Iklan Atas Zona Muslim

Kriteria Calon Suami Dan Istri Ideal Menurut Islam
4/ 5 stars - "Kriteria Calon Suami Dan Istri Ideal Menurut Islam" Menentukan pilihan pendamping hidup tidaklah mudah. Sebab hasil pilihannya akan menentukan kehidupan rumah tangganya untuk seterusnya sam...

Kriteria Calon Suami Dan Istri Ideal Menurut Islam

Admin
Kriteria calon suami istri yang ideal menurut islam

Menentukan pilihan pendamping hidup tidaklah mudah. Sebab hasil pilihannya akan menentukan kehidupan rumah tangganya untuk seterusnya sampai ajal menjemput. Maka pelajarilah apa dan bagaimana kriteria Calon Suami maupun Istri yang ideal menurut islam.[2]

Apa saja kriterianya? Berikut ini penjelasan selengkapnya.

A. Kriteria Yang Dianjurkan Ada Pada Calon Istri

1. Hendaknya Dia Seorang Yang Taat Beragama. 

Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَأَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ ۗ

“Sesungguhnya budak perempuan yang mukmin lebih baik daripada perempuan musyrik walaupun dia menarik hati kalian.”[3]

Baca Juga: Apa Saja Yang Layak Jadi Mahar?

Dan juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Pilihlah perempuan yang taat beragama, pasti engkau akan beruntung.”[4]

2. Cantik, Keturunan Baik-Baik, Dan Kaya, maka lebih baik lagi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan dinikahi karena empat alasan: karena kekayaannya, karena kecantikannya, karena keturunannya, dan karena agamanya. Pilihlah perempuan yang beragama dengan baik, maka kamu beruntung.”[5]

3. Hendaknya Memiliki Sifat Lembut Dan Penyayang.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ: أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik perempuan yang menunggang unta[1] adalah perempuan-perempuan saleh dari Quraisy: paling besar rasa sayangnya kepada anak saat masih kecil, dan paling bisa menjaga harta suaminya.”[2]

4. Lebih Dianjurkan Memilih Gadis Perawan.


Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu ketika baru menikah,

أَبِكْراً أَمْ ثَيِّباً

“Apakah seorang gadis perawan atau janda?”

Jabir menjawab, “Seorang janda.” Maka, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَهَلَّا بِكْرًا تُلَاعِبُهَا وَتُلَاعِبُكَ

“Mengapa tidak dengan seorang gadis sehingga kamu dapat bercanda dengannya dan dia pun dapat bercanda denganmu?”[3]

Kecuali jika di sana ada asumsi yang menguatkan pilihan menikah dengan janda, seperti ingin menjalin hubungan semenda dengan orang-orang saleh, menghibur perempuan yang ditinggal mati suaminya, atau memelihara anak-anak yatim, dan sebagainya.

5. Hendaknya Cantik, Patuh Lagi Amanah.

Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang siapakah perempuan yang paling baik. Beliau menjawab,

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

“Yaitu perempuan yang membuat suami merasa senang jika memandangnya, taat jika suami menyuruhnya, dan tidak menyelisihi suami dengan melakukan sesuatu yang dibenci suami, baik pada dirinya atau pun harta suami.”[4]

6. Hendaknya Wadud (Penyayang) Dan Walud (Subur).

Ini berdasarkan anjuran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menikahi perempuan seperti itu. Haditsnya telah disebutkan di bagian awal bab ini.

B. Kriteria Yang Dianjurkan Ada Pada Calon Suami

1. Hendaknya Dia Seorang Yang Taat Beragama. 

Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّن مُّشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ ۗ

“Sesungguhnya budak laki-laki yang mukmin lebih baik daripada laki-laki musyrik walaupun dia menarik hatimu.”[1]

2. Hendaknya Memiliki Hafalan al-Qur’an.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menikahkan seorang laki-laki di antara sahabat-sahabatnya dengan mahar berupa hafalan al-Qur’an yang dia miliki.[2]

3. Hendaknya Memiliki Kemampuan Untuk Al-Ba‘ah Dengan Kedua Jenisnya,yaitu: kemampuan berhubungan seksual dan kemampuan memikul biaya berumah tangga dan mata pencaharian.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mendorong para pemuda untuk menikah jika telah memiliki kemampuan al-ba’ah ini. Beliau juga pernah bersabda kepada Fathimah binti Qais,

وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ

“Adapun Mu‘awiyah, maka dia seorang yang miskin, tidak punya harta.”[3]

4. Hendaknya Bersifat Lembut Kepada Perempuan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang kepribadian Abu Jahm,

... أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَرَجُلٌ لَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ، وَلَكِن انْكِحِي أُسَامَةَ

“Adapun Abu Jahm, maka dia seorang laki-laki yang tidak pernah melepaskan tongkatnya dari lehernya[4], namun menikahlah dengan Usamah.”[5]

5. Hendaknya Laki-Laki Yang Perempuan Senang Jika Memandangnya. 

Hal ini agar tidak timbul jarak di antara keduanya, dan agar istri tidak membangkang kepadanya.

6. Hendaknya Bukan Laki-Laki Yang Mandul.

Hal ini berdasarkan nash-nash yang menyebutkan keutamaan memiliki keturunan, kecuali jika ada faktor-faktor yang membuat diabaikannya kelemahan ini.

7. Hendaknya Sekufu Dengan Calon Istri. 

Kufu artinya kesamaan dan kesetaraan derajat. Kriteria ini mencakup beberapa jenis.

a. Sekufu dalam hal agama. Faktor ini merupakan pertimbangan utama dalam pernikahan, bahkan merupakan syarat bagi kesahan suatu pernikahan menurut kesepakatan para ulama. Maka, seorang perempuan tidak halal menikah dengan laki-laki kafir menurut ijma’ para ulama.[6]

Demikian pula halnya, seorang muslim tidak halal menikahkan perempuan salehah yang berada dalam tanggung jawabnya dengan laki-laki yang fasik. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji (pula).”[1]

Meskipun hal ini tidak disyaratkan untuk kesahan akad.

b. Sekufu dalam hal nasab. Faktor ini juga menjadi hal yang harus dipertimbangkan menurut jumhur ulama, kecuali Imam Malik.

c. Sekufu dalam hal harta. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum laki-laki) atas sebagian yang lain (kaum perempuan), dan karena mereka (kaum laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”[2]

Faktor ini menjadi pertimbangan dalam pernikahan menurut Hanafiyah dan Hanabilah, serta salah satu pendapat di kalangan Syafi‘iyah.

d. Sekufu dalam hal kemerdekaan. Kecuali Malik, menurut jumhur ulama, faktor ini menjadi bahan pertimbangan dalam pernikahan.

e. Sekufu dalam hal profesi dan pekerjaan. Kalangan Hanafiyah, Syafi‘iyah, dan Hanabilah menjadikan faktor ini sebagai bahan pertimbangan dalam pernikahan.

8. Tidak memiliki aib yang memalukan. 

Menurut Malikiyah, Syafi‘iyah dan Ibnu ‘Aqil dari Hanabilah, faktor ini juga harus dipertimbangkan dalam pernikahan.

Namun, Apakah Faktor-Faktor Sekufu Ini Merupakan Syarat Sah Pernikahan?

Ulama memiliki dua pendapat tentang pensyaratannya. Pendapat yang paling benar dari keduanya adalah bahwa faktor sekufu secara garis besar bukanlah syarat yang menentukan sah tidaknya suatu pernikahan. Ini merupakan pendapat jumhur ulama, antara lain: Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi‘i, dan Ahmad dalam salah satu riwayat, serta diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Mas‘ud radhiallahu ‘anhuma.[3] Dalil yang menguatkan pendapat ini adalah sebagai berikut.

1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahkan Zainab binti Jahsy[4] radhiallahu ‘anha --dari Bani Asad, salah satu kabilah Arab yang memiliki nasab yang tinggi-- dengan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu yang bekas budak. Kisah mereka diabadikan dalam al-Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang telah Allah limpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.’ Sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (dengan menceraikannya), Kami nikahkan kamu dengan dia”[1]

2. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dari Bani Hasyim, menikahkan dua orang putrinya dengan Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu yang keturunan Quraisy. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak keturunan Ismail, lalu memilih Quraisy dari anak keturunan Kinanah, lalu memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.”[2]

3. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahkan Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma yang bekas budak dengan Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha yang keturunan Quraisy. Telah berlalu di atas penyebutan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Fathimah ini:

انْكِحِي أُسَامَةَ

“Menikahlah dengan Usamah.”[3]

4. Dari Abu Malik al-Asy‘ari bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ: الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ، وَالنِّيَاحَةُ

“Empat kebiasaan jahiliyah yang masih ada pada umatku dan belum mereka tinggalkan: membanggakan kedudukan, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang-bintang, dan niyahah (meratapi mayit).”[4]

5. Firman Allah Subhanahu wata’ala:

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ ۗوَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kalian, dan orang-orang yang layak (menikah) dari budak-budak sahayamu yang laki-laki dan budak-budak sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”[1]

Jadi, kemiskinan seseorang pada masa sekarang tidak boleh menjadi penghalang baginya untuk menikah karena selalu adanya kemungkinan mendapatkan harta pada masa depan.

6. Hadits Abu Sa‘id bahwa Zainab radhiallahu ‘anha, istri Ibnu Mas‘ud radhiallahu ‘anhu, berkata, “Wahai Nabiyullah, Anda hari ini memerintahkan kami bersedekah (zakat). Aku menyimpan perhiasan emas milikku sendiri dan aku ingin mensedekahkannya, namun Ibnu Mas‘ud mengatakan bahwa dia dan anaknya adalah orang yang paling berhak mendapatkan sedekah dariku.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ

“Ibnu Mas‘ud benar. Suamimu dan anak-anakmu adalah orang yang paling berhak mendapatkan sedekah darimu.”[2]

Ini menunjukkan bahwa Zainab radhiallahu ‘anha jauh lebih banyak hartanya daripada Ibnu Mas‘ud radhiallahu ‘anhu. Wallahu a‘lam.

7. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Abu Hindun radhiallahu ‘anhu pernah membekam Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada bagian ubun-ubunnya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا بَنِي بَيَاضَةَ أَنْكِحُوا أَبَا هِنْدٍ وَأَنْكِحُوا إِلَيْهِ

“Wahai Bani Bayadhah, nikahkanlah Abu Hindun (dengan perempuan-perempuan kalian), dan nikahilah anak-anak perempuannya.”[3]

Abu Hindun adalah maula (bekas budak) Bani Bayadhah dan bukan dari suku mereka. Dia kemudian bekerja sebagai juru bekam. Itu termasuk pekerjaan paling rendah pada zaman itu.

8. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata, “Aku membeli (budak perempuan bernama) Barirah, namun penjualnya mensyaratkan wala’-nya milik mereka. Aku pun mengadukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda,

أَعْتِقِيهَا، فَإِنَّ الْوَلَاءَ لِمَنْ أَعْطَى الْوَرِقَ

“Merdekakanlah dia karena wala’ itu milik orang yang memberikan perak (uang).

Maka aku memerdekakannya, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya lalu memberinya pilihan untuk tetap bersama suaminya (atau tidak). Barirah berkata, ‘Sekalipun dia memberiku ini dan itu, aku tetap tidak akan tinggal bersamanya.”[1]

Di dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma disebutkan: “... Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Seandainya saja kamu rujuk dengannya.’ Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda memerintahkan aku (melakukan itu)?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Aku hanya sekadar menjadi perantara.’ Dia berkata, ‘Aku sudah tidak punya keperluan lagi dengannya.”[2]

Tentulah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan memberikan saran kepadanya untuk menikah dengan seorang budak jika pernikahan itu tidak sah. Wallahu a‘lam.

Baca juga : Haruskah Menikah Dengan Yang Sekufu?

9. Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Jika orang yang kalian nilai baik agama dan akhlaknya datang kepada kalian (untuk melamar anak dan kerabat perempuan kalian), maka nikahkanlah dia (dengannya), karena jika kalian tidak melakukan itu, maka akan terjadi satu fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”[3]

Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur darinya, ats-Tsauri, dan sebagian ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sekufu itu syarat. Mereka berdalil dengan sejumlah dalil yang tidak ada satu pun yang valid. Andaipun ada yang valid, maka tidak secara gamblang menyatakannya sebagai syarat, di samping tidak kuat untuk membantah nash-nash yang telah disebutkan di atas.

Beberapa Catatan Tambahan:


Pertama: Faktor Sekufu Adalah Hak Pengantin Perempuan Dan Walinya Menurut Ulama Yang Menganggapnya Sebagai Syarat. Artinya, jika pengantin perempuan dan walinya rela dengan ketidak sekufuan, maka nikahnya sah. Imam Ahmad dan ulama yang lainnya pun tidak sampai mengatakannya sebagai nikah yang batil.[4]

Kedua: Kebanyakan Ulama Yang Tidak Menganggap Faktor Sekufu Sebagai Syarat Sah Pernikahan, Mereka Tetap Menganggapnya Sebagai Syarat Yang Mesti. Ini artinya bahwa apabila akad nikah dilaksanakan dengan adanya kesekufuan, maka nikah telah pasti terjadi. Apabila akad dilaksanakan dengan tanpa adanya kesekufuan tetapi dengan kerelaan pihak perempuan dan walinya, maka pernikahannya sah. Namun, jika salah seorang wali tidak setuju, maka dia berhak membatalkan pernikahan. Ini adalah pendapat kalangan Syafi‘iyah, zahir pendapat Hanafiyah, dan yang diterima di kalangan Malikiyah dan ulama Hanabilah yang belakangan.[5]

Ketiga: Pertimbangan Sekufu’ Hanya Berlaku Pada Laki-Laki Dan Tidak Pada Perempuan. Dengan demikian, jika seorang laki-laki menikahi seorang perempuan yang tidak sekufu dengannya, maka tidak ada celaan baginya karena kepemimpinan rumah tangga ada di tangannya, anak-anak dinisbatkan kepadanya, dan hak menjatuhkan talak ada di tangannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menikahi perempuan-perempuan dari suku-suku Arab --yang tidak sekufu dengannya dalam hal agama dan nasab-- dan juga mengawini budak-budak perempuannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ جَارِيَةٌ فَعَلَّمَهَا وَأَحْسَنَ تَعْلِيمَهَا وَأَحْسَنَ إِلَيْهَا ثُمَّ اعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

“Siapa memiliki seorang budak perempuan, lalu dia mengajarinya dengan sebaik-baiknya, mendidiknya dengan didikan yang terbaik, dan bersikap baik kepadanya, kemudian dia merdekakan dan menikahinya, maka baginya dua pahala.”[1]

Penutup

Kewajiban kita hanya berusaha, adapun hasil Alloh yang menentukan. Berusaha memantaskan diri dihadapan Alloh dan dihadapan calon pasangan kita. Karena jodoh tidak akan tertukar. Orang baik untuk orang baik dan sebaliknya.
Memperbaiki diri sebelum mengharap pasangan yang baik. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah warahmah. Aamiin. Demikian artikel tentang Kriteria Calon Suami Dan Istri Ideal Menurut Islam semoga bermanfaat.


Footnote:
[1] Syarat-syarat tersebut akan disebutkan sebentar lagi.
[2] Dari Ahkam an-Nikah wa az-Zifaf karya syaikh kami Mushthofa al-‘Adawi hafizhahullahu halaman 56-60 dengan sedikit perubahan.
[3] Surat al-Baqarah:221.
[4] Shahih. Akan disebutkan sesudah ini.
[5] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5090) dan Muslim (1466).
[6] [Maksudnya: perempuan Arab. -Pent.]
[7] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5082) dan Muslim (2527).
[8] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5079) dan Muslim (715).
[9] Shahih. Hadits Riwayat: an-Nasa’i (VI/68) dan Ahmad (7373).
[10] Surat al-Baqarah:221.
[11] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5029) dan Muslim (1425).
[12] Shahih. Hadits Riwayat: Muslim (1480), an-Nasa’i (3245) dan Abu Daud (2284).
[13] [Maksudnya: suka memukul. -Pent.]
[14] Shahih. Sama dengan sebelumnya.
[15] Al-Ifshah (II/121) dan Subul as-Salam halaman 1006.
[16] Surat an-Nur:26.
[17] Surat an-Nisa’:34.
[18] Ibnu ‘Abidin (III/84), al-Mabsuth (III/22), al-Mudawwanah (II/170), ad-Dasuqi (II/217), al-Umm(V/13), al-Mughni (VI/484), dan al-Inshaf (VIII/105).
[19] Sebelum menjadi istri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. -Pent.
[20] Surat al-Ahzab:37.
[21] Shahih. Hadits Riwayat: Muslim (2276) dan at-Tirmidzi (3605).
[22] Shahih. Telah disebutkan sebelum ini.
[23] Shahih. Hadits Riwayat: Muslim (934) dan selainnya.
[24] Surat an-Nur:32.
[25] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (1462) dan Muslim (1000).
[26] Shahih. Hadits Riwayat: Abu Daud (2102), al-Hakim (II/163), dan al-Baihaqi (VII/136).
[27] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (2536) dan Muslim (1504).
[28] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5283), Abu Daud (2231), an-Nasa’i (VIII/245), dan Ibnu Majah (2075).
[29] Dha‘if. Hadits Riwayat: at-Tirmidzi (1090) dan selainnya. Hadits ini memiliki sanad-sanad yang lemah, namun nash-nash syariat menguatkannya.
[30] Zad al-Ma‘ad (V/161) dan Jami‘ Ahkam an-Nisa’ (III/284).
[31] Ibnu ‘Abidin (II/318), ad-Dasuqi (II/249), Raudhah ath-Thalibin (VII/84), al-Mughni (VI/480), danMajmu‘ al-Fatawa (XXXII/57).
[32] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (2544) dan Muslim (154). Lihat: al-Mughni (VI/487), al-Mabsuth (V/29), dan Jami‘ Ahkam an-Nisa’ (III/287).

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru