Iklan Atas Zona Muslim

Hukum Talak Orang Yang Salah Ucap, Dipaksa Dan Kondisi Marah
4/ 5 stars - "Hukum Talak Orang Yang Salah Ucap, Dipaksa Dan Kondisi Marah" Melanjutkan bab talak, sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya mengenai Syarat-Syarat Talak . Bahwa salah satu syarat talak ...

Hukum Talak Orang Yang Salah Ucap, Dipaksa Dan Kondisi Marah

Admin

Melanjutkan bab talak, sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya mengenai Syarat-Syarat Talak. Bahwa salah satu syarat talak ada pada muthalliq (orang yang menjatuhkan talak) dimana muthalliq harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syariat agar talaknya sah. Lalu bagaimana dengan talak yang dilakukan karena salah ucap, dipaksa atau dalam kondisi marah? Temukan jawabannya pada tulisan ini.

Talak Salah Ucap 

Apa yang dimaksud orang salah ucap? Yaitu orang yang sejatinya tidak bermaksud mengucapkan kata talak, tetapi kata yang lain. Hanya saja, tanpa disengaja dia keselip lidah ketika mengucapkannya. Misalnya, orang yang sebenarnya bermaksud mengatakan kepada istrinya, “Anti thahir (kamu suci),” tetapi ketika mengucapkannya dia keliru mengatakan, “Anti thaliq (kamu tertalak).” [Ini berbeda dengan orang yang bergurau, karena orang yang bergurau memang bermaksud mengatakan lafazh talak meskipun dia tidak bermaksud menceraikan istrinya. Talak orang yang bergurau sah sebagaimana akan dijelaskan nanti. [Ibnu ‘Abidin (III/230), ad-Dasuqi (II/266), Mughni al-Muhtaj (III/287), al-Mughni (VII/118), dan al-Muhalla (X/200)]

Para ulama berbeda pendapat tentang sah tidaknya talak orang yang keliru mengucapkan talak. Jumhur ulama berpendapat bahwa talak orang yang salah ucap tidak berlaku baik secara qadhaan maupun diyanatan -Berlaku secara diyanatan artinya khusus antara dirinya dengan Allah, sedangkan berlaku secaraqadhaan artinya jika kasusnya diangkat ke pengadilan lalu hakim menjatuhkan vonis- jika kekeliruannya bisa dikuatkan dengan bukti-bukti. Namun, jika kekeliruannya tidak bisa dibuktikan, maka talaknya berlaku secara qadhaan dan tidak secara diyanatan berdasarkan hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah menggugurkan dari umatku sesuatu yang dilakukan karena keliru, lupa, dan yang dipaksakan kepadanya.” [Al-Albani menilainya shahih. Hadits Riwayat: Ibnu Majah (2045) dan selainnya]

Hukum orang yang keliru ini tidak bisa dikiaskan kepada orang yang bergurau, karena berlakunya talak orang yang bergurau telah ditetapkan berdasarkan nash sebagaimana akan dijelaskan nanti pada tempatnya. Selain itu, tidak seperti halnya orang yang keliru, orang yang bergurau memang sengaja mengucapkan lafazh talak sehingga layak mendapat hukuman, tidak seperti orang yang keliru ucap.

Menurut Hanafiyah, talak orang yang keliru ucap sah secara qadhaan, baik terbukti keliru ataupun tidak, dan tidak sah secara diyanatan. Hal ini karena mengingat pentingnya kedudukan perempuan sebagai pihak yang ditalak. Selain itu, karena jika talak orang yang keliru dianggap tidak berlaku, maka akan terbuka celah bagi pihak-pihak tertentu untuk mengaku-ngaku keliru agar talaknya tidak berlaku. Jadi, ini celah yang wajib ditutup.

Talak Orang Yang Dipaksa Mentalak (al-Mukrah)

Jumhur ulama berpendapat bahwa talak orang yang dipaksa menjatuhkan talak dengan tanpa alasan yang dibenarkan adalah tidak berlaku. Di antara ulama yang menyatakan pendapat ini adalah Malik, asy-Syafi‘i, Ahmad, al-Auza‘i, Ishaq, Abu Tsaur, Abu ‘Ubaid, dan sekelompok dari Salaf, serta diriwayatkan dari Umar, Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu az-Zubair radhiallahu ‘anhum. Pendapat ini yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Mereka berargumen sebagai berikut. [Al-Kafi karya Ibnu Abdilbarr (II/571), Bidayah al-Mujtahid (II/137), Mughni al-Muhtaj (III/289)]

1. Fiman Allah Subhanahu wata’ala:

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Siapa yang kafir kepada Allah setelah beriman, (maka dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan, (maka dia tidak berdosa). Akan tetapi, siapa yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpakan kemurkaan kepadanya dan baginya azab yang besar.” [Surat an-Nahl:106]

Karena Allah telah menggugurkan hukum kafir dari orang yang dipaksa menyatakan kekafiran, maka seluruh hukum yang berkaitan dengan pemaksaan dalam ucapan juga gugur, karena jika suatu yang lebih besar konsekuensinya digugurkan (hukumnya) dari manusia, maka tentu yang lebih kecil daripada itu juga gugur. [Al-Baihaqi telah menukil di dalam as-Sunan al-Kubra (VII/356)]

2. Hadits:

إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah menggugurkan dari umatku sesuatu yang dilakukan karena keliru, lupa, dan yang dipaksakan kepadanya.”

Telah disebutkan dalama pembahasan tentang talak orang yang keliru ucap.

3. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا طَلَاقَ وَلَا عَتَاقَ فِي غِلَاقٍ

“Tidak ada perceraian dan pemerdekaan dalam keadaan dipaksa.” [Dha‘if. Hadits Riwayat: Abu Dawud (2193), Ahmad (VI/276), dan al-Hakim (II/198)]

4. Dari Tsabit bin Ahnaf “bahwa Abdurrahman bin Zaid wafat dengan meninggalkan sejumlah istri dan anak-anak. Lalu aku melamar salah seorang dari bekas istri-istrinya kepada Usaid bin Abdurrahman, yang lebih muda daripada Abdullah bin Abdurrahman. Dia pun menikahkanku dengannya. Ketika kabar itu sampai kepada Abdullah, dia mengirim utusan kepadaku. Aku dibawa menghadap kepadanya. Ternyata dia telah menyiapkan sepotong besi dan sebatang cambuk. Dia berkata kepadaku, ‘Ceraikan dia. Jika tidak, akan ku pukul kamu dengan cambuk ini. Atau jika tidak, akan ku tusuk kamu dengan besi ini.’ Begitu aku melihat semua itu, aku pun mentalaknya talak tiga. Kemudian aku tanyakan hal itu kepada semua ahli fiqih di kota Madinah dan semuanya berkata, ‘Tidak ada apa-apa untukmu.’ Lalu aku menanyakannya kepada Ibnu Umar. Dia menjawab, ‘Coba engkau temui Ibnu az-Zubair.’ Maka aku dan Ibnu Umar pun bertemu di rumah Ibnu az-Zubair di Makkah. Aku ceritakan kepada keduanya kisahku, lalu keduanya memutuskan mengembalikan istriku kepadaku.” [Isnadnya shahih. Hadits Riwayat: Abdurrazzaq (11410)]

5. Karena orang yang dipaksa kehilangan kehendak dan keinginannya sebagaimana orang gila dan orang tidur.

Catatan tambahan: Ibnu Qudamah menyebutkan tiga syarat agar suatu pemaksaan membuat talak korbannya tidak berlaku. [Al-Mughni (VII/119)]

1. Hendaknya pemaksaan itu dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan lewat kekuasaan atau kemenangan, seperti pencuri dan semisalnya.

2. Hendaknya korban memiliki dugaan kuat bahwa ancaman yang ditujukan kepadanya benar-benar akan dilaksanakan jika apa yang diminta tidak dipenuhi.

3. Hendaknya ancaman itu berupa tindakan yang sangat mengancam jiwa, seperti diancam akan dibunuh, dipukul dengan keras, diikat, atau disekap dalam waktu yang lama. Adapun jika hanya berupa cacian dan makian, maka bukan pemaksaan namanya. Demikian pula, bukan termasuk pemaksaan jika diambil sedikit hartanya.

Abu Hanifah dan murid-muridnya, serta ats-Tsauri dan sebagian ulama Salaf mengambil pendapat yang berbeda. Mereka mengatakan bahwa talak orang yang dipaksa tetap berlaku karena dia mengetahui dua pilihan yang buruk dan dia memilih yang paling ringan. Itu menandakan dia memiliki keinginan dan pilihan (ketika menjatuhkannya), kecuali bahwa dia tidak rela dengan akibatnya dan itu tidak berpengaruh apapun, sebagaimana pada kasus orang yang bergurau. [Al-Hidayah (I/299), Fath al-Qadir (III/488), dan Nashb ar-Rayah (III/222)]

Penulis berkata: Pendapat jumhur ulama yang lebih kuat karena kuatnya dalil-dalil yang mereka bawakan. Wallahu a‘lam.

Catatan Penting:

Semua yang disebutkan di atas adalah untuk kasus pemaksaan tanpa alasan yang benar. Adapun jika seseorang dipaksa menjatuhkan talak karena suatu alasan yang dibenarkan, seperti suami yang melakukan ila’ jika masa ila’ telah habis dengan tanpa pembayaran fa’i, maka jika hakim memaksanya menjatuhkan talak dan dia pun mentalak, maka talaknya berlaku menurut ijma’ ulama.

Talak Orang yang Marah (al-Ghadban)

Rasa marah (ghadab) adalah suatu kondisi keguncangan saraf dan ketidak seimbangan emosi yang menguasai manusia ketika diserang oleh orang lain dengan kata-kata atau sesuatu yang lain.

Rasa marah ada tiga macam. [Lihat: Zad al-Ma‘ad (V/214) dan I‘lam al-Muwaqqi‘in (II/41)]

1. Tahap-tahap awal marah yang dialami seseorang di mana akal dan pikirannya tidak berubah. Dia tetap menyadari apa yang dia katakan dan memang bermaksud mengatakannya. Maka talak yang dia ucapkan pada kondisi marah seperti ini tidak diragukan lagi berlakunya, terlebih-lebih jika dia mengucapkannya setelah berulang-ulang memikirkannya.

Penulis berkata: Inilah umumnya yang terjadi pada talak seorang suami. Dia melakukannya saat dalam keadaan marah. Kalau talak orang yang marah tidak berlaku secara mutlak, niscaya setiap orang yang mentalak akan berkata memberi alasan, “Saya dalam keadaan marah.”

2. Rasa marah yang telah memuncak sehingga menutup pintu kesadaran dan keinginan seseorang. Akibatnya, dia tidak lagi sadar dengan apa yang dia ucapkan, dan tidak sungguh-sungguh bermaksud mengatakannya. Talak yang diucapkan dalam kondisi marah yang seperti ini tidak ada perbedaan di kalangan ulama tentang ketidak berlakuannya.

Penulis berkata: Kepada makna inilah dibawa pengertian hadits:

لَا طَلَاقَ وَلَا عَتَاقَ فِي غِلَاقٍ

“Tidak berlaku perceraian dan pemerdekaan (budak) yang dilakukan (pelakunya) dalam keadaan tertutup akal.”

Abu Dawud berkata dalam kitab sunannya usai menyebutkan hadits ini, “Al-Ighlaq(ketertutupan akal) di sini aku rasa adalah al-ghadab (marah).” [Al-Ighlaq (ketertutupan akal) di sini juga ditafsirkan sebagai pemaksaan, kegilaan, talak tiga sekaligus, dan sebagainya]

3. Rasa marah seseorang yang berada di antara dua macam marah di atas, di mana rasa marah itu telah melampaui tahap-tahap awal, tetapi belum sampai ke puncak yang membuatnya jadi seperti orang gila. Rasa marah macam inilah yang menjadi titik perdebatan di kalangan ulama.

Penulis berkata: Dalam kondisi ini, kemarahan seseorang telah sampai pada tingkatan di mana rasa kalut dan keguncangan menguasai dirinya, menguasai segala ucapan dan tindakannya, sehingga dia tidak lagi bisa bersikap cermat dan hati-hati, meskipun kesadaran akalnya tidak sampai hilang total dan itu pun sangat jarang terjadi.

Madzhab Imam yang Empat berpendapat bahwa talak orang yang marah dengan kemarahan seperti ini tetap berlaku. [Ibnu ‘Abidin (III/243), ad-Dasuqi (II/366), Hasyiyah al-Jumal (IV/324), dan Kasyf al-Qana‘ (V/235)] Sedangkan ulama yang lain menyatakan talak tidak berlaku untuk kondisi marah seperti itu. Dan pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu al-Qayyim, dia berkata, “Dalil-dalil syariat menunjukkan tidak berlakunya talak yang dia ucapkan, pemerdekaan budak yang dia lakukan, dan akad-akad yang dia laksanakan, yang dalam semua perbuatan tersebut disyaratkan pilihan dan keridhaan. Rasa marahnya itu salah satu bentuk ighlaq (yang disebutkan dalam hadits) sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama.” [Ighatsah al-Lahfan fi Thalaq al-Ghadban karya Ibnu al-Qayyim (halaman 13)]

Ibnu ‘Abidin rahimahullahu condong kepada pendapat ini. Beliau berkata, “Satu hal yang seharusnya dijadikan pegangan dalam masalah orang yang linglung dan semisalnya adalah mengaitkan hukumnya dengan pengaruh kekalutan pikiran yang dialaminya terhadap semua ucapan dan tindakannya yang di luar kebiasaan. Jadi, selama kekalutan pikiran menguasai semua ucapan dan tindakannya, maka semua ucapan tersebut tidak akan diperhitungkan sekalipun dia mengetahuinya dan menginginkan maksudnya, karena pengetahuan dan keinginan tersebut tidak diakui karena tidak berasal dari kesadaran yang sehat, sebagaimana hal tersebut juga tidak diperhitungkan jika berasal dari anak kecil yang berakal.”

Talak Orang yang Dungu (as-Safih)

Safih adalah orang berdaya nalar rendah yang dalam bertindak terhadap hartanya tidak sesuai dengan logika dan syariat.

Talak orang yang dungu adalah berlaku menurut mayoritas ulama, di antaranya: Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi‘i, Ahmad, dan selain mereka. Sementara ‘Atha’ dan golongan Syiah Imamiyah menolaknya.

Namun, lebih utama mengatakan talak orang yang dungu sah karena bagaimanapun juga dia tetap mukallaf yang memiliki objek talak, dan karena kedunguannya hanyalah mengharuskan mencegahnya bertindak terhadap hartanya, sementara talak adalah tindakan terhadap diri sendiri dan dia tidak dicurigai dalam hak terhadap dirinya sendiri. Andaipun talak orang yang dungu menimbulkan efek finansial, seperti mahar, maka itu hanya efek sampingan, bukan pokok. [Ibnu ‘Abidin (III/238), Mughni al-Muhtaj (III/279), dan ad-Dasuqi (II/365)]. Wallahu a‘lam.

Demikian penjelasan tentang talak orang yang salah ucap, dipaksa dan dalam kondisi marah serta talak orang yang dungu. Semoga tulisan bermanfaat untuk kita.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru