Iklan Atas Zona Muslim

Hukum Memakai Lensa Mata Berwarna Untuk Hiasan dan Mode
4/ 5 stars - "Hukum Memakai Lensa Mata Berwarna Untuk Hiasan dan Mode" Ada satu kasus hukum yang penting untuk diketahui hukumnya, yaitu terkait apa Hukum Memakai Lensa Mata Berwarna Untuk Hiasan dan Mode dal...

Hukum Memakai Lensa Mata Berwarna Untuk Hiasan dan Mode

Admin

Ada satu kasus hukum yang penting untuk diketahui hukumnya, yaitu terkait apa Hukum Memakai Lensa Mata Berwarna Untuk Hiasan dan Mode dalam tinjaun syari'at?

Fadhilah asy-Syaikh Shalih bin al-Fauzan hafizhahullahu pernah ditanya tentang hukum memakai lensa mata berwarna dengan alasan menghias diri dan mengikuti mode, padahal harganya mahal.

Beliau menjawab, “Memakai lensa kontak karena ada keperluan adalah tidak mengapa. Adapun jika tanpa ada keperluan apapun, maka yang terbaik adalah tidak memakainya. Khususnya jika harganya mahal, maka (memakainya) digolongkan sebagai perbuatan berlebih-lebihan yang diharamkan. Ditambah lagi dengan adanya unsur penyamaran dan penipuan di dalamnya karena menampakkan mata tidak dengan penampilan yang sebenarnya tanpa ada keperluan.” [Dari Fatawa Zinat al-Mar’ah halaman 49 yang disusun oleh Asyraf bin ‘Abd al-Maqsud]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata, “Untuk masalah lensa kontak, maka harus dengan berkonsultasi kepada dokter apakah memberi efek negatif bagi mata atau tidak? Jika memberi efek negatif, maka terlarang memakainya dengan memandang pada bahaya yang akan menimpa mata. Semua bahaya yang bisa menimpa tubuh terlarang penggunaannya berdasarkan firman Allah tabaraka wa ta‘ala:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah itu maha penyayang kepada kalian.” [Surat an-Nisa’:29]

Adapun apabila para dokter menyatakan bahwa lensa kontak tidak memberi efek negatif kepada mata dan tidak pula membahayakannya, maka harus kita teliti sekali lagi apakah lensa-lensa itu akan membuat mata perempuan tampak seperti mata hewan. Maksudnya, seperti mata domba atau mata kelinci. Kalau seperti itu, maka tidak boleh karena termasuktasyabbuh (menyerupai) hewan, dan perbuatan menyerupai hewan tidak disebutkan (dalam ajaran agama) kecuali dalam konteks tercela dan harus dihindari sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga).” [Surat al-A‘raf:175, 176]

Dan sebagaimana juga disebutkan di dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَيْسَ لَنَا مَثَلُ السُّوءِ الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ

“Tidak pantas bagi kita (melakukan perbuatan yang sudah dijadikan) permisalan yang jelek. Orang yang menarik kembali pemberiannya seperti anjing yang menjilati muntahannya.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (2589) dan Muslim (1622)]

Dan di dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wasallam:

الَّذِي يَتَكَلَّمُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

“(Permisalan) orang yang mengobrol pada hari Jum‘at saat imam berkhutbah adalah seperti keledai yang sedang memikul kitab-kitab yang tebal.” [Hadits Riwayat:Ahmad dalam al-Musnad dengan sanad yang lemah. Lihat al-Misykat nomor 1397]

Apabila lensa-lensa kontak tersebut membuat mata manusia tampak seperti mata hewan, maka haram memakainya. Adapun apabila tidak mengubah mata, tetapi hanya mengubah warna mata dari hitam gelap menjadi hitam yang lebih cerah atau yang seperti itu, maka ini tidak mengapa, dan tidak masuk dalam kategori mengubah ciptaan Allah karena perubahannya tidak bersifat permanen. Jadi, tidak seperti tato, penggunaan lensa kontak tidak permanen, kapan saja perempuan pemakainya mau, dia bisa melepasnya. Lensa kontak lebih mirip dengan kacamata yang dipakai di mata, meskipun kacamata jelas-jelas terpisah dari mata dibandingkan lensa kontak karena lensa tersebut menempel pada (bola) mata secara langsung. Bagaimanapun, apabila perempuan tidak memakainya, maka itu lebih baik, lebih utama dan lebih aman bagi matanya (untuk terhindar) dari bahaya. Namun, satu hal yang harus diperhatikan adalah kita harus memperhatikan kembali rincian-rincian yang sudah kami sebutkan di atas.” Bersumber dari fatwa-fatwa yang terekam dalam kasetTaujihat li al-Mu’minat (Nasehat-Nasehat untuk Wanita-Wanita Mukminah). [Dari kitab al-Libas wa az-Zinah karya Samir ‘Abd al-Aziz halaman 75]

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru