Iklan Atas Zona Muslim

Keutamaan Wudhu Dan Dalil-Dalilnya
4/ 5 stars - "Keutamaan Wudhu Dan Dalil-Dalilnya" Sebelum membahas tentang Keutamaan Wudhu Dan Dalilnya alangkah baiknya kita mulai dengan pembahasan tentang Definisi Wudhu dan Dalil Disy...

Keutamaan Wudhu Dan Dalil-Dalilnya

Admin
Dalil tentang Keutamaan wudhu

Sebelum membahas tentang Keutamaan Wudhu Dan Dalilnya alangkah baiknya kita mulai dengan pembahasan tentang Definisi Wudhu dan Dalil Disyariatkannya

Wudhu secara Bahasa, Berasal dari kata al-wadha’ah artinya kebersihan dan kecerahan. Kata wudhu (dengan dhommah) adalah pekerjaan dari berwudhu tersebut. Sedangkan jika dengan fathah menjadi Al-Wadhu’ maka maknanya adalah air yang digunakan berwudhu. Serta masdar juga.[1]

Menurut Istilah, Wudhu adalah menggunakan air untuk membasuh anggota badan tertentu. Yaitu wajah kedua tangan, kepala dan kedua kaki untuk menghilangkan hadas yang dapat menghalangi seseorang dari shalat.

Terdapat dalil tentang disyariatkannya wudhu baik itu dalam Al-Qur`an, Hadits maupunijma’ ulama:

Dalil Al-Qur`an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”[2]

Dalil Hadits

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ ، حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Tidak diterima Shalat salah seorang dari kalian jika ia berhadas hingga ia berwudhu”.[3]

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً إِلَّا بِطُهُورٍ ، وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Allah tidak menerima Shalat tanpa bersuci dan tidak pula menerima Sedekah dari harta haram”.[4]

Diriwayatkan dari ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا أُمِرْتُ بِالْوُضُوءِ إِذَا قُمْتُ إِلَى الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya aku diperintahkan untuk berwudhu ketika hendak shalat”.[5]

Diriwayatkan dari Abu Said radhiallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

“Kunci shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbir dan penutupnya adalah salam”[6]

Dalil dari Ijma’

Para ulama sepakat bahwa Shalat tidak sah kecuali dengan bersuh ci jika hal itu mampu dilakukan.

Berikut ini dalil-dalil tentang Keutamaan wudhu

Keutamaan Wudhu Dan Dalilnya:

1. Wudhu Adalah Sebagian Dari Iman. 

Sebagaimana yang terdapat dalam hadits riwayat Abu Malik Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْوُضُوءِ شَطْرُ الإِيْمَانِ

“Wudhu adalah sebagian dari iman”.[7]

2. Wudhu dapat menghapus dosa-dosa kecil.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنِهِ آخِرَ قَطْرِ الْمَاءِ ، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَتْ مِنْهُمَا كُلُّ خَطِيئَةٍ بَطَشَهَا بِهِمَا ، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلاَهُ آخِرَ قَطْرِ الْمَاءِ ثُمَّ كَذَلِكَ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ

“Jika seorang hamba berwudhu dan membasuh mukanya maka keluarlah semua kesalahan dari wajahnya akibat yang ia pandang dengan kedua matanya hingga tetesan air terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya maka keluarlah kesalahan akibat kekerasan yang dilakukan kedua tangannya. Jika ia membasuh kedua kakinya maka keluarlah semua kesalahan akibat langkah kakinya bersama tetesan air terakhir hingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa”.[8]

Diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ هَكَذَا ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ، وَكَانَتْ صَلَاتُهُ ، وَمَشْيُهُ إِلَى الْمَسْجِدِ نَافِلَةً

“Siapa yang berwudhu seperti ini maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sedangkan shalat dan jalannya ke masjid adalah sebagai amal shalih”.[9]

Fadhilah wudhu ini terdapat baik itu saat melakukan shalat sunnah maupun shalat fardhu.

Diriwayatkan dari Utsman radhiallahu ‘anhu mengenai sifat wudhu nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ مِثْلَ وُضُوئِي هَذَا ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُحَدِّثْ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia shalat dua rakaat dan tidak berbicara dengan dirinya di antara wudhu dan shalatnya maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.[10]

3. Wudhu Dapat Mengangkat Derajat Seorang Hamba

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ الدَّرَجَاتِ ؟ قَالُوا : بَلَى ، يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ إِلَى الصَّلاةِ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ "

“Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”. Mereka berkata: “ya. Wahai Rasulullah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menyempurnakan wudhu saat kondisi yang tidak di sukai (musim dingin), memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu antara shalat yang satu dengan shalat yang lain. Itulah jihad…Itulah jihad….Itulah jihad.”[11]

4. Wudhu Merupakan Jalan Menuju Surga

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ : يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ ، فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Bilal radhiallahu ‘anhu saat shalat fajar: “Wahai Bilal, beritahu aku dengan amalan yang paling kamu harapkan bisa masuk surga dengannya yang kamu amalkan dalam Islam! Karena aku mendengar di dekatku suara kedua sandalmu di surga”. Bilal berkata: “Aku tidak melakukan amalan yang paling aku harapkan balasannya kecuali aku selalu shalat setelah bersuci baik di waktu malam ataupun pagi. Seolah shalat itu menjadi kewajibanku”.[12]

Diriwayatkan dari Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ يُقْبِلُ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“Siapa yang berwudhu dengan sempurna kemudian ia shalat dua rakaat dan mengerjakan keduanya sepenuh hati dan wajahnya maka berhak untuknya surga”.[13]

5. Wudhu sebagai tanda Keistimewaan umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat tiba di kolam Nabi di surga

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

أنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، خَرَجَ إِلَى الْمَقْبَرَةِ ، فَقَالَ : " السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحِقُونَ ، وَدِدْتُ أَنِّي رَأَيْتُ إِخْوَانِي " ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَلَسْنَا بِإِخْوَانِكَ ؟ ، قَالَ : " بَلْ أَنْتُمْ أَصْحَابِي ، وَإِنَّمَا إِخْوَانِي الَّذِينَ يَأْتُونَ مِنْ بَعْدِي ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ " ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ يَأْتِي بَعْدَكَ ؟ ، قَالَ : " أَرَأَيْتُمْ لَوْ كَانَ لِرَجُلٍ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ فِي خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ ، أَلا يَعْرِفُ خَيْلَهُ ؟ " قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : " فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، وَلَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُزَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ فَأُنَادِيهِمْ : أَلا هَلُمَّ ، فَيُقَالَ : إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ ، فَأَقُولُ : فَسُحْقًا فَسُحْقًا "

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju pekuburan. Kemudian beliau bersabda: “Assalamualaikum wahai rumah kaum mu’min. sesungguhnya kami insya Allah akan menyusul. Aku ingin melihat saudara-saudaraku”. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah kami ini adalah saudara-saudaramu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalian adalah Shahabat-Shahatku. Sedangkan saudara-saudaraku adalah yang datang setelahku. Aku mendahului mereka tiba di telaga”. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau tahu orang-orang yang datang setelahmu?”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kalian melihat jika ada seseorang memiliki kuda yang memiliki tanda putih di kepalanya dan kuda itu hitam pekat. Apakah orang itu mengetahui kudanya?”. Mereka menjawab: “ya, wahai Rasulullah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mereka datang pada hari kiamat dengan tanda putih pada wajah mereka karena bekas wudhu. Aku mendahului mereka datang ke telaga. Janganlah orang-orang melakukan perbuatan yang dapat menjauhkan ia dari telagaku sebagaimana onta yag tersesat jauh. Aku memanggil mereka. Kemarilah. Kemudian dikatakan: mereka telah mengganti sunnahmu setelahmu. Kemudian aku katakan: menjauhlah… Menjauhlah…”.[14]

6. Wudhu Adalah Cahaya Bagi Seorang Hamba Pada Hari Kiamat

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Ia berkata:

سَمِعْتُ خَلِيلِي ، يَقُولُ : " تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوءُ "

“Aku mendengar kekasihku (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Cahaya seorang mu’min bersinar karena menyempurnakan wudhu”.[15]

7. Wudhu Dapat Membongkar Ikatan Setan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ ثَلَاثَ عُقَدٍ ، بِكُلِّ عُقْدَةٍ يَضْرِبُ عَلَيْكَ لَيْلًا طَوِيلًا فَارْقُدْ ،وَإِذَا اسْتَيْقَظَ ، فَذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِذَا تَوَضَّأَ ، انْحَلَّتْ عُقْدَتَانِ ، فَإِذَا صَلَّى ، انْحَلَّتْ الْعُقَدُ ، وَأَصْبَحَ طَيِّبَ النَّفْسِ نَشِيطًا ، وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانً " .

“Setan mengikat ubun-ubun kepala setiap orang di antara kalian dengan tiga ikatan. Setiap satu ikatan mengatakan malam masih panjang. Tidurlah... Saat ia terbangun dan menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala maka terbongkarlah ikatan itu. Jika ia berwudhu maka terbongkarlah dua ikatan. Jika dia mendirikan shalat maka terbongkarlah ikatan yang lain. Maka di pagi hari dia menjadi berakhlak bagus dan bersemangat. Jika tidak maka dia akan berakhlak jelek dan malas”.[16]

Demikian tulisan seputar Keutamaan Wudhu beserta dalilnya. Semoga bermanfaat.


Footnote:
[1] Al-Qamus (1/33), Mukhtarush ash-Shihah (575) dan Al-Majmu’ (1/355)
[2] Al-Qur`an Surat: Al-Maidah: 6
[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari: (135), Muslim (225) dan lainnya.
[3] Hadits Riwayat: Muslim (224)
[4] Hadits Riwayat: Tirmidzi (1848), Abu Daud (3760), An-Nasa’i (1/73) dan lihat Shahih al-Jami’(2333). Shahih.
[5] Tirmidzi (3), Abu Daud (60), Ibnu Majah (275), Syaikh Al-Albany menshahihkannya dalam Shahih Al-Jami`. Hasan li ghairi
[6] Hadits Riwayat: Muslim dan lainnya.
[7] Hadits Riwayat: Muslim (244)
[8] Hadits Riwayat: Muslim (229)
[9] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (6433) , Muslim ( 226) dan lainnya
[10] Hadits Riwayat: Muslim (251) dan lainnya.
[11] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1149) dan Muslim (2458)
[12] Hadits Riwayat: Muslim (234) dan Nasai (1/80) dan lainnya
[13] Hadits Riwayat: Muslim (234) dan Nasai (1/80)
[14] Hadits Riwayat: Muslim (250) dan Nasai (1/80)
[16] Hadits Riwayat Muslim (1142)

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru