Iklan Atas Zona Muslim

6 Sunnah Khutbah Jum`at Yang Penting Untuk Diketahui
4/ 5 stars - "6 Sunnah Khutbah Jum`at Yang Penting Untuk Diketahui" Khutbah pada hari jum'at berbeda dengan ceramah-ceramah pada umumnya. Meskipun secara maksud dan isi dari khutbah atau ceramah ada ke...

6 Sunnah Khutbah Jum`at Yang Penting Untuk Diketahui

Admin
Penjelasan lengkap sunnah khutbah jumat

Khutbah pada hari jum'at berbeda dengan ceramah-ceramah pada umumnya. Meskipun secara maksud dan isi dari khutbah atau ceramah ada kesamaan yaitu amar ma'ruf nahi munkar. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diketahui oleh khatib mengenai tata cara khutbah. Berikut ini adalah Sunnah-Sunnah Dalam Berkhutbah yang penting untuk diketahui. Baca juga: Adab Mendengarkan Khutbah Jum'at

1. Dimulai dengan membaca hamdalah, memuji Allah Subhanahu wata'ala, shalawat pada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan membaca syahadat.

Diriwayatkan dari Jabir radhiallahu 'anhu, ia berkata:

كَانَ خطبة رَسُول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يوم الجمعة يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِى عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ يَقُولُ: مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَخَيْرُ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ.

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah pada hari jum’at yang dimulai dengan hamdalah, pujian kepada Allah sebagaimana mestinya kemudian bersabda, “Siapa yang mendapat hidayah dari Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberi hidayah kepadanya, sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah.” [Hadits Riwayat: Muslim (867)]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ عَشِيَّةً بَعْدَ الصَّلاَةِ ، فَتَشَهَّدَ وَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ.

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah pada sore hari setelah ashar yang dimulai dengan tasyahud (syahadat) dan pujian kepada Allah sebagaimana mestinya dan mengucapkan amma ba’du.” [Hadits Riwayat: Al-Bukhari (926)]

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وحده لا شريك له وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ يَقْرَأُ ثَلاَثَ آيَاتٍ.

“Segala puji bagi Allah tempat kami meminta pertolongan dan ampunan, kami berlindung kepada- Nya dari kejelekan kami dan amal kami, siapa yang mendapat hidayah dari-Nya maka tidak ada yang mampu menyesatkannya dan siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang mampu memberinya hidayah. Aku bersaksi tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan dan hamba-Nya, kemudian membaca tiga ayat Surat Ali ‘Imran (102) yaitu:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam”. [Hadits Riwayat: Abu Daud (2118), At-Tirmidzi (1105)]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِى خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِى تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakan laki-laki dan wanita yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” [Surat An Nisaa’ (1)]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” [Surat Al Ahzab: 70-71]

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ. وَيَقُولُ: بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ. وَيَقْرِنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى ثُمَّ يَقُولُ: أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الأُمُورِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ محدثة بِدْعَة وَكُلَّ ضَلاَلَة فى النار ... الحديث.

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apabila berkhutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda, "Hendaklah bersiap-siap di waktu pagi dan petang. Jarak antara aku di utus dan hari kiamat adalah seperti ini (yakni jari telunjuk dan jari tengah)." Kemudian beliau melanjutkan, "Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka." [Hadits Riwayat: Muslim (867), An-Nasa`i (3/188)]

Menurut riwayat yang shahih bahwa Umar Bin Khatthab dan Ibnu Mas’ud Radhiallahu 'anhum memulai khutbah jum’at dan lainnya dengan pembukaan seperti hadits diatas. Baca juga: Amalan sunnah Malam Jum'at yang Sering ditinggalkan

2. Mengagungkan khutbah dan bersuara lantang

Diriwayatkan dalam hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُمْ مَسَّاكُمْ.

“Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khutbah, maka kedua matanya memerah, suaranya lantang, dan semangatnya berkobar-kobar bagaikan panglima perang yang sedang memberikan komando kepada bala tentaranya. Beliau bersabda, "Bersiap-siaplah kalian di waktu pagi dan petang.” [Telah disebutkan]

3. Berkhutbah dengan singkat dan memanjangkan shalat.

Diriwayatkan dari Ammar Bin Yasir radhiallahu 'anhuma, ia berkata aku mendengar rasul Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ ، فَأَطِيلُوا هَذِهِ الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا هَذِهِ الْخُطْبَةَ ، فَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْراً.

“Sesungguhnya panjangnya shalat seseorang dan singkat khutbahnya merupakan tanda paham dalam agamanya, maka panjangkanlah shalat dan ringkaslah dalam berkhutbah, karena sesungguhnya sebagian dari penjelasan itu dapat menyihir.” [Hadits Riwayat: Muslim (869), Ahmad (4/263), Ad-Darimi (1556) dan lainnya]

Diriwayatkan dari Jabir Bin Samurah Radhiallahu 'anhuma, ia berkata:

صَلّيت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَكَانَتْ صَلاَتُهُ قَصْدًا وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا.

“Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, adalah shalat dan khutbah beliau sederhana (tidak terlalu panjang).”

Dalam riwayat lain disebutkan:

لاَ يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ.

“Beliau tidak memanjangkan khutbah jum’at, sesungguhnya khutbah beliau hanya beberapa kalimat yang singkat.”[Hadits Riwayat: Muslim (866), Abu Daud (1107)]

Penulis berkata: Khutbah yang singkat memiliki dua faedah yaitu tidak terasa bosan dan lebih mudah dipahami oleh pendnegar. Tetapi kecerdasan pemahaman agama seorang khatib terkadang memanjangkan khutbahnya karena tuntutan keadaan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkhutbah dengan surat Qaf dan al-Mulk dengan membacanya tartil dan baik sehingga khutbah menjadi panjang. Yang harus diperhatikan adalah menjaga keadaan dan kebutuhan masyarakat. Waallahu a’lam.

4. Membaca ayat-ayat Al Qur’an.

Diriwayatkan dari Jabir Bin Samurah Radhiallahu 'anhuma , ia berkata:

كَانَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم يَجْلِسُ بَيْنَ الخُطْبَتَينِ وَيُذَكِّرُ النَّاسَ ويَقْرَأُ ايات من الْقُرْآن.

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam duduk diantara dua khutbah, mengingatkan manusia dan membaca beberapa ayat al- Qur’an.”[Hadits Riwayat: Muslim (862), Abu Daud (1094)]

Diriwayatkan dari Shafwan Bin Ya’la dari ayahnya:

أنه سَمِع النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ عَلَى الْمِنْبَرِ ( وَنَادَوْا يَا مَالِكُ ) ...

“Ia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca ayat di atas mimbar, mereka menyeru “wahai Malik.”[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (3266), Muslim (871) [Al-Qur`an Surat: Az-Zukhruf: 77]

Diriwayatkan dari Ummi Hisyam radhiallahu 'anha berkata:

مَا حَفِظْتُ سورة (ق) إِلاَّ مِنْ فِى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ بِهَا كُلَّ جُمُعَةٍ.

“Aku tidaklah hafal surat Qaf kecuali dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang membacanya setiap khutbah jum’at.”[Hadits Riwayat: Muslim (872), Ahmad (6/463)]

5. Turun dari mimbar untuk sujud ketika membaca ayat sajadah

Hal ini telah dijelaskan dalam bab sujud tilawah seperti dalam riwayat Umar Bin Khatthab, Abu Musa Al Asy’ari dan Ammar Bin Yasir Radhiallahu 'anhum.

6. Berdo’a untuk kaum muslimin.

Diriwayakan dari Samurah radhiallahu 'anhu, ia berkata:

أن النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كان يستغفر للمؤمنين فى كل جمغة.

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memohonkan ampunan untuk kaum muslimin setiap khutbah jum’at.”[Hadits Riwayat: Al Bazzar dalam kitab Al Majma’ (2/190) dan dalam sanadnya matruk. Dhaif jiddan]

Namun hadits ini dha’if sekali dan tidak bisa dijadikan dasar walaupun sudah diamalkan oleh para ulama akan tetapi sunnah berdo’a dalam khutbah diambil dari hadits ini:

Diriwayatkan dari Amarah Bin Ru’aibah :

أنه رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ (يدعو) فَقَالَ: قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ هَكَذَا. وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ.

“Bahwa ia melihat Bisyr Bin Marwan mengangkat tangan (berdo’a) diatas mimbar dan mengucapkan, “semoga Allah menjelekan kedua tangan ini. Sungguh aku melihat Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam tidak lebih mengucapkan hal tersebut, dan mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.” [Hadits Riwayat: Muslim (873), An-Nasa`i (3/108)]

Dua Catatan tambahan

a. Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berdo’a ketika khutbah

b. Makruh mengangkat kedua tangan bagi imam yang berdo’a diatas mimbar dan sunnah baginya mengisyaratkan dengan jari telunjuk. Hal ini dikuatkan oleh hadits berikut.

Diriwayatkan dari Sahl Bin Sa’d radhiallahu 'anhuma, ia berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ يَدْعُو عَلَى مِنْبَرِهِ وَلاَ عَلَى غَيْرِهِ وَلَكِنْ رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالإِبْهَامِ.

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat tangan ketika berdo’a diatas mimbar atau lainnya, tetapi aku melihat beliau mengucapkan seperti ini dan memberi isyarat pada jari telunjuk yang berada diantara jempol dan jari tengah.” [Hadits Riwayat: Abu Daud (1105) dengan sanad lemah dan dikuatkan oleh hadits sebelumnya. Hadits Hasan]

Ini adalah salah satu pendapat ulama mazhab Hanabilah dan dijadikan pilihan oleh Syaikhul Islam. [ Al Ikhtiyarat (hal. 80]

Catatan Penting: Ada pengecualian dari keterangan diatas yakni ketika berdoa’a pada waktu shalat Istisqa’. Hal ini telah dijelaskan pada bab sebelumnya yaitu dengan mengangkat kedua tangan. Baca juga: Inilah Manfaat shalat berjamaah Di Masjid

Sekian pembahasan tentang sunnah sunnah khutbah jumat semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru