Iklan Atas Zona Muslim

Hukum Mencukur Seluruh Atau Sebagian Rambut Kepala Saat Haji
4/ 5 stars - "Hukum Mencukur Seluruh Atau Sebagian Rambut Kepala Saat Haji" Diantara rangkaian ibadah haji adalah mencukur rambut kepala. Bagaimanakah cara mencukur yang benar dan boleh dilakukan sehingga ibadah h...

Hukum Mencukur Seluruh Atau Sebagian Rambut Kepala Saat Haji

Admin

Diantara rangkaian ibadah haji adalah mencukur rambut kepala. Bagaimanakah cara mencukur yang benar dan boleh dilakukan sehingga ibadah hajinya menjadi sempurna? Berikut ini tata cara mencukur rambut saat ibadah haji beserta adab-adabnya.

Hukum Mencukur Rambut


Mayoritas ulama sepakat bahwa mencukur rambut kepala atau memendekkannya merupakan salah satu dari kewajiban haji, ini merupakan mazhab Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah[4].

Syafi`iy berpendapat -yang kuat di dalam mazhabnya- bahwa mencukur adalah rukun[5].

Sebab perbedaan mereka adalah tidak adanya dalil atas itu, mencukur telah ditetapkan oleh Al-Qur'an, As-Sunnah dan ijma’. Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

(لَّقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ)

“Sesungguhnya Allah telah membuktikan kepada rasul-Nya, tentang kebenaran mimpi dengan kebenarannya (yaitu) bahwa sesungguhnya engkau pasti akan memasuki masjidil haram, insyaa' Allah dalam keadaan aman, dan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang engkau tidak merasa takut”[1]

Haji telah diuraikan dengan pencukuran maka diketahui bahwa dia wajib.

Dari `Abdullah bin `Umar bahwa nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

اللَّهُمَّ ارْحَمِ المُحَلِّقِينَ قَالُوا: وَالمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «اللَّهُمَّ ارْحَمِ المُحَلِّقِينَ» قَالُوا: وَالمُقَصِّرِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: وَالمُقَصِّرِينَ

“Ya Allah sayangilah orang-orang yang bercukur, mereka bertanya: orang-orang yang memendekkan wahai Rasulullah? Beliau menjawab: yaa Allah sayangilah orang-orang yang bercukur mereka bertanya: dan orang-orang yang memendekkan wahai Rasulullah? Beliau berkata dan orang-orang yang memendekkan”[2].

Mencukur Lebih Utama Daripada Hanya Memendekkan


Berdasarkan hadits Ibnu `Umar di atas, tidak diwajibkan bercukur kecuali jika telah bernadzar, dan jika memendekkan maka dia mengumpulkan rambutnya lalu memotong dari seluruhnya sebanyak ujung jari atau lebih sedikit atau banyak.

Tidak Dicukur Bagi Perempuan Akan Tetapi Dipendekkan


Dari Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- berkata, Rasulullah berkata kepada kami:

لَيْسَ عَلَى النِّسَاءِ الْحَلْقُ، إِنَّمَا عَلَى النِّسَاءِ التَّقْصِيرُ

“Tidak ada bagi perempuan cukuran, adapun bagi perempuan dipendekkan”[3].

Seseorang telah mengabarkan bahwa kaum perempuan tidak mencukur tetapi memendekkan.

Berapa Ukuran Rambut Perempuan Yang Diambil?


Tidak disebutkan dalil di dalam hal ini baik dari Al-Qur'an atau as-Sunnah, sebagian ulama berkata: diambil sebanyak ujung jari dari setiap jalinan rambut, ini adalah pendapat Ibnu `Umar, Syafi`iy , Ahmad dan Abi Tsaur, sebagian dari mereka berkata: diambil sedikit dari sisi-sisinya, sebagian lagi berkata: jangan mengambil banyak dari yang masih muda, adapun perempuan yang sudah tua maka diambil dari rambutnya dan tidak melebihi dari seperempat[4].

Penulis berkata: Yang jelas bahwa bagi perempuan dipendekkan berapapun yang dia mau yang sekiranya tidak menyerupai lelaki dan jika tidak maka tidak boleh. Allah Maha Tahu.

Waktu Bercukur Dan Memendekkan


Disunnahkan bercukur -atau memendekkan- pada hari kurban, setelah melempar jumrah ‘Aqabah dan menyembelih kurban, mengikuti jejak nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Mayoritas ulama berkata bahwa bercukur dan memendekkan tidak dikhususkan dengan waktu dan tempat, akan tetapi sunnah melakukannya di tanah haram pada hari-hari penyembelihan hewan.

Hanafiyah berpendapat bahwa bercukur khusus pada hari-hari kurban dan di daerah haram, dan jika keluar dari dua hal tersebut, maka ia bertahallul tahallul dan dikenakan dam[1].

Adab-Adab Bercukur


1. Tidak Bercukur Sendiri: akan tetapi dicukur oleh orang lain.

2. Hendaknya memulai dengan belahan rambut sebelah kanan: dalil atas keduanya adalah hadits Anas

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى مِنًى، فَأَتَى الْجَمْرَةَ فَرَمَاهَا، ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بِمِنًى وَنَحَرَ، ثُمَّ قَالَ لِلْحَلَّاقِ خُذْ وَأَشَارَ إِلَى جَانِبِهِ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ الْأَيْسَرِ، ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ

“Bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatangi Mina, lalu mendatangi jumrah dan melemparnya kemudian mendatangi tempat tinggalnya di Mina, dan berkurban, kemudian berkata kepada seorang tukang cukur: ambillah, dan mengisyaratkan kepada sisi sebelah kanannya, kemudian sebelah kirinya, kemudian memulai memberikannya kepada orang banyak”[2].

3. Memotong kuku dan kumisnya setelah mencukur rambutnya: shahih riwayat dari Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu-

(أنه كان اذا حلق في حج أو عمرة, أخذ من لحيته و شاربه)

“Bahwa dia jika telah bercukur di dalam haji atau umrah, dia mengambil sebagian jenggotnya dan kumisnya”.

Ibnul Mundzir berkata: telah ditetapkan bahwa Rasulullah jika setelah mencukur rambutnya memotong kuku-kukunya[3].

Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Orang Botak?


Orang botak yang tidak memiliki rambut, tidak diharuskan bercukur dan tidak juga denda, dan dianjurkan untuk menjalankan alat cukur di atas kepalanya dan tidak diwajibkan menurut mayoritas ulama -berbeda dengan Hanafiyah- diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir tentang ijma’ para ulama’ bahwa orang yang botak dijalankan alat cukur di atas kepalanya[1].

Demikian penjelasan tentang hukum mencukur rambut saat haji. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Footnote:
[1]Fathul Qadir (2/178-252), dan Syarhur Risaalah Bihaasyiyatil ‘Adwi (1/478), al Mughni (3/435), dan al Furuu’ (3/513).
[2]Al Majmu’ (8/189).
[3]Al-Qur`an Surat: al Fath 27
[4]Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (1727), dan Muslim (1301).
[5]Shahih, disalin oleh Abu Daud (1985), dan ad-Darimi (1905) dan selain keduanya.
[6]Lihat riwayat dalam hal ini di dalam mushannaf Ibnu Abi Syaibah (1/4/115-117), dari Jaami’ Ahkaamin Nisaa’ (2/566).
[7]Lihat referensi di atas tentang hukum bercukur.
[8]Shahih, Hadits riwayat: Muslim (1305).
[3] Al Majmu’ (8/186-195).
[1]Al Majmu’ (8/192-193).
[2]Al Badaai’ (2/220), dan al Hidaayah (2/136), dan al Qawaaniinul Fiqhiyyah (hal.95), dan At Taaj Wal Ikliil (3/200), dan Raudhatut Thaalibiin (3/182), dan al Kaafi (360).
[3]Al Majmu’ (8/281).
[4]Al-Qur`an Surat. al Baqarah 196
[5]Al Majmu’ (8/283) dan yang setelahnya, dan Bidaayatul Mujtahid (1/528), dan al Inshaaf (4/71).
[1]Bidaayatul Mujtahid (1/529), dan al Inshaaf (4/71), dan al Ikhtiyaaraat (hal.120).
[2]Shahih, Hadits riwayat: Al-Bukhariy (5089), dan Muslim (1207).

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru