Iklan Atas Zona Muslim

Apakah Sah Haji Wanita Yang Tanpa Didampingi Suami atau Mahram?
4/ 5 stars - "Apakah Sah Haji Wanita Yang Tanpa Didampingi Suami atau Mahram?" Seperti yang sudah mafhum bahwa jumhur ulama sepakat disyaratkannya mahram bagi wanita yang hendak berhaji. Lalu bagaimana jika haji tanp...

Apakah Sah Haji Wanita Yang Tanpa Didampingi Suami atau Mahram?

Admin

Seperti yang sudah mafhum bahwa jumhur ulama sepakat disyaratkannya mahram bagi wanita yang hendak berhaji. Lalu bagaimana jika haji tanpa mahram apakah hajinya tetap sah?

Disyaratkan untuk wajibnya haji atas wanita 5 syarat yang telah disebutkan dan ditambah dengan dia harus ditemani suami atau mahramnya. Jika dia tak mendapatinya maka tidak wajib haji atasnya. Dari Ibnu Abbas dia berkata:

(سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ، وَلَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ»، فَقَامَ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً، وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: «انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ»)

Aku mendengar Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: “Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan kecuali ada mahramnya. Dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahram.” Maka seorang lelaki berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi berhaji sedangkan aku telah tercatat untuk mengikuti perang ini dan ini.” Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda: “Pergilah berhaji bersama istrimu.” [Shahih: Hadits riwayat: Al-Bukhariy (3006) dan Muslim (1341)]

Ini adalah madzhab Hanafiyyah dan Hanabilah. [Al-Badaa`I’ (3/1089), al-Mughny (3/230), Bidayatu al-Mujtahid (1/348) dan al-Majmu’ (7/68)]

Adapun Malikiyyah dan Asy-Syafi`iyyah [Lihat: Al-Badaa`I’ (3/1089), al-Mughny (3/230), Bidayatu al-Mujtahid (1/348) dan al-Majmu’ (7/68)] berpendapat bahwa mahram bukanlah syarat bagi haji, namun mereka mensyaratkan keamanan dalam perjalanan dan teman perjalanan yang terpercaya. Ini hanya berlaku pada haji yang wajib, sedangkan jika haji yang sunnah, maka disepakati bahwa dia tidak boleh pergi kecuali dengan mahram.

Madzhab zhahiri memperbolehkan bagi wanita yang tidak memiliki suami atau mahram atau suaminya tidak mau menemaninya untuk berhaji tanpa mahram. [Al-Muhalla (7/47)]

Semuanya berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- tentang tafsir kemampuan dengan bekal dan kendaraan yang lemah sebagaimana telah dijelaskan. Juga dengan sabda beliau -shallallahu 'alaihi wa sallam-:

يُوشِك أَنْ تَخْرُج الظَّعِينَة مِنْ الْحِيرَة تَؤُمّ الْبَيْت لا جوار معها لاَ تَخَافُ إِلَّا اللَّهَ

Akan terjadi suatu saat di mana seorang wanita dari daerah Hairah (Iraq) keluar rumah tanpa perlindungan, dia tak takut kepada apapun kecuali Allah. [Shahih: Hadits riwayat: Al-Bukhariy (3595) dan selainnya. Adz-Dza’inah: wanita]

Dalil ini terjawab bahwa ini hanya merupakan kabar tentang keamanan yang akan terjadi dan tidak berkaitan dengan hukum safar bagi wanita tanpa mahram.

Jika seorang wanita berhaji tanpa ditemani mahram:


Jika seorang wanita berhaji tanpa ditemani mahram, hajinya sah namun dia berdosa karena perginya tanpa mahram.

Seorang wanita dapat meminta izin untuk berhaji kepada suaminya dan suaminya tidak berhak melarangnya:

Jika syarat wajib haji yang telah disebutkan sebelumnya terpenuhi dalam diri seorang wanita (dalan haji yang wajib), maka dianjurkan baginya untuk meminta izin kepada suaminya. Jika dia diizinkan dia berangkat dan jika tidak maka dia tetap berangkat tanpa izin suaminya. Hal ini dikarenakan sang suami tidak berhak melarangnya untuk berangkat melaksanakan haji yang wajib (menurut mayoritas), karena hak suami tidaklah lebih dahulu dari kewajiban-kewajiban individual seperti puasa Ramadhan dan yang semisalnya.

Jika hajinya adalah haji nadzar. Jika dia bernadzar dengan izin suaminya atau sebelum menikah kemudian dia mengabarkan kepada suami dan suami menyetujuinya, maka suami tidak memiliki hak untuk melarangnya. Adapun jika dia bernadzar tanpa persetujuan dari suami, maka suami berhak untuk melarangnya. Ada juga yang mengatakan bahwa suami tidak berhak melarangnya juga karena hajinya adalah wajib seperti suatu dalil dalam Islam.


Baca Juga : Cara Diet Sehat Aman Bagi Tubuh Anda


Jika hajinya adalah haji tathawwu’ atau berhaji untuk selainnya, maka disepakati bahwa dia wajib untuk meminta izin dari suaminya dan suami berhak untuk melarangnya.

Apakah seorang wanita yang dalam masa menunggu (iddah) boleh berhaji?

Seorang wanita yang sedang dalam masa menunggu wanita baik karena perceraian atau kematian, maka di waktu itu dia tidak wajib untuk berhaji (menurut mayoritas). Karena Allah -subhanahu wa ta`ala- melarang wanita-wanita yang dalam masa menunggu untuk keluar dalam firman-Nya:

(لاَتُخْرِجُوهُنَّ مِن بُيُوتِهِنَّ وَلاَيَخْرُجْنَ)

Janganlah kalian mengeluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka keluar. [Al-Qur'an, Surat Ath-Thalaq: 1]

Juga karena haji dapat dilaksanakan di lain waktu sedangkan menunggu wajib di waktu tertentu, maka menggabungkan keduanya adalah lebih baik.

Adapun Hanabilah membedakan keluarnya untuk haji antara iddah perceraian dan kematian, mereka melarangnya jika itu adalah iddah kematian dan membolehkan dalam iddah perceraian akhir. Mereka berkata: karena tinggal di rumah adalah wajib dalam iddah kematian, sedangkan dalam cerai akhir tidak wajib untuk melakukannya.

Penulis berkata: Aku tidak melihat adanya sisi lain dan perbedaan (dalam tinggal di rumah) antara iddah kematian dan perceraian. Walaupun ayat tersebut berkaitan dengan wanita-wanita yang diceraikan, dan wanita yang iddah karena wafat dianalogikan dengan itu (berdasarkan salah satu pendapat) maka tidakkah mereka seharusnya menyelisihi pembedaan ini?!. [Pendapat kedua: wanita yang iddah karena kematian boleh menyelesaikan iddahnya dimanapun dia suka. Wallahu a'lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru