Iklan Atas Zona Muslim

Hari-Hari Yang Dilarang Berpuasa
4/ 5 stars - "Hari-Hari Yang Dilarang Berpuasa" Puasa adalah ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Namun demikian ada waktu-waktu tertentu yang kita dilarang mengerjakannya. Kapan sa...

Hari-Hari Yang Dilarang Berpuasa

Admin
Hari hari yang dilarang untuk berpuasa

Puasa adalah ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Namun demikian ada waktu-waktu tertentu yang kita dilarang mengerjakannya. Kapan saja Hari-Hari yang Dilarang Bepuasa? Simak penjelasan berikut ini.

1-2. Dua Hari Raya


Ulama bersepakat haramnya berpuasa di hari raya `Idul Fitri dan hari raya `Idul Adhha, baik puasa nadzar, puasa sunnah, puasa kafarat, atau puasa lainnya. (Syarh Muslim , Al-Nawawi , III, h207/ Al-Mughni , IV, h 424/ Fathul Bari , IV, h 281)

Diriwayatkan dari Abu Ubaid budak Ibnu Azhar berkata:

شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ: إِنَّ هَذَيْنِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلى الله عَلَيه وَسَلم عَنْ صِيَامِهِمَا: يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَالْآخَرُ يَوْمٌ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ

“Aku memasuki hari Id bersama `Umar bin Khattab -radhiyallahu `anhu- kemudian ia berkata: di dua hari raya ini, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang berpuasa: hari idul fithri setelah puasa kamu sekalian, dan hari kamu sekalian makan daging hewan kurban kalian” (Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1990/ Muslim no.1137)

Diriwayatkan juga dari Abu Sa`id Al-Khudhriy -radhiyallahu `anhu-:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمِ الْفِطْرِ، وَيَوْمِ النَّحْرِ

“Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang berpuasa pada dua hari: hari raya `Idul Fitri dan hari raya `Idul Adh-ha.” (Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1991. Muslim no. 1138)

3. Hari Tasyriq


Menurut kebanyakan ahli ilmu, dilarang berpuasa sunnah di hari tasyriq. Diriwayatkan dari Nubaisyah Al-Hadzali berkata bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ، وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” (Hadits Shahih, Riwayat: Muslim no. 1141)

Diriwayatkan juga dari Abu Marrah budak Ummu Hani berkata:

أنَّهُ دَخَلَ مَعَ عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن العَاصِ، عَلَى أَبِيهِ عَمْرو بْن العَاصِ، فَقَرَّبَ إِلَيْهِمَا طَعَامًا، فَقَالَ: كُلْ فَقَالَ: إِنِّي صَائِمٌ، فَقَالَ عَمْرو: كُلْ فَهَذِهِ الأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُفْطِرهَا، وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا

“Abu Marrah bersama Abdullah bin Amr mendatangi Amr bin Ash, lalu Amr bin Ash menyuguhkan makanan untuk mereka berdua dan berkata: Makanlah! Iapun berkata: Aku sedang berpuasa. Amr bin Ash berkata: Makanlah! Di hari ini, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kita untuk berbuka dan melarang kita berpuasa.” (Hadits Shahih, Riwayat: Abu Dawud no. 2418. Ahmad, IV/197)

Akan tetapi, orang yang menunaikan ibadah haji yang tidak menemukan hewan kurban, maka ia diberi keringanan berpuasa di hari tersebut – seperti yang akan dijelaskan – Diriwayatkan dari `A'isyah dan Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhuma- berkata:

لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلاَ لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ

“Tidak ada keringanan di hari tasyriq untuk berpuasa kecuali bagi orang yang tidak menemukan hewan kurban.” (Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1997-1998)

3. Puasa hari Jum’at saja


Tidak boleh mengerjakan puasa di hari Jum’at kecuali bagi orang yang sehari sebelumnya berpuasa, atau sehari setelahnya berpuasa, atau sehari berpuasa dan sehari berbuka lalu bertepatan ia berpuasa di hari Jum’at.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَا يَصُمْ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِلَّا أَنْ يَصُومَ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“Janganlah salah seorang dari kamu sekalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali ia berpuasa sebelum atau setelahnya.” (Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no.1985. Muslim no.1144)

Diriwayatkan juga dari Juwairiyah binti Al-Harits :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ, فَقَالَ: أَصُمْتِ أَمْسِ؟، قَالَتْ: لاَ, قَالَ: أتُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا؟ قَالَتْ: لاَ, قَالَ: فَأَفْطِرِي

“Bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- mengunjunginya di hari Jum’at sedang ia berpuasa. Kemudian beliau bertanya: Apakah kemarin kamu berpuasa? Ia menjawab: Tidak. Rasulpun bertanya lagi: Apakah besok kamu ingin berpuasa? Ia menjawab: Tidak. Rasulpun bersabda: Maka berbukalah!.”2

Ini adalah madzhab Syafi’i dan Ahmad. Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik bertolak belakang dengan pendapat ini dan berkata: “Tidak makruh berpuasa di hari Jum’at saja.” (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin , III/336. Al-Muwattha , I/330. Syarh Muslim, III/210. Al-Mughni , IV/427) Dasar hukum yang dipakai madzhab Hanafi adalah Hadits riwayat Ibnu Mas`ud -radhiyallahu `anhu-:

أَنَّ رَسُولَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ غُرَّةِ كُلِّ شَهْرٍ وَقَلَّمَا يُفْطِرُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa tiga hari setiap bulan dan tidak berbuka di hari Jum’at.” (Hadits Riwayat: Abu Dawud no.2450.At-Tirmidziy no. 742. An-Nasa'iy no. 2367. Ibnu majah no.1725)

Jawaban untuk pendapat ini adalah bahwa pendapat terkuat mengatakan status hadits ini adalah dha’if. Ada kemungkinan Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- berpuasa sehari sebelumnya atau setelahnya. Jika ada berbagai kemungkinan seperti ini, maka tidak sah dalil yang dipakai. (At-Talkhish , II/216. Subulus Salam , II/347)

Kemudian hadits yang dipakai dasar hukum madzhab ini adalah hadits perbuatan, sedangkan hadits yang dipakai dasar hukum madzhab pertama adalah hadits ucapan. Maka, hadits yang berupa ucapan harus didahulukan dari hadits yang berupa perbuatan jika terjadi pertentangan di antara keduanya dan tidak mungkin untuk digabungkan.

Adapun Imam Malik – semoga Allah merahmatinya – berpendapat tidak sampai ada larangan dalam masalah ini. Orang yang memiliki hujjah bisa mengalahkan orang yang tidak memilikinya.

Faedah: Jika kebetulan hari Jum’at bertepatan dengan hari Arafah maka boleh berpuasa di hari Jum’at saja. Larangan yang ada adalah ketika ia sengaja berpuasa di hari Jum’at saja. (Syarhul ‘Umdah , II/252. Al-Zaad , II/86) Allah Maha Tahu .

4. Puasa Pada Hari Keraguan


Tidak boleh menyambut bulan Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya dengan niat lebih berhati-hati memasuki bulan Ramadhan. Ini berlaku untuk orang yang terbiasa. Seperti orang yang terbiasa sehari berpuasa dan sehari berbuka, atau terbiasa puasa Senin dan Kamis, Atau menyambungnya dengan hari sebelumnya. Jika ia tidak menyambungnya dengan hari sebelumnya atau tidak punya kebiasaan berpuasa maka haram hukumnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلاَ أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah salah seorang dari kamu mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali ia telah terbiasa mengerjakan puasanya, maka berpuasalah di hari itu.” (Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1914. Muslim no. 1082)

Diriwayatkan juga dari ‘Ummar bin Yasir -radhiyallahu `anhu-:

من صَامَ الْيَوْم الَّذِي شكّ فِيهِ فقد عَصَى أَبَا الْقَاسِم صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ

“Bagi siapa yang berpuasa di hari yang diragukan, maka ia telah bermaksiat pada Abu Al-Qasim -shallallahu ‘alaihi wasallam-.” (Hadits Shahih, Riwayat: Abu Dawud no. 2334. At-Tirmidziy no.681. An-Nasa'iy , IV, h 153. Ibnu Majah no.1645)

5. Puasa Setahun Penuh


Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:

لَا صَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ, لَا صَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ, لَا صَامَ مَنْ صَامَ الْأَبَدَ

“Tidak ada puasa bagi orang yang berpuasa selamanya, Tidak ada puasa bagi orang yang berpuasa selamanya, Tidak ada puasa bagi orang yang berpuasa selamanya.” (Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no.1977. Muslim no.1159)

Dalam Hadits riwayat Abu Qatadah bahwa `Umar -radhiyallahu `anhum- berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ بِمَنْ يَصُومُ الدَّهْرَ كُلَّهُ؟ قَالَ: لَا صَامَ وَلَا أَفْطَرَ

“Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang berpuasa setahun penuh? Beliau bersabda: Tidak ada puasa baginya dan tidak ada berbuka baginya.” (Hadits Shahih, Riwayat: Muslim no.1162)

Maka, makruh hukumnya berpuasa setahun penuh walaupun tidak menemukan kesulitan atau kelemahan ketika mengerjakannya. Begitu juga ketika tidak berpuasa di hari-hari yang dilarang berpuasa. Jika berpuasa di hari-hari tersebut, maka haram hukumnya. Allah Maha Tahu.

Apakah Puasa Rajab Disyariatkan?


Tidak ada riwayat shahih yang menjelaskan keutamaan puasa Rajab, baik dari Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- maupun para sahabatnya. Semua hadits yang menjelaskannya adalah dha`if, bahkan diada-adakan. (Majmu’ al-Fatawa , XXV/ 290. Latahiful Ma’arif : 228. Al-Sail Al-Jarar , II/143)

Maka tidak boleh berpuasa khusus di bulan Rajab atau mengkhususkan awal bulan Rajab dengan berpuasa. `Umar -radhiyallahu `anhu- sangat menentang puasa ini. Diriwayatkan dari Kharsyah bin al-Har berkata:

رَأَيْتُ عُمَرَ يَضْرِبُ أَكُفَّ النَّاسِ فِي رَجَبٍ، حَتَّى يَضَعُوهَا فِي الْجِفَانِ، وَيَقُولُ: كُلُوا، فَإِنَّمَا هُوَ شَهْرٌ كَانَ يُعَظِّمُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ

“Aku melihat `Umar memukul telapak tangan orang-orang di bulan Rajab sampai mereka meletakkan telapak tangannya di wadah, dan `Umar berkata: Makanlah kamu sekalian! Ini adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang jahiliyah.” (Hadits Shahih, Riwayat: Ibnu Abi Syaibah, III/102. Ibnu Katsir dalam Musnad Al-Faruq, I/285)

Diriwayatkan dari Muhammad bin Zaid berkata:

كَانَ ابْنُ عُمَرَ: إِذَا رَأَى النَّاسَ، وَمَا يَعُدُّونَ لِرَجَبٍ كَرِهَ ذَلِكَ

“Ibnu `Umar ketika melihat orang-orang menyelenggarakan perayaan Rajab, ia memakruhkannya.” (Hadits Shahih, Riwayat: Ibnu Abi Syaibah, III/102)

Dari `Athaa' berkata:

كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَنْهَى عَنْ صِيَامِ رَجَبٍ كُلِّهِ؛ لَأَنْ لَا يُتَّخَذَ عِيدًا

“Ibnu Abbas melarang berpuasa sebulan penuh di bulan Rajab.” (Hadits Shahih, Riwayat: Abdurrazzaq no. 7854)

Sebagian ahli ilmu berpendapat sunnah hukumnya berpuasa Rajab karena Rajab salah satu dari bulan yang dimuliakan. (Al-Majmu’ , VI/386)

Penulis berkata: Di bulan-bulan yang mulia itu, Allah -subhanahu wa ta`ala- memerintahkan kita untuk berdzikir dan melarang berbuat zalim karena memuliakannya, walaupun'kezaliman memang dilarang oleh Allah -subhanahu wa ta`ala- setiap waktu. Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

(إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (At-Taubah: 36)

Ini adalah larangan mengerjakan berbagai dosa di bulan-bulan tersebut karena besarnya kemuliaan yang diberikan oleh Allah -subhanahu wa ta`ala-. Siksa yang diberikan juga dilipat gandakan di bulan-bulan ini. Begitu juga Allah -subhanahu wa ta`ala- melipat gandakan pahala amal kebaikan. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah puasa menjadi ritual khusus untuk mengisi bulan-bulan yang mulia ini? Apalagi tidak ada riwayat dari Rasulullah -subhanahu wa ta`ala- yang sah tentang hal itu. Yang ada, Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda :

(صم من الحرم واترك)

“Berpuasalah di bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah.” (hadits dha’if): (Hadits Dha`if, Hadits Riwayat: Abu Dawud no.2428. An-Nasa'iy dalam Al-Kubra no.2743. Ahmad, V, h 28)

Ini karena ada penafsiran lain terhadap firman Allah -subhanahu wa ta`ala-: “Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” Yaitu janganlah kamu sekalian membuat-buat haramnya bulan-bulan ini menjadi halal dan halalnya menjadi haram.(Tafsir At-Thabari, VI/ 366)

Yang pasti, puasa di bulan-bulan mulia seperti yang dijelaskan di atas. Adapun puasa Rajab dan mengkhususkannya –apalagi meyakini adanya keutamaan– adalah tidak boleh. Jika berpuasa di bulan Rajab tanpa mengagungkan seperti yang dilakukan kaum jahiliyah, dan tidak menganggapnya suatu hal yang wajib atau menekuni hari-hari di bulan Rajab dengan berpuasa atau menekuni malam-malamnya dengan mendirikan ibadah dan menyangka bahwa apa yang ia lakukan adalah sunnah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka boleh mengerjakan puasa jika terhindar dari hal-hal tersebut.[Lihat Tabyiinul ‘Ujub Bima Warada Fi Fadli Rajab milik Ibnu Hajar (70)] Allah Maha Tahu. .

Hukum Puasa Di Hari Sabtu Saja


Diriwayatkan dari Abdullah bin Busra dari Saudarinya bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلَّا فِيمَا افْتُرِضَ عَلَيْكُمْ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلَّا لِحَاءَ عِنَبَةٍ أَوْ عُودً شَجَرَةٍ فَلْيَقْضِمْهُ

“Janganlah kamu sekalian berpuasa di hari sabtu kecuali apa yang diwajibkan atas kamu sekalian. Jika kamu tidak menemukan anggur atau kayu pohon, maka kunyahlah.”[1]

Para Ahli Ilmu Berbeda Pendapat Tentang Masalah Ini


Pertama: Sebagian dari mereka membolehkan puasa Sabtu sebagai puasa sunnah, walaupun dilakukan di hari sabtu saja. Ini adalah madzhab Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah, dan Ibnu Qayyim. [Al-Inshaf , III/347. Iqtidhaus Shiratil Mistaqim , II/575. Mukhtasharus Sunan , III/ 298 ]

Mereka menilai dha’if hadits di atas. Mereka lebih mengedepankan hadits shahih yang menjelaskan tentang puasa Arafah, enam hari bulan Syawwal, Asyura, puasa tiga hari putih, serta puasa sehari dan berbuka sehari. Maka puasa hari sabtu juga harus sesuai dengan salah satu hari-hari tersebut.

Begitu juga hadits yang menjelaskan puasa sehari sebelum Jum’at atau sehari setelahnya dan sabda Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- kepada Juwairiyah ketika ia berpuasa di hari Jum’at:

أتريدين أن تصومي غدا؟ ... “

"Apakah besok kamu akan berpuasa?”.

Kedua: Makruh berpuasa di hari sabtu saja. Ini adalah madzhab mayoritas ulama. Di antaranya adalah madzhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbaliy. [Al-Majmu’ , VI/ 440. Al-Badai’ , II/ 79. Al-Mughni , IV/428] Mereka menggunakan hadits di atas sebagai dasar hukum dilarangnya puasa hari Sabtu saja karena menyerupai orang Yahudi. Pendapat ini diperkuat dengan Hadits riwayat Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- bahwa Ummu Salamah -radhiyallahu `anhu- berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مَا كَانَ يَصُومُ مِنَ الْأَيَّامِ يَوْمَ السَّبْتِ وَالْأَحَدِ، كَانَ يَقُولُ: إِنَّهُمَا يَوْمَا عِيدٍ لِلْمُشْرِكِينَ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَهُمْ

“Sesungguhnya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- lebih banyak berpuasa di hari sabtu dan minggu. Beliau bersabda: Dua hari itu adalah dua hari raya orang-orang musyrik dan aku ingin berbeda dengan mereka.”[2]

Penulis berkata: Dengan Hadits riwayat Abdullah bin Busra, tidak masalah berpuasa di hari sabtu apalagi jika sesuai dengan hari yang disunnahkan berpuasa oleh agama. Allah Maha Tahu.

Makruh Hukumnya Menyambung Puasa (wishal).


Makruh hukumnya menyambung satu puasa dengan puasa lain tanpa berbuka dan sahur, karena Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْوِصَالَ، إِيَّاكُمْ وَالْوِصَالَ، إِيَّاكُمْ وَالْوِصَالَ» ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ: فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ، قَالَ: «فَإِنَّكُمْ فِي ذَلِكُمْ لَسْتُمْ مِثْلِي إِنِّي يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي، فَاكْلَفُوا مِنَ الْأعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ

“Janganlah kamu nyambung (puasa) – beliau mengucapkannya tiga kali – para sahabat berkata: Bukankah engkau menyambung puasa, Wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Kamu tidak sepertiku. Sesungguhnya aku diberi makan dan minum oleh Tuhanku. Maka kamu dibebani amal sesuai denga kemampuanmu.”[Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1966. Muslim no. 1103 dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu-]

Akan tetapi, jika tidak menimbulkan bahaya, boleh menyambung puasa sampai sahur saja. Berdasarkan Sabda Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

لَا تُوَاصِلُوا فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ

“Janganlah kamu sekalian menyambung (puasa). Jika kamu sekalian ingin menyambung puasa, maka sambunglah hingga sahur.” (Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no.1967. Abu Dawud no.2344). Wallohu a'lam

Demikian penjelasan tentang hari-hari yang dilarang berpuasa. Semoga bermanfaat. Barokallohu fiikum


Footnote:
[1] Para imam menilai cacat riwayat ini: Hadits Riwayat: Abu Dawud (2428), At-Tirmidziy (744), An-Nasa'iy dalam Al-Kubra (2762), Ibnu Majah (1726), Ahmad (6/368). Imam Malik berkata: Dusta. Abu Dawud berkata: Telah dihapus legalitas hukumnya. Al- Hafizh berkata: Ada kerancuan. Thahawi berkata: Langka. Begitu juga dengan Syaikhul Islam dan lainnya. Aku telah membahasnya dalam komentarku terhadap Syarhul Manzhumah Al-Baiquniyah” milik Ibnu Utsaimin (24)
[2] Hadits Dha`if, Hadits Riwayat: An-Nasa'iy dalam Al-Kubra no.2776. Ahmad, VI/323,dan lainnya dengan sanad dha’if.

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru