Iklan Atas Zona Muslim

Apa Saja Yang Boleh Dilakukan Wanita Terhadap Mahramnya?
4/ 5 stars - "Apa Saja Yang Boleh Dilakukan Wanita Terhadap Mahramnya?" Ada beberapa anggapan yang keliru terkait interaksi atau hubungan seorang wanita dengan mahramnya (mahram laki-laki). Sebagian asumsi tid...

Apa Saja Yang Boleh Dilakukan Wanita Terhadap Mahramnya?

Admin

Ada beberapa anggapan yang keliru terkait interaksi atau hubungan seorang wanita dengan mahramnya (mahram laki-laki). Sebagian asumsi tidak bertentangan dengan syariat namun sebagian asumsi perlu diluruskan karena bertentangan dengan syariat. Terkait dengan hubungan antar mahram sebagian berkaitan dengan perbuatan atau sikap dan sebagian lagi berkaitan dengan batasan aurat. Sebelum mengetahui batasan-batasan yang diperbolehkan bagi wanita untuk menampakkan bagian-bagian tubuhnya di hadapan muhrimnya, harus diketahui terlebih dulu apa yang dimaksud dengan mahram.

Sejatinya mahram seorang wanita adalah siapa saja yang boleh melihatnya, berduaan dengannya, dan berpergian bersamanya. Kesemuanya itu haram menikahinya selamanya dengan suatu sebab mubah. Menurut kami haram selamanya berarti tidak termasuk di dalamnya saudara wanita itu, bibinya dan sejenisnya.[2]

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan kecuali yang nampak darinya”[3]

Pada ayat ini pembolehan seorang mahram melihat tempat perhiasan wanita karena mereka tidak dapat terhindar dari interaksi yang berbaur dan bersama-sama yang pastinya sering melihat, menemui dan bersama dengan mereka disebabkan kekerabatan dan seorang wanita akan aman dari fitnah dengan keberadaan mereka.

Allah Ta’ala menyebutkan suami pertama kali dalam ayat mahram ini kemudian baru mahram-mahram yang lain yaitu:

1. Ayah berikut para kakek baik dari pihak ayah maupun ibu.

2. Bapak juga kakeknya suami

3. Anak-anaknya dan anak-anak suaminya, termasuk di sini cucu-cucu yang berasal dari keduanya

4. Saudara, baik itu kandung, seayah maupun seibu.

5. Anak saudara laki-laki dan wanita karena mereka dalam hal ini juga dihukumi sebagai saudara.

6. Paman-paman. Mereka adalah muhrim yang tidak disebutkan dalam ayat. Jumhur ulama mengatakan bahwa mereka sebagaimana mahram yang lain. Penegasannya dalam hadits Aisyah: Bahwa Aflah saudara Al-Qa’is meminta izin pada Aisyah –dan dia adalah paman sesusuannya- setelah pensyariatan hukum hijab. Aisyah berkata: “Aku mengacuhkannya dan tidak memberinya izin. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba aku memberitahukannya apa yang telah aku lakukan, dan beliau menyuruhku mengizinkannya”[1]

7. Saudara sesusuan yang juga tidak disebutkan dalam ayat mahram. Namun ulama sepakat bahwa mereka sebagaimana muhrim yang lain. Dan ini berdasarkan hadits sebelum ini.

Batasan-batasan aurat wanita di hadapan mahramnya


Ulama menyebutkan batasan-batasan aurat wanita yang boleh dia perlihatkan di hadapan mahramnya dalam dua pendapat yang cukup populer yaitu:

Pendapat Pertama: Mahram boleh melihat seluruh tubuh wanita, kecuali bagian antara pusar dan lutut, dan ini adalah pendapat kebanyakan ulama.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا أَنْكَحَ أَحَدُكُمْ عَبْدَهُ أَو أَجِيرَهُ فَلاَ يَنْظُرَنَّ إِلَى شَيْءٍ مِنْ عَورَتِهِ، فَإِنَّ مَا أَسْفَلَ مِنْ سُرَّتِهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ مِنْ عَوْرَتِهِ .

“Jika salah seorang di antara kalian menikahkan hamba sahaya atau pembantunya, maka jangan sekali-kali ia melihat sedikit pun dari auratnya. Karena apa yang ada di bawah pusar hingga lutut adalah aurat.”[2]

Meskipun dalam redaksinya, hadits tersebut ditujukan kepada kaum lelaki, namun kaum wanita adalah saudara sekandung bagi kaum lelaki.

Diriwayatkan pula oleh Abu Salamah:

ذَخَلْتُ أَنَا وَأَخُو عَائِشَةَ عَلَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا أَخُوهَا عَنْ غُسْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَدَعَتْ بِإِنَاءٍ نَحْوًا مِنْ صَاعٍ فَاغْتَسَلَتْ وَأَفَاضَتْ عَلَى رَأْ سِهَا وَبَيْنَنَا وَبَيْنَهَا حِجَابٌ .

“Aku dan saudara Aisyah datang kepada Aisyah, lalu saudaranya itu bertanya kepadanya tentang mandi yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas Aisyah meminta wadah yang berisi satu sha’ (air), kemudian ia mandi dan mengucurkan air di atas kepalanya. Sementara antara kami dan beliau ada tabir.”[1]

Al-Qadhi ‘Iyadh[2] berkata, “Yang nampak dari hadits tersebut adalah bahwa keduanya (yakni Abu Salamah dan saudara Aisyah) melihat apa yang dilakukan oleh Aisyah pada kepala dan bagian atas tubuhnya, dimana itu adalah bagian yang boleh dilihat oleh seorang mahram, dan Aisyah adalah bibinya Abu Salamah karena persusuan, sementara ‘Aisyah meletakkan tabir untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, karena bagian tersebut adalah bagian yang tidak boleh dilihat oleh mahram.”

Pendapat Kedua: Seorang mahram hanya boleh melihat anggota tubuh wanita yang biasa nampak, seperti anggota-anggota tubuh yang terkena air wudhu’.[3]

Ibnu Umar berkata, “Dahulu kaum lelaki dan wanita pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan wudhu’ secara bersamaan.” [4]

Tersirat pemahaman dalam hadits tersebut suatu keadaan yang terjadi khusus bagi para istri dan mahram[5], mahram boleh melihat anggota wudhu’ para wanita. [6]

Catatan:

1. Seorang mahram boleh melihat aurat wanita -berdasarkan pada penjelasan yang lalu- dengan syarat bukan dalam keadaan menikmatinya dan disertai dengan syahwat. Jika hal itu terjadi, maka tidak diragukan dan tidak ada perselisihan bahwa hal itu dilarang.

2. Sebagian ulama membedakan antara mahram yang boleh bagi wanita memperlihatkan auratnya berdasarkan dengan nafsu manusia. Maka tidak ada keraguan bahwa wanita yang memperlihatkan aurat di hadapan ayah dan saudara laki-laki lebih terjaga daripada di depan anak suaminya. Dan ada perbedaan tingkatan apa yang bisa ditampakkan bagi mereka, boleh menampakkan sejumlah aurat di hadapan ayah yang tidak boleh dibuka di depan anak laki-laki.

3. Sebaiknya wanita tidak menunjukkan auratnya kepada mahramnya yang masih samar-samar dan meragukan dalam pandangannya. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan istrinya Saudah untuk berhijab di hadapan seorang pemuda, dan pemuda itu dihukumi sebagai saudaranya –adalah anak ayahnya- karena pemuda itu memiliki keserupaan yang jelas dengan Utbah bin Abi Waqash dan Sa’ad bin Abi Waqash mengakui bahwa dia adalah anak saudaranya Utbah. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Berhijablah darinya wahai Saudah”[7]

Bolehkah Seorang mahram bagi wanita boleh menyentuh dan menciumnya jika tidak menyebabkan syahwat?


Dalam hadits Aisyah mengenai kemarahannya pada Ibnu Zubair (putra saudarinya Asma), dan nadzarnya untuk tidak berbicara dengannya dan mengenai permintaan maaf Ibnu Zubair padanya dengan berbicara padanya: Aisyah berkata: “Masuklah kalian.” –dia tidak tahu bahwa ada Ibnu Zubair diantaranya- , ketika mereka masuk Ibnu Zubair masuk dalam tabir lalu merangkul Aisyah dan mulai bernyanyi di depannya dan menangis.

Aisyah meriwayatkan: .... Fathimah apabila menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau mengambil tangannya dan menciumnya lalu mengajaknya duduk bersamanya. Juga jika beliau menemuinya maka Fathimah mengambil tangannya dan menciumnya lalu mengajaknya duduk bersamanya. [1]

Seorang wanita boleh membonceng di belakang laki-laki mahramnya.


Berdasarkan hadits Anas, dia berkata: “Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat dari Usfan dan beliau berada di atas tunggangannya, dan membonceng Shafiyyah binti Huyay...”[2]

Pakaian Wanita di hadapan Wanita lain


وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya; dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecual kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara wanita mereka, atau wanita-wanita Islam,[3]

Ibnu Katsir berkata (3/283) bahwa firman Allah yang berbunyi “atau wanita-wanita Islam” yakni adalah boleh menampakkan aurat di hadapan wanita Islam.

Aurat seorang wanita yang wajib ditutupi di depan kaum wanita lainnya, sama dengan aurat lelaki di depan kaum lelaki lainnya, yaitu daerah antara pusar hingga lutut.[4]

Maka tidak boleh bagi wanita menunjukkan apa yang ada diantara pusar dan lututnya kepada wanita lain sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan muslimah. Ibnu Jauzi berkata:[1] “Wanita-wanita yang tidak mengerti pada umumnya tidak merasa sungkan untuk membuka aurat atau sebagiannya, padahal di hadapannya ada ibunya atau saudara wanitanya atau putrinya, dan dia berkata, “Mereka adalah keluarga. Maka hendaklah wanita itu mengetahui bahwa jika dia telah mencapai usia tujuh tahun, ibunya, saudarinya, ataupun putri saudarinya tidak boleh melihat auratnya.

لا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلاَ يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي الثَّوْبِ الْوَا حِدِ، وَلاَ تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةَ فِي الثَّوْبِ الْوَحِدِ .

“Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.”[2]

Aurat Wanita Muslimah di hadapan Wanita Kafir


Mengenai batasan aurat seorang wanita muslimah di depan wanita kafir, sebagian ulama berpendapat bahwa seorang wanita muslimah tidak boleh menampakkan auratnya kepada wanita kafir agar mereka tidak menceritakannya kepada suami mereka, karena maksud lafazh أو نسآئهن yang tercantum dalam surat an-Nur ayat 31 adalah kepada wanita-wanita muslimah. Oleh karena itu, wanita-wanita dari kaum kafir dari ahli dzimmah atau ahli al-harbi tidak termasuk dalam pengertian ayat tersebut.[3]

Adapun sebagian lain mengatakan tentang bolehnya membuka aurat di depan wanita muslim atau kafir dzimmah, dan mereka berdalilkan bahwa wanita-wanita Yahudi sering datang menemui istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka pun tidak berhijab di hadapan dan tidak diperintahkan untuk berhijab. Diriwayatkan bahwa seorang wanita Yahudi datang menemui Aisyah dan menyebutkan tentang adzab kubur. Lalu Aisyah bertanya pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau menjawab: “Ya adzab kubur….[4]”

Asma berkata: Ibuku datang menemuiku dan dia tertarik pada Islam maka aku bertanya pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apakah dasarnya? Beliau menjawab: “Ya”[5]

Dan karena hijab adalah diantara laki-laki dan wanita berarti tidak untuk antara wanita muslim dan wanita kafir. Maka semestinya tidak ada hijab diantara mereka berdua sebagaimana antara laki-laki Islam dan non-Islam, sebab penghijaban tersebut harus ada dalil yang menyebutkan atau qiyas sementara keduanya dalam hal ini tidak ditemukan. Adapun redaksi kata “dan wanita-wanita mereka” lebih cenderung pada artian semua wanita.Wallahua’lam[1]

Menurut Penulis: akan tetapi jika hal itu menjadikan kecurigaan dari salah satu wanita ahli kitab dan diketahui bahwa dia akan memberitakukan pada suaminya atau yang lain mengenai aurat seorang wanita muslim maka dilarang menampakkan aurat di depannya.

Pakaian wanita muslim di hadapan budaknya.


Sejumlah besar ulama mengatakan bahwa budaknya seorang wanita sama seperti mahram yang dapat melihat apa yang boleh dilihat seorang mahram.

Mereka menggunakan dalil dari firman Allah Ta’ala

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya; dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecual kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara wanita mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki,[2]

Mereka berkata: bahwa firman Allah yang menyebutkan “atau budak-budak yang mereka miliki” yang mencakup budak laki-laki dan wanita, tidak bisa hanya ditafsirkan untuk budak wanita saja, karena jika begitu masih termasuk dalam pengertian “atau wanita-wanita Islam”.[3]

Juga berdasarkan hadits Anas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa seorang budak untuk Fathimah yang beliau hibahkan untuknya. Anas berkata lagi: Fathimah saat itu memakai pakaian yang jika dia gunakan untuk menutup kepalanya tidak akan menutupi kakinya. Jika dia menutupi kakinya maka tidak sampai menutupi kepalanya. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat apa yang terjadi, beliau berkata: “Tidak masalah bagimu, karena dia adalah ayahmu dan anak lelakimu.”[4]

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa seorang budak boleh melihat majikan wanitanya karena kebutuhan, karena seorang kebutuhannya berinteraksi dengan budaknya lebih sering daripada kebutuhan saksi, yang berkerja di laboratorium, dan orang yang meminangnya. Jika melihat mereka diperbolehkan maka budak ini lebih diutamakan. [5]

Aurat wanita di depan orang yang tidak memiliki hasrat (syahwat)


Allah Ta’ala berfirman:

أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ

(atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)”[1]

Imam Ibnu Katsir menafsirkan lafazh tersebut, “Maknanya adalah para pelayan dan pembantu yang tidak sepadan, sementara dalam akal mereka terdapat kelemahan.” Maksudnya adalah orang-orang tersebut tidak memiliki hasrat terhadap wanita disebabkan usianya yang sudah lanjut, kelainan seksual (banci), atau menderita penyakit seksual (impoten/lemah syahwat).

Orang-orang seperti mereka mendapat rukhshah melihat wanita karena kebutuhan agar tidak memberatkan, akan tetapi jka ada kecenderungan menceritakan keadaan kaum wanita kepada orang lain yang memiliki hasrat kepada wanita, sehingga dikhawatirkan akan timbul fitnah secara tidak langsung maka hendaklah para wanita tidak membiarkan mereka menemuinya dan melihat aurat mereka.

Ummu Salamah berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersamanya dan di rumah tersebut ada seorang banci. Laki-laki banci tersebut berkata kepada saudara Ummu Salamah yaitu Abdullah bin Abi Umayyah: jika Allah memenangkan Thaif besok aku akan menunjukkan padamu seorang putri Ghailan, sesungguhnya dia datang dengan empat lekukan dan berpaling dengan delapan lekukan, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan sampai orang seperti ini datang menemui kalian”[2]

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar orang tersebut menceritakan seorang gadis dia tahu bahwa banci tersebut mengerti perkara-perkara wanita dan beliau memerintahkan untuk berhijab darinya.

Perhatian: Jumhur fukaha bersepakat bahwa laki-laki yang dikebiri dan impoten tetap haram melihat aurat wanita karena alat vitalnya meskipun tidak berfungsi dan sudah tidak ada lagi, namun hasrat kelaki-lakiannya masih ada dalam hatinya.[3]

Batasan aurat wanita di depan anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita


Dalam Al-Qur’an disebutkan:

أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

“atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita”[4]

Ibnu Katsir menafsirkan bahwa maksudnya karena masih kecilnya mereka, mereka tidak mengerti tentang keadaan kaum wanita dan aurat mereka dari perkataan-perkataan mereka yang merdu, dan kegemulaian mereka dalam berjalan dan gerak-gerik mereka. Anak yang belum memahami aurat seperti ini, tidak mengapa bila dia masuk ke ruangan wanita. Adapun jika anak tersebut telah memasuki masa pubertas atau mendekatinya, di mana dia mulai mengerti tentang semua itu, dan dapat membedakan antara wanita yang cantik dan yang tidak cantik, maka dia tidak boleh lagi masuk ke dalam ruangan wanita.

Dalil yang menunjukkan tentang hal itu adalah hadits Jabir bahwa Ummu Salamah meminta izin dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berbekam. Dan Nabi menyuruh Abu Tayyibah untuk membekamnya. Jabir berkata: aku mengira-ngira beliau berkata Abu Thayyibah adalah saudara sesusuannya atau anak-anak laki-laki yang belum pubertas.[1]

Pakaian dan perhiasan wanita di hadapan suaminya.


Masing-masing suami istri boleh melihat aurat seluruh tubuh pasangannya tanpa ada paksaan, baik itu dengan hasrat atau tidak, pada kemaluan atau bukan. Ini adalah pendapat jumhur ulama dan dalil-dalilnya adalah:

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istrinya atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.[2]

Ayat ini menunjukkan bahwa melebihi dari melihat saja seperti menyentuh dan bersetubuh halal bagi mereka berdua. Dan dengan argument bahwa seorang suami boleh berhubungan intim dengan istrinya apalagi hanya dengan melihat atau menyentuh seluruh badan.[3]

Aisyah meriwayatkan: “Aku mandi dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana”[4]

Ini adalah dalil bahwa seorang suami boleh melihat aurat istri dan sebaliknya.[5]

Dari Bahj bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aurat kami apa yang kami datangi dan dan apa yang diwaspadai?” Beliau menjawab: Jaga auratmu kecuali dari pasanganmu atau budak yang engkau miliki.[6]

Kesimpulannya: Tidak ada batasan aurat antara dua pasangan suami istri. Seorang istri bisa memakai apa saja di hadapan suaminya atau melepaskan apa saja yang dia inginkan. Dia juga boleh berdandan dengan semua bentuk dan macam perhiasan yang diperbolehkan secara syariat. Wallohu a'lam.

Demikian penjelasan tentang batasan aurat wanita dihadapan mahramnya dan hal-hal yang boleh dilakukan dengan orang-orang yang memiliki kedekatan hubungan.


Footnote:
[2] Syarh Muslim an-Nawawi (3/484)
[3] Al-Qur`an Surah: An-nur:31
[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (5103) dan Muslim (1445)
[2] Al-Mabsuth (10/149) dan al-Majmu’ (16/140)
[1] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (251) dan Muslim (320)
[2] Dinukil Hafizh dalam Al-Fath (1/465)
[3] Sunan al-Baihaqi (9417), Al-Inshaf (8/20), Al-Mughni (6/554) dan al-Majmu’ (16/140)
[4] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (193), Abu Daud (79), an-Nasa'i (I/57) dan Ibnu Majah (381)
[5] Fathul Baari (I/465) dan 'Aunul Ma'bud (I/147)
[6] Jaami' Ahkam an-Nisa (4/195)
[7] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (2053) dan Muslim (1457)
[1]: Abu Daud (5217), At-tirmidzi (3872), al-Hakim (4/272) hadits shahih.
[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (3085) dan Muslim (1345)
[3] Al-Qur`an Surah: An-Nur 31
[4] Al-Mughni (6/562)
[1] Ahkamun Nisa oleh Ibnu Jauzi (hal. 76)
[2] Hadits Riwayat: Muslim (338), Abu Daud (4018), At-Tirmidzi (2793) dan Ibnu Majah (661)
[3] Tafsir Ibnu Katsir (3/284) dan Tafsir Al-Qurthubi (4625)
[4] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1372) dan Muslim (903)
[5] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (2621) dan Muslim (1003)
[1] Jami’ Ahkm an-Nisa` (4/497)
[2] Al-Qur`an Surah: An-Nur: 31
[3] Al-Mabshut (10/157)
[4] Hadits Riwayat: Abu Daud (4106) dan al-baihaqi (7/95) hadits Hasan.
[5] Majmu’ Fatawa  (16/141)
[1] Al-Qur`an Surah: An-Nur:31
[2] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (5235) dan Muslim (2180)
[3] Lihat al-Mabshut (10/158) dan al-Majmu’ (16/140)
[4] Al-Qur`an Surah: An-Nur: 31
[1] Hadits Riwayat: Muslim (2206), Abu Daud (4105) dan Ibnu Majah (3480)
[2] Al-Qur`an Surah: Al-Ma’arij: 29-30
[3] Al-Mabsuth (10/148), dan al-Muhalla (10/33)
[4] Hadits Riwayat: Al-Bukhari (250) dan Muslim (319)
[5] Fathul Bari (1/364)
[6] Hadits Riwayat: Abu Daud (4017), At-Tirmidzi (2769), dan Ibnu Majah (1920)

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru