Iklan Atas Zona Muslim

Macam-Macam Puasa Sunnah Beserta Dalilnya
4/ 5 stars - "Macam-Macam Puasa Sunnah Beserta Dalilnya" Kali ini akan kami publishkan artikel tentang Macam-macam puasa sunnah. Apa yang dimaksud dengan puasa sunnah? Maksudnya adalah puasa ya...

Macam-Macam Puasa Sunnah Beserta Dalilnya

Admin

Kali ini akan kami publishkan artikel tentang Macam-macam puasa sunnah. Apa yang dimaksud dengan puasa sunnah? Maksudnya adalah puasa yang dikerjakan diluar bulan ramadhan. Apa saja yang termasuk puasa sunnah? Berikut perinciannya.

1. Puasa Enam hari bulan Syawwal


Sunnah hukumnya mengerjakan puasa enam hari bulan Syawwal setelah mengerjakan puasa Ramadhan –tidak disyaratkan harus beruntun– karena puasa enam hari bulan Syawwal sama dengan puasa setahun penuh. Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Bagi siapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari bulan Syawwal, maka ia seperti mengerjakan puasa setahun penuh.”[Hadits Shahih, Riwayat: Muslim no.1164]

Puasa enam hari bulan Syawwal sama dengan puasa setahun penuh karena kebaikan yang didapat berlipat sepuluh kebaikan. Puasa Ramadhan berlipat sepuluh bulan dan puasa enam hari bulan Syawwal berlipat dua bulan. Ini sesuai dengan Hadits riwayat Tsauban dari Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ

“Bagi siapa berpuasa Ramadhan, maka sebulan sama dengan sepuluh bulan. Dan berpuasa enam hari setelah `idul fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh.”[Hadits Shahih, Riwayat: Ahmad, V, h 280]

Banyak ahli ilmu yang mensunnahkan puasa ini, di antaranya Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Sedangkan Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Imam Malik menghukumi makruh puasa ini supaya tidak diyakini sebagai puasa wajib karena disamakan dengan puasa Ramadhan. Namun hukum makruh ini tidak bertentangan dengan hukum sunnah karena tidak ada dalil yang saling bertentangan. Kemudian menyamakan puasa Ramadhan dengan puasa enam hari bulan Syawwal hanya ditakutkan di awal bulan. Tidak ada kekhawatiran adanya kesamaan di antara keduanya di akhir bulan karena dipisah dengan `idul fitri yang tidak boleh berpuasa di hari itu.[Syarh Muslim milik An-Nawawi (3/238), Syarhul ‘Umdah (2/556), Al-Mughni (4/438),]

Orang yang punya hutang puasa Ramadhan, apakah ia boleh berpuasa enam hari bulan Syawwal sebelum mengganti?


Secara tekstual, hadits Abu Ayyub di atas menjelaskan bahwa keutamaan pahala puasa setahun penuh bisa di dapat kecuali ia mengerjakan puasa Ramadhan kemudian mengerjakan puasa enam hari bulan Syawwal. Sehingga puasa enam hari bulan Syawwal tidak boleh didahului oleh mengganti.[Dijelaskan oleh Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin seperti dalam Al-Mumti` (6/448)]

Penulis berkata: Kecuali dikatakan bahwa sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- “kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari syawwal” keluar dari yang banyak terjadi maka tidak bisa dipahami seperti itu. Sehingga, boleh puasa enam hari bulan Syawwal sebelum mengganti puasa Ramadhan, apalagi bagi orang yang mendapat kesulitan di bulan Syawwal jika ia mengganti. Ini adalah kemutlakan hadits Tsauban. Allah Maha Tahu .

2-3. Puasa Muharram dan Puasa Hari Kesembilan dan Kesepuluh (Asyura)


Disunnahkan memperbanyak berpuasa di bulan Muharram berdasarkan haditsriwayat Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan shalat paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[Shahih: Hadits Riwayat: Muslim (1163),]

Disunnahkan juga mengerjakan puasa di hari kesepuluh bulan Muharram (Asyura). Diriwayatkan dari Abu Qatadah -radhiyallahu `anhu-. bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa Asyura, aku memohon pada Allah untuk melebur (dosa-dosa) di tahun lalu.”[Shahih: Hadits Riwayat: Muslim (1162)]

Suatu ketika Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- ditanya tentang puasa Asyura. Kemudian ia berkata:

مَا علمت أَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم صَامَ يَوْمًا يطْلب فَضله على الْأَيَّام إِلَّا هَذَا الْيَوْم، وَلَا شهرا إِلَّا هَذَا الشَّهْر، يَعْنِي رَمَضَان

“Aku tidak tahu bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa sehari dan meminta keutamaannya dilebihkan dari hari-hari lain dan bulan lain, maksudnya bulan Ramadhan.”[Shahih: Hadits Riwayat: Al-Bukhariy (2006) – Muslim (1132)]

Sebelum berpuasa Asyura, disunnahkan juga berpuasa di hari kesembilan bulan Muharram berdasarkan hadits riwayat Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- yang berkata:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ صُمْنَا يَوْمَ التَّاسِعِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى» قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ketika Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa Asyura, para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Beliaupun bersabda: Jika tahun depan aku masih ada – jika Allah menghendaki – maka aku akan berpuasa di hari kesembilan. Maka belum sampai tahun depan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- wafat.”[Hadits Shahih, Riwayat: Muslim no. 1134]

Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat sunnah hukumnya mengumpulkan puasa hari kesembilan dan kesepuluh bulan Muharram agar tidak menyamai orang Yahudi yang mengagungkan hari kesepuluh. [Syarhuz Zurqani , II, h 237. Al-Majmu’ , VI, h 383]

Catatan penting: Sebagian ulama berpendapat sunnah puasa hari kesebelas bersama dengan hari kesembilan dan kesepuluh. Dasar hukumnya adalah Hadits riwayat Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

(صوموا يوم عاشوراء وخالفوا اليهود, صوموا قبله يوما وبعده يوما)

“Berpuasalah di hari Asyura dan berbedalah dengan Yahudi. Berpuasalah sehari sebelumya dan sehari setelahnya.”[Dha’if sekali: Hadits Riwayat: Ahmad (2418)]

Akan tetapi, status hadits ini adalah dha’if sekali dan tidak ada dalil yang bisa dipakai untuk menghukumi sunnah puasa di hari kesebelas. Ingatlah itu. Allah Maha Tahu. .

4. Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban


Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengerjakan puasa penuh di bulan Sya’ban kecuali beberapa kali. Diriwayatkan dari `A'isyah -radhiyallahu `anha- berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم: يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لا يَصُومُ، وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم صامَ شَهْراً قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa hingga aku mengatakan beliau tidak berbuka sama sekali, dan beliau berbuka hingga aku mengatakan beliau tidak berpuasa, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa sebulan penuh kecuali ramadhan. Dan aku juga tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari Ramadhan di bulan Sya’ban.”[Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1969]

Catatan penting:


Mengkhususkan puasa pada pertengahan bulan Sya’ban adalah bid’ah.

Bagi siapa yang tidak biasa memperbanyak berpuasa di bulan Sya’ban atau berpuasa tiga hari di tengah bulan, kemudian mengkhususkan berpuasa di hari kelima belas bulan Sya’ban dan meyakini adanya keutamaan di dalamnya, maka perbuatannya adalah bid’ah karena tidak sahnya hadits dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menjelaskan sunnahnya berpuasa di hari tersebut dan keutamaan berpuasa di hari tersebut. Status semua hadits yang menyebutkan hal tersebut dha’if sekali atau maudhu’ seperti hadits `Aliy -radhiyallahu `anhu-. yang diriwayatkan secara mauquf:

(إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها)

“Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka dirikanlah (shalat atau ibadah) malamnya dan berpuasalah di siang harinya.” [Dha’if sekali: Hadits Riwayat: Ibnu Majah (1388)]

Tidak ada ketetapan larangan berpuasa setelah tengah bulan Sya’ban.


Ulama berbeda pendapat tentang kesunnahan berpuasa setelah tengah bulan Sya’ban. Mayoritas ulama berpedapat boleh berpuasa setelah tengah bulan Sya’ban. Madzhab Syafi’i berpendapat makruh hukumnya dengan menggunakan dasar hukum Hadits riwayat Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

(إذا انتصف شعبان فلا تصوموا)

“Jika datang tengah bulan Sya’ban, maka janganlah berpuasa.”[1]

Akan tetapi riwayat ini dinilai dha’if –menurut pendapat yang kuat– dan riwayat ini juga diingkari oleh berbagai Imam. Maka tidak ada larangan berpuasa setelah tengah bulan Sya’ban. Ini didukung oleh berbagai hadits shahih, seperti Hadits riwayat `A'isyah -radhiyallahu `anha- di atas yang menjelaskan puasanya Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- pada kebanyakan bulan Sya’ban, dan Hadits riwayat Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- yang berkata:

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ, إِلاَ أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah salah seorang dari kamu sekalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali ada seseorang yang biasa berpuasa maka berpuasalah di hari itu.”[Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1914. Muslim no. 1082]

Dalam hadits tersebut terdapat larangan berpuasa sehari atau dua hari saja di akhir bulan Sya’ban karena khawatir bulan tersebut akan bertambah, kecuali telah terbiasa berpuasa di hari tersebut, maka tidak masalah. Diriwayatkan dari Ummu Salamah berkata:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

“Aku tidak pernah melihat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.”[Hadits Shahih, Riwayat: At-Tirmidziy no. 726]

5. Puasa Hari Arafah Bagi Yang Tidak Menunaikan Haji


Disunnahkan bagi yang tidak menunaikan haji untuk berpuasa di hari Arafah berdasarkan hadits riwayat Abu Qatadah yang berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Puasa di hari Arafah, aku memohon pada Allah agar dilebur (dosa-dosa) di tahun depan dan tahun lalu.”[Hadits Shahih, Riwayat: Muslim no.1162]

Yang dimaksud dengan melebur dua tahun adakalanya Allah mengampuni dosa-dosa selama dua tahun (jika ia menjauhi dosa-dosa besar) atau Allah menjaganya selama dua tahun tersebut, maka ia tidak akan bermaksiat selama dua tahun tersebut. [Al-Majmu’ , VI/h 381 dan lainnya]

Sedangkan orang yang sedang menunaikan haji tidak disunnahkan berpuasa Arafah. Petunjuk yang diberikan Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan Khulafa’ ar-Rasyidin adalah berbuka di hari Arafah saat di Arafah. Diriwayatkan dari Maimunah:

أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِي صِيَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ، «فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ مَيْمُونَةُ بِحِلَابٍ وَهُوَ وَاقِفٌ بِالْمَوْقِفِ فَشَرِبَ مِنْهُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ

“Orang-orang ragu dengan puasa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- di hari Arafah. Maka maimunah mengirimkan susu kepada beliau -pada saat beliau wukuf di Arafah- lalu beliau meminumnya, dan orang-orang memperhatikannya.”[Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1989. Muslim no. 1124]

Suatu ketika Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- ditanya tentang puasa Arafah di padang Arafah, kemudian ia berkata:

حَجَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَصُمْهُ "، وَحَجَجْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَحَجَجْتُ مَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَحَجَجْتُ مَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَأَنَا لَا أَصُومُهُ وَلَا آمُرُ بِهِ وَلَا أَنْهَى عَنْهُ

“Aku haji bersama Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan beliau tidak berpuasa Arafah. Juga bersama Abu Bakar -radhiyallahu `anhu- dan ia tidak berpuasa Arafah. Juga bersama `Umar -radhiyallahu `anhu- dan ia tidak berpuasa Arafah. Juga bersama Utsman dan ia tidak berpuasa Arafah, akupun tidak berpuasa Arafah dan tidak memerintahkan berpuasa Arafah juga tidak melarangnya.”[Hadits Shahih, Riwayat: At-Tirmidziy no. 751]

Yang lebih utama bagi orang yang menunaikan haji adalah berbuka di hari Arafah karena mengikuti Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan para penggantinya. Di tempat ini lebih utama digunakan untuk berdo’a dan berdzikir. Ini adalah madzhab mayoritas ulama. [Al-Majmu’ , VI/ 380. Al-Tamhid I/158]

6. Puasa Senin-Kamis


Diriwayatkan dari `A'isyah -radhiyallahu `anha-:

كَانَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَتَحَرَّى صَوْمَ الاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menekuni puasa Senin dan Kamis.”[Hadits Shahih, Riwayat: At-Tirmidziy no. 745. An-Nasa'iy no. 2186. Ibnu majah no. 1739]

Suatu ketika Usamah bin Zaid bertanya pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang puasa Senin dan Kamis, kemudian Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Dua hari itu adalah hari dimana semua amal diserahkan pada Tuhan alam semesta. Dan aku ingin menyerahkan amalku sedang aku berpuasa.”[Hadits Riwayat: An-Nasa'iy no. 2357. Ahmad, V/201.[

7. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan


Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- berkata:

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ: أَنْ أَصُومَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ

“Kekasihku -shallallahu ‘alaihi wasallam- berwasiat kepadaku tiga hal: puasa tiga hari tiap bulan, dua rakaat dhuha, dan witir sebelum aku tidur.”[Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1981. Muslim no. 721]

Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- juga bersabda pada Abdullah bin Amr :

وَصُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ، فَإِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشَرَةِ أَمْثَالِهَا، وَذَلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ

“Dan puasalah tiga hari setiap bulan. Sesungguhnya kebaikan akan berlipat sepuluh dan itu sama dengan puasa setahun penuh.”[Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1976. Muslim no. 1159]

Disunnahkan tiga hari tersebut dikerjakan di hari ketiga belas, empat belas dan lima belas tiap bulannya, karena Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ، أَيَّامُ الْبِيضِ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Puasa tiga hari setiap bulan, sama dengan puasa setahun penuh, hari-hari putih yaitu hari ketiga belas, keempat belas dan kelima belas.”[Hadits Riwayat: An-Nasa'iy (2419), Abu Ya’la (7504)]

8. Puasa Sehari Dan Berbuka Sehari (Puasa Dawud -`Alaihis Salam-)


Ini adalah puasa paling utama dan paling disukai Allah -subhanahu wa ta`ala-. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَيَصُومُ يَوْمًا، وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Shalat yang paling disukai Allah adalah shalatnya Dawud -`alaihis salam- Dan puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Dawud, ia tidur di tengah malam, bangun di sepertiga malam, tidur di seperenam malam, berpuasa sehari dan berbuka sehari.”[Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1131. Muslim no.1159]

Dalam riwayat lain [ Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1976. Muslim no. 1159] disebutkan:

وَهُوَ أَعْدَلُ الصِّيَامِ

Puasa ini sunnah hukumnya bagi orang yang tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban yang diberikan Allah -subhanahu wa ta`ala- ketika berpuasa. Jika ia meninggalkan kewajiban-kewajiban tersebut karena berpuasa Dawud, maka dilarang mengerjakan puasa Dawud. [Syarhul Mumatti’ milik Ibnu Utsaimin rahimahullah (6/474)]

Faedah:

Disunnahkan tidak meninggalkan puasa dalam sebulan. Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq -radhiyallahu `anhu- berkata:

قُلْتُ لعائشة: هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا مَعْلُومًا سِوَى رَمَضَانَ؟ قَالَتْ: «وَاللَّهِ إِنْ صَامَ شَهْرًا مَعْلُومًا سِوَى رَمَضَانَ حَتَّى مَضَى لِوَجْهِهِ، وَلَا أَفْطَرَهُ حَتَّى يُصِيبَ مِنْهُ

“Aku bertanya pada `A'isyah -radhiyallahu `anha-: Apakah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa sebulan yang diketahui selain puasa Ramadhan? `A'isyah -radhiyallahu `anha- menjawab: Demi Allah, beliau tidak berpuasa sebulan yang diketahui selain Ramadhan hingga beliau wafat dan beliau tidak berbuka hingga beliau sakit.”[Hadits Shahih, Riwayat: Muslim no. 1156]

Maka disunnahkan tidak melewatkan berpuasa dalam sebulan. Mengerjakan puasa sunnah tidak dikhususkan dengan waktu tertentu, tapi semua puasa sunnah itu baik kecuali puasa yang dilarang, walaupun yang paling utama adalah puasa di hari yang disukai oleh agama. Allah Maha Tahu.

Penutup


Seorang muslim sangat dianjurkan mengerjakan amalan sunnah, setelah yang fardu yang akan berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan yang terdapat dalam shalat fardu. Termasuk 8 macam puasa sunnah yang telah disebutkan diatas. Seyogyanya kita mampu mengamalkan minimal salah satunya. Wallohu a'lam.



Footnote:
[1] Diingkari: Hadits Riwayat: Abu Dawud (2337), At-Tirmidziy (738), An-Nasa'iy dalam Al-Kubra(2911), Ibnu Majah (1651), Ahmad (2/442). Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad, Yahya Ibnu Mu’ayyan, Abu Zar’ah dan lainnya mengingkari riwayat ini. Aku telah menyebutkannya dalam komentarku terhadap Syarhul Baiquniyah milik Ibnu Utsaimin. (22-24). Riwayat ini dinilai shahih oleh Al-‘AllamahAl-Albaniy rahimahullah

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru