Iklan Atas Zona Muslim

Apa Yang Dimaksud Dengan Sunnah-Sunnah Fitrah?
4/ 5 stars - "Apa Yang Dimaksud Dengan Sunnah-Sunnah Fitrah?" Mungkin kita sering dengar istilah sunnah fitrah. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Sunnah-Sunnah Fitrah? Sunnah-sunnah fitrah adalah...

Apa Yang Dimaksud Dengan Sunnah-Sunnah Fitrah?

Admin

Mungkin kita sering dengar istilah sunnah fitrah. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Sunnah-Sunnah Fitrah?

Sunnah-sunnah fitrah adalah salah satu jenis sunnah jika dilakukan oleh seseorang maka orang tersebut disifati dengan fitrah (suci) yang dengan itu Allah Subhanahu wata’ala menciptakan manusia. Allah Subhanahu wata’ala mensunnahkan hal itu agar menusia menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala yang berperilaku dan berpenampilan bagus. Sunnah-sunnah ini adalah sunnah terdahulu yang dilakukan oleh semua Nabi. Syariat semua Nabi juga mengajarkannya. Seolah-olah hal ini sudah menjadi sifat yang melekat pada diri setiap insan. [Nailul Authar (1/109) dan ‘Umdatul Qari (22/45)]

Sunnah-sunnah fitrah ini sangat erat hubungannya dengan maslahat duniawi maupun ukhrawi. Hal itu dapat diperoleh dengan memperbagus penampilan dan membersihkan tubuh baik itu secara global maupun rinci. [Faidhul Qadir. Al-Manaawi (1/ 38)]

Sebagian riwayat yang menerangkan sunnah tersebut adalah:

1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ : الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ

“Lima hal diantara fitrah: berkhitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menggunting kumis”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (5891) dan Muslim (257)]

2. Diriwayatkan dari ‘Aisyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَشَرَةٌ مِنَ الْفِطْرَةِ : قَصُّ الشَّارِبِ ، وَقَصُّ الأَظْفَارِ ، وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ ، وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ ، وَالسِّوَاكُ ، وَالاسْتِنْشَاقُ ، وَنَتْفُ الإِبْطِ ، وَحَلْقُ الْعَانَةِ ، وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ " . قَالَ مُصْعَبٌ : وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ ، إِلا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةُ

“Sepuluh hal bagian dari fitrah (kesucian): menggunting kumis, memotong kuku, mencuci sela-sela jari dan kerut-kerut punggung jari, memlihara jenggot, bersiwak, membersihkan hidung (menghirup air dengan hidung), mencabut bulu ketiak, memotong bulu kemaluan dan beristinja’”. Mush’ab berkata: aku lupa yang kesepuluh. Kemungkinan besar adalah berkumur”. [Hadits Riwayat: Muslim (261), Abu Daud (52), At-Tirmidzi (2906), Nasai (8/126) dan Ibnu Majah (293)]

Kesimpulan dari kedua hadits di atas bahwa sunnah-sunnah fitrah tidaklah terbatas dalam bilangan tertentu tetapi diantaranya adalah:

1. Berkhitan

2. Istinja

2. Bersiwak

3. Memotong kuku

4. Memotong kumis

5. Memelihara jenggot

6. Mencukur bulu kemaluan

7. Mencabut bulu ketiak

8. Mencuci albarajim yaitu tempat berkumpulnya kotoran; lipatan kulit, sela-sela jari, telinga dan lainnya

9. Berkumur dan membersihkan hidung dengan menghirup air dan mengeluarkannya.

Pertama Khitan


Pengertian Khitan Dan Hukumnya

Khitan adalah masdar dari fi’il Khatana yang berarti memotong. Khitan adalah memotong kulit yang menutup bagian kepala kemaluan laki-laki dan memotong kulit di bagian atas kemaluan wanita. [Lihat Tuhfatul Maudud. Ibnu Qayyim (106-132) dan Al-Majmu’ (1/301)]

Ada tiga pendapat para ulama mengenai hukumnya yaitu:

1. Wajib bagi laki-laki dan wanita.

2. Sunnah bagi laki-laki dan wanita.

3. Hanya diwajibkan bagi laki-laki dan disunnahkan bagi wanita.

Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni (1/85) mengatakan: “Khitan diwajibkan bagi laki-laki dan disunnahkan bagi wanita. Pendapat ini yang diambil oleh jumhur ulama. Sementara An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ (1/301) mengatakan. Mazhab shahih yang telah dijadikan dalil oleh Imam Asy-Syafi’i dan jumhur ulama bahwa hukum khitan wajib bagi laki-laki dan wanita.


BACA JUGA : 4 Bagian Tubuh Yang Tidak Harus Dibersihkan


Penulis Berkata: hukum khitan bagi laki-laki sudah jelas yaitu wajib karena beberapa sebab berikut:

1. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan firman Allah Subhanahu wata’ala: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اِخْتَتَنَ إِبْرَاهِيْمُ خَلِيْلُ الرَّحْمَن بَعْدَ مَا أَتَتْ بِهِ ثَمَانُوْنَ سَنَةً

“Ibrahim kekasih Allah khitan pada umur delapan puluh tahun”. [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (6298) dan Muslim (370)]

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" [Al-Qur`an Surat: An-Nahl:123]

2. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata kepada orang kafir yang masuk Islam

أَلْقِ عَنْكَ شَعَرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ

“Buanglah tanda kekafiran dan berkhitanlah”. [Hadits Riwayat: Abu Daud (356) dan Al-Baihaqi (1/172). Di dalam sanadnya terdapat dua perawi yang tidak dikenal dan terputus. Akan tetapi Al-AlBani mengatakan hadits ini hasan dengan beberapa riwayat pendukung yang diambil dari shahih Abu Daud (383), dalam kitab Irwa’ (79) namun aku belum menemukannya. An-Nawawi dan Asy-Syaukani menganggap hadits ini adalah dhaif]

3. Khitan termasuk dari Syi’ar kaum muslim yang membedakannya dengan orang Yahudi dan Nasrani. Maka hukum syi’ar ini adalah wajib sebagaimana syi’ar yang lain.

4. Bahwa memotong anggota tubuh adalah haram. Dan tidak ada yang menghalalkannya kecuali perintah wajib. Ini adalah mazhab Imam Malik, Asy-Syafi’ii dan Ahmad. Imam Malik cenderung keras dalam hal ini seraya mengatakan: “orang yang belum berkhitan tidak boleh menjadi imam shalat dan tidak diterima kesaksiannya”. Banyak ulama fiqih.

1. yang menukil dari Imam Malik bahwa hukumnya adalah sunnah. Namun sunnah menurut Imam malik berdosa jika ditinggalkan. [Tuhfatul Maudud (113)]

Hukum Khitan Bagi Wanita


Khitan bagi wanita disyariatkan oleh agama Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ

“Jika dua khitan bertemu (kemaluan laki-laki dan wanita) maka diwajibkan mandi”. [Ibnu Majah meriwayatkan lafadz ini (611) hadits shahih, dalam shahih Al-Bukhari dan muslim menggunakan lafaz

إِذا مَسَّ الْخِتَانُ الْخِتَانَ ، فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ - “Jika satu khitan menyentuh khitan lainnya maka diwajibkan mandi”]

Yang dimaksud dengan dua khitan adalah bagian yang dipotong dari kemaluan anak laki-laki dan anak wanita. Hal ini menunjukkan bahwa masa itu anak wanita dikhitan. Banyak hadits-hadits yang menerangkan adanya khitan terhadap anak wanita. Namun semua hadits tersebut tidak ada yang selamat dari kritik ulama hadits. Diantaranya adalah:

Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah Al-Anshari radhiallahu ‘anha. Ada seorang wanita melakukan khitan di Madinah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya:

لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ "

“Jangan berlebihan dalam memotongnya. Karena hal itu lebih bermanfaat untuk wanita dan lebih disukai oleh suami”. [Hadits Riwayat: Abu Daud (5271). Dhaif]

Dalam riwayat lain

إذا خفضت فأشمى ولا تنهكي، فإنه أسرى للوجه وأحظى للزوج

“Jika kamu ingin memotongnya, potonglah sedikit saja dan jangan dihabiskan. Karena hal itu lebih menceriakan wajah dan lebih menyenangkan suaminya” [Munkar, hadits ini riwayat al-Khatib dalam At-Tarikh (7/327). Lihat Jami’ Ahkam An-Nisa’ (1/19)]

Namun hadits-hadits ini sanadnya dhaif, walau syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam kitabnya silsilah ash-shahihah (722).

Dengan demikian, maka khitan bagi wanita hukumnya adalah wajib seperti terhadap laki-laki -walaupun hadits-hadits yang ada dhaif-. Karena pada dasarnya laki-laki dan wanita memiliki persamaan dalam hukum, kecuali apabila ada dalil yang membedakannya. Dan dalam masalah ini tidak ada dalil yang membedakan hal tersebut.

Namun ada yang berpendapat lain bahwa berkhitan itu dianjurkan bagi wanita dan bukan suatu kewajiban. Segi perbedaan antara lelaki dengan wanita adalah, bahwa khitan bagi lelaki merupakan maslahat yang berkaitan dengan salah satu sarat sahnya shalat, yaitu thaharah. Apabila kulit itu masih bersisa maka air kencing akan mengendap didalamnya. [Perbedaan ini disebutkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Al-Mumti’ (1/134)]

Sedangkan pada wanita, faedahnya adalah untuk mengurangi syahwatnya. Ini untuk memperoleh kesempurnaan bukan untuk menghilangkan kotoran.

Penulis berkata: Khitan bagi wanita hukumnya antara sunnah dan wajib. Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

الْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرِّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنِّسَاءِ

“Khitan itu sunnah bagi kaum laki-laki dan kehormatan bagi kaum wanita” [Hadits Riwayat: Ahmad (7/75), dhaif]

Namun sanadnya dhaif, sekiranya shahih tentu dapat menjadi jawaban pemutus dalam perselisihan tersebut. Wallahu a’lam.

Kedua Bersiwak


Pengertian Siwak Dan Disyariatkannya

Siwak berasal dari kata saka, artinya menggosok. Secara istilah bersiwak adalah menggunakan kayu siwak (‘ud) atau sejenisnya ke gigi untuk membersihkan warna kuning dan sebagainya.

Bersiwak dianjurkan dalam segala waktu, sebagaimana dalam hadits aisyah radhiallahu ‘anha, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak membersihkan bau mulut dan memperoleh keridhoan Allah” [Hadits Riwayat: Nasai (1/50), Ahmad (6/47,62) dan selain keduanya. Shahih]

Waktu yang di anjurkan menggunakan siwak:


1. Ketika berwudhu’. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ الْوُضُوءِ

“Jikalau tidak memberati umatku niscaya aku perintahkan kepada mereka untuk bersiwak setiap berwudhu’ “ [Hadits Riwayat: Ahmad terdapat juga dalam Shahih Al-Jami’]

2. Ketika akan shalat, hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Jikalau tidak memberati umatku niscaya aku perintahkan kepada mereka untuk bersiwak setiap akan shalat” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (6813), Muslim (252)]

3. Saat akan membaca Al-Qur`an, berdasarkan hadits Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata: ”kami diperintahkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bersiwak. Beliau bersabda: “sesungguhnya apabila seorang hamba bangun pada malam hari melaksanakan shalat, maka malaikat datang kepadanya. Mereka berdiri dibelakangnya, mendengarkannya membaca al-Qur`an dan mendekatinya, mereka terus melakukan hal tersebut hingga mendekatkan mulutnya dengan mulut orang itu. Ia tidak membaca satu ayat melainkan masuk kedalam rongga malaikat” [Hadits Riwayat: al-Baihaqi (1/38), lihat Ash-Shahihah (1213). Syaikh al-Albani menshahihkannya]

4. Disaat akan masuk ke dalam rumah, hadits Al-Miqdam bin Syuraih dari ayahnya, ia berkata: aku pernah bertanya kepada Aisyah, apakah yang pertama dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak memasuki rumahnya? Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab “bersiwak”

5. Ketika akan mengerjakan shalat malam. Hadits Huzaifah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Apabila rasulullah bangun di malam hari untuk shalat tahajjud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (246), Muslim (255)]

Maksudnya adalah menggosok giginya dengan siwak

Bersiwak dianjurkan menggunakan kayu arak (kayu siwak), bila tidak ada maka di anjurkan menggunakan yang lain yang bisa membersihkan mulut dan gigi, seperti sikat gigi dan pasta gigi. Wallahu a’lam.

Apakah menggunting kuku, mememotong kumis, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan dirutinkan pada waktu tertentu?


Sunah-sunah fitrah tersebut tidak ditetapkan dengan waktu tertentu, namun sebatas keperluan. Kapan saja diperlukan maka itulah waktunya.

Hendaklah dia tidak meninggalkan salah satu sunah fitrah tersebut lebih dari empat puluh hari. Sebagaimana hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Rasulullah memberi waktu kepada kami untuk memotong kumis, menggunting kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan tidak lebih dari empat puluh hari (sehingga tidak panjang)” [Hadits Riwayat: Muslim (257)]. Wallahu a'lam.

Demikian penjelasan tentang pengertian sunnah-sunnah fitrah. Semoga bermanfaat.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru