Iklan Atas Zona Muslim

Wara` Kunci Menggapai Keberkahan Rizki
4/ 5 stars - "Wara` Kunci Menggapai Keberkahan Rizki" Sering kali kecukupan harta belum mampu membuat ketenangan dan kebahagiaan hati. Kenapa demikian? Karena ukuran kebahagiaan tidak bisa di...

Wara` Kunci Menggapai Keberkahan Rizki

Admin

Sering kali kecukupan harta belum mampu membuat ketenangan dan kebahagiaan hati. Kenapa demikian? Karena ukuran kebahagiaan tidak bisa diukur dengan banyaknya harta, namun faktor keberkahan penentunya. Jika demikian bagaimana cara menggapai keberkahan harta dan rizki? Wara adalah kuncinya. Apa itu wara?

Definisi Wara'


Menurut Sa'id Hawwa -rohimahullah- pengertian waro' tak jauh berbeda dengan taqwa. Beliau menjelaskan bahwa seorang mulia (yang bertaqwa) adalah yang senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Tatkala diminta komentarnya tentang makna taqwa, Umar bin Khattab ra memberi permisalan tentang seseorang yang berjalan dengan hati-hati di antara medan yang penuh duri. Maksudnya, seseorang yang bertaqwa adalah yang senantiasa berada dalam kondisi waspada, berjalan melintasi kehidupan yang banyak dihiasi lubang, dimana ia dapat terperosok dalam melakukan sesuatu yang haram atau dosa. Dalam sebuah atsar, Abu Darda ra pernah mengatakan, “Sesungguhnya sebagian kesempurnaan taqwa adalah seorang hamba yang menjaga seberat atom, sehingga ia meninggalkan sesuatu yang tampaknya halal karena takut sesuatu itu haram. Sehingga penjagaan itu menjadi penghalang antara dirinya dan neraka.” (Ihya' Ulumiddin, al-Ghazali)

Tingkatan wara


Ada empat tingkatan waro’. Imam al-Ghazali menjelaskannya secara panjang lebar dalam kitab Ihya' Ulumiddin. Ringkasnya adalah sebagai berikut:

Pertama, sikap waro’nya orang-orang yang adil, yakni menghindari persentuhannya dengan sesuatu yang sudah jelas keharamannya. Melanggar ketentuan tersebut sudah pasti merupakan suatu dosa. Sikap ini wajib dimiliki semua kaum beriman.

Kedua, sikap waro'nya orang-orang shalih, yakni menghindari semua bentuk syubhat (kerancuan: belum jelas halal atau haramnya). Meski tidak wajib menjauhinya, setiap muslim disunnahkan untuk meninggalkannya. Sikap inilah yang diperintahkan Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu pada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. an-Nasa‘i dan al-Hakim, menurut keduanya, ini adalah hadits shahih).

Juga dalam haditsnya yang lain, “Halal itu jelas, haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang syubhat (samar). Banyak manusia tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang memelihara diri dari syubhat. maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan barangsiapa yang jatuh ke dalam syubhat, maka ia jatuh di dalam keharaman. Seperti seorang penggembala di sekitar tanah larangan, maka hampir saja gembalaannya masuk ke dalam tanah larangan tersebut.”

Ketiga, waro'nya orang-orang yang bertaqwa, yakni meninggalkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh fatwa, dan tidak ada keraguan mengenai kehalalannya. Meski demikian, dikhawatirkan sesuatu itu dapat mengantarkan pada sesuatu yang haram. Inilah yang disebut dalam hadits Rasulullah SAW, “Seorang hamba tidak sampai pada derajat muttaqin (orang yang bertaqwa) sehingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak apa-apa karena takut kepada sesuatu yang apa-apa (dosa).”

Imam Abbu Hanifah pernah menolak memakan daging kambing selama tujuh tahun berturut-turut. Itu dilakukannya sejak ada seekor kambing yang hilang di kota kediamannya. Ia takut kemungkinan daging kambing yang dimakannya itu haram karena berasal dari kambing yang hilang tadi.

Keempat, waro'nya orang-orang yang Shiddiq (yang sangat jujur), yaitu meninggalkan sesuatu yang dalam sebab-sebabnya tidak menuju pada kemaksiatan dan tidak menjadi pertolongan dalam kemaksiatan. Dan dari padanya tidak dimaksudkan sebagai penunaian syahwat baik sekarang atau yang akan datang. Tetapi dijauhkan karena Allah SWT semata. Kelompok shiddiqin hanya melakukan hal ini semata karena taqwa untuk beribadah kepadaNya saja. Abu Bakar Shiddiq ra pernah memuntahkan air susu yang telah ia minum. Beliau takut bila susu itu diambil dari barang haram padahal ia meminumnya dengan tidak tahu. Dan itu tidak wajib dikeluarkan kembali.

Faktor Penghalang 


Bila kita renungkan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurang hati-hatinya manusia dalam persentuhannya dengan benda haram atau dosa. Diantara faktor tersebut adalah:

Pertama, Lemahnya 'aqidah. 'Aqidah merupakan neraca atau timbangan bagi manusia muslim. Ia yang menjadi ukuran semua gerak langkahnya dalam kehidupan. Timbangan dalam bingkai 'aqidah Islam sifatnya tetap dan tak berubah.

Seseorang bisa saja menilai sesuatu itu benar dan sangat berharga. Namun dalam pandangan Allah sesuatu itu tak ada harganya, lantaran haram. Termasuk dalam hal ini adalah ketika seseorang mencari harta. Pelanggaran dan penyelewengan seseorang dari manhaj (konsepsi) Allah, menunjukkan kualitas 'aqidahnya yang lemah. Harta haram, dalam kecenderungan serta pandangan nafsu, sangat menggiurkan. Tapi menjadi sebaliknya bila ditimbang dalam neraca 'aqidah. Betapapun harta itu banyaknya.

Karenanya, undang-undang Allah SWT merupakan satu-satunya rujukan mutlak bagi seorang muslim dalam menimbang dan menilai sesuatu.

“Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. al-An'am: 153)

Kedua, Lemahnya keyakinan terhadap hari akhir. Faktor ini sebenarnya termasuk dalam kerangka urgensi 'aqidah. Meyakini kehidupan akhirat termasuk dalam konsep 'aqidah Islam.

Kehidupan dunia, tak lebih merupakan medan pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT. Dunia bukan tempat untuk melepas semua kesenangan dan pelampiasan penuh ambisi nafsu. Apalagi bila hal tersebut harus ditebus dengan kesengsaraan ukhrawi. Kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan setelah mati. ltulah kebahagiaan abadi yang hanya layak diberikan pada manusia yang melakukan amal baik sepanjang hidupnya di dunia.

Ketiga, Anggapan bahwa pangkal kebahagiaan adalah harta yang banyak. Pikiran ini, sejak dulu telah terpatahkan, baik oleh syari'at agama, akal yang benar ataupun kenyataan hidup.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu, dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan siapa saja yang berbuat begitu maka merekalah orang-orang yang menderita kerugian." (QS. al-Mukmin: 9)

Dari sudut akal dan fenomena, makin banyak harta, seseorang makin jauh dari keinsyafan, bertambah sombang dan bertambah dekat dengan kesengsaraan batin. Sebab itu, pada hakikatnya kebaikan itu terdapat pada penghasilan dan harta yang halal serta diberkahi Allah, bukan pada banyak dan sedikitnya.

Bermain harta, kata para ahli hikmah, bagai bermain judi. Sekali menang dan 6 kali kalah. Kemenangannya yang sekali, seseorang menjadi lupa akan kekalahannya yang 6 kali.

Manusia melepaskan nafsunya dengan harta yang banyak. Bukan kebahagiaan yang ia peroleh, melainkan penyesalan. “Mencari bahagia bukanlah dari luar diri, tetapi dari dalam. Kebahagiaan yang datang dari luar, kerapkali hampa, palsu. Orang seperti ini kerap kali ragu, syak, cemburu, putus harapan; sangat gembira bila dihujani rahmat, lupa bahwa hidup ini silih berganti. Sangat kecewa ketika ditimpa bahaya. Sehingga lupa bahwa kesenangan terletak di antara dua kesusahan, dan kesusahan terletak di antara dua kesenangan...."

“Bertambah banyak kesenangan dan kebahagiaan yang datang dari luar diri, bertambah miskinlah orang yang diperdayakannya. Semasa pendapatan kecil, keperluan untuk penjaga itu kecil pula. Setelah besar, berangsur besar pula keperluan. Sebab itu, amat banyak orang kaya secara lahir, tapi miskin secara hakikat. Di sini nyatalah arti sebenarnya dari kekayaan dan kemiskinan, orang yang paling kaya adalah orang yang paling sedikit keperluannya, dan orang yang paling miskin ialah yang paling banyak keperluannya.”

Keempat, Sikap menuhankan harta atau cinta dunia Faktor ini juga terkait erat dengan faktor sebelumnya. Di latarbelakangi kekeliruan berpikir di atas, berkobar-kobarlah semangat seseorang mengeruk harta. Harta begitu mendominasi pikirannya. Cinta harta dan dunia ini lalu menutup hatinya dari cahaya kebenaran. Harta menjadi penghambat langkahnya menuju gerbang kesucian. Ia tak lagi menoleh, apalagi mencari kebenaran. Yang dicarinya hanyalah harta. Perhatiannya semua tertumpah pada seberapa banyak harta yang akan ia peroleh. Segala yang ada di dunia ditaksir tak lebih dari harganya.

Harta, tidak saja dipandang sebagai alat pencapai maksud, tapi juga menjadi standar kemuliaan, alat kesombongan dan predikat kemegahan. Tanpa terasa, manusia berpaling dari mencapai kebahagiaan sejati. Tak ada lagi kemerdekaan berpikir dan menimbang. Hilanglah kemerdekaan jiwa. Sebagaimana kata pepatah, “Barangsiapa yang memandang bahwa maksudnya tak tercapai kecuali dengan pertolongan sesuatu yang lain, maka tunduklah dia kepada yang lain itu, dan musnahlah kemerdekaan dirinya.

Mencari harta memang kewajiban. Namun, itu ibarat memetik bunga di antara duri. Sementara dorongan kebutuhan harta kian mendesak. Karena itu, seorang muslim harus tetap waspada terhadap berbagai fitnah yang mengelilinginya. Fitnah yang tak hanya berakibat pada kehancuran nurani diri, tapi juga dapat merembet pada kebaikan generasi. Wallahu a'lam.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru