Iklan Atas Zona Muslim

Bagaimana Cara Mengqadha Shalat Yang Sudah Ditinggalkan?
4/ 5 stars - "Bagaimana Cara Mengqadha Shalat Yang Sudah Ditinggalkan?" Shalat yang sudah ditinggalkan apakah masih bisa diqadha? Bagaimana cara Mengqadha Shalat yang Telah Terlewatkan? Makna Qadha Shala...

Bagaimana Cara Mengqadha Shalat Yang Sudah Ditinggalkan?

Admin

Shalat yang sudah ditinggalkan apakah masih bisa diqadha? Bagaimana cara Mengqadha Shalat yang Telah Terlewatkan?

Makna Qadha Shalat


Qadha secara bahasa, hukum dan pelaksanaan. Sedangkan menurut istilah, mengerjakan sesuatu yang wajib setelah habis waktunya. [Al-Misbahul Munir, dan Hasyiyatu Ibnu ‘Abidin (1/487)]

Kita sepakat bahwa tidak berlakunya qadha shalat kecuali setelah habis waktunya disertai dengan adanya uzur syar’i. berbeda dengan jumhur ulama’ yang berpendapat, bahwa ibadah-ibadah yang dibatasi dengan waktu akan hilang dengan habisnya waktu yang membatasinya tanpa ada suatu pelaksanaan apapun. Shalat yang telah terlewatkan wajib diqadha, tanpa membedakan antara yang berhalangan ataupun tidak.

Apakah ibadah yang terlewat harus segera diqadha?


Wajib bagi seseorang yang telah melewatkan waktu shalat (dengan uzur syar’i) untuk mengqadha shalat tersebut ketika itu juga, berdasarkan hadist Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tentang orang yang tertidur dan orang yang lupa:

فليصلها اذ ذكرها، لا كفرة لها الا ذلك

“Maka hendaknya ia shalat setelah mengingatnya dan tidak ada kafarat (pengganti) selain itu”

Dalil di atas menunjukkan perkara yang wajib untuk disegerakan, pendapat ini dikemukakanmazhab Maliki dan Hanbali. [Al-Syarhu Ash-shaghir (1/3665), dan Kasyaf Al-Qanna’ (1/260)]

Menurut imam Hanafi dan Syafi’i disunnahkan menyegerakan, serta boleh agak longgar dalam pengqadhaan.[Hasyiyatu Ibnu ‘Abidin (2/74)] dan Majmu’ (3/69)

Dengan pengambilan dalil, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam serta para sahabat beliau ketika terbangun dari tidurnya setelah terbit matahari, sedangkan mereka belum melaksanakan shalat kecuali setelah mereka berpindah ke tempat lainnya.

Argumen mereka dijawab: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak langsung shalat, beliau bersabda:

لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ ، فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا ، فِيهِ الشَّيْطَانُ

“Hendaknya masing-masing kalian mengendarai untanya, karena tempat ini dihadiri oleh setan” [Hadits Riwayat: Muslim (680), dan an-Nasa’i (1/80) dari Abu Hurairah]

Mencegah shalat, karena tempatnya dihadiri oleh setan dan dalil tersebut tidak menyebutkan disyari’atnya pelonggaran dalam qadha.

Atas hadist tersebut, hendaknya seseorang ketika terbangun setelah munculnya matahari, maka tidak boleh tidur lagi sebelum ia shalat, karena itu adalah waktunya. Wallahu A’laam.

Mengqadha shalat yang terlewatkan dengan cara berurutan:


Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhu:

جَاءَ عُمَرُ يَوْمَ الخَنْدَقِ، فَجَعَلَ يَسُبُّ كُفَّارَ قُرَيْشٍ، وَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا صَلَّيْتُ العَصْرَ حَتَّى كَادَتِ الشَّمْسُ أَنْ تَغِيبَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَأَنَا وَاللَّهِ مَا صَلَّيْتُهَا بَعْدُ» قَالَ: فَنَزَلَ إِلَى بُطْحَانَ، فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى العَصْرَ بَعْدَ مَا غَابَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى المَغْرِبَ بَعْدَهَا

“Umar bin Khattab datang pada hari peperangan khandaq (setelah terbenamnya matahari), sehingga ia mencaci maki kaum kafir Quraisy, kemudian berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, “Ya rasulallah, aku belum shalat ashar sampai matahari terbenam”. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Demi Allah, aku juga belum shalat ashar”. Maka kami semua pergi ke bathhan. Setibanya di sana Rasulullah berwudhu’ dan kami pun berwudhu’ untuk melaksanakan shalat. Kemudian Rasulullah shalat ashar setelah terbenamnya matahari dan dilanjutkan dengan shalat maghrib”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (598), Muslim (209)]

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Radhiallahu 'anhu , ia berkata:

حُبِسْنَا يَوْمَ الْخَنْدَقِ عَنِ الصَّلَاةِ، حَتَّى كَانَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ بِهَوِيٍّ مِنَ اللَّيْلِ، حَتَّى كُفِينَا، وَذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: {وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ، وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا} [الأحزاب: 25] قَالَ: «فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلَالًا، فَأَقَامَ صَلَاةَ الظُّهْرِ فَصَلَّاهَا، وَأَحْسَنَ صَلَاتَهَا، كَمَا كَانَ يُصَلِّيهَا فِي وَقْتِهَا، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعَصْرَ، فَصَلَّاهَا وَأَحْسَنَ صَلَاتَهَا، كَمَا كَانَ يُصَلِّيهَا فِي وَقْتِهَا، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ، فَصَلَّاهَا كَذَلِكَ» ، قَالَ: وَذَلِكُمْ قَبْلَ أَنْ يُنْزِلَ اللَّهُ فِي صَلَاةِ الْخَوْفِ {فَرِجَالًا، أَوْ رُكْبَانًا} [البقرة: 239]

“Pada waktu Perang Khandak kami tertahan dari mengerjakan shalat sehingga kami baru menghindar sesudah Maghrib, ketika malam mulai gelap”. Hal itu sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah : ( Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan . Dan Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa). Al-Ahzab: 25.

Abu Sa’id berkata, “Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memanggil Bilal (agar menyeru orang-orang untuk shalat), lalu dia iqamah Zhuhur dan beliau pun shalat Zhuhur serta membaguskannya sama seperti ketika beliau mengerjakan shalat Ashar pada waktunya. Kemudian beliau menyuruh dia agar iqamah Maghrib dan beliau pun shalat Maghrib”. Abu Sa’id berkata, “Kondisi ini sebelum Allah menurunkan perintah shalat khauf (Jika kalian dlm keadaan takut maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan). Al-Baqarah: 239.” [Hadits Riwayat: An-Nasa’i (1/297), Ahmad (3/25), Ibnu Khuzaimah (996), Abu Ya’la (1296).Shahih]

Dua hadist tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah mengqadha shalat-shalat yang terlewatkan berurut-urut. Jumhur ulama berpendapat mewajibkan berurutan dalam mengqadha shalat yang telah terlewat sesuai dengan beragam rinciannya. Mereka mengambil dalil dengan apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Sedangkan ada juga yang mewajibkan mendahulukan penentuan waktu yang sempit. [Al-Badai’ (1/131), Al-Syarhu ash-Shaghir (1/367), Al-Mughni (1/607), Nailul Authar (2/36)]

Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat: disunnahkan tidak diwajibkan, karena apa yang dilakukan nabi shalallahu alaihi wassalam tidak menunjukkan perintah wajib. [Raudhatu at Thalibin (1/269)]

Beberapa hal yang Menggugurkan mengqadha shalat secara tertib


1. Sempitnya waktu shalat yang tersisa:


Sebab itu, maka gugurlah ketertibannya. Karena fardlu shalat yang sekarang lebih kuat daripada fardlu tertib. Maka hendaklah ia shalat kemudian shalat qadha. Pendapat ini menurut Mazhab Abu Hanifah, riwayat dari Ahmad dan perkataan Ibnual-Musayyib, Hasan, al-Auza’i, ats-Tsauri dan Ishaq. Sedangkan menurut Imam Syafi’I tidak wajib berurutan sama sekali, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. [ Al-Bayanah (2/628), Al-Mughni (1/610), Al-Inshaf (1/444), Al-Kharsyi (1/103), Al-Ausath (2/415)]

Sedangkan menurut Mazhab Maliki -diriwayatkan dari Ahmad ‘Atha’ dan Al-laitsi-mereka berpendapat wajibnya tertib meskipun sempitnya waktu shalat yang ada saat itu.

Penulis berkata, pendapat pertama lebih kuat, sebab wajibnya dilaksanakan secara tertib masih diperselisihkan.

2. Khawatir terlewat dari shalat berjama’ah.


Misalnya seseorang telah melewatkan waktu shalat zhuhur, akan tetapi dia takut jika mengqadha shalat zhuhur akan terlewatkan jama’ah shalat ashar, maka gugurlah hukum tertibnya. Shalatlah dengan jama’ah shalat ashar, kemudian mengqadha shalat dzuhur setelahnya. Ini riwayat dari Ahmad dan pilihan Syaikh Islam. [Al-Inshaf (1/444-445)]

Pendapat yang kedua mengatakan, tatkala ia masuk dalam masjid bersama para jama’ah ashar dengan niat shalat zhuhur -dengan dasar bolehnya beda niat makmum dari imam- kemudian ia shalat ashar setelahnya. Pendapat yang pertama lebih jelas.Wallahu a’lam.

3. Shalat yang tidak mungkin di qadha sendirian.


Seperti shalat jum’at, jika seseorang ingat bahwa dia belum mengerjakan shalat setelah iqamah shalat jum’at, maka dia harus mendahulukan shalat jum’at, karena shalat jum’at tidak dapat di qadha. Jadi melewatkan shalat jum’at sama halnya seperti melewati waktu shalat, menurut riwayat dari Ahmad. [Al-Inshaf (1/444), Al-Mumti’] (2/141)

4. Lupa


Jika seseorang melaksanakan shalat yang terlewatkan dengan keadaan lupa tanpa tertib urutannya, maka tidak masalah. Karena keumuman firman Allah subhanahu wata’ala:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah..”. [Al-Qur`an Surat: Al-Baqarah: 286]

Dalam hadist Allah berfirman: “Ya” dan di suatu riwayat “sudah aku lakukan” [Hadits Riwayat: Muslim (125)]

Dan berdasarkan hadist:

ان الله وضع عن أمتي الخظأ و النسيان وما استكرهوا عليه

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku kekeliruan, keterlupaan dan apa-apa yang dipaksakan terhadap mereka”.[Hadits Riwayat: Ibnu Majah (2045), lihat Irwa’ (82) Al-Albani menshahihkannya]

Ini menurut pendapat Hanafi dan Hanbali berbeda dengan pendapat Imam Malik dan riwayat dari Ahmad. [Al-Bayanah (2/629), al-Mughni (1/609), al-Khursy (1/301)]

5. Tidak tahu


Seseorang yang tidak mengerti kewajiban tertib mengqadha shalat, maka boleh shalat tanpa berurutan. Ketidak pahaman adalah sama halnya dengan lupa, menurutAl-Quran dan as-sunnah rasul-NYA. Ini dari riwayat Ahmad dan pendapat yang di pilihsyaikh islam, serta pendapat Mahdzab Hanafi. [ Al-Inshaf (1/445), al-Bayanah (2/629)]

Tata cara Qadha shalat yang terlewatkan


Mazhab Hanafi, Maliki -serta salah satu pendapat dari syafi’i-, Abu Tsaur dan Ibnu al-Mundzir berpendapat bahwa pelaksanaan shalat qadha adalah sesuai dengan cara dan sifat-sifat shalat yang tertinggal itu. [Majmu’ Al-Anhar (1/164), al-Syarhul Shaghir (1/365), Raudhatul Thalibin (1/269), Ikhtilaful Ulama’ (60)]

Misalnya seseorang lupa shalat isya’ (dibaca jahr), kemudia dia baru ingat ketika siang hari, maka qadhanya dengan bacaan yang keras sebagaimana shalat isya’, begitu juga sebaliknya. Dalilnya adalah dari hadist Abi Sa’id radhiallahu 'anhu dalam kisah Perang Khandaq:

فَأَقَامَ صَلَاةَ الظُّهْرِ فَصَلَّاهَا، وَأَحْسَنَ صَلَاتَهَا، كَمَا كَانَ يُصَلِّيهَا فِي وَقْتِهَا

“Lalu ia iqamah Zhuhur dan beliau pun shalat Zhuhur serta membaguskannya sebagaimana beliau mengerjakan shalat pada waktunya.” [Shahih] dijelaskan, bahwa shalat itu setelah maghrib.

Adapun menurut Mazhab Hambali, Shahih menurut Syafi’iyah adalah shalatnya sesuai dengan waktu qadha (Jika qadha isya’ pada waktu zhuhur, maka bacaanya pelan sebagaimana shalat zhuhur).

Jika seseorang lupa shalat ketika bermukim, kemudian mengingatnya tatkala di perjalanan.Menurut Mazhab Syafi’i dan Ahmad. ia harus shalat secara sempurna tanpa dikurangi rakaat aslinya. Begitu pula sebaliknya, jika ia lupa shalat ketika dalam perjalanan, kemudian mengingatnya ketika bermukim, maka dia harus shalat secara sempurna, tanpa dikurangi rakaat aslinya. [Al-Umm (1/161), Al-Majmu’ (4/249), Al-Mughni (1/570), Ikhtilaful Ulama’ (60)]

Mengqadha Shalat Sunnah Rawatib


Ulama berpendapat, boleh mengqadha shalat sunnah rawatib tatkala seseorang tertinggal waktu shalat rawatib. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Amr. Mazhab al-Auza’i, Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Muhammad bin Hasan, al-Muzni dan lainnya juga mendukung pendapat ini. Akan dijelaskan tentang masalah ini dalam pembahasan yang berbeda pada judul shalat tathawwu’ insya Allah. [Raudhatul Thalibin (1/337), Al-Inshaf (2/178)]

Adzan, Iqamat dan Berjama’ah Dalam Shalat Yang Terlewatkan


Seseorang yang tertinggal shalat dan ingin mengqadhanya, hendaknya ia adzan serta iqamah sebelum mengqadha shalatnya. Jika yang tertinggal shalat banyak orang, hendaknya mereka mengqadhanya secara berjama’ah. Hal ini sesuai dengan hadist Abu Qatadah dalam kisah tertidurnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat-sahabat beliau dari shalat shubuh sampai munculnya matahari. Rasulullah berkata kepada Bilal radhiallahu 'anhu:

قُمْ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ بِالصَّلاَةِ

“Bangun, dan kumandangkan adzan untuk memanggil orang-orang mengerjakan shalat.”

Tatkala matahari telah muncul dan berbentuk bundar sempurna. Rasulullah pun kemudian shalat berjama’ah bersama para sahabat. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (595), Abu Daud (439), An-Nasa’i (2/105)] Dalam lafadz hadist Ibnu Mas’ud radhiallahu 'anhu:

فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ الصَّلَاةَ، فَصَلَّى بِنَا

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada Bilal untuk adzan, Bilal pun adzan kemudian iqamah. Setelah itu Rasulullah shalat bersama kami”. [Hadits Riwayat: Ahmad (1/450), Ibnu Hibban (1580). Hasan]

Pendapat ini adalah yang diambil oleh mazhab jumhur ulama’. Wallahu a'lam

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru