Iklan Atas Zona Muslim

Panduan Shalat Sunnah Fajar (Subuh)
4/ 5 stars - "Panduan Shalat Sunnah Fajar (Subuh)" Di antara shalat sunnah rawatib yang paling ditekankan anjurannya adalah shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat Subuh. Sebagaimana hadit...

Panduan Shalat Sunnah Fajar (Subuh)

Admin

Di antara shalat sunnah rawatib yang paling ditekankan anjurannya adalah shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat Subuh. Sebagaimana hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

لَمْ يَكُنْ اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - عَلَى شَيْءٍ مِنْ اَلنَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidaklah melakukan shalat sunnah yang kesinambungannya melebihi dari dua rakaat –sebelum– shalat Subuh."[1]

Dalam redaksi lain :

لَمْ يَكُنْ يَدَعْهُمَا أبَدًا

“Rasulullah tidak pernah sama sekali meninggalkan dua rakaat shalat sunnah fajar.”[2]

Ini juga seperti yang diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat sunnah fajar (subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.”[3]

Ibnu Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma'ad (1/315) berkata, "karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan dua rakaat shalat sunnah Subuh dan shalat witir baik ketika beliau bepergian maupun ketika mukim. Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam saat bepergian beliau selalu menjaga shalat sunnah fajar dan shalat witir lebih dari shalat sunnah lainnya. Serta tidak terdapat riwayat dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang menceritakan bahwa beliau ketika dalam perjalanan melaksanakan shalat sunnah rawatib kecuali kedua shalat tersebut"

Anjuran untuk Meringankan Shalatnya


Disunnahkan ketika melaksanakan shalat sunnah fajar agar menjadikannya ringan (tidak panjang), dengan syarat tidak melanggar kewajiban dalam shalat. Sebagaimana riwayat Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, ia berkata :

أَخْبَرَتْنِي حَفْصَةُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اعْتَكَفَ المُؤَذِّنُ لِلصُّبْحِ، وَبَدَا الصُّبْحُ، صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلاَةُ

"Aku telah dikabari oleh Hafshah, Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam jika beliau menanti muadzin untuk Subuh, dan Subuh pun tiba, maka beliau melakukan shalat qabliyah subuh dua rakaat dengan ringan sebelum melaksanakan shalat subuh."[1]

Diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha :

أنَّ رسولَ الله - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يُصَلّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالإقَامَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat dua rakaat secara cepat (ringan) di antara adzan dan iqamah shalat Subuh.”[2]

Dan riwayat lain dari Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melakukan shalat qabliyah Subuh dengan ringan, hingga aku berkata –dalam hati– apakah beliau membaca surat al-Fatihah atau tidak.”[3]

Membaca ayat Al-Qur'an setelah Al-Fatihah. Terdapat ketetapan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam beberapa riwayat tentang membaca ayat Al-Qur'an setelah membaca Al-Fatihah dalam dua rakaat shalat qabliyah Subuh:

Riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu :

أَنَّ اَلنَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ : ( قُلْ يَا أَيُّهَا اَلْكَافِرُونَ ) و : ( قُلْ هُوَ اَللَّهُ أَحَدٌ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca surat "Qul Ya Ayyuhal Kafirun" dan "Qul Huwallahu Ahad" dalam shalat sunnah qabliyah Subuh.”[4]

Riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma :

كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : يَقْرَأُ فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا...} وَ الَّتِى فِى آلِ عِمْرَانَ : {قُلْ يَأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ}

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat qabliyah Subuh beliau membaca ayat, (Quulu Amanna Billahi Wa Ma Unzila Ilaina…) dan ayat yang terdapat di surat Ali Imran (Qul Ya Ahlal Kitabi Ta'alau Ila Kalimatin Sawain Bainana Wa Bainakum).”[1][2][3]

Dalam riwayat ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pada rakaat pertama membaca ayat 136 dari surat Al-Baqarah, dan membaca ayat 64 dari surat Ali Imran, yang keduanya dibaca setelah surat Al-Fatihah.

Kadang membaca ayat Ali Imran dalam rakaat kedua diganti dengan bacaan,

فَلَمَّآ أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ

Hingga akhir ayat. Sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma[4] [5]

Penulis berkata: Bahwa yang lebih utama adalah menggunakan bacaan yang beragam sesuai dengan apa yang telah disebutkan di atas, agar sesuai dengan sunnah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu A'lam

Berbaring Pada Sisi Kanan Tubuh Setelah Mengerjakan Shalat Sunnah Fajar


Hal ini Sebagaimana riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَكَتَ المُؤَذِّنُ بِالأُولَى مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ قَامَ، فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الفَجْرِ، بَعْدَ أَنْ يَسْتَبِينَ الفَجْرُ، ثُمَّ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَنِ، حَتَّى يَأْتِيَهُ المُؤَذِّنُ لِلْإِقَامَةِ

"Suatu saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan pertama dari shalat Subuh, beliau lalu berdiri dan mengerjakan dua rakaat shalat sunnah qabliyah Subuh dengan cepat (ringan) setelah masuk waktu Subuh. Kemudian Rasulullah berbaring miring dengan bertopang di atas bagian kanan badan beliau hingga muadzin mengumandangkan iqamah.”[6]

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum berbaring secara miring yang dilakukan setelah shalat sunnah qabliyah Subuh ini:[7]


Pertama: Dianjurkan secara mutlak (mustahab mutlaq). Yang ini merupakan pendapat madzhab Syafi'i yang juga dikatakan oleh abu Musa al-Asy'ari, Rafi' ibnu Khudaij, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Ibnu Sirin dan Ahli Fikih yang tujuh.

Kedua: Wajib. Yang ini merupakan madzhab Abu Muhammad ibnu Hazm. Bahkan Ibnu Hazm mengungkapkan pendapat "aneh" dengan mengatakan bahwa berbaring miring seperti ini merupakan syarat sahnya shalat Subuh. Kemudian hal ini ditanggapi oleh Ibnu Taimiyah dengan mengatakan, "Pendapat ini satu-satunya yang menyelisihi umat"[1]

Penulis berkata: bahwa pendapat Ibnu Hazm ini berlandaskan hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu :

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى جَنْبِهِ الأَيْمَنِ

"Jika salah seorang dari kalian telah mengerjakan shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat Subuh, hendaknya ia berbaring miring dengan bertopang di atas badannya yang sebelah kanan."[2]

Sebagai jawaban: Bahwa hadits tersebut hukumnya terdapat perbedaan antara ulama dalam menghukuminya apakah lemah atau kuat. Dan seandainya hadits ini shahih sekalipun, maka kata perintah di dalam hadits tersebut bermakna anjuran –dan bukan kewajiban– sebagaimana dalam hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، فَإِنْ كُنْتُ مُسْتَيْقِظَةً حَدَّثَنِي، وَإِلَّا اضْطَجَعَ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila usai mengerjakan dua rakaat –qabliyah Subuh– maka beliau mengajaku berbicara jika aku bangun, namun jika tidak maka beliau berbaring miring.”[3]

Dengan riwayat ini secara terang dapat dipahami, bahwa Rasulullah tidak berbaringan seusai melaksanakan qabliyah Subuh jika Aisyah radhiallahu 'anha sedang bangun. Yang itu merupakan indikasi bahwa perintah Rasulullah tersebut memiliki makna "anjuran" dan bukan "kewajiban".

Dan jika dikatakan lagi bahwa: "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan suatu perintah khusus untuk umat beliau, maka perintah ini tidaklah dapat dialihkan maknanya dari arti sesungguhnya sebagaimana dalam ketentuan ilmu Ushul Fikih."

Maka penulias katakan: Hal tersebut berlaku jika hadits ini memiliki ketetapan pasti!

Ketiga: Hal tersebut makruh. Ini merupakan pendapat segolongan ulama Salaf, di antaranya Ibnu Mas'ud, Ibnu Musayyib, serta Nakh'iy. Dan Qadhi Iyyadh mengisahkannya dari jumhur ulama. Alasan mereka adalah, bahwa tidak diketahui jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan hal tersebut di dalam masjid. Seandainya saja beliau mengerjakannya, tentu akan terdapat riwayat mutawatir yang menukil hal tersebut.

Keempat: Hal tersebut tidak lebih utama. Pendapat ini diriwayatkan dari Hasan Basri

Kelima: Hal tersebut dianjurkan dengan maksud untuk istirahat bagi yang melaksanakan shalat malam. Ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnul Arabi dan Ibnu Taimiyah.

Keenam: Hal tersebut tidaklah dimaksudkan karena hakekatnya, melainkan dimaksudkan sebagai pemisah antara shalat sunnah dengan shalat fardhu. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Syafi'i. Namun pendapat ini ditolak (tidak tepat), karena jika maksudnya adalah sebagai pemisah antara shalat sunnah dan fardhu, maka dapat dilakukan dengan hal lain selain berbaringan dengan miring.

Penulis berkata: Bahwa pendapat yang lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa berbaringan secara miring seusai melaksanakan qabliyah Subuh adalah pekerjaan yang dianjurkan, dengan dua syarat:

1. Hal tersebut dilakukan di rumah dan bukan di masjid. Karena tidak ada riwayat yang menukil bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengerjakannya di masjid

2. Bahwa orang yang melakukan hal tersebut mampu untuk –menjamin– melakukan shalat Subuh dan tidak ketiduran. Wallahu A'lam.

Mengqadha Shalat Qabliyah Fajar


Siapa yang terlewat tidak mengerjakan dua rakaat qabliyah Subuh karena udzur, maka disyariatkan baginya untuk mengqadha' qabliyah Subuh ketika udzur tersebut telah hilang. Hal berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut:

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu :

عَرَّسْنَا مَعَ نَبِىِّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- "لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ". قَالَ فَفَعَلْنَا ثُمَّ دَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَصَلَّى الْغَدَاةَ

"Suatu saat kami turun bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di malam hari untuk istirahat, dan tidak terbangun hingga matahari telah terbit. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaknya setiap orang mengambil tunggangannya (beranjak pindah) karena di tempat ini terdapat setan (hingga melalaikan dari bangun)" Abu Hurairah kemudian berkata, "Kami pun melakukan lalu Rasulullah meminta air dan berwudhu’ dengannya, kemudian sujud dua kali (shalat qabliyah Subuh dua rakaat), kemudian dikumandangkan iqamah, dan beliau pun melaksanakan shalat Subuh."[1]

Hadits riwayat Qais bin Amru radhiallahu 'anhuma :

رَأَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً يُصَلِّى بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :"صَلاَةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ". فَقَالَ الرَّجُلُ : إِنِّى لَمْ أَكُنْ صَلَّيْتُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ، فَصَلَّيْتُهُمَا الآنَ. فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم

"Suatu saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melihat seorang lelaki melakukan shalat dua rakaat setelah shalat Subuh, Rasulullah kemudian berujar kepadanya, "Shalat Subuh itu –hanya– dua rakaat" Lelaki itu pun menjawab, "Sesungguhnya aku belum melaksanakan dua rakaat qabliyah Subuh, oleh karena itu aku mengerjakannya sekarang" Rasulullah pun kemudian diam (tanda setuju)."[2]

Hadits di atas tidak bertentangan dengan hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ

"Siapa yang belum melaksanakan qabliyah Subuh, hendaknya ia mengerjakannya –meskipun– setelah matahari terbit."[1]

Karena dalam hadits ini tidak secara terang menjelaskan bahwa orang yang belum melaksanakan qabliyah Subuh hendaknya ia mengerjakannya setelah matahari terbit –sebagaimana dikatakan jumhur– tidak lain hadits ini hanya memerintahkan bagi orang yang belum melaksanakan qabliyah Subuh sama sekali, hendaknya ia mengqadha'nya –meskipun– matahari telah terbit. Dan tidak diragukan jika seseorang belum melaksanakan qabliyah Subuh pada waktunya, maka ia melaksanakan shalat tersebut di luar waktunya (qadha'). Oleh karena itu, dalam hadits ini tidak terdapat petunjuk yang melarang untuk mengerjakan qabliyah Subuh setelah shalat Subuh –dan sebelum matahari terbit–. Wallahu A'lam.

Apakah Ada Shalat Tathawwu’ Lain Setelah Terbit Fajar Selain Dua Rekaat Fajar?[2]

Para ulama berbeda argumen dalam dua pendapat mengenai hal ini:

Pertama: Bahwa shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu itu selain qadha' qabliyah Subuh hukumnya adalah makruh. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas salaf. Di antara mereka adalah, Hasan Basri, Nakh'iy, Sa'id bin Musayyib, dan ulama yang ahlu ra’yi. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Abdullah bin Amru dan Ibnu Umar, hanya saja dalam sanad keduanya terdapat perdebatan.

رَآنِى ابْنُ عُمَرَ وَأَنَا أُصَلِّى بَعْدَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَقَالَ يَا يَسَارُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نُصَلِّى هَذِهِ الصَّلاَةَ فَقَالَ « لِيُبَلِّغْ شَاهِدُكُمْ غَائِبَكُمْ لاَ تُصَلُّوا بَعْدَ الْفَجْرِ إِلاَّ سَجْدَتَيْنِ

"Suatu saat Ibnu Umar melihatku mengerjakan shalat setelah terbitnya fajar dan menegurku, "Wahai Yasar, sesungguhnya Rasulullah pernah mendapati kami melakukan shalat seperti ini, kemudian beliau bersabda, "Orang yang menyaksikan –perkataanku ini– agar memberi tahu kepada yang tidak hadir; Janganlah kalian shalat setelah Subuh kecuali –qadha' shalat qabliyah Subuh– dua rakaat."[3]

Kedua: Bahwa hal tersebut tidak dilarang. Sebagaimana yang dikisahkan Ibnu Mundzir dari Hasan Basri –juga– berkata, "Bahwa Imam Malik berpendapat jika seseorang belum melaksanakan shalatnya di malam hari, hendaknya ia melaksanakannya saat itu. Inidiriwayatkan dari Bilal bin Rabbah"

Namun penulis berpendapat: bahwa pendapat pertama lebih kuat. Yang dipertegas oleh hadits riwayat Ibnu Umar dari Hafshah radhiallahu 'anha :

قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لَا يُصَلِّي إِلَّا رَكْعَتَيِ الفَجْرِ

"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam jika mentari telah terbit, beliau tidak melaksanakan shalat kecuali shalat sunnah Subuh"[1]

Hadits ini memperkuat hadits riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma yang sebelumnya –meskipun tidak terkait dengan hadits Hafshah–. Namun terdapat pengecualian bagi yang ingin mengqadha' shalat wajib ataupun melakukan shalat karena adanya suatu sebab, maka hal tersebut dibolehkan, sebagaimana telah dibahas sebelumnya dalam bab waktu-waktu yang terlarang untuk shalat di dalamnya.

Catatan Tambahan:

Berbicara setelah melakukan shalat sunnah qabliyah Subuh hukumnya tidak makruh. Berbeda dengan pendapat sebagian para sahabat Rasulullah dan juga ulama lain semisal Imam Ahmad dan Ishaq yang menyatakan bahwa berbicara setelah melaksanakan qabliyah Subuh hukumnya makruh sampai shalat Subuh itu dilaksanakan, kecuali jika dzikir atau adanya sesuatu yang mengharuskan untuk berbicara. Namun pendapat ini tidak didapati dalilnya, bahkan dalam hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha yang telah disebutkan sebelumnya terdapat penegasan sebaliknya, yaitu perkataan Aisyah radhiallahu 'anha:

فَإِنْ كُنْتُ مُسْتَيْقِظَةً حَدَّثَنِي، وَإِلَّا اضْطَجَعَ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengajakku berbicara jika aku bangun, namun jika tidak maka beliau berbaring miring.”

Tidak terdapat riwayat dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang menerangkan tentang doa –khusus– seusai melaksanakan shalat qabliyah Subuh. Dan terdapat dua hadits yang sangat lemah (dha'if jiddan) dan tidak dapat diamalkan –karena terlalu lemahnya– bahkan menurut ulama yang membolehkan mengamalkan hadits lemah dalam amalan-amalan tambahan sekalipun.[2]

Sekian, penjelasan seputar shalat fajar atau shalat sunnah sebelum subuh (qabliyah). Semoga tulisan ini bermanfaat untuk anda.

Footnote:
[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1093) dan Muslim (1191)
[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1159)
[3] Hadits Riwayat: Muslim (725), At-Tirmidzi (416)
[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (583)
[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (584)
[3] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1095) dan Muslim (1189)
[4] Hadits Riwayat: Muslim (726)
[1] Al-Qur`an Surat: Al-Baqarah: 136
[2] Al-Qur`an Surat: Ali Imran: 64
[3] Hadits Riwayat: Muslim (727), dan An-Nasa`i (2/155)
[4] Al-Qur`an Surat: Ali Imran: 52
[5] Hadits Riwayat: Muslim (727), dan Abu Daud (1259)
[6] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (590)
[7] Nailul-Authar (3/28-32), Al-Muhalla (3/196), Al-Majmu' (3/523-524)
[1] Dinukil oleh Ibnul-Qayyim dalam kitabnya Zaadul-Ma'ad (1/319)
[2] Hadits Riwayat: Abu Daud (1261), At-Tirmidzi (420), Ahmad (2/415) dan selainnya. Ibnu Taimiyah berkata; Ini Bathil dan tidaklah Shahih, karena riwayat yang shahih adalah perbuatan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan bukan perintah dari beliau untuk melakukannya. Sedangkan yang meriwayatkan tentang perintah Rasulullah. Hanya terdapat dalam riwayat Abdul Wahid bin Ziyad
[3] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1092) dan Muslim (1227)
[1] Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (423), Ibnu Khuzaimah (1117), Hakim (1/274), Ibnu Hibban (2472) dan selain mereka. Shahih
[2] Al-Ausath karya Ibnul Mundzir (2/399-400)
[3] Hadits Riwayat: Abu Daud (1624), At-Tirmidzi (417), Shahihul-Jami' (5353) Dinyatakan Shahih oleh Al-Albani
[1]Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1173), Muslim (723) dan selain mereka berdua
[2] Hal ini sebutkan oleh Al-Albani dalam kitab Tamaamul-Minnah (hal. 238-239)

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru