Iklan Atas Zona Muslim

Berapa Rakaat Jumlah Shalat Witir?
4/ 5 stars - "Berapa Rakaat Jumlah Shalat Witir?" Mengenai bilangan Shalat witir ada beberapa macam. Mulai dari satu rakaat, tiga, lima, tujuh atau sembilan rakaat. Masing-masing berdasar...

Berapa Rakaat Jumlah Shalat Witir?

Admin

Mengenai bilangan Shalat witir ada beberapa macam. Mulai dari satu rakaat, tiga, lima, tujuh atau sembilan rakaat. Masing-masing berdasarkan dalil dari Hadits Nabi dan penjelasan para ulama.

1. Shalat Witir Satu Rakaat, 

Jumhur ulama menyatakan boleh, karena witir dapatdihitung dengan satu rakaat. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً فَأَوْتَرَتْ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat, dan apabila khawatir datangnya Subuh –yang telah dekat– maka cukup mengerjakan shalat witir satu rakaat untuk mengakhiri shalat malamnya”[1]

Juga hadits riwayat Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallambersabda:

الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ

“Shalat witir itu satu rakaat di akhir malam”[2]

Dan riwayat dari Aisyah radhiallahu 'anha :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat malam sebelas rakaat yang satu rakaat di antaranya adalah shalat witir”[3]

Sedangkan Abu Hanifah berpendapat, bahwa shalat witir –minimal– tiga rakaat, dengan dalil hadits:

المَغْرِبُ وِتْرُ النَّهَارِ

Shalat Maghrib adalah "witir" di siang hari”[4]

Karena Rasulullah ketika mengumpamakan shalat Maghrib sebagai "witir"nya siang, maka witir di malam hari pun harus tiga rakaat.

Penulis berkata: Tidak ada yang menghalangi jika shalat Maghrib itu sebagai "witir" –karena tiga rakaat– lalu shalat yang lainnya juga disebut witir (meskipun satu rakaat). Selain itu, jika Maghrib dikatakan sebagai "witir" untuk siang, maka dalil-dalil yang telah dipaparkan di atas menyatakan bahwa witir untuk malam itu –cukup– dengan satu rakaat, dan ini gamblang.

2. Shalat Witir Tiga Rakaat.

Mengenai jumlah ini ada dua cara, dan keduanya dibolehkan.

Cara Pertama: Shalat dua rakaat terlebih dahulu yang diakhiri dengan salam, kemudian shalat satu rakaat lagi untuk rakaat ketiga.

Hal tersebut sebagaimana yang dilakukan Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma :

أَنَّهُ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَتَيْنِ وَ الْوِتْرِ حَتَّى يَأْمُر بِبَعْضِ حَاجَتِهِ

“Bahwa ia melakukan salam di antara dua rakaat dan witir hingga ia meminta untuk beberapa keperluannya.”[1]

Dan juga terdapat hadits marfu' dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِتَسْلِيمٍ يُسْمِعْنَاهُ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memisah antara rakaat genap dan witir dengan salam yang –suaranya– beliau perdengarkan kepada kami.”[2]

Hadits ini juga diperkuat dengan saksi hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ يُوتِرُ بَعْدَهُمَا بِـ [سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى] وَ [قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ] وَيَقْرَأُ فِى الْوِتْرِ بِـ [قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ] وَ [قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ] وَ [قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ]

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan dua rakaat shalat malam yang diakhiri witir, beliau membaca –dalam shalat malam tersebut– dengan surat [Sabbihisma Rabbika-l-A'la] dan [Qul Ya Ayyuhal-Kafirun] sedangkan dalam shalat witir beliau membaca, [Qul Huwallahu Ahad] dan [Qul A'udzu Bi Rabbil-Falaq] dan [Qul A'udzu bi Rabbin-Nas]"[3]

Permasalahan ini dalam kitab Shahih Ibnu Hibban telah dijadikan bab khusus dalam "Penyampaian riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memisahkan antara shalat dua rakaat dan rakaat ketiga dengan salam."

Cara Kedua: Shalat tiga rakaat witir dengan satu kali tasyahud.

Sebagaimana dalam riwayat Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ؛ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثً]

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam –dalam shalat malam– baik ketika bulan Ramadhan atau selainnya, beliau tidak pernah melakukannya lebih dari sebelas rakaat; yaitu beliau mengerjakan empat rakaat terlebih dahulu, dan jangan tanyakan tentang bagus dan panjangnya rakaat tersebut. Lalu beliau melaksanakan empat rakaat lagi, dan jangan tanyakan tentang bagus dan panjangnya rakaat tersebut. Baru setelah itu beliau mengerjakan tiga rakaat witir.”[1]

Juga dalam riwayat lain Aisyah radhiallahu 'anha mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُوتِرُ بِثَلاَثٍ لاَ يَقْعُدُ إِلاَّ فِى آخِرِهِنَّ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat witir tiga rakaat dan tidak duduk tasyahud kecuali di akhir rakaat saja.”[2]

Catatan Penting: Tidak disyariatkan mengerjakan witir tiga rakaat dengan satu salam namun dengan dua kali tasyahud layaknya shalat Magrib. Berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallambersabda:

لَا تُوتِرُوا بِثَلَاثٍ، أَوْتِرُوا بِخَمْسٍ، أَوْ بِسَبْعٍ، وَلَا تَشَبَّهُوا بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ

“Jangan kalian mengerjakan shalat witir tiga rakaat (dengan cara seperti shalat Maghrib), dan kerjakanlah witir dengan lima rakaat atau tujuh rakaat. Serta jangan –mengerjakan shalat witir yang– menyerupai dengan shalat Maghrib.”[3]

Apa Yang Dibaca Pada Tiga Rakaat Tersebut?


Dianjurkan bagi yang melakukan shalat witir tiga rakaat untuk membaca surat-surat sebagaimana dalam hadits di bawah ini:

Hadits riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقْرَأُ فِي الوِتْرِ: بِـ [سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى] وَ [قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُونَ]، وَ [قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ] فِي رَكْعَةٍ رَكْعَةٍ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengerjakan shalat witir, beliau membaca surat [Sabbihisma Rabbika-l-A'la] lalu [Qul Ya Ayyuhal-Kafirun] dan [Qul Huwallahu Ahad]. Di setiap rakaat rakaat.”[4]

Maksudnya, di setiap rakaat dibaca satu surat tersebut.

Dan juga riwayat Ubay bin Ka'ab radhiallahu 'anhuma :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَقْرَأُ فِي الوِتْرِ بِـ [سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى] ، وَ[قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ] ، وَ[قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ] فَإِذَا سَلَّمَ ، قَالَ : سُبْحَانَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ ، ثَلاَثَ مَرَّات

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika mengerjakan shalat witir, beliau membaca surat [Sabbihisma Rabbika-l-A'la] lalu [Qul Ya Ayyuhal-Kafirun] dan [Qul Huwallahu Ahad]. Dan seusai salam beliau membaca, "Subhanal-Malikul-Quddus" sebanyak tiga kali.”[1]

Dengan dua hadits ini; ulama Hanabilah, Malikiyah dan Syafi'iyah yang menganjurkan bahwa ketika rakaat ketiga dalam shalat witir, hendaknya dibaca Al-Mu'awidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas) sebagaimana dalam hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha yang sebelumnya. Namun haditsnya tidak shahih. Wallahu A'lam.

3. Shalat Witir Lima Rakaat. 


Hukumnya boleh, dan dianjurkan bagi yang mengerjakan witir lima rakaat, maka tidak duduk tasyahud kecuali pada rakaat terakhir saja. Sebagaimana dalam hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لا يَجْلِسُ إِلاَّ فِي آخِرِهاَ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam suatu ketika melakukan shalat malam tiga belas rakaat, lima rakaat di antaranya adalah shalat witir –dan di dalam witir tersebut– beliau tidak duduk tasyahud melainkan di akhirnya.”[2]

4. Shalat Witir Tujuh Atau Sembilan Rakaat. 


Boleh dan dianjurkan ketika melakukan witir dengan jumlah rakaat tersebut agar melakukannya dengan berturut-turut serta tidak duduk tasyahud kecuali pada rakaat sebelum terakhir –dan tidak salam terlebih dahulu–, bangkit lagi untuk menyempurnakan rakaat terakhir, baru kemudian duduk tasyahud lagi dan kemudian salam.

Sebagaimana dalam hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha saat menerangkan tata-cara shalat witir Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ia berkata:

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - سِوَاكَهُ , فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ، وَ يَتَوَضَّأُ، وَ يُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهاَ إِلَّا فِى الثَّامِنَةِ، فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوهُ ، ثُمَّ يَنْهَضُ

وَلَا يُسَلِّمُ، ثُمَّ يَقُوْمُ التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوهُ , ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعنَاهُ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ ، فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَيَّ، فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ ، وَ صَنَعَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ مِثْل صَنِيْعهُ الأوَّلُ ، فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَيَّ

“Kami biasa menyediakan siwak bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bangun malam pada waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian beliau bersiwak dan berwudhu’ lalu shalat (witir) sembilan rekaat dan beliau tidak duduk (tasyahud) melainkan pada rakaat yang ke delapan, lalu berdzikir kepada allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangun dengan tidak mengucap salam dan berdiri mengerjakan rakaat yang ke sembilan, kemudian beliau duduk (tahiyat) seraya berdzikir kepada allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya. Kemudian beliau shalat dua rakaat seusai salam sedangkan beliau dalam keadaan duduk. Dengan demikian beliau mengerjakan sebelas rakaat wahai anakku. Namun ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam beranjak usia dan berat badan beliau pun bertambah, beliau hanya mengerjakan witir dengan tujuh rakaat, lalu melakukan shalat dua rakaat sebagaimana sebelumnya –aku jelaskan kepadamu– dengan demikian beliau mengerjakan sembilan rakaat wahai anakku.” (Hadits Riwayat: Muslim (746), Abu Daud (1328), dan An-Nasa`i (3/199)

Demikian penjelasan tentang jumlah rakaat shalat witir. Semoga tulisan bermanfaat.


Footnote:
[1] Shahih, telah dibahas baru saja
[2] Hadits Riwayat: Muslim (752) dan selainnya
[3] Hadits Riwayat: Muslim (736), Abu Daud (1335), At-Tirmidzi (440), An-Nasa`i (3/234), dan Ahmad (6/35)
[4] Hadits Riwayat: Ahmad (2/ 30, 41) Ibnu Abi Syaibah (2/81), Abdurrazaq (4675) dari hadits Marfu' Ibnu Umar, dan Malik (276) Mauquf padanya, namun tidak bermasalah, karena Imam Malik mengkategorikan hadits Marfu' sebagai hadits Mauquf. Dan hadits ini memiliki syahid-syahid dari Aisyah dan Ibnu Mas'ud. Shahih
[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (991), dari Malik (1/125)
[2] Hadits Riwayat: Ahmad (2/76), Thahawi (1/278), Ibnu Hibban (2433-2435) Shahih dengan seluruh jalur periwayatannya dan diperkuat oleh  Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul-Bari (2/482)
[3] Hadits Riwayat: Thahawi (1/285), Hakim (1/305), Darul-Quthny (2/35), Ibnu Hibban (3432). Dha'if, dan telah Shahih namun tanpa disebutkan al-Muawwidzatain dari hadits Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka'ab sebagaimana nanti akan dibahas. At-Talkhish (533)
[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1147), Muslim (738) dan selain mereka berdua
[2] Hadits Riwayat: Malik (466), An-Nasa`i (3/234), Thahawi (1/280), Hakim (1/304), dan Baihaqy (3/31)
[3] Hadits Riwayat: Hakim (1/304), Al-Baihaqi (3/31), Ibnu Hibban (2429), Darul-Quthny (2/24). Shahih, al-Hafidz berkata dalam kitab At-Talkhish; dan semua sanadnya terpercaya (tsiqah) dan tidak mengapa jika ada yang menyatakannya sebagai hadits Mauquf
[4] Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (461) dan An-Nasa`i (3/236). Shahih
[1] Hadits Riwayat: Abu Daud (1423), An-Nasa`i (3/244), Ibnu Majah (1171). Shahih, dan ada perbedaan namun Insya Allah tidak masalah
[2] Hadits Riwayat: Muslim (737), Abu Daud (1324),  dan At-Tirmidzi (457)

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru