Iklan Atas Zona Muslim

Inilah 2 Metode Penetapan Awal Ramadhan Yang Disepakati Para Ulama
4/ 5 stars - "Inilah 2 Metode Penetapan Awal Ramadhan Yang Disepakati Para Ulama" Puasa ramadhan akan dilakukan jika sudah masuk bulan ramadhan. Untuk mengetahui masuknya bulan ramadhan bisa melalui metode atau cara ber...

Inilah 2 Metode Penetapan Awal Ramadhan Yang Disepakati Para Ulama

Admin

Puasa ramadhan akan dilakukan jika sudah masuk bulan ramadhan. Untuk mengetahui masuknya bulan ramadhan bisa melalui metode atau cara berikut ini

1. Pengintaian bulan Ramadhan


Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bagi siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”[1]

Hadits Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-juga menjelaskan ketetapan bulan Ramadhan dengan pengintaian bulan, di antaranya:

عن ابْنِ عُمَرَ أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "إِذَا رَأَيْتُمُوهُ، فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا له

“Dari Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-bersabda: Jika kamu sekalian melihatnya (bulan bulan Ramadhan) maka berpuasalah, dan jika kamu sekalian melihatnya (bulan bulan Syawwal) maka berbukalah. Dan jika (penglihatan) kamu sekalian tertutup mendung maka persempitlah jumlah harinya (dua puluh sembilan hari).”[2]

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلاَثِينَ

“Dari Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-bersabda: Bulan Ramadhan ada dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihatnya (bulan). Dan jika (penglihatan) kamu sekalian tertutup mendung maka sempurnakanlah hitungannya tiga puluh.”[3]

Mengetahui bulan hanya bisa dilakukan dengan melihat, tidak dengan hisab. Dan menetapkan tempat terbitnya bulan dengan hisab tidak bisa dianggap sah. Pastinya kita sama-sama tahu dari agama Islam bahwa melakukan pengintaian bulan puasa, haji, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bulan, tidak sah dengan kabarnya orang yang melakukan hisab. Kesimpulan ini dapat kita lihat dalam hadits, di antaranya sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

“Kita adalah umat buta huruf, tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung, (penetapan) bulan seperti itu dan seperti itu .”[4]

Maksudnya (seperti itu dan seperti itu) adalah terkadang satu bulan ada dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari.

Umat Islam telah bersepakat tentang hal tersebut dan tidak ditemukan satupun perbedaan dari dulu hingga sekarang kecuali sebagian kecil umat Islam yang menggunakan hisab sebagai landasan penetapan awal bulan. Tentunya, penggunaan hisab ini adalah metode langka yang berlawanan dengan ijma.[1]

Pengintaian Bulan Ramadhan bisa Ditetapkan dengan Kesaksian Seorang yang Adil[2]


Jika ada seseorang yang adil melihat bulan Ramadhan, maka kabarnya dapat diterima atau diamalkan menurut mayoritas ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Madzhab zhahiri dan Ibnu Mundzir.

Sedangkan Imam Malik, Laits, Al-Auza`iyy, As-Tsaury, dan Imam Syafi’i dalam pendapat yang lain berpendapat bahwa dibutuhkan dua orang adil untuk bisa menetapkan pengintaian bulan Ramadhan. Ini dianalogikan pada persaksian.

Pendapat terkuat adalah pendapat pertama karena menyamakan orang yang melihat bulan dengan perawi lebih kuat daripada menyamakannya dengan saksi. Hal ini diperkuat dengan diterimanya kabar tunggal dalam agama. Selain itu, agama juga lebih memperketat kesaksian dalam harta benda dan hak serta kewajiban dari pada kabar-kabar keagamaan.

Dalil diterimanya kabar tunggal adalah hadits Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- yang berbunyi:

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ، فَرَأَيْتُهُ، فَأَخْبَرْتُ رسول لله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

“Ada orang yang melihat Bulan, lalu aku melihatnya juga, maka aku memberi kabar pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang hal itu. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.”[3]

Kabar tentang pengintaian bulan ini berlaku bagi laki-laki maupun perempuan menurut pendapat ulama yang terkuat.[4]

Sedangkan Bulan Syawwal, Para Ahli fiqih telah bersepakat tidak cukup jika hanya seorang adil yang bersaksi untuk menetapkan bulan Syawwal, namun harus adanya dua saksi yang adil. Dalam hal ini, Abu Tsaur, Ibnu Hazm, As-Syaukany dan Ibnu Rusyd punya pendapat lain. Mereka berpendapat saksi seorang adil mencukupi untuk menetapkan bulan Syawwal karena bulan Syawwal merupakan ujung dari bulan Ramadhan sehingga disamakan dengan awal bulan Ramadhan.

Landasan hukum yang dipakai mayoritas ulama adalah hadits Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab, bahwa para sahabat berbincang-bincang dengan Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, lalu beliau bersabda:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ, فإن شهد شاهدين فصوموا وأفطروا

“Puasalah karena melihatnya (bulan Ramadhan) dan berbukalah karena melihatnya (bulan Syawwal) dan berpegang teguhlah padanya. Jika (penglihatanmu) kamu sekalian tertutup mendung maka sempurnakanlah tiga puluh. Jika yang melihat dua orang, maka berpuasalah dan berbukalah.”[1]

Hadits ini menunjukkan tidak mencukupinya seorang adil untuk menetapkan puasa dan berbuka (menetapkan Syawwal). Maka, hadits Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- di atas mengecualikan puasa yang cukup hanya dengan seorang saksi yang adil, sedangkan untuk berbuka (menetapkan Syawwal) harus menggunakan dua orang saksi yang adil. Allah Maha Tahu.

Orang yang Melihat Bulan dengan Mata Kepala Sendiri (Tanpa Ada Orang Lain yang Melihatnya)[2]


Bagi siapa yang melihat bulan dengan mata kepala sendiri (dan tidak ada orang lain yang melihatnya), maka ditolak ucapannya. Sehubungan dengan puasa dan berbuka orang tersebut, ada tiga pendapat ulama:

Pertama: Dia harus berpuasa jika melihat bulan Ramadhan dan berbuka jika melihat bulan Syawwal dengan sembunyi-sembunyi agar tidak menimbulkan kekacauan sosial. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, salah satu riwayat Imam Ahmad, dan Ibnu Hazm. Karena Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bagi siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”[3]

Kedua: Dia harus berpuasa dengan rukyahnya sendiri, tapi harus berbuka (lebaran)bersama dengan yang lain. Ini adalah madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan pendapat terkenal dari Imam Ahmad.

Ketiga: Tidak boleh mengamalkan rukyahnya sendiri. Maka berpuasa dan berbuka (lebaran) harus bersama dengan yang lain. Ini adalah salah satu riwayat Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah). Berdasarkan sabda Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam:

صَوْمَكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَفِطْرَكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Puasa kamu adalah di hari kamu sekalian berpuasa, berbuka kamu adalah di hari kamu sekalian berbuka, dan sembelihanmu adalah di hari sembelihan kamu sekalian.”[4]

Maksud dari hadits di atas adalah puasa dan berbuka (lebaran) harus dilakukan bersama-sama.

Penulis berkata: Pendapat yang terkuat adalah dia harus puasa dan berbuka (lebaran) dengan rukyahnya secara sembunyi-sembunyi, jika hasil rukyahnya tidak sama dengan yang lain, selama puasa yang dia lakukan tidak melebihi tiga puluh hari.Allah Maha Tahu.

2. Menyempurnakan Tiga Puluh Hari Bulan Sya’ban


Jumlah hari dalam satu bulan yang menggunakan bulan tidak kurang dari dua puluh sembilan dan tidak lebih dari tiga puluh.

Sehingga, apabila bulan tidak terlihat (sedangkan kondisi langit cerah dan tidak ada penghalang untuk melihat) di malam ketiga puluh bulan Sya’ban, maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari dan tidak boleh berpuasa di hari ini, baik puasa wajib maupun sunnah, sesuai penjelasan yang akan datang dalam puasa pada hari keraguan.

Ada Empat Pendapat Ulama Jika Bulan Di Malam Tiga Puluh Bulan Sya’ban Tidak Bisa Terlihat Karena Mendung Atau Sejenisnya[1]:


Pertama : Tidak boleh puasa di hari ketiga puluh Sya’ban, baik puasa wajib maupun puasa sunnah. Ini adalah madzhab mayoritas ulama dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Landasan hukum mereka adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِينَ

“Dari Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-bersabda: Bulan Ramadhan ada dua puluh sembilan malam. Maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihatnya (bulan). Dan jika (penglihatan) kamu sekalian tertutup mendung maka sempurnakanlah hitungannya tiga puluh.”[2]

عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ, إِلاَ أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-bersabda: Janganlah kamu mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali ada seseorang yang berpuasa, maka puasalah pada hari itu.”[3]

حديث عمار بن ياسر قال: من صَامَ الْيَوْم الَّذِي شكّ فِيهِ فقد عَصَى أَبَا الْقَاسِم صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ

“Dari `Umar bin Yasir -radhiyallahu `anhu- berkata: Bagi siapa yang berpuasa di hari keraguan maka sungguh ia telah membangkang Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-”[4]

Landasan hukum lainnya adalah bahwa puasa di hari keraguan karena sikap berhati-hati merupakan tindakan berlebihan dalam agama. Karena pada dasarnya sikap berhati-hati hanya berlaku pada hal yang wajib. Sedangkan hal-hal yang tidak wajib, maka tidak ada anjuran untuk bersikap lebih hati-hati dengan mewajibkannya. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ

“Orang yang berlebih-lebihan akan celaka”.[1]

Kedua : Wajib berpuasa sebagai puasa Ramadhan. Ini adalah pendapat terkenal madzhab Hanbaliy, dan beberapa sahabat seperti `A'isyah -radhiyallahu `anha- dan Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu-, begitu juga Ulama terdahulu. Landasan hukum yang dipakai adalah:

(أن ابن عمر رضي الله عنه كان إذا كان يوم الثلاثين من شعبان وحال دونه غيم أو قتر أصبح صائما)

“Sungguh Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- ketika hari ketiga puluh Sya’ban dan (tidak terlihat bulan) karena mendung, maka dia berpuasa.”[2]

Pemilik pendapat kedua ini berkata bahwa Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- adalah perawi hadits di atas. Sehingga apa yang dilakukan Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- merupakan suatu penafsiran.

Landasan hukum selanjutnya adalah makna dari sabda Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “فإن غم عليكم فاقدروا له” adalah “ضيقوا له” yang artinya mempersempit jumlah hari, yaitu dua puluh sembilan hari. Begitu juga sabda Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-tersebut ditafsiri dalam keadaan langit cerah karena puasa tergantung hasil rukyah. Jika dalam keadaan mendung maka lain hukumnya.

Dasar hukum lainnya adalah ada kemungkinan bulan pada malam ketiga puluh Sya’ban telah tampak namun tertutup mendung. Maka wajib berpuasa karena sikap lebih berhati-hati.

Ketiga: Harus mengikuti Imam. Jika imam berpuasa maka semua harus berpuasa, jika imam tidak berpuasa maka semua juga tidak boleh berpuasa. Ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ

“Berbuka di hari orang-orang berbuka dan berkurban di hari orang-orang berkurban.”[3]

Penulis berkata: Pendapat terkuat adalah pendapat mayoritas ulama yangmelarang berpuasa di hari keraguan karena berbabagai dasar hukum di atas. Adapun perbuatan Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- sama sekali tidak menunjukkan Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- berkeyakinan wajibnya puasa di hari keraguan sehingga Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- dianggap menafsiri apa yang ia riwayatkan. Buktinya, jika memang puasa di hari itu wajib, maka Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- pasti memerintahkan keluarganya dan orang-orang untuk berpuasa. Kemungkinan terkuat adalah Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- melakukan puasa sunnah karena sikap lebih berhati-hati. Dan ini adalah Pendapat Keempat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim. Pendapat ini diperkuat dengan perkataan Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu-:

لَوْ صُمْتُ السَّنَةَ كُلَّهَا لَأَفْطَرْتُ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ

“Jika aku melakukan puasa sunnah semuanya, maka sungguh aku akan berbuka di hari yang ada keraguan .”[1]

Selain itu, jika Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- berpuasa di hari itu, maka Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- telah bertolak belakang dengan perbuatan Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang diriwayatkan oleh `A'isyah -radhiyallahu `anha- yang kata:

(كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتحفظ عن شعبان ولا يتحفظ من غيره, ثم يصوم لرؤية رمضان, فإن غم عليه عد ثلاثين يوما ثم صام)

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- menjaga di bulan Sya’ban dan tidak menjaga di bulan lain, lalu beliau berpuasa karena melihat bulan Ramadhan. Jika bulan tertutup mendung maka dijadikanlah tiga puluh hari kemudian beliau berpuasa.”[2]

Jika hari keraguan ternyata awal bulan ramadhan, seperti halnya jika ada yang melihat bulan tapi kabar tersebut baru bisa sampai pada qadhi siang hari, atau orang-orang melihat bulan di siang hari (sebelum tengah hari), maka ada empat kemungkinan:

1. Dia telah berpuasa di hari keraguan dengan niat puasa Ramadhan (sesuai dengan madzhab Hanbaliy), maka puasanya sah tanpa ada perbedaan pendapat antara ulama.

2. Dia telah berpuasa sunnah di hari tersebut atau dengan niat yang digantungkan, maka pendapat mayoritas ulama adalah tidak sah puasanya karena wajibnya menetapkan atau menentukan niat dan harus ada keyakinan bahwa dia berpuasa Ramadhan.[3]

Imam Abu Hanifah berpendapat sah puasanya karena menurutnya tidak ada persyaratan niat dalam puasa Ramadhan. Begitu juga dengan salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[4]

Penulis berkata: Pendapat terkuat adalah yang pertama karena kuatnya dalil.

Dia niat berbuka kemudian di tengah siang (sebelum dia makan dan minum sesuatu) yakin bahwa hari itu adalah awal bulan Ramadhan. Imam Syafi’i berkata[1]: “Dia wajib meneruskan berpuasa dan wajib mengulang puasanya karena pada malam hari itu dia tidak niat puasa Ramadhan.” Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat sah puasanya.

Dia niat berbuka kemudian di tengah siang yakin bahwa hari itu adalah awal bulan Ramadhan setelah makan dan minum sesuatu, maka wajib baginya menahan diri (dari makan dan minum) sampai akhir hari tersebut tanpa ada perbedaan pendapat antara ulama berdasarkan hadits Salamah bin Al-Akwa` -radhiyallahu `anhu-.:

(أَمَر رَسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ: أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ: أَنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ

“Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan seorang lelaki dari Aslam untuk memberi tahu orang-orang bahwa bagi siapa yang telah makan maka berpuasalah sampai akhir hari. Bagi siapa yang belum makan maka berpuasalah. Sesungguhnya hari ini adalah hari Asyura.”[2]

Pada hari itu, puasa yang dikerjakan menjadi puasa wajib dan dia wajib mengulang puasanya di lain hari karena dia tidak niat puasa di malam harinya. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i dan Hanbaliy.[3] Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat[4] tidak wajib mengganti atau mengulang puasanya di lain hari karena mengganti puasa butuh dalil, apalagi dalam hal ini tidak ada kesengajaan. Menanyakan tidak niat pada malam harinya, Ibnu Taimiyah menjawab bahwa niat puasa mengikuti pengetahuan karena Allah -subhanahu wa ta`ala- tidak membebani seseorang dengan niat sesuatu yang belum ia ketahui. Dan dalam hal ini, pengetahuan tentang awal Ramadhan tidak bisa diketahui kecuali di tengah hari. Ini adalah madzhab dengan sudut pandang yang kuat. Namun, mengulangi puasa di lain hari adalah sikap yang lebih hati-hati.

Jika Di Suatu Negara Telah Melihat Bulan, Apakah Negara Lain Wajib Mengikuti Negara Tersebut?. Ada Tiga Pendapat Ulama


Pertama: Jika suatu negara telah melihat bulan, maka semua negara harus berpuasa tanpa memandang perbedaan terbit. Ini adalah pendapat yang gunakan oleh madzhab Hanafi, madzhab Maliki, sebagian madzhab Syafi’i, dan pendapat terkenal madzhab Hanbaliy.[5]Pemilik pendapat ini berkata: “Karena khitab dari sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-“jika kamu sekalian melihat bulan maka berpuasalah”, adalah untuk semua umat Islam. Selain itu, pendapat ini juga lebih dekat dengan persatuan umat Islam dan mudahnya komunikasi antara dua sisi dunia di zaman ini melalui satelit.

Kedua: Setiap negara harus melakukan rukyah di bawah suatu pemerintahan. Ini adalah pendapat Ibnu Mundzir yang dinukil dari `Ikrimah, Al-Qasim, Salim, dan Ishaq.[1] Dasar hukum yang dipakai adalah hadits Kariib, budak Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- yang berkata:

قَدِمْتُ الشَّامَ، وَاسْتَهَلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ، فَرَأَيْنَا الْهِلالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ، فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ، ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ، فَقَالَ: مَتَى رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ ؟ فَقُلْتُ: رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ. فَقَالَ: أَنْتَ رَأَيْتَهُ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوا، وَصَامَ مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ: لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ، فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكَمِّلَ ثَلَاثِينَ أَوْ نَرَاهُ. فَقُلْتُ: أَوَلَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ؟ فَقَالَ: " لَا، هَكَذَا أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Aku pergi ke Syam dan bulan Ramadhan mulai tampak. Ketika aku sudah ada di Syam, aku melihat bulan di malam Jum’at. Kemudian aku pergi ke Madinah di akhir bulan. Lalu Ibnu Abbas bertanya padaku kemudian menyebut bulan. Dia berkata: Kapan kamu melihat bulan? Aku menjawab: Aku melihatnya malam Jum’at. Lalu dia bertanya lagi: Kamu melihatnya di malam Jum’at? ya, dan orang-orangpun melihatnya dan mereka berpuasa, begitu juga Muawiyah. Lalu dia berkata: Tapi kami melihatnya di malam Sabtu. Kami tidak berhenti berpuasa sampai kami menyempurnakan tiga puluh hari atau melihatnya. Lalu aku berkata: Tidakkah engkau mencukupkan diri dengan rukyah yang dilakukan Muawiyah dan puasanya? Kemudian dia berkata: Tidak. Seperti itulah yang diperintahkan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- kepada kita.”[2]

Firman Allah -subhanahu wa ta`ala-:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Bagi siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”[3]

Ketiga : Wajib puasa bagi negara yang tidak berbeda terbitnya. Ini adalah pendapat terkuat dari madzhab Syafi’i, sebagian madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan salah satu pendapat dari madzhab Hanbaliy. Pendapat moderat ini juga dipilih oleh Syaikhul Islam.[4]Sesungguhnya terbit itu berbeda-beda menurut kesepakatan ahli ma’rifat. Jika terbitberbagai negara sama, maka wajib berpuasa. Jika tidak sama, maka disesuaikan dengan hasil pengamatan masing-masing negara. Adapun pendapat pertama yang mengatakan tidak berlaku perbedaan terbit merupakan pendapat yang bertolak belakang dengan kenyataan adanya perbedaan waktu. Jika matahari terbenam untuk belahan timur, maka penduduk di barat belum boleh berbuka. Hadits Kariib di atas hanya menunjukkan bahwa mereka tidak berbuka dengan perkataan Kariib seorang (pendapat penulis). Perbedaan yang ada hanya tentang wajibnya mengganti di hari pertama, dan itu tidak ada dalam hadits.[5]Hadits tersebut hanya menjelaskan pemahaman Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- pada perintah Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang puasa, berbuka, dan rukyah bulan. Nilai dalilnya hanya terdapat pada status haditsnya yang mauquf. Allah Maha Tahu .

Demikian penjelasan singkat seputar Metode Penetapan Awwal Ramadhan yang dipakai oleh para ulama mutaqaddimin. Semoga bermanfaat.
 

Footnote:
[1] Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah: 185
[2] Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy : 1900, Muslim  :1080
[3] Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy : 1907
[4] Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy : 1913, Muslim : 1080, dan lainnya
[5] Lihat Majmu’ Al-Fatawa,  XXV/113,132,146, Hasyiyah Ibn ‘Abidin,  II/393, Al-Majmu’ , VI/279,Bidayah A- Mujtahid, I/423
[6]Bidayah A- Mujtahid,  I/462
[7] Hadits Shahih, Riwayat: Abu Dawud : 2342, Ibnu Hibban : 3447,  Lihat juga Al-Irwa, 908
[8] Ini adalah pendapat madzhab Hanbaliy seperti yang tertera dalam Syarhul Muntaha,  I/440 dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla
[9] Hadits Shahih, Riwayat: An-Nasa'iy,  I/300, Ahmad,  IV/ 321 , Al-Irwa ,909
[10] Al-Badai’,  II/80, Mudawwanah,  I/193,  Al-Mubdi’,  III/10,  Al-Majmu’,  VI/280 , Al-Muhalla, VI/350, Majmu’ al-Fatawa ,  XXV/114
[11] Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah: 185
[12] Dihukum shahih oleh Al-Albaniy: Hadits Riwayat: Abu Dawud : 2324, dan lainnya, lihat juga Al-Irwa , 905
[13]Al-Badai’ ,  II, h 78/  Al-Kharsyi,  II, h 238/  Al-Majmu’,  VI, h. 269/  Al-Inshaf ,  II, h 269/ Majmu’ulFataw,  XXV/124, Zadul Ma’ad,  II/46-49
[14]Shahih
[15] Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy : 1914, Muslim :1082
[16] Hadits Shahih, Riwayat: Abu Dawud : 2317, At-Tirmidziy : 681, An-Nasa'iy,  IV/153, Ibnu majah : 1645,  Al-Irwa',  h 961
[17] Hadits Shahih, Riwayat: Muslim : 2670, Abu Dawud  : 4608 dari hadits Ibnu Mas’ud
[18] Hadits Shahih, Riwayat: Abu Dawud : 2320/ Ahmad,  II/5, lihat juga Al-Irwa' ,904
[19] Dihukum shahih oleh Al-Albaniy
[20] Sanadnya shahih: Dinukil oleh Ibnu Qayyim dari Al-Zad,  II/49 dan Hanbal dengan sanad shahih
[21] Hadits Riwayat: Abu Dawud :2325, Ahmad,  VI/149, Al-Baihaqy,  IV/206 dan sanadnya saling berdekatan
[22]Al-Khursyi,   II/238,  Al-Majmu’,  VI/270, Ar-Raudhah,  II/353,  Al-Mughni, III/27
[23]Al-Mabsuth,  III/60, Al-Mughni,  III/27
[24]Fathul Malik fi Tartibit Tamhid milik Ibnu Abdil Barr,  V/97
[25] Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy : 2007, Muslim : 1129
[26]Al-Um,  II/ 95, Al-Kafy  Ibnu Qudamah,  I/350
[27]Majmu’ al-Fatawa   XXV/110, Syarhul Mumti’ ,  VI/342, Al-Ikhtiyarat , 107
[28]Hasyiyah Ibnu ‘Abidin ,  II/393,  Al-Syarhul Kabir ,  I/510,  Al-Majmu’ ,  VI/273, Al-Inshaf ,  III/273
[29]Al-Mughni ,  III/289, Al-Majmu’ ,  VI/274
[30] Hadits Shahih, Riwayat: Muslim : 1087/ Abu Dawud no. 2332/ An-Nasa'iy,  IV, h 131/ At-Tirmidziy no. 693
[31]Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah: 185
[32]Qawanin Al-Fiqhiyah , h103
[33]Al-Mughni ,  III, h 289/lNailul Authar (4/231)

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru