْ شَىْءٍ مِنْهُ فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَصَلاَةِ الظُّهْرِ كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ

“siapa yang tertidur –dari shalat malam– sehingga tidak membaca ayat Al-Qur`an yang biasa ia baca ketika shalat malam atau –meninggalkan– sebagian dari hizib itu, kemudian ia membaca hizib tersebut antara shalat Subuh dan shalat Zhuhur, maka dicatat pahala baginya seperti jika ia membacanya di malam hari.”[Hadits Riwayat: Muslim (747), At-Tirmidzi (578), Abu Daud (1299), An-Nasa`i (3/259) dan Ibnu Majah (1343)]

Baca juga: Berapa Jumlah Rakaat Shalat Witir?

Secara zhahir, dalam hadits di atas terdapat dorongan untuk bersegera dalam melaksanakan qadha'. Dan terdapat kemungkinan bahwa keutamaan ibadah pada waktunya (ada') dengan pahala berlipat-ganda, disyaratkan untuk melakukannya pada waktu tertentu. [Hasyiyah Suyuthi 'Ala An-Nasa`i (3/259)]

Shalat Yang Dilakukan Setelah Witir

Telah diriwayatkan tentang sifat shalat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di malam hari dari Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ يُصَلِّي ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ وَ يُوتِرُ بِرَكْعَةٍ وَإِذَا سَلَّمَ كَبَّرَ ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَالِسًا ، وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَيْنَ أَذَانِ الْفَجْرِ وَالإِقَامَةِ

“Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melakukan shalat malam tiga belas rakaat; yaitu shalat tahajud delapan rakaat kemudian witir satu rakaat, dan ketika salam beliau –berdiri lagi– dan bertakbir, kemudian melakukan shalat dua rakaat dengan duduk. Beliau juga melakukan shalat sunnah fajar di antara Adzan Subuh dan iqamah.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1159), Muslim (738) dan selainnyz]

Mengenai dua rakaat yang dikerjakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam setelah witir tersebut, terdapat tiga penafsiran para ulama dalam memahaminya, yaitu:

1. Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat tersebut sebagai keterangan –bagi umat beliau– bahwa hal itu boleh dilakukan, oleh karena itu Rasulullah tidak rutin melakukannya, beliau hanya mengerjakan sekali atau beberapa kali saja. Selain itu, perkataan Aisyah dengan redaksi "Suatu ketika…" tidak menunjukkan kepada sesuatu yang berkesinambungan dan berulang-ulang, kecuali jika memang ada dalil yang menunjukkan kepada maksud tersebut. [Syarh Muslim karangan Imam Nawawi (6/21) cet. Ihya' Turats 'Araby]

2. Dua rakaat yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tersebut memiliki status sebagai shalat sunnah dan pelengkap bagi shalat witir. Karena witir adalah ibadah tersendiri –terlebih jika dikatakan bahwa witir hukumnya wajib– maka dua rakaat tersebut layaknya dua rakaat ba'diyah Maghrib, karena Maghrib adalah witirnya siang hari, dan dua rakaat ba'diyah Maghrib adalah pelengkap shalat Maghrib itu sendiri. Demikian halnya dua rakaat setelah witir malam (ia adalah pelengkap dari witir itu sendiri). [Zaadul-Ma'ad karangan Ibnul-Qayyim (1/318-319)]

3. Bahwa dua rakaat tersebut khusus bagi Rasulullah saja, dan hadits ini tidak dimaksudkan sebagai pengkhususan bagi hadits yang menyatakan bahwa akhir (penutup) shalat malam itu adalah witir. [Nailul-Authar (3/48) cet. Al-Hadits]

Penulis Berkata: Dua pendapat pertama di atas memiliki tinjauan kuat terhadap hadits, sedangkan pendapat ketiga masih perlu dikritisi, karena untuk menetapkan bahwa shalat tersebut khusus bagi Rasulullah saja, membutuhkan dalil –lain– sehingga dapat diterima. Dan pada dasarnya, pekerjaan Rasulullah itu telah disyariatkan untuk diikuti.

Lalu jika dikatakan, bahwa perbuatan Rasulullah tidak mengkhususkan perintah beliau yang menyuruh untuk menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam, maka kita katakan; benar, namun perintah Rasulullah tersebut sifatnya anjuran, dengan landasan hadits,

مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَليَرْقُدْ.

“Siapa di antara kalian merasa khawatir tidak akan bangun di akhir malam, maka hendaknya mengerjakan shalat witir di awal malam baru kemudian tidur.”[Shahih]

Apa yang Rasulullah setujui terhadap tindakan Abu Bakar yang melakukan witir sebelum tidur, [Shahih, baru saja dibahas] menunjukkan bahwa; melakukan shalat sunnah ketika bangun malam adalah sesuatu yang disyariatkan, meskipun sebelum itu orang bersangkutan telah melaksanakan shalat witir.

Hingga penulis berhenti ketika menemukan perintah Rasulullah dalam hadits marfu' riwayat Tsauban, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ هَذَا السَّفَرَ جَهْدٌ وَثَقِلٌ، فَإِذَا أَوْتَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ، فَإِنْ اسْتَيْقَظَ، وَإِلاَّ كَانَتَا لَهُ

“Sesungguhnya perjalanan ini susah dan berat, dan jika di antara kalian ada yang hendak mengerjakan witir maka dirikanlah shalat dua rakaat jika bangun malam. Namun jika tidak –bangun malam– maka dia telah mendapatkan –pahala– shalat dua rakaat tersebut.” [Hadits Riwayat: Ad-Darimi (1594) dan dalam redaksinya disebutkan (السهر) sebagai ganti dari (السفر)]

Dari sini bertemulah antara perintah dan apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sehingga menyimpulkan suatu hukum syar'i. Lalu sabda Rasulullah untuk menjadikan witir sebagai penutup shalat malam, bermakna sebagai perintah anjuran –dan bukan kewajiban– Wallahu Ta'ala A'lam.

Bacaan Pada Shalat Dua Rakaat Setelah Witir

أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْوِتْرِ , وَهُوَ جَالِسٌ يَقْرَأُ فِيهِمَا [ إذَا زُلْزِلَتِ الأَرْضُ ] وَ [ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ]

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam suatu saat mengerjakan shalat dua rakaat setelah witir; beliau membaca di dalam dua rakaat tersebut dengan surat [Idza Zulzilatil-Ardhu] dan [Qul Ya Ayyuhal-Kafirun]). [Hadits Riwayat: Ahmad (5/260), Thahawi (1/280-341)]

Dianjurkan Berbaring Setelah Shalat Dua Rakaat Setelah Witir

Dianjurkan bagi yang telah mengerjakan shalat dua rakaat setelah witir –atau setelah shalat malam– untuk tidur hingga adzan Subuh. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma saat bermalam di rumah bibinya (saudari ibu) yaitu Maimunah radhiallahu 'anha dan menceritakan tentang sifat Shalat malam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Ibnu Abbas berkata,

ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي , فَقُمْتُ فَصَنَعْتُ مِثْلَ ماَ صَنَعَ ,ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُمْتُ إلَى جَنْبِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِي وَأَخَذَ بِأُذُنِي اليُمْنَى يَفْتِلُهَا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ ثُمَّ اضْطَجَعَ حَتَّى أَتَاهُ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bangun untuk mengerjakan shalat –malam–, aku pun turut beranjak, dan kulakukan apa yang beliau lakukan, aku lalu menghampiri Rasulullah dan berdiri di sisi beliau, lalu Rasulullah meletakkan tangan kanan beliau di atas kepalaku, dan menarik telinga kananku, lantas beliau shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian shalat witir, lalu setelah itu beliau istirahat (tidur miring) hingga muadzin mengumandangkan adzan Subuh, maka Rasulullah pun bangun, lalu mengerjakan dua rakaat fajar dengan cepat, baru setelah itu beliau keluar untuk menunaikan shalat Subuh.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1146), dan Muslim (739)]

Dan di dalam riwayat Ibnu Huzaimah dikatakan,

فَأَوْتَرَ بِتِسْعٍ أَوْ سَبْعٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَوَضَعَ جَنْبَهُ حَتَّى سَمِعْتُ ضَفِيْزَهُ ثُمَّ أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَانْطَلَقَ فَصَلىَّ

“Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat witir dengan sembilan atau tujuh rakaat, lalu –setelah itu– mengerjakan shalat dua rakaat. Rasulullah kemudian istirahat (tidur miring) hingga aku mendengar nafas beliau (saat tidur), sampai dikumandangkan adzan Subuh, maka beliau pun beranjak untuk shalat”

Dua rakaat yang dikerjakan Rasulullah dalam hadits ini, mungkin shalat sunnah yang beliau kerjakan seusai witir, dan mungkin juga shalat sunnah Subuh. [Hadits Riwayat: Shahih Ibnu Khuzaimah (2/157-158)]

Penulis Berkata: namun kemungkinan pertama di atas, dikuatkan oleh hadits riwayat Aswad yang bertanya kepada Aisyah radhiallahu 'anha tentang tata-cara shalat malam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam Aisyah pun berkata:

كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ ، وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّى ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ ، فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ ، فَإِنْ كَانَتْ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ وَإِلا تَوَضَّأَ وَخَرَجَ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidur di awal malam dan bangun di akhir malam lalu mengerjakan shalat, kemudian beliau kembali ke tempat tidur, hingga muadzin mengumandangkan adzan –Subuh– maka beliau bangun. Dan jika Rasulullah ada keperluan, maka beliau mandi terlebih dahulu, dan jika tidak maka beliau langsung wudhu’ dan keluar –untuk shalat–.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1146) dan Muslim (739)]

Baca juga: Hukum Membaca Qunut Pada Saat Shalat Witir

Hadits ini tidaklah melarang istirahat (berbaring miring) setelah shalat sunnah qabliyah Subuh, namun secara dzahir dapat dipahami; bahwa Rasulullah kadang istirahat di antara shalat malam dan shalat Subuh, dan kadang beliau istirahat setelah shalat qabliyah Subuh, dan mungkin juga beliau istirahat dalam kedua waktu tersebut. Wallahu A'lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru