Iklan Atas Zona Muslim

Sejarah Kelam Peradaban Romawi Hingga Persia Sebelum Islam
4/ 5 stars - "Sejarah Kelam Peradaban Romawi Hingga Persia Sebelum Islam" Sejarah mencatat bahwa abad ke-6 dan ke-7 M, zaman sebelum Islam datang, adalah abad kemerosotan. Nilai kemanusiaan menurun drastis. Kezh...

Sejarah Kelam Peradaban Romawi Hingga Persia Sebelum Islam

Admin
Fakta sejarah kelam peradaban bangsa romawi dan persia sebelum islam

Sejarah mencatat bahwa abad ke-6 dan ke-7 M, zaman sebelum Islam datang, adalah abad kemerosotan. Nilai kemanusiaan menurun drastis. Kezhaliman merajalela. Zaman itu dlsebut zaman jahiliyah, zaman kegelapan. Saat itu, ummat manusia bodoh dalam mengenal Tuhan mereka yang sebenarnya. Pada masa itu, umumnya, tak ada satu bangsa pun yang mempunyai budi pekerti dan keutamaan yang tinggi serta tak ada pemerintahan yang didasari keadilan dan cinta. Masa itu, yang berkuasa sebagai polisi dunia adalah imperium Kerajaan Romawi di Barat dan Persia di Timur. Mereka berdua adalah negara adidaya dan penguasa dunia saat itu.

Romawi


Keadaan negara ini, menjelang datangnya Islam, amat buruk. Sistem politiknya berdasarkan pemujaan terhadap bangsa dan tanah air Romawi. Mereka memandang bangsa lain sebagai budak yang harus melayani mereka. Di Mesir dan Syam, Romawi tak pernah berpikir untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, tapi hanya mengeruk keuntungan yang sebesar-besamya atas tanah jajahannya itu. Singkatnya, setiap bangsa yang terjajah di bawah kekuasaan Romawi termasuk Persia tak pernah merasa tenteram.

Perang saudara pun terjadi terus menerus, antara penganut Nasrani, yaitu antara kelompok Malkanisme dan Monovesisme. Pertumpahan darah, penghancuran, penyiksaan, penyekapan di bawah tanah, dan perampasan tak terelakkan lagi.

Perpecahan, kegoncangan hebat, dan keruntuhan masyarakat mencapai puncaknya dalam kekuasaan Romawi Timur (Bizantium). Tingginya upeti membuat rakyat menderita. Keadaan ini sering memicu terjadinya pemberontakan. Dalam tahun 532 M, telah gugur 30.000 orang di ibukota. Sementara, para hedonis hidup bergelimang kemewahan.

Pada akhir abad 6 Romawi sudah mencapai titik terendah kemerosotannya.

Persia


Persia (Iran) ketika itu adalah sebuah negara soperpower tandingan Romawi. Selera syahwat kental terasa pada peradaban Persia ini. Persia membolehkan perkawinan dengan muhrim tanpa pengecualian. Ini bahkan dianggap sebagai perbuatan baik untuk mendekatkab diri pada Tuhan. Yazdegird II, penguasa Persia abad ke-5, menikahi anaknya sendiri lalu membunuhnya!

Pada abad ke-3, terdapat aliran Mani-isme, yang menentang merajalelanya nafsu syahwat dengan membujang. Aliran ini ditentang oleh ajaran Mazdak (487 M), yang kemudian menjadi aliran mayoritas. Mazdak mengajarkan bahwa manusia lahir dan hidup dalam keadaan sama. Kekayaan dan wanita harus dipersamakan dan dikolektifkan. Aliran ini membolehkan menggauli semua wanita dan mengambil harta milik orang lain, seperti manusia bebas memanfaatkan air dan padang penggembalaan.

Masyarakat Persia ditegakkan atas dasar perbedaan keturunan dan profesi. Sistem politiknya ditegakkan atas dasar pemujaan terhadap dinasti tertentu. Raja-raja mereka yang bergelar Kisra, menganggap bahwa dalam diri mereka mengalir darah Tuhan. Sehingga masyarakat memandang bahwa raja adalah Tuhan.

Sistem politik dan ekonomi di sana tak pernah stabil. Setiap kerugian perang dibebankan kepada rakyat. Pemungutan pajak tinggi. Sementara, orang-orang istana terus berfoya-foya. Peraturan-peraturan dibuat untuk menyedot kekayaan rakyat, termasuk kaum tani, pedagang kecil, dan pengrajin.

Mereka beragama Majusi. Tapi, mereka tetap berlaku Hedon. Tak beda dengan kaum musyrik. Mereka pun menghalalkan segala cara demi kepuasan nafsunya.

Eropa


Bangsa Eropa di bagian utara dan barat masih terbenam dalam kegelapan. Buta huruf merajalela. Peperangan antar mereka terus berkobar. Peradaban masih amat terbelakang. Dunia tidak mengenal mereka, dan mereka pun tak mengenal dunia.

Robert Briffault berkata, "Dari abad ke-5 sampai abad ke-10, Eropa terbenam dalam malam gelap gulita. Malam itu makin gelap dan pekat. Ketika itu kebiadaban Eropa lebih mengerikan ketimbang peradaban zaman kuno. Eropa bagai bangkai peradaban besar yang telah membusuk. Ciri-ciri peradabannya telah pudar dan memang harus punah....”

Yahudi


Bangsa Yahudi bertebaran di Eropa, Asia, dan Afrika. Mereka tak menjadi faktor penting peradaban. Politik dan agamanya tak berpengaruh terhadap bangsa lain. Malah sebaliknya, mereka bernasib buruk. dikuasai bangsa lain. Mereka dijadikan sasaran pengejaran pembuangan, penindasan, dan pengusiran.

Semua itu berpengaruh terhadap mental mereka rendah diri dlsaat lemah, bengis dan berlaku kasar disaat jaya, gemar menipu dan bersifat munafik dalam keadaan biasa. Juga bengis, kejam, egois, dan suka makan harta orang lain dengan batil serta menghalang halangi manusia dari jalan Allah. Al Quran juga menecrikatan sifat-sifat mereka kebejatan moral, kemerosotan jiwa, dan kebobrokan masyarakat. Ini yang menyebabkan mereka dikucilkan dari kepemimpinan bangsa-bangsa di dunia saat itu.

Asia Tengah dan Cina


Bangsa-bangsa seperti Mongol, Turki, dan Jepang masih berada dalam periode peralihan antara zaman peradaban dan kebiadaban. Mereka terpengaruh Buddhisme dan keberhalaan sesat. Dalam hal pemikiran, mereka masih primitif.

Sementara, orang Cina mempercayai raja mereka sebagai Maharaja Putra Langit yang boleh melakukan apa saja menurut kehendaknya. Ketika raja mati, mereka berkabung dengan cara menusuki wajah dengan jarum, menggunduli kepala, dan memukuli kepala sendiri. Tampaknya, Filsafat Cina yang masyhur dan kaya nilai etika itu tak membekas dalam hati mereka.

India


Pada masa itu, keadaan di India berada dalam titik kemrosotan yang terendah. Ciri-cirinya: sangat banyaknya benda benda sembahan. Masyarakat punya tuhan khusus untuk masing-masing urusan atau menyembah beberapa tuhan secara bersamaan.

Gelombang pelampiasan nafsu seksual pun cukup menggelora. Banyak sekali kisah hinduisme yang menceritakan hubungan suami-isteri antar tuhan. Bahkan ada tuhan yang menyerbu satu keluarga untuk melampiaskan seleranya itu. Dalam kerajaan, dipertemukan pria dan wanita. Kalau mereka mabuk, mereka berzina semaunya. Bahkan, kuil-kuil dijadikan sebagai pusat perzinaan besar-besaran.

Sistem kasta yang diterapkan telah merusak sendi-sendi kehidupan sosial. Kasta Brahmana adalah orang tanpa dosa. Bila berbuat salah, tak boleh ia dihukum mati, tapi diganti dengan hukuman digunduli kepalanya. Sementara kasta terendah, Sudra, diperlakukan lebih rendah dari hewan. Bila menggurui orang berkasta Brahmana, ia dihukum dengan disiram minyak panas. Denda orang yang membunuhnya, sama dengan denda karena membunuh cicak atau katak. Wanita adalah budak yang bisa dijadikan barang taruhan.

Arab


Kejahiliyahan masyarakat Arab pada masa ini bukan kebodohan intelektual. Bangsa Arab saat itu terkenal akan kecakapan berbahasa yang tinggi nilainya. Mareka pandai bersyair, kuat ingatannya, dan mudah dalam menghafal. Tapi mereka bodoh dalam mengenal tuhan. Mereka menganggap, Allah tak mendengar do'a-do'a mereka. Untuk mendekatkan diri kepada Allah, mereka membuat berhala-berhala sebagai perantara.

Riba dianggap wajar saat itu, sebagaimana perzinaan, dan kumpul kebo. Wanita jadi sasaran empuk penipuan dan penindasan. Hak-haknya dirampas, kekayaannya diserobot. Mereka tak punya hak waris sama sekali. Bahkan, mereka termasuk harta yang bisa diwariskan. Sang suami boleh memperlakukan mereka seenaknya. Ada makanan khusus yang terlarang buat wanita.

Satu hal lagi yang sangat menonjol. Fanatisme kesukuan dan darah keturunan yang amat tinggi. Moto mereka: belalah saudaramu, benar atau salah. Karena itu, peperangan dan pembunuhan dapat terjadi tanpa alasan penting.

Islam Datang


Islam datang pada saat dunia dalam keadaan kacau. Islam benar-benar berperan sebagai sistem hidup universal yang memperbaiki dunia

Teknologi maju pesat bersamaan dengan datangnya Islam. Pada abad ke-2 Hijriyah, ummat Islam telah berkeliling dunia dan berhasil membuat peta dunia. Saat itu, Barat sama sekali buta terhadap pelayaran. Di pusat kekhalifahan Islam pada abad pertengahan, dunia makin benderang karena listrik telah ditemukan. Sementara, suasana di Barat masih gelap.

Saat Ibnu Sina menemukan ilmu bedah, obat bius, dan bayi tabung, Barat hampir tak tahu apa-apa tentang kedokteran. Ketika jam dan teropong ditemukan di tanah Arab, Robinhood dan bangsanya hanya melongo keheranan (sebagaimana diperlihatkan dalam film Robinhood, Prince of Thief).

Hingga kini, tak ada satupun peradaban yang lepas dari pengait ruh Islam. Tidak juga Eropa dan Amerika. Robert Briffault berkata, “Tidak satupun segi-segi kemajuan di Eropa yang tidak mendapat jasa-jasa besar dari peradaban Islam dan dari peninggalannya yang mempunyai pengaruh besar.”

Katanya lagi, “Bukan ilmu Fisika yang berasal dari orang Arab yang menghidupkan kembali Eropa, akan tetapi peradaban Islam telah banyak mempengaruhi berbagai cabang kehidupan di Eropa sejak memancarkan sinarnya yang pertama di benua itu.”

Berkata Sayyid Quthb, “Menurut hakikat maknanya, kejahiliyahan (kegelapan) bukan hanya terdapat pada suatu zaman, melainkan ia adalah watak, mental, dan pemikiran tertentu. Suatu watak yang muncul dalam bentuk menonjol dengan merosotnya nilai-nilai yang dikehendaki Allah dalam kehidupan manusia dan di gantikannya dengan nilai-nilai buatan manusia berdasarkan tuntutan-tuntutan selera syahwat. Nilai-nilai palsu itulah yang dewasa ini tengah menguasai kehidupan umat manusia dalam tingkat kemajuannya sekarang ini, seperti zaman barbarisme yang juga dulu menguasai kehidupan.” Wallahu a'lamu.


Sumber: Majalah Ishlah, edisi th 1995

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru