Iklan Atas Zona Muslim

Khutbah Jum’at, Yang Boleh Dan Yang Terlarang Saat Khutbah
4/ 5 stars - "Khutbah Jum’at, Yang Boleh Dan Yang Terlarang Saat Khutbah" Mengawali pembahasan pada tulisan ini mari kita buka dengan mengetahui hukum Hukum Khutbah Jum’at. Mengingat pentingnya memahami tata ...

Khutbah Jum’at, Yang Boleh Dan Yang Terlarang Saat Khutbah

Admin

Tata cara Khutbah jum'at

Mengawali pembahasan pada tulisan ini mari kita buka dengan mengetahui hukum Hukum Khutbah Jum’at. Mengingat pentingnya memahami tata cara khutbah yang benar sesuai tuntunan Nabi.

Jumhur ulama berpendapat bahwa khutbah jum’at merupakan syarat sah shalat jum’at[4]dengan dalil sebagai berikut:

Firman Allah Subhanahu wata'ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (Al Jumu’ah: 9).

Maksud kata “dzikir” pada ayat diatas adalah khutbah karena dua sebab yaitu:

1. Hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam :

فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ.

“Apabila imam keluar maka malaikat hadir dan mendengarkan khutbah.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari secara mua’alaq (2697), Muslim (1718) dan lainya]

Khutbah bisa di sebut sebagai dzikir. Dari hadits diatas bisa difahami bahwa berusaha hadir ketika khutbah adalah wajib hukumnya. Karenanya hukum khutbah adalah wajib.

2. Allah Subhanahu wata'ala memerintahkan supaya berusaha untuk berzikir kepada Allah ketika adzan dikumandangkan. Sudah pasti bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah setelah muadzin mengumandangkan adzan. Maka hukum berusaha datang mendengarkan khutbah adalah wajib.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah setiap jum’at dan tidak pernah meninggalkan khutbah.

Larangan berbicara ketika khutbah dan wajib mendengarkan khutbah.


Apabila ada yang mengatakan bahwa dalil-dalil di atas tidak menunjukan syarat, kita jawab bahwa hukum shalat jum’at adalah wajib karena adanya sifat yang selalu dikerjakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Siapa yang hanya mengerjakan shalat jum’at saja tanpa khutbah maka ia belum menunaikan apa yang diwajibkan baginya. Rasulullah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami maka amalannya di tolak.” [Hadits Riwayat: Muslim (862), Abu Daud (1093), An-Nasa`i (3/109,110), At-Tirmidzi (507), Ahmad (5/87)]

Dari uraian diatas bisa difahami bahwa jika tidak ada khutbah maka shalatnya menjadi empat rakaat, sedangkan shalat jum’at itu dua rakaat. Apabila dikerjakan empat rakaat maka dinamakan shalat zhuhur.

Metode Khutbah


Jumhur ulama mengatakan bahwa khutbah wajib dilaksanakan dua kali disertai duduk diantara keduanya dan wajib berdiri ketika khutbah kecuali ada uzur. Pendapat tersebut berbeda dengan mazhab hanafi. Hukum wajib tersebut sudah jelas yaitu kebiasaan yang selalu dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai keterangan atas shalat jum’at dan tidak pernah ada hadits yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan satu kali khutbah sambil duduk. Jabir Bin Samrah berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah dengan berdiri kemudian duduk, tidak lama kemudian berdiri lagi. Siapa yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah dengan cara duduk maka ia telah berdusta, demi Allah aku telah shalat bersama rasul lebih dari seribu kali.” Dalam riwayat lain dia mengatakan bahwa, “Aku tidak pernah melihatnya berkhutbah kecuali hanya dengan berdiri.”

Diriwayatkan dari Ka’ab ‘Ujrah radhiallahu 'anhu :

أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَعَبْدُ الله بْنُ أُمِّ الْحَكَمِ يَخْطُبُ قَاعِدًا فَقَالَ انْظُرُوا إِلَى هَذَا الْخَبِيثِ يَخْطُبُ قَاعِدًا

“Bahwa ia masuk ke dalam masjid ketika Abdullah Bin Umm al-Hakam berkhutbah dengan cara duduk, kemudian Ka’ab pun marah sambil berkata, “Lihatlah orang yang buruk ini, ia berkhutbah sambil duduk!, lalu membacakan ayat :

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah).” [Hadits Riwayat: Muslim (864), An-Nasa`i (3/102), Ibnu Abi Syaibah (2/112), Al-Qur`an Surat: Al Jumu’ah: 11]

Kententuan Minimal Dalam Khutbah


Para ulama berselisih pendapat tentang ukuran minimal dalam berkhutbah. [Ar Raudhatun Nadiyah (137)] Standar yang benar adalah sebagai berikut:

Perlu di ketahui bahwa khutbah yang disyariatkan adalah yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yakni memberi dorongan kepada manusia untuk beramal shalih dan memberi peringatan dari perbuatan dosa. Secara syari’at demikian isi khutbah yang sebenarnya. Sedangkan disyaratkan membaca hamdalah, shalawat pada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan membaca sebagian ayat al-Qur’an bukanlah tujuan utama yang disyari’atkan dalam khutbah. Dan memang hal itu terjadi dalam khutbah rasul. Tidak diragukan lagi bahwa maksud dari khutbah adalah berisi nasehat dengan tidak menghilangkan bacaan sebelumnya, yaitu membaca hamdalah dan shalawat. Sudah menjadi kebiasaan orang Arab dari dulu sampai sekarang, seseorang yang berkhutbah hendaknya mengucapkan puji syukur pada Allah Subhanahu wata'ala dan shalawat pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Hal ini memang sesuatu yang paling baik namun bukan menjadi tujuan khutbah karena isi dan maksudnya berada pada bacaan setelah hamdalah dan shalawat. Ketika seseorang berkhutbah diperayaan tertentu tanpa ada isi khutbah kecuali ucapan puji syukur dan shalawat maka itu dianggap bukan khutbah dan semua orang menolaknya. Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa isi khutbah jum’at terletak pada nasehatnya. Apabila khatib memberikan nasehat maka sudah dianggap sah, hanya saja tidak sempurna tanpa hamdalah, shalawat dan bacaan ayat al-Qur’an.

Penulis berkata: Hal tersebut adalah sunnah, insya Allah akan dijelaskan.

Sesuatu Yang Mubah Bagi Khatib


1. Memegang tongkat atau sejenisnya ketika berkhutbah

Diriwayatkan dari Hakam Bin Hazn Al Kulafi radhiallahu 'anhuma –kisah kedatangannya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam-

فَأَقَمْنَا بِهَا أَيَّامًا شَهِدْنَا فِيهَا الْجُمُعَةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ

“Kami menginap beberapa hari dan shalat jum’at bersama Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam, ketika khutbah beliau berdiri dan memegang tongkat atau busur kemudian membaca hamdalah dan pujian kepada Allah.” (HR Abu Dawud 1096)

Diriwayatkan dari Fatimah Binti Qais radhiallahu 'anha -tentang kisah seorang mata-mata-, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَطَعَنَ بِمِخْصَرَتِهِ فِى الْمِنْبَرِ: هَذِهِ طَيْبَةُ.

“Ini adalah baik -seraya menusuk dengan tongkatnya di atas mimbar-.” [Hadits Riwayat: Muslim (2926), Abu Daud (4326), At-Tirmidzi (2253), Ibnu Majah (4074)]

2. Berbicara dengan para jama’ah karena suatu keperluan

Seperti menyuruh orang yang baru masuk masjid untuk shalat tahiyatul masjid,menyuruh orang yang berjalan di dekatnya untuk duduk, bertanya pada salah satu jama’ah tentang sesuatu, menjawab pertanyaan para jama’ah atau menyuruh salah satu diantara mereka untuk duduk dan lainnya. Hal ini terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan telah dijelaskan sebelumnya.

3. Menasehati jama’ah untuk bersedekah kepada fakir apabila melihatnya

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu 'anhu , ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ بِهَيْئَةٍ بَذَّةٍ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَصَلَّيْتَ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: صَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَحَثَّ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَأَلْقُوا ثِيَابًا فَأَعْطَاهُ مِنْهَا ثَوْبَيْنِ ...

“Seorang laki-laki datang pada hari jum’at ketika Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam sedang berkhutbah dengan keadaan lesu kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bertanya padanya, “Apakah kamu sudah shalat? “Belum” jawabnya dan Nabi pun menyuruhnya untuk shalat dua rakaat, kemudian menasehati para jama’ah untuk bersedekah sehingga mereka memberi beberapa pakaian dan Rasul memberikan kepadanya dua pakaian.” [Hadits Riwayat: An-Nasa`i (3/106). Hasan]

Catatan Penting:


Boleh bersedekah kepada orang fakir pada waktu khutbah apabila imam berhenti berbicara. Adapun yang terjadi di masjid sekarang ini yaitu adanya pengurus masjid menjalankan kotak sedekah kepada para jama’ah ketika imam berkhutbah adalah hal yang tidak disyari’atkan karena dalil menunjukan perintah untuk diam ketika khutbah, larangan berbicara dan perbuatan yang sia-sia.

4. Memutus khutbah karena hajat kemudian meneruskannya.

Diriwayatkan dari Jabir Bin ‘Abdullah –kisah tentang Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan batang kurma sebagai mimbar setelah beliau berkhutbah-

فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ دُفِعَ إِلَى الْمِنْبَرِ ، فَصَاحَتِ النَّخْلَةُ صِيَاحَ الصَّبِىِّ ، ثُمَّ نَزَلَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم فَضَمَّهُ إِلَيْهِ يئِنُّ أَنِينَ الصَّبِىِّ الَّذِى يُسَكَّنُ قَالَ: كَانَتْ تَبْكِى عَلَى مَا كَانَتْ تَسْمَعُ مِنَ الذِّكْرِ عِنْدَهَا.

“Pada hari jum’at ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam naik ke atas mimbar tiba-tiba pohon kurma menjerit seperti jeritan seorang bayi kemudian beliau turun dan memeluknya seperti kepada anak kecil yang menenangkan rintihannya. Pohon itu menangis karena mendengar khutbah beliau.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (3584)]

Diriwayatkan dari Abu Rifa’ah radhiallahu 'anhu :

انْتَهَيْتُ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يَخْطُبُ قَالَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ رَجُلٌ غَرِيبٌ جَاءَ يَسْأَلُ عَنْ دِينِهِ لاَ يَدْرِى مَا دِينُهُ قَالَ: فَأَقْبَلَ عَلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَتَرَكَ خُطْبَتَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَىَّ فَأُتِىَ بِكُرْسِىٍّ حَسِبْتُ قَوَائِمَهُ حَدِيدًا قَالَ: فَقَعَدَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَجَعَلَ يُعَلِّمُنِى مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ ثُمَّ أَتَى خُطْبَتَهُ فَأَتَمَّ آخِرَهَا.

“Aku datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang berkhutbah dan berkata, “Wahai Rasulullah seorang laki-laki asing datang dan bertanya tentang agamanya, ia tidak tahu agamanya, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menghampiriku seraya meninggalkan khutbahnya dan membawa kursi yang kukira kakinya terbuat dari besi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam duduk dan mengajarkan kepadaku apa-apa yang di ajarkan Allah kepadanya. Setelah itu beliau meneruskan khutbahnya hingga selesai.” [Hadits Riwayat: Muslim (876), An-Nasa`i (8/220)]

5. Memisah antara khutbah dan shalat karena suatu keperluan.

Diriwayatkan dari Anas Radhiallahu 'anhu, ia berkata:

لقد رأيت النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم بعد ما تقام الصلاة يكلمه الرجل يقوم بينه و بين القبلة فما زال يكلمه فلقد رأيت بعضنا ينعس من طول قيام النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم له.

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam setelah iqamah shalat beliau berbicara dengan seorang laki-laki yang berada diantaranya dengan kiblat. Ia terus berbicara dengan beliau. Suanggh aku melihat sebagian dari kami terasa mengantuk karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lama berbicara dengannya.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (643), Muslim (376)]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru