Iklan Atas Zona Muslim

Macam-Macam Najis Dan Cara Membersihkannya
4/ 5 stars - "Macam-Macam Najis Dan Cara Membersihkannya" Berikut ini adalah penjelasan tentang macam macam Najis Yang Terdapat Dalam Nash Al-quran dan Hadits 1. Kotoran dan air seni manus...

Macam-Macam Najis Dan Cara Membersihkannya

Admin
Macam macam najis dan cara membersihkannya

Berikut ini adalah penjelasan tentang macam macam Najis Yang Terdapat Dalam Nash Al-quran dan Hadits

1. Kotoran dan air seni manusia.


Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda mengenai kotoran manusia “Apabila salah satu dari kamu menginjak kotoran dengan sendalnya maka debu/tanah dapat menjadi penyucinya”. [1]

Adapaun mengenai urusan kencing, Anas ibn Malik mengatakan bahwa “Seorang Arab datang ke masjid lalu kencing disalah satu sudutnya, maka oang-orang pun ingin mengusirnya, akan tetapi nabi shallallahu ’alaihi wasallam melarang. Setelah orang tersebut selesai dari kencingnya, nabi meminta setimba air lalu menyirami bekas kencing Arab badui tersebut”.[2]

2. Madzi dan Wadi


Mazi ialah air yang keluar dari kemaluan. Air ini bening dan lengket. Keluarnya air ini disebabkan syahwat yang muncul ketika membayangkan jima’(hubungan seksual) atau ketika pasangan suami istri bercumbu rayu. Keluarnya air ini tidak memancar. Tidak juga menyebabkan lemas. Dan terkadang madzi keluar tanpa disadari.

Air madzi dapat terjadi pada laki-laki dan wanita, meskipun lebih banyak terjadi pada wanita.[3]Hukum air madzi adalah najis. Maka dari itu Rasullullah shallallahu ’alaihi wasallammemerintahkan untuk mencuci kemaluan setelah keluar air madzi.

“Seseorang bertanya kepada nabi shallallahu ’alaihi wasallam tentang air madzi, rasul shallallahu ’alaihi wasallam menjawab cucilah kemuadian berwudhu.”(Hadits Riwayat: Muslim Bukhari).

Sedangkan yang dimaksud dengan wadi adalah cairan putih kental yang keluar dari kemaluan seorang setelah kencing, dan hukumnya najis.

3. Darah Haid


Asma binti Abu Bakar berkata “Datang seorang wanita menghadap nabi shallallahu ’alaihi wasallam bertanya masalah darah haid. Wanita itu berkata “Wahai Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam salah satu bajuku terkena darah haid, bagaimana aku membersihkannya? Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjawab “keriklah baju tersebut serta gosoklah pakaian yang terkena darah haid kemudian perciki dengan air lalu shalatlah menggunakan pakaian tersebut.”[4]

Maka perintah untuk membersihkannya merupakan dalil bahwa darah haid hukumnya najis.

Lain halnya dengan darah segar yang keluar dari tubuh manusia ataupun hewan yang dagingnya dimakan, sebagian ulama mengatakan bahwa darah tersebut najis. Namun sebagian lagi mengatakan suci. Ulama yang mengatakan najis tidak akan berpaling kepada ulama modern yang mencoba mencari dalil perkara yang telah ditetapkan hukumya. Apabila belum ditetapkan asalnya adalah suci. Wallahu ‘alam

4. Kotoran hewan yang tidak dimakan dagingnya


Abdullah berkata, “Ketika nabi shallallahu ’alaihi wasallam hendak buang air besar, nabi berkata” beri aku tiga batu. Kemudian aku memberi dua batu dan kotoran keledai, diambil oleh nabi shallallahu ’alaihi wasallam kedua batu tersebut dan membuang kotoran keledai. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam berkata,” kotoran itu najis.” [1]

Hadis ini menunjukkan bahwa kotoran hewan yang dagingnya tidak dimakan adalah najis. Beda lagi dengan hewan yang dagingnya dikonsumsi, apabila tidak banyak diberi makan kotoran, maka kencing, kotoran, susunya, dan bermain dengannya merupakan hal yang suci, dalam artian dibolehkan.

5. Air liur anjing


Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah satu bejana kepunyaanmu terkena air liur anjing, maka cucuilah tujuh kali salah satunya dengan tanah.”[2]

Hadis diatas menunjukkan bahwa hukum air liur anjing adalah najis. Adapun anggota badan lainnya (anjing) adalah suci. Baik itu kulit ataupun bulunya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, dan Abu Daud dengan sanad yag shahih. Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Tatkala saya berdiam disuatu masjid di zaman nabi shallallahu ’alaihi wasallam ada seekor anjing yang berputar-putar dan kencing disana, akan tetapi tidak disiram tempat tersebut”.

Walaupun demikian kita tetap disunahkan untuk menyirami tempat yang telah dilalui oleh anjing. Dengan dalil hadis riwayat Nasai dengan sanad yang shahih. Maimunah berkata “Sesungguhnya di rumahku telah dilewati anjing, kemudian nabi mengusirnya dan menyirami tempat tersebut dengan air.”

6. Babi


Seluruh ulama sepakat tentang haram dan najisnya daging dan seluruh hal yang berkaitan dengan babi. Allah berfirman dalam surah al-An’am ayat 145

قُل لَّا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Siapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

7. Bangkai


Yang dimaksud dengan bangkai ialah sesuatu yang mati dengan wajar tanpa disembelih dan hukumnya adalah najis. Sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam “Jika kulit bangkai di samak, maka hukumnya suci”.(Hadits Riwayat: Muslim)

Adapun pengecualian:

a. Bangkai ikan dan belalang. Kedua bangkai binatang ini adalah suci, dan boleh untuk dimakan. Ibn Umar berkata “Halal bagi kita dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai ialah bangkai ikan dan belalang. Adapun dua darah adalah hati dan limpa.”[1]

b. Bangkai makhluk yang darahnya tidak mengalir. Seperti lalat, lebah, semut, kutu dan sejenisnya.

Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda “Jika ada seekor lalat yang masuk kedalam salah satu bejana kamu yang berisi air, maka celupkan seluruh badan lalat tersebut kedalamnya kemudian keluarkanlah, sesungguhnya salah satu dari sayapnya mengandung penyakit dan lainnya adalah obat.”[2]

c. Bangkai hewan yang bertubuh besar

Bangkai hewan yang bertubuh besar, kuku,rambut, dan bulunya hukum asalnya adalah suci.

Hal itu telah disandarkan dalam kitab Bukhari jilid 1 hadis no. 342. Zuhri berkata“Bangkai hewan besar seperti gajah dan lainnya. seseorang dari ulama menyisir dengan bangkai tersebut dan menggosok darinya, dan tidak dikatakan tidak boleh. Himad berkata,” tidak masalah dengan bulunya.”

8. Air liur anjing hitam


Atau dilatih dan hewan melata yang tidak dimakan dagingnya

Makna liur adalah sesuatu yang tertinggal di bejana setelah diminum.

Adapun dalil perkara najis diatas dari hadis nabi shallallahu ’alaihi wasallam “Seorang laki-laki bertanya tentang air di padang pasir yang kemungkinan diminum oleh anjing dan hewan melata. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjawab “apabila airnya lebih dari dua kullah maka tidak najis”[1]

Lain halnya dengan liur kucing. Hukum liur kucing adalah suci. Sebagaimana hadis nabishallallahu ’alaihi wasallam “Sesungguhnya liur kucing tidak najis, karena termasuk hewan yang mengelilingi kamu dan dikelilingi.[2]

Permasalahan:

Dalam kitab fikih lainnya disebutkan bahwa muntah, nanah, yang bercampur darah dan lainnya merupakan hal-hal yang najis. Akan tetapi hal tersebut belum memiliki dalil yang kuat. Apakah hal-hal diatas najis ataukan tidak. Maka kita menghukumi hal-hal diatas suci. Wallahu a’lam.

Cara Membersihkan Najis


Setelah kita mengetahui hal-hal apa saja yang termasuk kedalam najis, maka kita perlu mengetahui bagaimana cara membersihkannya. Pada dasarnya syariat Islam telah menjelaskan secara gamblang mengenai hal ini.

1. Air merupakan bahan pokok dalam bersuci. Maka tidak ada yang dapat menggantikannya kecuali hal yang telah ditentukan didalam syariat.


2. Cara membersihkan baju yang terkena darah haid


Caranya dengan menggaruk, mengerik, ataupun menggosok-gosok pakaian yang terkena darah haid dengan jari kemudian dibasuh dengan air sampai bersih.

Aisyah berkata “Sesungguhnya salah satu dari kami sedang haid, kemudian bajunya tertetesi darah haid ketika sedang membersihkannya, maka baju tersebut dibersihkan dan diperciki dengan air kemudian digunakan untuk shalat.”[3]

Namun apabila seorang wanita ingin membersihkan baju tersebut dengan air dan sabun maka itu perkara yang lebih baik.

Hadis Ummu Qusay bintu Mahson, dia berkata ”Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ditanya mengenai darah haid yang ada di baju, nabi shallallahu ’alaihi wasallam menjawab “Gosoklah dengan kuat kemudian cucilah dengan air bunga sidr.”[4]

3. Membersihkan pakaian dari air kencing anak laki-laki yang menyusui


Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda “Mengaliri bekas kencing wanita kecil, dan memerciki bekas kencing bayi laki-laki”.[1]

4. Membersihkan pakaian yang terkena air madzi


Apabila air madzi terkena pakaian maka cukup diperciki dengan air pada bagian baju yang terkena air madzi. Sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam terhadap seseorang yang pakaiannya terkena air madzi “Cukuplah bagimu mengambil segenggam air kemudian engkau percikkan bagian yang terkena air madzi tersebut.” (Hadits Riwayat: Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

5. Membersihkan bagian bawah baju wanita. 

Apabila bagian bawah baju seorang wanita bernajis, maka hukumnya suci dikarenakan menyentuh tanah yang bersih. Salah seorang istri nabi shallallahu ’alaihi wasallam Ummu Salamah bertanya kepada nabi shallallahu ’alaihi wasallam, dia berkata “Sesungguhnya aku memiliki bagian bawah baju yang panjang kemudian aku berjalan ditempat yang kotor. Ummu Salamah berkata, “Sesungguhnya nabi shallallahu ’alaihi wasallam telah bersabda bersihkanlah sesuatu setelahnya”.[2]

6. Membersihkan bagian bawah sandal/sepatu.


Dari Abi Sa’id bahwa nabi shallallahu ’alaihi wasallam berkata “Jika seorang diantara kalian datang ke masjid kemudian membalikan sendalnya sampai terlihat bagian bawah dari kedua sendalnya. Dan apabila terdapat najis maka bersihkanlah dengan tanah kemudian shalat dengan keduanya.” [3]

7. Membersihkan bejana yang terkena jilatan anjing.


Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda dari Abi Hurairah “Sucikanlah bejana salah satu diantara kalian sebanyak tujuh kali salah satunya dengan debu/tanah, apabila bejana tersebut terkena jilatan anjing.”[4]

8. Membersihkan kulit mayat yang disamak.


Sebagaimana diriwayatkan oleh muslim, nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengatakan “Apabila menyamak kulit maka bersihkanlah.”[5]

9. Membersihkan lantai dari air kencing dan sejenisnya


Sama seperti yang dilakukan nabi shallallahu ’alaihi wasallam kepada orang Arab yang kencing dimasjid. Dimana nabi shallallahu ’alaihi wasallam memerintahkan melakukakan hal itu untuk menyegerakan kebersihan, namun apabila najis tersebut tertinggal sampai kering dan meninggalkan bekas maka lantainya dianggap suci

10. Membersihkan sumur atau lemak jika terdapat di dalamnya najis


Menghilangkan bagian yang terkena najis dan disekitarnya. Adapun sisanya itu suci. (Bukhari; bab 34). Bahwa nabi shallallahu ’alaihi wasallam ditanya tentang tikus yang jatuh kedalam lemak, beliau menjawab “Buanglah tikus tersebut dan bagian disekitarnya lalu makanlah sisalemak tersebut

11. Ketika berubahnya wujud inti najis


Tatkala wujud najis mengalami perubahan menjadi sesuatu yang suci maka sifat kenajisannya hilang dan hukumnya menjadi suci. Seperti berubahnya tinja menjadi debu.

12. Apabila baju seorang wanita dijatuhi asi maka tidak dosa baginya dan tidak diwajibkan untuk mandi. Karena asi merupakan sesuatu yang suci dan bukan najis. Seperti perkataan Ibrahim Nukh’I, Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya (1/172) dengan sanad hasan.[1]

Demikian penjelasan tentang Macam-Macam najis dan cara membersihkannya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Footnote:

[1] Hadits Riwayat: Abu Daud (381) dengan sanad yang shahih
[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (6020), Muslim (284)
[3] Lihat Fathul Bari (1/379), dan syarah Muslim untuk imam Nawawi (1/599)
[4] Hadits Riwayat: al-Bukhari (227), Muslim(291)
[1] Hadits Riwayat:  Bukhari dan lainnya. Bukhari tidak menggunakan kata keledai
[2] Diriwayatkan oleh Muslim
[1] Diriwayatkan imam Ahmad dengan sanad yang shahih
[2] Diriwayatkan oleh Bukhari
[1] Hadits Riwayat: Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasai.
[2] Hadits Riwayat: Ahmad (5/303)
[3] Hadits Riwayat: Bukhari dan Ibnu Majah
[4] Hadits Riwayat:  Abu Daud(363), Nasai(1/195), Ibnu Majah[628] hadits hasan
[1] Hadits Riwayat:  Abu Daud [367], Nasai[1/158], Ibnu Majah[526] shahih lighairi
[2] Hadits Riwayat:  Abu Daud(383), Tirmidzi(143) dan Ibnu Majah(531) hadits shahih
[3] Hadits Riwayat: Abu Daud (646) hadits shahih
[4] Hadits Riwayat: Muslim (279), Abu Daud (71)
[5] Hadits Riwayat: Muslim (366), Abu Daud (4123), Malik (1079)
[1] Musthafa al ‘Adawi, Jaami’ Ahkam an-Nisa’ (1/63)

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru