Iklan Atas Zona Muslim

Kapan Waktu Iqamah Dikumandangkan?
4/ 5 stars - "Kapan Waktu Iqamah Dikumandangkan?" Diantara rangkaian dari ibadah shalat adalah iqamah sebelum shalat ditegakkan. Lalu kapan iqamah dikumandangkan? Berapa lama jarak antar...

Kapan Waktu Iqamah Dikumandangkan?

Admin

Diantara rangkaian dari ibadah shalat adalah iqamah sebelum shalat ditegakkan. Lalu kapan iqamah dikumandangkan? Berapa lama jarak antara adzan dan iqamah? Siapa yang mengumandangkan iqamah? In syaa Alloh tulisan berikut ini akan menjelaskan tentang masalah-masalah tersebut sesuai dengan penjelasan para ulama.

Untuk mengawali bahasan kita uraikan terlebih dahulu Definisi Iqamah.

Apa Itu Iqamah?


Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa iqamah adalah pemberitahuan tentang pelaksanaan shalat dengan lafaz yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan tata-cara khusus.

Bacaan Iqamah


Ada dua cara iqamah yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :

Pertama: Iqamah dengan 11 kalimat:

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ

حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ

حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ

قد قامت الصلاة قد قامت الصلاة

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

Tata-cara iqamah seperti ini sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abdullah bin Zaid radhiallahu 'anhuma dalam bab adzan sebelumnya. Cara iqamah seperti inilah yang juga ditegaskan dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma.

أُمِرَ بِلاَلٌ أَنْ يَشْفَعَ الأَذَانَ وَيُوتِرَ الإِقَامَةَ , إلاَّ الإقَامَة

“Bilal diperintahkan Rasulullah untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah. Kecuali ucapan qad qamatish shalah.” (Hadits Riwayat: Al-Bukhari (605) dan Muslim (378)

Karena Bilal radhiallahu 'anhu mengumandangkan adzan sebagaimana yang diajarkan oleh Abdullah bin Zaid radhiallahu 'anhuma. Dan dengan cara inilah mayoritas Ulama salaf dan khalaf berpendapat.

Kedua: Iqamah dengan 17 kalimat:

اَللهُ اَكْبَرُ (4 kali)

اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ (2 kali)

اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ (2 kali)

حَيَّ عَلَي الصَّلاَةِ (2 kali)

حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ(2 kali)

قد قامت الصلاة قد قامت الصلاة

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ

لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ

Tata-cara iqamah seperti ini juga terdapat dalam hadits Abu Mahdzurah radhiallahu 'anhu dalam bab adzan sebelumnya. Dan bagi yang telah terbiasa mengumandangkan adzan dengan cara pertama –seperti dalam hadits Abdullah bin Zaid– maka ia harus menggunakan iqamah sesuai riwayat Abdullah bin Zaid juga (cara pertama). Sebaliknya jika seorang muadzin telah biasa menggunakan adzan dengan cara kedua (riwayat Abu Mahdzurah) maka ia pun harus menggunakan iqamah dengan tata-cara yang kedua. Lalu bagi orang yang berpendapat boleh memilih satu di antara dua pendapat, maka begitupula dalam iqamah. Dan pendapat ini lebih utama. Wallahu a'lam.

Apakah Orang Yang Melakukan Iqamah Harus Orang Yang Mengumandangkan Adzan?


Lebih utama demikian, bahwa orang yang mengumandangkan adzan dia juga yang melakukan iqamah. Karena Bilal radhiallahu 'anhu –sebagaimana akan dijelaskan nanti– dialah yang bertanggung-jawab dalam adzan dan iqamah sekaligus. Hal ini juga merupakan pendapat mayoritas Ulama. Meskipun jika adzan dikumandangkan oleh seseorang, lalu iqamah dilakukan orang lain, ini pun dibolehkan. Sedangkan hadits marfu' dari Zaid al-Shadaiy,

يُقِيْمُ أخُو الصّدَاءِ , فَإن مَنْ أَذَّنَ فَهُوَ يُقِيْم

“Saudara lelaki dari al-Shada mengumandangkan iqamah, karena sesungguhnya orang yang melakukan adzan, dialah yang melakukan iqamah.”[Hadits Dhaif. al-Dhaifah (35), al-Irwa' (237)]

Hadits ini tidak shahih. Sama halnya dengan hadits Abdullah bin Zaid bahwa ia melakukan iqamah setelah Bilal mengumandangkan adzan, [Hadits Dhaif. Abu Daud (499) dan Ahmad (4/43)]

Apakah Yang Mendengar Iqamah Turut Menjawab Iqamah?


Disyariatkan bagi yang mendengar iqamah untuk turut menjawabnya, sebagaimana hadits yang menyatakan secara global,

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَمَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Jika kalian mendengar panggilan untuk shalat maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan muadzin”.[Hadits Shahih. Sudah disebutkan sebelumnya]

Iqamah sendiri merupakan bentuk dari adzan. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ

"Di antara dua adzan terdapat shalat. "[Hadits Shahih. Akan dibahas pada bab "Shalat Sunnah"]

"Kedua adzan" yang dimaksudkan adalah: adzan pertama dan kedua (iqamah).

Ada juga pendapat lemah yang menyatakan bahwa menjawab panggilan shalat tidak disyariakan melainkan dalam adzan pertama. Namun penulis berpendapat bahwa pendapat pertama lebih kuat, dan permasalahan ini tidaklah sempit.

Apa Yang Diucapkan Tatkala Mendengar Lafadz " Qad Qamatis-Shalah Qad Qamatis-Shalah "?


Hadits menyatakan bahwa yang mendengar lafadz tersebut menjawab sesuai dengan yang didengar, yaitu "Qad Qamatis-Shalah Qad Qamatis-Shalah". Karena hadits itu bersifat umum. Sedangkan riwayat yang menyatakan bahwa jawaban dari lafadz tersebut adalah,

أَقـَامَهَا اللـّهُ وَ أدَامَـهَـا

Haditsnya tidak shahih.[Hadits Riwayat: Dhaif, Abu Daud (528), Lihat: al-Irwa' (241)]

Kapan Iqamah Dikumandangkan?


Pada dasarnya iqamah tidak dikumandangkan kecuali setelah melihat imam. Dengan landasan hadits Jabir bin Samurah radhiallahu 'anhuma, berkata:

كَانَ بِلاَلٌ يُؤَذِّنُ إِذَا دَحَضَتْ فَلاَ يُقِيمُ حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَإِذَا خَرَجَ أَقَامَ الصَّلاَةَ حِينَ يَرَاهُ

"Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan jika matahari telah tergelincir, dan tidak mengumandangkan iqamah hingga keluarnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Dan jika Rasul telah keluar, maka Bilal pun melakukan iqamah ketika ia melihatnya). [Hadits Riwayat: Muslim (606) dan sudah disebutkan sebelumnya]

Tapi kadang dibolehkan juga melakukan iqamah sebelum imam keluar, yaitu ketika seorang imam terlihat dari jauh atau diketahui bahwa imam tersebut akan segera keluar. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah,

أَنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ تُقَامُ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَيَأْخُذُ النَّاسُ مَصَافَّهُمْ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مَقَامَهُ.

"Shalat diiqamahkan untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Orang-orang pun lalu mengambil barisan shalat mereka sebelum Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri pada tempat beliau."[Hadits Riwayat: Muslim (605)]

Kapan Para Jamaah Berdiri Untuk Shalat?


1. Jika imam shalat belum berada di dalam masjid, ajaran sunnah menyatakan bahwa jamaah tidak perlu berdiri hingga melihat sang imam, baik muadzin telah mengumandangkan iqamah atau belum. Dan ini adalah pendapat Jumhur. Dengan landasan hadits Abu Qatadah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda:

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَقُومُوا حَتَّى تَرَوْنِى

"Jika iqamah shalat telah dikumandangkan janganlah berdiri sebelum kalian melihatku."[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (637) dan Muslim (604)]

2. Namun jika imam telah berada bersama jamaah di masjid, maka Imam Syafi'i dan mayoritas ulama berpendapat bahwa jamaah shalat tidaklah berdiri hingga iqamah selesai dikumandangkan. Sedangkan Imam Malik berpendapat, bahwa jamaah berdiri ketika iqamah tengah dilaksanakan. Lalu Imam Ahmad berpendapat, bahwa jamaah berdiri ketika muadzin melantunkan lafadz "Qad Qamatis Shalah" . Dan Abu Hanifah menyatakan bahwa para jamaah berdiri pada saat dikumandangkan lafadz "Hayya 'Alas-Shalah"[1]

Penulis berkata: Jamaah berdiri ketika imam shalat telah berdiri. Karena berdirinya imam pada tempatnya, merupakan bentuk keluarnya imam untuk shalat berjamaah sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits,

فَلاَ تَقُومُوا حَتَّى تَرَوْنِى

“Janganlah kalian berdiri sebelum melihatku.” Wallahu A'lam.

Catatan Penting: Beberapa ulama kontemporer menyatakan bahwa tidak disyariatkan melakukan iqamah dengan pengeras suara agar di dengar orang di luar masjid. Pernyataan ini dinisbatkan kepada Syaikh al-Albani.

Penulis Berkata: bahwa maksud dari perkataan ini adalah, dilarangnya menggunakan pengeras suara ketika masuk dalam pekerjaan shalat itu sendiri yaitu ketika takbiratul ihram, dan bukan masuk waktu shalat yang dimaksud untuk pemberitahuan dengan adzan agar bersiap-siap melaksanakan shalat. Karena menggunakan pengeras suara untuk iqamah sebagai upaya pemberitahuan orang-orang di luar masjid, hal ini tidaklah dilarang. Bahkan terdapat landasannya, yaitu riwayat dari Ibnu Umar

أَنَّهُ سَمِعَ الْإِقَامَةَ وَهُوَ بِالْبَقِيعِ فَأَسْرَعَ إِلَى الْمَسْجِدِ

“Bahwa ia mendengar iqamah sedangkan waktu itu ia berada di Baqi', ia pun kemudian bersegera menuju masjid.” [Syarh Muslim - Imam Nawawi (3/840 –Qal'ajiy)]

Demikian penjelasan tentang kapan iqamah dikumandangkan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Barokallohu fiikum.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru