Iklan Atas Zona Muslim

Hukum Shalat Tahiyyatul Masjid Dan Shalat Setelah Wudhu
4/ 5 stars - "Hukum Shalat Tahiyyatul Masjid Dan Shalat Setelah Wudhu" Apa itu Shalat Tahiyyatul Masjid? Tahiyyatul masjid adalah shalat sunnah yang dilakukan saat masuk masjid sebelum duduk. Hukumnya Dis...

Hukum Shalat Tahiyyatul Masjid Dan Shalat Setelah Wudhu

Admin

Apa itu Shalat Tahiyyatul Masjid? Tahiyyatul masjid adalah shalat sunnah yang dilakukan saat masuk masjid sebelum duduk.

Hukumnya


Disunnahkan bagi siapa saja yang memasuki masjid untuk melaksanakan shalat tahiyyatul masjid. Maka dianjurkan baginya untuk tidak duduk terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat dua rakaat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّىَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang dari kalian masuk ke masjid maka janganlah ia duduk hingga ia melaksanakan shalat dua rakaat terlebih dahulu.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (444), dan Muslim (714)]

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ سُلَيْكًا الْغَطَفَانِيَّ لَمَّا أَتَى يَوْمَ الْجُمُعَةِ والنبيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ فَقَعَدَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّكْعَتَيْنِ أَنْ يُصَلِّيَهُمَا

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan Sulaik al-Ghathafani agar ia mengerjakan shalat dua rakaat (tahiyatul masjid) ketika Sulaik memasuki masjid dan –langsung– duduk. Dan Rasulullah waktu itu sedang khutbah Jum'at.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (930), dan Muslim (875)]

Hadist riwayat Jabir radhiallahu 'anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ لَمَّا أَتَى الْمَسْجِدَ بِثَمَنِ جَمَلِهِ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُصَلِّيَ الرَّكْعَتَيْنِ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan Jabir untuk shalat dua rakaat –tahiyatul masjid– saat ia mendatangi Rasulullah di dalam masjid dengan harga unta yang Rasulullah membelinya dari Jabir.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (2097), dan Muslim (715)]

Kata "perintah" dalam hadist di atas secara dzahirnya menunjukan kepada wajibnya shalat dua rakaat ketika memasuki masjid, begitu pun kata "larangan" secara zahirnya menunjukkan haramnya meninggalkan shalat dua rakaat. Namun mayoritas ulama –termasuk di antaranya Ibnu Hazm– telah mengartikan kata perintah dalam hadist di atas sebagai sesuatu yang sunnah, hal tersebut karena adanya sebab dari dalil yang lain. Di antaranya,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ" فَقَالَ السَّائِلُ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُها؟ قَالَ "لاَ إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ

"Shalat lima waktu dalam sehari semalam." Lalu orang itu bertanya kembali, "Apakah ada lagi –shalat– yang wajib kukerjakan?" Rasulullah pun menjawab, "Tidak, kecuali jika kamu ingin mengerjakan shalat tathawwu’"[Shahih, telah dibahas berulang kali]

Akan tetapi Imam Syaukani menanggapi hal ini dengan mengatakan, "Bahwa sabda Rasulullah, (Kecuali jika kamu ingin mengerjakan shalat tathawwu’). Kata ini sesungguhnya menegaskan bahwa pada dasarnya tidak ada kewajiban shalat selain shalat lima waktu. Namun hadits ini tidak membicarakan tentang kewajiban shalat yang ditimbulkan karena pilihan hamba itu sendiri. Seperti masuk masjid, karena seorang hamba yang masuk ke dalam masjid seolah ia telah mewajibkan dirinya sendiri untuk melakukan shalat tahiyatul masjid. Maka dalil tersebut tidak mencakup yang seperti ini." [Nailul-Authar (3/84) cet. Al-Hadits. Dan hukum perkara ini terbaca jelas dari Dzahir hadits, namun Al-Hafidz tidak menyimpulkan hal tersebut darinya!]

Penulis Berkata: Hal yang menguatkan bahwa kata perintah dalam hadits-hadits di atas memiliki makna anjuran, adalah hadits riwayat Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu 'anhu :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِى الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ ، إِذْ أَقْبَلَ ثَلاثَةُ نَفَرٍ ، فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وسلم ) وَذَهَبَ وَاحِدٌ ، قَالَ : فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وسلم ) ، فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِى الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا ، وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ ، وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا ، فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وسلم ) قَالَ : أَلا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاثَةِ ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ ، فَآوَاهُ اللَّهُ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا ، فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ ، فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

“Bahwa ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sedang duduk di dalam masjid, dan orang-orang bersama Beliau; tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sedangkan yang satu pergi. Kedua orang tadi berhenti di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Yang satu melihat celah pada halaqah (lingkaran orang-orang yang duduk), lalu dia duduk padanya. Adapun yang lain, dia duduk di belakang mereka. Adapun yang ketiga, maka dia berpaling pergi. Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam selesai, beliau bersabda,"Maukah aku beritahukan kepadamu tentang tiga orang tadi? Adapun salah satu dari mereka, dia mendekat kepada Allah, maka Allah pun mendekatkannya. Adapun yang lain, dia malu, maka Allah pun malu kepadanya. Dan yang terakhir, dia berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.” (Hadits Riwayat: Al-Bukhari (66)

Penulis Berkata: Maka kedua orang itu –saat memasuki masjid langsung– duduk dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak memerintahkan kepada mereka untuk shalat dua rakaat. Wallahu A'lam.

Catatan Tambahan:

Sebelumnya telah dijelaskan tentang "waktu-waktu yang dilarang untuk shalat" Namun perlu diketahui bahwa shalat tahiyyatul masjid termasuk salah satu shalat yang muncul karena adanya sebab (yaitu masuk masjid) dan boleh dilakukan kapan saja, termasuk dalam waktu yang dilarang (makruh) untuk shalat di dalamnya. Pendapat inilah yang lebih kuat. Wallahu A'lam.

Shalat Setelah Wudhu’


Disunnahkan bagi siapa saja yang telah berwudhu’ untuk shalat dua rakaa't atau lebih kapan saja walaupun dalam waktu-waktu yang terlarang sekalipun. Dengan landasan dalil hadist riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Bilal saat shalat Subuh :

يَا بِلاَلُ، أخبرني بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإسْلاَمِ، فَإنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ في الجَنَّةِ؟» قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أرْجَى عِنْدي مِنْ أَنِّي لَمْ أتَطَهَّرْ طُهُورًا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أنْ أُصَلِّي

"Wahai Bilal, beritahukan kepadaku amalan apa yang paling engkau harapkan –pahalanya– dan telah engkau laksanakan selama memeluk Islam sehingga aku mendengar suara terompahmu di surga?" Bilal kemudian menjawab, "Aku tidak melakukan amalan apapun yang lebih aku harapkan –pahalanya– melainkan jika aku bersuci baik itu pada malam hari ataupun siang, kecuali setelah itu aku melakukan shalat( Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1149), dan Muslim (910)


Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru