Iklan Atas Zona Muslim

Mau Buka Usaha? Baca Dulu Penjelasan Berikut Ini!
4/ 5 stars - "Mau Buka Usaha? Baca Dulu Penjelasan Berikut Ini!" Khalifah umar bin Khattab pernah berkata : Janganlah berdagang di pasar kami sampai dia memahami betul mengenai seluk beluk riba. (Kitab...

Mau Buka Usaha? Baca Dulu Penjelasan Berikut Ini!

Admin

Khalifah umar bin Khattab pernah berkata : Janganlah berdagang di pasar kami sampai dia memahami betul mengenai seluk beluk riba. (Kitab Mughni Muhtaj). Perkataan Umar ini sangat penting direnungkan, mengingat dunia perdagangan sangat rentan terjadinya kecurangan dan aneka kedzoliman, terlebih lagi praktek ribawi yang tidak jarang kita temui pada kalangan pengusaha dari berbagai tingkatannya.

Diantara hukum transaksi jual beli adalah syarat-syarat jual beli. Dalam transaksi jual beli ada empat syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya jual beli: dengan perincian sebagai berikut :


  • Syarat berlangsung
  • Syarat sah
  • Syarat berlaku
  • Syarat pembakuan


Tujuan dari berbagai syarat diatas tiada lain adalah agar terhindar dari perselisihan serta menjaga kemaslahatan pembeli dan penjual, menghindari penipuan dan hal-hal yang merugikan karena ketidak tahuan. [5]

I. Syarat berlangsung


Syarat ini yang menentukan terjadi atau tidaknya suatu transaksi. Ada empat syarat:


  1. Syarat yang berhubungan dengan pelaku transaksi (penjual/pembeli)
  2. Syarat yang berhubungan dengan objek transaksi


Pertama: Syarat yang berhubungan dengan pelaku transaksi ada dua macam:

Pelaku transaksi adalah orang yang diperbolehkan –menurut agama- untuk berinteraksi dengan harta. Yaitu orang yang memiliki sifat: merdeka, baligh, berakal dan cerdik.

Merdeka: Sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam-: Bagi siapa menjual seorang budak yang mempunyai harta, maka hartanya adalah milik penjual kecuali telah dijadikan syarat oleh pembeli. [1]

Dari hadits ini, maka tidak sah menjual seorang budak kecuali atas izin pemilik, begitu pula harta yang ia miliki.

Baligh. Firman Allah -subhanahu wa ta`ala-:

وَابتَلُوا اليَتٰمىٰ حَتّىٰ إِذا بَلَغُوا النِّكاحَ فَإِن ءانَستُم مِنهُم رُشدًا فَادفَعوا إِلَيهِم أَموٰلَهُمۖ

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (Al-Qur'an, Surat Al-Nisa; 6)

Allah -subhanahu wa ta`ala- mensyaratkan dua syarat untuk mengangkat harta mereka: telah cukup umur untuk nikah (baligh) dan cerdas.

Sabda Nabi Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam-:

رفع القلم عن ثلاثة: عن الصبي حتي يبلغ، وعن النائم حتي يستيقظ، و عن المجنون حتي يفيق

Kesalahan terhapus (tidak dicatat) pada tiga orang: orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga mimpi (keluar mani) dan dari orang gila hingga sadar.[2]

Sahkah Transaksi Jual Beli Anak Kecil?


Seorang anak kecil yang belum cerdik menurut madzhab syafi`iyah dan Hanafiyyah transaksi jual belinya tidak sah.[3]

Adapun anak yang sudah cerdik, ada perbedaan:

Pertama: Transaksi jual belinya tidak sah, meski mendapat izin dari wali atau tidak, sebab dia belum masuk kategori mukallaf, sehingga hukumnya disamakan dengan yang belum cerdik. Pendapat imam syafi`i dan disepakati oleh Abu tsaur.

Kedua: Transaksinya sah akan tetapi harus mendapat izin dari walinya. Pendapat imam Ahmad, Abu Hanifah, ishaq dan Sufyan al-Tsauri. [1]

Ketiga: Transaksi sah meski tidak ada izin dari wali, namun dengan -zhan- ada izin dari wali. Salah satu riwayat dari Abu Hanifah.

Tentang Interaksi Seorang Anak Kecil Yang Sudah Cerdik


Interaksi seorang anak kecil yang sudah cerdik namun belum baligh secara umum dapat dibagi dalam tiga sub:

Interaksi untuk sesuatu yang bermanfaat, seperti: hibah, sedekah, wasiat dan jaminan hutang. Transaksi semacam ini boleh dan sah, melihat pada manfaat yang dihasilkan.

Interaksi untuk sesuatu yang membawa kerugian, seperti: apabila dia diberi harta, lalu menggunakan untuk sesuatu yang tidak dibenarkan karena kurang akalnya. Pada masalah ini Allah telah mengingatkan –terutama- untuk wali anak yatim:

فَإِن ءانَستُم مِنهُم رُشدًا فَادفَعوا إِلَيهِم أَموٰلَهُم

Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (Al-Qur'an, Surat Al-Nisa; 6)

Sesuatu yang berpotensi untuk maslahat dan kerugian, seperti: latihan transaksi jual beli, sewa menyewa, nikah dan transaksi pertanian. Transaksi-transaksi tersebut akan sah apabila mendapat izin dari wali, sebab izin tersebut telah menutup ketidak berhakan anak tersebut perihal peninteraksian harta. [2]

Pendapat Yang Kuat


Penulis berkata: Secara zahir transaksi yang dilakukan anak kecil yang sudah cerdik tidak sah. Allah Maha Tahu.

Sebab Allah -subhanahu wa ta`ala- menjadikan baligh sebagai tolak ukur keabsahan taklif. Ia juga menjadi penanda sempurnanya nalar.

Firman Allah -subhanahu wa ta`ala-

وَابتَلُوا اليَتٰمىٰ حَتّىٰ إِذا بَلَغُوا النِّكاحَ فَإِن ءانَستُم مِنهُم رُشدًا فَادفَعوا إِلَيهِم أَموٰلَهُم

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. (Al-Qur'an, Surat Al-Nisa; 6)

Sabda Nabi Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam-:

رفع القلم عن ثلاثة: عن الصبي حتي يبلغ، وعن النائم حتي يستيقظ، و عن المجنون حتي يفيق

Kesalahan dihapus (tidak dicatat) pada tiga orang: orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga mimpi (keluar mani) dan dari orang gila hingga sadar.

Namun apabila si wali mengizinkannya untuk melakukan transaksi, maka yang dijadikan pegangan adalah izin tersebut, bukan transaksi seorang mukallaf. Allah -subhanahu wa ta`ala- juga memerintahkan untuk mengimlakannya dan mengambil alih interaksi tersebut. Firman Allah Subhanahu wata'ala :

فَإِن كانَ الَّذى عَلَيهِ الحَقُّ سَفيهًا أَو ضَعيفًا أَو لا يَستَطيعُ أَن يُمِلَّ هُوَ فَليُملِل وَلِيُّهُ بِالعَدلِ

Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. (Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah; 282) [1]

Sahkah Transaksi Seorang Yang Kurang Akalnya?


Pengertian Orang bodoh: kurang akalnya yang menjadikan orang tersebut tidak stabil. Terkadang berprilaku seperti orang waras, namun terkadang seperti orang yang kehilangan akal. [2]

Kaitannya dengan sahnya transaksi yang dilakukan, ada dua pendapat:

Transaksi jual belinya tidak sah, menurut imam syafi`i. [3]

Transaksinya sah, jika menyangkut hal yang ringan meski tanpa adanya izin dari wali. Menurut kebanyakan pengikut Hanabilah. [4]

Penulis berkata: Secara umum orang bodoh ada dua macam:

Keadaannya yang mendominasi seperti seorang yang kehilangan akal. Jika demikian maka transaksi yang dilakukannya tidak sah.

Keadaannya yang mendominasi seperti orang yang berakal. Maka transaksi yang dilakukan sah. Sebab Nabi Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda:

(رفع القلم عن ثلاثة: عن الصبي حتي يبلغ، وعن النائم حتي يستيقظ، و عن المجنون حتي يفيق)

Kesalahan dihapus (tidak dicatat) pada tiga orang: orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga mimpi (keluar mani) dan dari orang gila hingga sadar. [5]

Sahkah Transaksi Jual Beli Orang Yang Buta?


Dalam masalah ini ada dua pendapat:

Pertama: Praktek muamalat yang dilakukannya seperti; jual beli, sewa, gadai dan lain sebagainya tidak sah. Sebab dia tidak bisa melihat obyek transaksi, sehingga disamakan dengan transaksi yang ghaib. Pendapat Syafi`iyyah dan disetujui oleh Ibn Hazm. [1]

Kedua: Boleh, apabila ada orang yang mendeskripsikan obyek transaksi tersebut. Sehingga deskripsi tersebut bisa menempati kedudukan ru’yah (mengamati obyek transaksi). Pendapat Malik, Abu Hanifah dan Ahmad. [2]

Ibn Hazm mensyaratkan adanya ru’yah atau mendeskripsikan obyek transaksi tersebut. [3] Senada dengan Ibn Hazm, imam As-Syaukani menganggap transaksi seperti itu sah, sebab unsur kepuasan dan rela sudah terpenuhi. Yang mana kedua unsur tersebut adalah inti yang harus dipenuhi dalam suatu transaksi. [4]

Penulis berkata: Pendapat kedua lebih relevan. Allah Maha Tahu.

Berakal: Berdasarkan pada hadits:

رفع القلم عن ثلاثة: عن الصبي حتي يبلغ، وعن النائم حتي يستيقظ، و عن المجنون حتي يفيق

Kesalahan dihapus (tidak dicatat) pada tiga orang: orang tidur hingga terbangun, anak kecil hingga mimpi (keluar mani) dan dari orang gila hingga sadar. [5]

Hadits diatas mengecualikan orang yang tidak berakal (gila).

Rasyid (cerdas): Berdasarkan firman Allah -subhanahu wa ta`ala-

فَإِن ءانَستُم مِنهُم رُشدًا فَادفَعوا إِلَيهِم أَموٰلَهُم

Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta). (Al-Qur'an, Surat Al-Nisa: 6)

Rasyid: adalah orang yang bisa menggunakan hartanya dengan baik, tidak menggunakannya untuk hal-hal yang diharamkan, serta sesuatu yang tidak bermanfaat.

Ini mengecualikan orang bodoh (kurang akal) [6] sebagai salah satu syarat, menurut pendapat Syafi`iyyah, malikiyyah dan Hanabilah. [7]

Pembahasan tentang transaksi yang dilakukan oleh orang bodoh sudah dipaparkan di atas.

Keduanya (penjual dan pembeli) adalah pemilik sah barang yang transaksi dijadikan obyek transaksi, atau dalam kedudukan pemilik, [8] menurut Malikiyyah dan Hanabilah.

قال رسول الله لحكيم: لا تبع ما ليس عندك

Rasulullah berkata kepada Hakim bin Hizam: Janganlah kamu menjual apa yang bukan milikmu. [1]

Al-Wazir berkata: Para ahli fiqih telah sepakat bahwa menjual sesuatu yang bukan miliknya adalah tidak boleh.

Catatan penting:


Madzhab hanafiyyah memberi syarat bahwa pelaku transaksi harus lebih dari satu. Sehingga transaksi jual beli yang dilakukan hanya oleh satu orang tidak sah. Mereka mensyaratkan ijab dilakukan oleh seseorang dan qabulnya dilakukan oleh orang yang berbeda. Kecuali ayah, pewasiat, qadhi dan utusan dari kedua belah pihak. Mereka semua menduduki posisi sebagai penjual sekaligus pembeli, dan ini merupakan syarat yang tidak ada dalil teksnya.

Imam Al-Syaukani berkata: Telah aku beritahukan kepadamu bahwa jual-beli adalah tentang ridha. Maka boleh saja hal tersebut dipegang oleh satu orang sebagaimana telah dilakukan Nabi Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam-, beliau memegang transaksi nikah untuk dua orang, suami dan istri.

Diriwayatkan dari `Uqbah bin `Amir -radhiyallahu `anhu-:

ان النبي قال لرجل: أترضي ان أزوجك فلانة؟ قال: نعم، قال لفلانة: أترضين ان أزوجك فلانا؟ قالت: نعم. فزوج أحدهما صاحبه

Bahwa Nabi Muhammad -shallallahu `alaihi wa sallam- berkata kepada seorang laki-laki: apakah kamu rela aku nikahkan dengan fulanah? Dia menjawab: iya, lalu Nabi bertanya kepada fulanah: apakah kamu rela aku nikahkan dengan si fulan? Dia menjawab: iya. Lalu dinikahkannya keduanya…. [2]

Kesimpulannya: Pada dasarnya tidak ada larangan, maka bagi siapa yang menganggap larangan tersebut ada maka ini alasannya. [3]

Penulis berkata: Seperti halnya hadits diatas, ada hadits mu’allaq yang diriwayatkan oleh imam Al-Bukhariy dengan tegas bahwa: Ummu Hakim Binti Qaridz berkata kepada `Abdurrahman bin `Auf: banyak orang yang telah mencoba melamarku, maka nikahkan aku kepada siapapun yang engkau lihat (pilih) di antara mereka. Lalu Abdurrahman berkata: apakah kamu menyerahkan sepenuhnya urusanmu kepadaku? Dia menjawab: ya. Lalu `Abdurrahman berkata: Telah aku nikahkan kamu. Ibn Abi Dzuaib berkata: Pernikahan yang dilakukannya adalah sah. [4]

Footnote:
[5] Al-Fiqh al-Islami wa adillatuh, 3317
[1] Hadits Shahih, Diriwayatkan oleh Al-Bukhary no. 2204. Imam Muslim no. 1543
[2] Hadits Shahih
[3] Al-Majmu: IX/148. Rad al-Mukhtar: VII/11
[1]  Al-Inshaf, Al-Muradiy: IV/256
[2]  Al-Fiqih wa Adillatuhu: V/3317-3319. Taisir Ushul Al-Fiqih, Al-Jadi': 88. Al-Wadhih, Al-Asyqar: 62
[1] Al-Sail al-Jarrar: III/ 8
[2] Taisir Ushul al-Fiqh, hal. 90
[3] Al-Majmu: IX/ 147
[4] Al-Inshaf: IV/ 256
[5] Hadits Shahih, Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy, Ibn Majah dan selainnya.
[1] Al-Majmu: IX/ 287-288. Al-Muhalla: VIII/ 342
[2] Al-Majmu: IX/ 287
[3] Al-Majmu: IX/ 287
[4] Al-Sail, Al-Syaukani: II/11
[5] Hadits Shahih
[6] Al-Syarh al-Mumti': VIII/ 125
[7] Al-Fiqih al-Islamiy wa Adillatuh: V/3354-3361
[8] Al-Mulakhas al-Fiqihiy, Syeikh Fauzan: IX/ 8, Mausu’ah al-Fiqh al-Kuwaitiyah, hal. 3355-3364
[1] Hadits Shahih, Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1250. Abu Daud no. 2486. An-Nasa'iy no. 71289. Ibn Majah no.2187
[2] Al-Majmu: IX/287
[3] Al-Muhalla: VIII/ 342
[4] Al-Sail, Al-Syaukani: II/ 11

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru