Iklan Atas Zona Muslim

Inilah Sosok Ruwaibidhoh Yang Digambarkan Oleh Nabi
4/ 5 stars - "Inilah Sosok Ruwaibidhoh Yang Digambarkan Oleh Nabi" Oleh : Arsyad Syahrial Dizaman sekarang ini seorang penjahat bisa terlihat baik hanya dengan modal pencitraan. Repotnya kitapun tertip...

Inilah Sosok Ruwaibidhoh Yang Digambarkan Oleh Nabi

Admin

Oleh : Arsyad Syahrial

Dizaman sekarang ini seorang penjahat bisa terlihat baik hanya dengan modal pencitraan. Repotnya kitapun tertipu dan terpesona. Soal ini sudah diprediksi oleh Rasulullah beberapa abad silam.

Kata Baginda Nabî ﷺ:

ﺇِﻥَّ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺳِﻨِﻴْﻦَ ﺧَﺪَّﺍﻋَﺔً ، ﻳُﺼَﺪَّﻕُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﺫِﺏُ ، ﻭَﻳُﻜَﺬَّﺏُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕُ ، ﻭَﻳُﺆْﺗَﻤَﻦُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﺨَﺎﺋِﻦُ ، ﻭَﻳُﺨَﻮَّﻥُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟْﺄَﻣِﻴْﻦُ ، ﻭَﻳَﻨْﻄِﻖُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺍﻟﺮُّﻭَﻳْﺒِﻀَﺔُ

(arti) “ Menjelang kedatangan hari Qiyâmat akan datang tahun-tahun yang penuh dengan tipu-daya. Pendusta dianggap orang yang jujur, sedangkan orang yang jujur malah dianggap pendusta. Pengkhianat diberi amanah, sementara orang yang amanah malah dianggap pengkhianat. Pada tahun-tahun tersebut akan Ruwaibidhoh pun angkat bicara. ”

Para Shohâbat pun bertanya: "Apa yang dimaksud dengan Ruwaibidhoh?"

Rosûlullôh ﷺ lalu bersabda:

ﺍﻟْﻤَﺮْﺀُ ﺍﻟﺘَّﺎﻓِﻪُ ﻳَﺘَﻜَﻠَّﻢُ ﻓِﻲْ ﺃَﻣْﺮِ ﺍﻟْﻌَﺎﻣَّﺔِ

(arti) “ Orang kecil (pandir / tak ber‘ilmu -pent) yang berbicara tentang urusan orang banyak. ” [HR Ibnu Mâjah no 4036; Ahmad no 7571 ~ dishohîhkan oleh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, as-Silsilah al-Ahâdîts ash-Shohîhah no 2253].

Benarkah Anda Mengenalnya?


Untuk bisa mengatakan bahwa seseorang memilki karakter jujur / amanah, maka tentunya anda harus benar-benar mengenalnya dengan baik. Tak bisa sekadar dengan "katanya-katanya" belaka.

Lalu bagaimana kriteria betul-betul mengenal dengan baik itu?

Perhatikanlah atsar berikut ini:

Diriwayatkan bahwa pernah ada seorang lelaki yang memberikan persaksian di hadapan Kholîfah ‘Umar ibn al-Khoththôb ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ tentang seseorang. Maka ‘Umar pun berkata: "Aku tidak mengenalmu, dan tidak memudhorotkanmu meskipun aku tidak mengenalmu. Datangkanlah orang yang mengenalmu!". Maka ada seseorang dari para hadirin yang berkata: "Aku mengenalnya, wahai Amirul Mu’minîn!". ‘Umar lalu bertanya: "Dengan apa kamu mengenalnya?". Lelaki itu menjawab: "Dengan keshôlihan dan keutamaannya". ‘Umar lalu bertanya: "Apakah ia adalah tetangga dekatmu yang kamu mengetahui kondisinya di malam hari dan di siang hari, serta datang dan perginya?". Lelaki itu lalu menjawab: "Tidak". ‘Umar lalu bertanya: "Apakah ia pernah bermu‘amalah denganmu yang berkaitan dengan dirham dan dinar yang keduanya merupakan indikasi sikap waro’ seseorang?". Lelaki itu pun menjawab: "Tidak". ‘Umar kemudian bertanya lagi: "Apakah ia pernah menemanimu dalam safar yang mana safar merupakan indikasi dari mulianya akhlâq seseorang?". Lelaki itu menjawab lagi: "Tidak". ‘Umar lalu menimpali: "Jika demikian kamu tidak mengenalnya!" [lihat: Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî, Irwâ’ul-Gholîl VIII/260 no 2637].

Di dalam riwayat yang lain, ada seorang lelaki berkata kepada ‘Umar ibn al-Khoththôb ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : "Sungguh si Fulân itu orangnya baik". ‘Umar lalu bertanya: "Apakah kamu pernah bersafar bersamanya?" Lelaki itu menjawab: "Belum pernah". ‘Umar bertanya lagi: "Apakah kamu pernah bermu‘amalah dengannya?". Lelaki itu menjawab: "Belum pernah". ‘Umar pun kembali bertanya: "Apakah kamu pernah memberinya amanah?". Lelaki itu pun kembali menjawab: "Belum pernah". ‘Umar lalu berkata: "Kalau begitu kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Mungkin kamu hanya pernah melihatnya sholât di Masjid!" [lihat: Mawa‘idz Shohâbah hal 65].

Maka dari kedua riwayat atsar tersebut, sungguh apa yang dikatakan oleh Shohâbat ‘Umar ibn Khoththôb ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ itu adalah cara seseorang untuk mengenal seseorang sehingga ia bisa mengatakan benar-benar kenal kepada orang lain, yaitu:

Apabila bertetangga dengan seseorang, maka tentunya sedikit banyaknya bisa mengamati bagaimana akhlâqnya sehari-hari. Apalagi jika pintu rumah bersebelahan letaknya dengan pintu rumahnya, maka tentunya akan lebih banyak tahu tentangnya.

Apabila pernah berhubungan dagang atau berutang-piutang dengannya, maka tentunya bisa mengetahui sejauh mana kejujuran dan keamanahannya.

Apabila pernah berselisih pendapat atau bertengkar dengan seseorang, sehingga dapat diketahui apakah ia fajir (akhlâq atau moralnya akan berubah ketika terdesak) atau tidak.

Apabila pernah safar dalam jarak yang jauh dan waktu yang lama dengan seseorang, sedangkan safar itu adalah sebagian dari adzab karena keletihan dan kesulitan perjalanan, maka dapat diketahui bagaimana watak dan akhlâqnya yang asli saat dihadapkan pada suatu situasi yang sulit dan butuh pengorbanan.

Jikalau tidak pernah bertetangga dekat, atau tidak pernah bermu‘amalah atau berutang-piutang, atau tidak pernah beradu pendapat atau berdebat, atau tidak pernah bersafar dalam waktu lama, maka tidak bisa dikatakan "kenal".

Seorang muslim itu harus memberikan persaksian apa yang ia lihat dan ia ketahui dengan benar dan jujur, bukan berdasarkan dari "katanya-katanya" belaka.

Kata Baginda Nabî ﷺ:

ﻭَﺷْﻬَﺪُﻭْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻦِ ﺑِﺄَﻧَّﻪُ ﻣُﺤْﺴِﻦٌ ، ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤُﺴِﻲْﺀِ ﺑِﺄَﻧَّﻪُ ﻣُﺴِﻲْﺀٌ

(arti) “ Berikanlah persaksian atas orang yang melakukan kebaikan bahwa ia melakukan kebaikan, dan berikanlah persaksian atas orang yang melakukan keburukan bahwa ia melakukan keburukan.” [lihat: as-Silsilah al-Ahâdîts ash-Shohîhah no 457].

Jikalau 2-3 dekade lalu ada istilah "SKSD PALAPA" (akronim dari: Sok Kenal Sok Dekat PAdahaL nggAk tahu apa-aPA) atau istilah lainnya: "kenal-kenal Suharto" untuk orang yang berbicara seakan-akan ia mengenal betul figur orang yang dibicarakannya, padahal hakikatnya ia hanya kenal melalui berita saja. Maka itulah hal yang terjadi di masa ini, seperti yang dikatakan sebagai istilah Kholîfah ‘Umar: "mungkin kamu hanya pernah melihatnya sholât di Masjid".

Pada zaman ini banyak orang yang merasa kenal figur seseorang padahal ia hanya mengenalnya melalui media masa, seperti dari: koran, televisi, web streaming, atau dari media sosial… atau: "diperkenalkan oleh media".

Pembuat Kedustaan di Pagi Hari Yang Menyebar Menembus Ufuq

Di dalam sebuah hadîts yang panjang yang diriwayatkan oleh Imâm al-Bukhôrî ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ dari Shohâbat Samurah ibn Jundab ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ , Rosûlullôh ﷺ pernah menceritakan mimpi Beliau mengenai adzab kubur berupa kisah perjalanan Beliau dengan Malâk Jibrîl ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ .

Kata Baginda Nabî ﷺ:

… ﻓَﺎﻧْﻄَﻠَﻘْﻨَﺎ ﻓَﺄَﺗَﻴْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣُﺴْﺘَﻠْﻖٍ ﻟِﻘَﻔَﺎﻩُ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺁﺧَﺮُ ﻗَﺎﺋِﻢٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺑِﻜَﻠُّﻮﺏٍ ﻣِﻦْ ﺣَﺪِﻳﺪٍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻫُﻮَ ﻳَﺄْﺗِﻲ ﺃَﺣَﺪَ ﺷِﻘَّﻲْ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﻓَﻴُﺸَﺮْﺷِﺮُ ﺷِﺪْﻗَﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻔَﺎﻩُ ﻭَﻣَﻨْﺨِﺮَﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻔَﺎﻩُ ﻭَﻋَﻴْﻨَﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻔَﺎﻩُ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺭُﺑَّﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺭَﺟَﺎﺀٍ ﻓَﻴَﺸُﻖُّ ﻗَﺎﻝَ ﺛُﻢَّ ﻳَﺘَﺤَﻮَّﻝُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺠَﺎﻧِﺐِ ﺍﻟْﺂﺧَﺮِ ﻓَﻴَﻔْﻌَﻞُ ﺑِﻪِ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﺑِﺎﻟْﺠَﺎﻧِﺐِ ﺍﻟْﺄَﻭَّﻝِ ﻓَﻤَﺎ ﻳَﻔْﺮُﻍُ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺠَﺎﻧِﺐِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺼِﺢَّ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﺠَﺎﻧِﺐُ ﻛَﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﻳَﻌُﻮﺩُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻴَﻔْﻌَﻞُ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻞَ ﺍﻟْﻤَﺮَّﺓَ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ

(arti) “ … Kemudian kami mendatangi seseorang laki-laki yang sedang berbaring telentang dan ada orang lain yang berdiri di sisi atas kepalanya sambil membawa kait besi, lalu orang itu meletakkan kaitnya di salah satu sisi wajahnya lalu mencabik mulutnya dari samping bibir hingga ke wajahnya lalu sampai ke tengkuknya, dan melakukan yang semisal dari hidungnya hingga tengkuknya, dan dari matanya hingga tengkuknya. Kemudian orang itu berpindah ke sisi wajahnya yang lain, lalu memperlakukan korbannya sebagaimana yang ia perlakukan pada sisi yang pertama. Belum lagi ia selesai mencabik-cabik sisi yang kedua, maka sisi yang pertama tadi sudah kembali sembuh seperti semula. Maka orang itu kembali mengulangi lagi hal yang sama yang telah dilakukannya (di sisi pertama).”

Lalu Nabî ﷺ menjelaskan siapa laki-laki yang diadzab seperti itu:

ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﺗَﻴْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻳُﺸَﺮْﺷَﺮُ ﺷِﺪْﻗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻔَﺎﻩُ ﻭَﻣَﻨْﺨِﺮُﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻔَﺎﻩُ ﻭَﻋَﻴْﻨُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻔَﺎﻩُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻳَﻐْﺪُﻭ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻓَﻴَﻜْﺬِﺏُ ﺍﻟْﻜَﺬْﺑَﺔَ ﺗَﺒْﻠُﻎُ ﺍﻟْﺂﻓَﺎﻕَ

(arti) “ (Kata Jibrîl) Ada pun seorang laki-laki yang engkau datangi yang dicabik mulutnya, hidungnya, dan matanya dari depan hingga ke tengkuknya itu adalah seseorang yang berangkat dari rumahnya di pagi hari lantas ia menebar kedustaan, dan kedustaannya itu lalu menyebar menembus Ufuq. ” [HR al-Bukhori no 7047].

Dahulu para Shohâbat menerima kabar apa pun yang disampaikan oleh Rosûlullôh ﷺ itu dengan sami‘nâ wa atho‘nâ (kami dengar dan kami ta‘at) walaupun kabar itu mungkin tidak masuk ke dalam logika mereka, sebab tak terbayangkan bagaimana mungkin hal sefantastis keluar rumah di pagi hari lalu menebar kebohongan lantas kebohongannya itu bisa menembus Ufuk menyebar ke seluruh penjuru Dunia, sementara Ufuq / Cakrawala itu adalah jarak yang sangat jauh, apalagi untuk ukuran kendaraan tercepat pada saat itu yang hanyalah seekor kuda. Rasanya hal itu betul-betul sangat fantastis.

Namun di Zaman Now, 1.400 tahun kemudian, pembuat kedustaan di pagi hari yang lalu menyebar ke seluruh penjuru Dunia menembus Ufuq / Cakrawala itu memang benar-benar telah menjadi kenyataan. Bukankah dengan mudahnya orang-orang yang menyebar berita melalui media massa seperti: TV, radio, atau internet (web / blog) dan media sosial, kemudian berita itu menyebar ke segenap penjuru Dunia dengan kecepatan sinyal gelombang elektro-magnetik?

Click… click… click…

Kebohongan pun lalu menembus Ufuq / Cakrawala menyebar ke segala penjuru Dunia…!!!

Konspirasi Media & Pencitraan

Dari hadîts tentang tanda-tanda (kecil) kedatangan Hari Qiyâmat, kita tahu bahwa akan ada tahun-tahun yang penuh fitnah saat seseorang yang jujur dikatakan sebagai pendusta sedangkan seseorang yang pendusta dikatakan sebagai orang yang jujur. Begitu juga seseorang yang amanah dikatakan sebagai pengkhianat, sedangkan seseorang pengkhianat dikatakan sebagai orang yang amanah.

Dalam sebuah hadîts, Shohâbat Hudzayfah ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ mengisahkan tentang betapa rusaknya

Kata Shohâbat Hudzayfah ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ :

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﷺ ﺣَﺪِﻳﺜَﻴْﻦِ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺃَﺣَﺪَﻫُﻤَﺎ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺃَﻧْﺘَﻈِﺮُ ﺍﻵﺧَﺮَ ، ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ : ﺃَﻥَّ ﺍﻷَﻣَﺎﻧَﺔَ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻲ ﺟَﺬْﺭِ ﻗُﻠُﻮﺏِ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ، ﺛُﻢَّ ﻋَﻠِﻤُﻮﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ، ﺛُﻢَّ ﻋَﻠِﻤُﻮﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ؛ ﻭَﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﻦْ ﺭَﻓْﻌِﻬَﺎ ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﻨَﺎﻡُ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻣَﺔَ ﻓَﺘُﻘْﺒَﺾُ ﺍﻷَﻣَﺎﻧَﺔُ ﻣِﻦْ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ، ﻓَﻴَﻈَﻞُّ ﺃَﺛَﺮُﻫَﺎ ﻣِﺜْﻞَ ﺃَﺛَﺮِ ﺍﻟْﻮَﻛْﺖِ ، ﺛُﻢَّ ﻳَﻨَﺎﻡُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻣَﺔَ ﻓَﺘُﻘْﺒَﺾُ ﻓَﻴَﺒْﻘَﻰ ﺃَﺛَﺮُﻫَﺎ ﻣِﺜْﻞَ ﺍﻟْﻤَﺠْﻞِ ، ﻛَﺠَﻤْﺮٍ ﺩَﺣْﺮَﺟْﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺭِﺟْﻠِﻚَ ﻓَﻨَﻔِﻂَ ، ﻓَﺘَﺮَﺍﻩُ ﻣُﻨْﺘَﺒِﺮًﺍ ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻪِ ﺷَﻰْﺀٌ ، ﻓَﻴُﺼْﺒِﺢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻳَﺘَﺒَﺎﻳَﻌُﻮﻥَ ﻓَﻼَ ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺃَﺣَﺪٌ ﻳُﺆَﺩِّﻱ ﺍﻷَﻣَﺎﻧَﺔَ ، ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ : ﺇِﻥَّ ﻓِﻲ ﺑَﻨِﻲ ﻓُﻼَﻥٍ ﺭَﺟُﻼً ﺃَﻣِﻴﻨًﺎ ؛ ﻭَﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟِﻠﺮَّﺟُﻞِ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﻘَﻠَﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﻇْﺮَﻓَﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺟْﻠَﺪَﻩُ ؛ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝُ ﺣَﺒَّﺔِ ﺧَﺮْﺩَﻝٍ ﻣِﻦْ ﺇِﻳﻤَﺎﻥٍ ، ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺃَﺗَﻰ ﻋَﻠَﻰَّ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﺑَﺎﻟِﻲ ﺃَﻳَّﻜُﻢْ ﺑَﺎﻳَﻌْﺖُ ﻟَﺌِﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺴْﻠِﻤًﺎ ﺭَﺩَّﻩُ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡُ ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻴًّﺎ ﺭَﺩَّﻩُ ﻋَﻠَﻰَّ ﺳَﺎﻋِﻴﻪِ ، ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻓَﻤَﺎ ﻛُﻨْﺖُ ﺃُﺑَﺎﻳِﻊُ ﺇِﻻَّ ﻓُﻼَﻧًﺎ ﻭَﻓُﻼَﻧًﺎ

(arti) “ Rosûlullôh ﷺ mengabarkan kepada kami 2 perkara yang salah satunya telah saya buktikan, sedangkan yang satunya lagi masih saya tunggu kejadiannya. Pertama, Rosûlullôh ﷺ mengabarkan bahwasanya sikap amanah itu (awalnya) ditanamkan di relung hati sanubari manusia yang paling dalam. Kemudian mereka mengetahuinya melalui al-Qur-ân, dan selanjutnya mereka mempelajarinya melalui as-Sunnah (Nabî). Kedua, Rosûlullôh ﷺ juga mengabarkan bahwa sikap amanah akan dicabut saat seseorang sedang tidur. Maka pada saat itulah amanah dicabut dari hatinya hingga yang tertinggal hanyalah seperti bekas noda. Kemudian orang itu tidur lagi, dan dicabutlah amanah dari hatinya hingga tertinggal bekasnya seperti kulit kapalan, atau seperti bekas melepuh ketika kaki terinjak bara, padahal lepuhan itu tak ada apa-apa. Seperti itulah manusia nanti, banyak orang yang membai‘at, namun nyaris tiada seseorang pun yang menunaikan amanah di antara mereka. Kemudian digembar-gemborkan bahwa pada Kabilah Fulân ada seseorang yang dapat dipercaya, seseorang yang dikagumi karena kecerdasannya, kesantunannya, dan kekuatannya, padahal di hati sanubarinya tiada sedikitpun keîmânan. (Hudzayfah menambahkan) Sungguh telah datang kepada saya suatu masa di mana saya tak peduli dengan siapa di antara kalian saya bertransaksi, karena apabila ia Muslim, maka agamanya yang akan mencegahnya untuk berlaku curang, sedangkan apabila ia Nashrônî, maka penguasa Muslim yang akan mencegahnya berlaku curang. Akan tetapi hari ini, saya takkan bertransaksi kecuali dengan si Fulân dan si Fulân. ” [HR al-Bukhôrî no 6497, 7086; Muslim no 143; at-Tirmidzî no 2179; Ibnu Mâjah no 4053; Ahmad no 22171].

Coba telaah redaksi hadîts mulia di atas baik-baik: ketika yang diangkat pemimpin itu adalah orang yang hanya digembar-gemborkan amanah, cerdas, santun, dan kuat, padahal hakikatnya di hatinya sama sekali tiada sedikit pun keîmânan! Tidak amanah karena tidak berîmân, sedangkan track recordnya pun hanya track record palsu hasil pencitraan, tak ada yang riil satupun.

Semua yang dimunculkan hanya dengan gembar-gembor, semua pencitraan – smoke and mirrors – padahal aslinya sama tak ada apa-apanya alias nihil…!!!

Di zaman dulu, di mana orang saling mengenal satu sama lainnya karena pernah bermu‘amalah, atau pernah bertetangga, atau pernah berdebat dan berselisih pendapat, atau pernah bersafar bersama dalam waktu yang lama dan jarak yang jauh, maka melakukan hal seperti di atas adalah suatu hal yang sulit. Sangat sulit untuk menjadikan seseorang yang aslinya pendusta terlihat sebagai orang yang jujur, atau seseorang yang aslinya pengkhianat tampak sebagai orang yang amanah. Akan tetapi di Zaman Now saat sarana telekomunikasi / informasi dan media masa telah berkembang begitu canggih, maka kedustaan pun dapat disebar dengan mudahnya ke segala penjuru Dunia. Kita saksikan siapa saja yang menguasai media masa, maka ia bisa mengubah citra seorang pendusta menjadi bagai orang yang jujur, atau seorang pengkhianat tampak layaknya orang yang amanah, yaitu dengan melakukan pemberitaan yang gencar yang dilengkapi foto-foto dan video yang dimanipulasi. Kemudian orang awam pun menelan mentah-mentah pemberitaan tersebut dan menganggapnya sebagai suatu kebenaran akibat tidak tahu lagi mana yang kebenaran yang benar-benar "benar".

Jadi jangan heran apabila kita melihat adanya pemberitaan massive tentang:

Status FB tentang seorang maho / LGBT yang dengan rendah hati memakaikan sepatu orang tuanya yang lumpuh lalu membawanya naik mobil mewah barunya.

Atau video di Youtube seorang Syi‘ah Rôfidhoh yang begitu pandai dan lancar mengaji al-Qur-ân.

Atau twit tentang seorang aktivis SEPILIS (Zindiq) yang membangun Masjid dan menyantuni anak-anak yatim.

Atau vlog tentang seorang pemabuk lagi penjudi namun suka memberi makan faqir miskin.

Atau di kisah di Instagram tentang seorang mantan narapidana kelas berat dengan tubuh penuh tato tetapi ternyata penyayang kucing yang terlantar.

Atau foto Path tentang seorang residivis yang menolong nenek-nenek buta menyeberang jalan.

Maka maksud pemberitaan itu tidak lain agar orang-orang fâsiq atau zindiq tersebut tercitrakan menjadi layaknya "Robin Hood", penjahat yang berpihak kepada rakyat kecil yang tertindas, sehingga perbuatan buruk dan kemaksiyatan mereka menjadi tak masalah… apalagi kemudian di-framing bahwa itu "hanyalah masalah pribadi saja", sedangkan mereka dicitrakan tidak melakukan "kejahatan terhadap masyarakat banyak" sehingga layak untuk dijadikan panutan di masyarakat atau bahkan pemimpin, wal iyya dzubillâh…!

Begitu massive-nya pemberitaan pencitraan yang dilakukan oleh kelompok media masa, yang dilakukan melalui "media setting", "media framing", dan "media spinning", sehingga akibatnya orang yang awam menjadi begitu mudah menerima berita dari media tanpa bisa mengetahui hakikat (kebenaran) yang sesungguhnya. Kemudian berita itu terus diulang-ulang mengikut teori Joeseph Goebbels bahwa kedustaan yang diulang-ulang secara terus-menerus akan diterima sebagai kebenaran, sehingga akibatnya berita itu disebarkan lagi dari mulut ke mulut karena sudah dianggap sebagai sebuah kebenaran, dan pada akhirnya semakin banyak yang mempercayainya sebagai suatu kebenaran yang sesungguhnya, wal iyya dzubillâh…!!!

Maka tampak bahwa orang-orang seakan "tersihir" oleh pemberitaan media sehingga membenarkan apa saja yang diberitakan oleh media. Sungguh ini adalah sebagaimana hadîts yang diriwayatkan dari Shohâbat ‘Abdullôh ibn ‘Umar ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ , bahwa ada dua orang dari penduduk Masyriq datang kepadanya, lalu keduanya berpidato (khutbah) sehingga orang-orang pun menjadi heran dengan penjelasan kedua orang tersebut.

Maka kata Baginda Nabî ﷺ :

ﺇِﻥَّ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺒَﻴَﺎﻥِ ﻟَﺴِﺤْﺮًﺍ

(arti) “ Sungguh di dalam perkataan (bayan) itu terdapat sihir. ” [HR al-Bukhôrî no 5767; Abû Dâwûd no 5007; at-Tirmidzî no 2028; Ahmad no 4422, 4981, 5039; Mâlik no 1901].

Maka akhirnya terjadilah apa yang disebutkan di dalam hadîts mulia itu – pengkhianat dikatakan sebagai orang yang amanah dan pendusta dikatakan sebagai orang yang jujur – akibat dari kedustaan yang disiarkan secara terus-menerus dan dibuat seolah-olah adalah ia memang benar.

Padahal, jikalau nekad mengangkat orang yang tak punya sikap amanah lagi khianat itu jadi pemimpin adalah suatu musibah…!!!

Kata Baginda Nabî ﷺ:

ﺇِﺫَﺍ ﺿُﻴِّﻌَﺖِ ﺍﻷَﻣَﺎﻧَﺔُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻈِﺮِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ ؛ ﻗَﺎﻝَ : ﻛَﻴْﻒَ ﺇِﺿَﺎﻋَﺘُﻬَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ؛ ﻗَﺎﻝَ : ﺇِﺫَﺍ ﺃُﺳْﻨِﺪَ ﺍﻷَﻣْﺮُ ﺇِﻟَﻰ ﻏَﻴْﺮِ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ، ﻓَﺎﻧْﺘَﻈِﺮِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ

(arti) “ Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kedatangan as-Sâ‘ah (Qiyâmat)!”; Para Shohâbat bertanya: "Bagaimana maksudnya amanah disia-siakan, wahai Rosûlullôh?"; Jawab Nabî: “Apabila urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kedatangan as-Sâ‘ah (Qiyâmat). ” [HR al-Bukhôrî no 59, 6496].

Bagaimana Islâm Mengajarkan Tentang Menerima Kabar?

Sungguh ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla telah memperingatkan tentang bahaya berita-berita yang disebar oleh orang-orang Fasiq di dalam al-Qur-ân.

Kata ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âlâ:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺇِﻥ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﻓَﺎﺳِﻖٌ ﺑِﻨَﺒَﺈٍ ﻓَﺘَﺒَﻴَّﻨُﻮﺍ ﺃَﻥ ﺗُﺼِﻴﺒُﻮﺍ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﺑِﺠَﻬَﺎﻟَﺔٍ ﻓَﺘُﺼْﺒِﺤُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻠْﺘُﻢْ ﻧَﺎﺩِﻣِﻴﻦَ

(arti) “ Wahai orang-orang mu’min, apabila datang kepadamu orang fâsiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ” [QS al-Hujurôt (49) ayat 6].

Pada dasarnya manusia itu menerima ucapan itu adalah dengan telinga, bukan dengan lisannya. Akan tetapi ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla malah mengungkapkan tentang betapa cepatnya berita itu tersebar di tengah masyarakat, yang seakan-akan kata-kata itu keluar dari mulut ke mulut tanpa melalui telinga terlebih dahulu. Padahal yang seharusnya adalah berita itu diterima dari telinga lalu dilanjutkan ke hati sanubari (qolbu) untuk ditimbang apa yang didengarnya itu, kemudian selanjutnya memutuskan boleh atau tidaknya berita itu disebarluaskan.

Kata ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla:

ﺇِﺫْ ﺗَﻠَﻘَّﻮْﻧَﻪُۥ ﺑِﺄَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَﺗَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺑِﺄَﻓْﻮَﺍﻫِﻜُﻢ ﻣَّﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻜُﻢ ﺑِﻪِۦ ﻋِﻠْﻢٌۭ ﻭَﺗَﺤْﺴَﺒُﻮﻧَﻪُۥ ﻫَﻴِّﻨًۭﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﻋِﻨﺪَ ﭐﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻈِﻴﻢٌۭ

(arti) “ (Ingatlah) Di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allôh adalah sesuatu yang besar. ” [QS an-Nûr (24) ayat 15].

Sungguh ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla mendidik kaum Mu’minîn dengan adab ini. ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âlâ mengajarkan tentang cara menghadapi suatu berita serta cara memberantasnya apabila berita itu adalah berita bohong, sehingga berita bohong itu tidak tersebar di masyarakat.

Kemudian ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla mengingatkan kaum Mu’minîn agar tidak membicarakan sesuatu yang tidak mereka ketahui kebenarannya. ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla juga mengingatkan agar tidak mengekor kepada para pendusta yang menebar berita bohong.

Kata ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla:

ﻳَﻌِﻈُﻜُﻢُ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥ ﺗَﻌُﻮﺩُﻭﺍ۟ ﻟِﻤِﺜْﻠِﻪِۦٓ ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢ ﻣُّﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ

(arti) “ Sungguh ﺍﻟﻠﻪ memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu selama-lamanya apabila kamu orang-orang yang berîmân. ” [QS an-Nûr (24) ayat 17].

Rosûlullôh ﷺ juga pernah mengingatkan untuk hati-hati dalam menyebarkan berita.

Kata Baginda Nabî ﷺ:

ﻛَﻔَﻰ ﺑِﺎﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻛَﺬِﺑًﺎ ﺃَﻥْ ﻳُﺤَﺪِّﺙَ ﺑِﻜُﻞِّ ﻣَﺎ ﺳَﻤِﻊَ

(arti) “ Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” [HR Muslim no 5; Abû Dâwûd no 4992].

Kemudian ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla juga telah menjelaskan bahwa mengekor kepada para pendusta itu berarti mengikuti langkah-langkah Syaithôn.

Kata ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âlâ:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍ ﺧُﻄُﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ۚﻭَﻣَﻦ ﻳَﺘَّﺒِﻊْ ﺧُﻄُﻮَﺍﺕِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳَﺄْﻣُﺮُ ﺑِﺎﻟْﻔَﺤْﺸَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨﻜَﺮِ

(arti) “ Wahai orang-orang mu’min, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah Syaithôn. Siapa saja yang mengikuti langkah-langkah Syaithôn, maka sungguh Syaithôn itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang munkar. ” [QS an-Nûr (24) ayat 21].

Di dalam ayat yang selanjutnya, ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla menerangkan bahwa lisan dan semua anggota badan lainnya akan memberikan kesaksian atas seorang hamba pada hari Qiyâmat.

Kata ﺍﻟﻠﻪ Subhânahu wa Ta‘âla:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺮْﻣُﻮﻥَ ﺍﻟْﻤُﺤْﺼَﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﻐَﺎﻓِﻼَﺕِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻟُﻌِﻨُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍْﻷَﺧِﺮَﺓِ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ ۞ ﻳَﻮْﻡَ ﺗَﺸْﻬَﺪُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺃَﻟْﺴِﻨَﺘُﻬُﻢْ ﻭَﺃَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺭْﺟُﻠُﻬُﻢْ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ۞ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻳُﻮَﻓِّﻴﻬِﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﺩِﻳﻨَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﺍﻟْﻤُﺒِﻴﻦُ

(arti) “ Sungguh orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik, yang lengah lagi berîmân (berbuat zina), mereka terkena la‘nat di Dunia dan Âkhirot, dan bagi mereka adzab yang besar pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dulu mereka kerjakan. Pada hari itu Allôh akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut yang semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allôh lah yang Maha Benar lagi yang Maha Menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).” [QS an-Nûr (24) ayat 23~25].

Demikian, semoga dapat dipahami sehingga lebih berhati-hati menerima suatu berita apalagi jika meneruskan berita tersebut serta semoga kita tidak mudah mempercayai kebohongan yang diciptakan media.

Kita berdo'a:

ﺍﻟﻠّﻬُـﻢَّ ﺇِﻧِّـﻲ ﺃَﻋـﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﺃَﻥْ ﺃَﺿِـﻞَّ ﺃَﻭْ ﺃُﺿَـﻞ ﺃَﻭْ ﺃَﺯِﻝَّ ﺃَﻭْ ﺃُﺯَﻝ ﺃَﻭْ ﺃَﻇْﻠِـﻢَ ﺃَﻭْ ﺃَﻇْﻠَـﻢ ﺃَﻭْ ﺃَﺟْﻬَﻞَ ﺃَﻭْ ﻳُـﺠْﻬَﻞَ ﻋَﻠَـﻲّ

{allôhumma innî a-‘ûdzubika an adhilla aw udholla aw azilla aw uzalla aw azhlima aw uzhlama aw ajhala aw yujhal ‘alayya}

(arti) " Wahai Allôh, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan oleh orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan oleh orang lain, dari menzhôlimi diriku atau dizhôlimi oleh orang lain, dari berbuat bodoh atau dibodohi oleh orang lain." Wallahu a'lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru