Iklan Atas Zona Muslim

Panduan Lengkap Shalat Tahajud Sesuai Sunnah (Bag. 2, Habis)
4/ 5 stars - "Panduan Lengkap Shalat Tahajud Sesuai Sunnah (Bag. 2, Habis)" Adalah sebuah nikmat yang patut disyukuri tatkala kita diberi kemudahan oleh Allah untuk bisa melaksanakan shalat tahajjud, yang meru...

Panduan Lengkap Shalat Tahajud Sesuai Sunnah (Bag. 2, Habis)

Admin
Adab qiyamul lail

Adalah sebuah nikmat yang patut disyukuri tatkala kita diberi kemudahan oleh Allah untuk bisa melaksanakan shalat tahajjud, yang merupakan shalat yang memiliki banyak keutamaan seperti yang sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya. Untuk melengkapi pembahasan pada tulisan Penjelasan Lengkap Seputar Qiyamul Lail Bag. 1akan kita pelajari tentang Beberapa Adab Dalam Qiyamul Lail.

Dan inilah beberapa adab yang penting untuk diperhatikan berkaitan dengan Shalat Tahajud:

Adab-adab Shalat Tahajud

Mempersiapkan diri dengan perkara yang dapat membantu bangun tahajjud. Yang dapat terwujud dengan beberapa hal di antaranya:


1. Tidur sejenak di siang hari. Jika memungkinkan,



Meninggalkan begadang jika tidak ada keperluan syar'i. Dan telah dibahas sebelumnya tentang berbicara setelah waktu Isya' yang hukumnya makruh kecuali jika terdapat kepentingan syar'i.

Lebih diutamakan bagi yang merasa malas, yang condong kepada watak santai dan hidup mewah, agar tidak berlebihan di tempat tidur. Karena hal itu merupakan penyebab banyaknya tidur dan lalai, serta sibuk lalu berpaling dari kebaikan"[1]

Penulis berkata: Bahwa tempat tidur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dari bahan kasar, sebagaimana dalam riwayat Umar bin Khattab radhiallahu 'anhuma :

دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُضْطَجِعٌ عَلَى حَصِيرٍ فَجَلَسْتُ فَأَدْنَى عَلَيْهِ إِزَارَهُ وَلَيْسَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ وَإِذَا الْحَصِيرُ قَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبهِ

“Aku menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau sedang berbaring –miring– di atas tikar, lantas aku pun duduk. Sewaktu beliau membetulkan sarung, dan tidak ada kain lain di atas beliau, maka terlihat olehku bekas tikar di tubuh –bagian tulang rusuk– beliau,)[2]

Juga dalam riwayat Aisyah radhiallahu 'anha ia berkata:

كَانَتْ وِسَادَتُهُ الَّتِي يَنَامُ عَلَيْهَا بِاللَّيْلِ مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيفٌ

“Sesungguhnya bantal milik Rasulullah yang beliau gunakan saat tidur di malam hari, terbuat dari kulit yang di dalamnya berisi tali ijuk (sabut)”[3]

2. Saat ingin tidur, berniat di dalam hati akan mengerjakan shalat tahajjud.


Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda radhiallahu 'anhubahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ فَيُصَلِّيَ مِنْ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى يُصْبِحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ

“Siapa yang hendak tidur kemudian dia berniat akan bangun mengerjakan shalat tahajjud, tapi matanya tak mampu menahan kantuk hingga Subuh, maka ia telah mendapat pahala dari apa yang dia niatkan itu. Sedangkan tidurnya, itu merupakan sedekah (karunia) pemberian Tuhannya.”[4]

3. Tidur dalam keadaan berwudhu’.


Telah disebutkan dalam bab wudhu’, bahwa hal ini merupakan ajaran dan petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

4. Tidur dengan posisi miring dan bertopang di atas tubuh bagian kanan.


Sebagaimana diriwayatkan dari Hafshah radhiallahu 'anha, berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ جَعَلَ كَفَّهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ الْأَيْمَنِ

“Sesungguhnya di saat tidur, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan telapak tangan kanan beliau di bawah pipi kanan”

Dan tidur dengan bertopang di atas bagian kanan tubuh seperti ini, merupakan fitrah manusia sebagaimana nanti akan dibahas dalam hadits Barra' bin 'Azib radhiallahu 'anhuma:

Catatan Tambahan:

Dalam posisi tidur Rasulullah seperti ini, di dalamnya terdapat suatu rahasia penuh hikmah yaitu; "Bahwa posisi hati di dalam tubuh terletak di sebelah kiri badan. Dan jika seseorang tidur bertopang di atas bagian kiri badannya, maka itu akan memberatkannya, karena hal tersebut tidak membuatnya nyaman beristirahat dan membuatnya terasa berat. Namun jika seseorang tidur bertopang di atas badannya sebelah kanan, maka dia akan cemas dan tidak bisa tidur nyanyak, karena hati yang terasa cemas, karena ia ingin berada dalam posisi telentang, dan karena itu disebabkan oleh posisinya yang miring. karena itu, para dokter menganjurkan untuk tidur di atas bagian tubuh sebelah kiri, karena itu dapat menciptakan istirahat sempurna dan tidut pun nyaman. Sedangkan Syariat menganjurkan untuk tidur di atas tubuh bagian kanan, hal tersebut agar tidak memberatkan tidurnya, sehingga ia mampu untuk bangun malam. Dengan demikian, tidur miring di atas bagian kanan badan itu lebih bermanfaat untuk hati, sedangkan tidur miring di atas bagian kiri badan itu lebih bermanfaat untuk tubuh. Wallahu A'lam.[1]

5. Jika seseorang khawatir tidak akan bangun shalat tahajjud, hendaknya ia mengerjakan shalat witir sebelum tidur. 


Dan jika ternyata dia bangun, maka dia bisa langsung mengerjakan shalat tahajjud tanpa harus mengulangi shalat witirnya. Hal ini telah dibahas sebelumnya dalam bab "Shalat Witir"

6. Berdzikir dan mengingat Allah Subhanahu wata'ala saat tidur.


Dalam hal ini terdapat beberapa riwayat shahih tentang dzikir-dzikir tersebut. Di antaranya:

Hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata:

أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ إذا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرأَ فيهِما : [قُلْ هُوَ اللهُ أحَدٌ] ، وَ [قَلْ أعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ] ، وَ [قُلْ أعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ] ثُمَّ مَسَحَ بِهِما مَا استْطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بهما عَلَى رَأسِهِ وَوجْهِهِ ، وَمَا أقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila hendak tidur setiap malam, beliau merapatkan kedua telapak tangannya kemudian meniup ke dalamnya, lalu beliau membaca ke dalam kedua telapak tangannya itu "surat al-Ikhlash", "surat al-Falaq" dan "surat an-Nas". Kemudian beliau usapkan pada kedua telapak tangan tersebut ke seluruh tubuh yang dapat beliau jangkau, beliau mulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya, beliau lakukan hal ini sebanyak tiga kali”[2]

Baca Juga : Panduan Lengkap Shalat Tahajud Sesuai Sunnah Bag. 1

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu saat melaporkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam seseorang yang mengambil harta zakat –seseorang tersebut adalah setan yang menyamar– namun setan tersebut mencegah Abu Hurairah seraya berkata:

دَعْنِي أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ، قُلْتُ: مَا هِيَ؟ -و كانوا أحرص شيء على الخير- قَالَ: إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ [اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ] حَتَّى تَخْتِمَهاَ ، فَإِنَّهُ لاَ يَزَالُ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ... فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "صَدَقَكَ , وَ هُوَ كَذُوبٌ , ذَاكَ الشَّيْطَانُ

“Izinkan aku mengajarimu kata-kata yang membawa manfaat bagimu dari Allah. Abu Hurairah berkata, "Apa itu?" –dan Abu Hurairah termasuk dari orang-orang yang loba kebaikan (ilmu)– lalu orang itu berkata, "Jika kamu ingin bergi ke tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursi [Allahu La Ilaha Illa Huwal-Hayyul-Qayyum][1] hingga akhi ayat. Maka dengan itu kamu akan senantiasa dijaga oleh Allah, dan setan tidak akan mendekatimu hingga Subuh". … Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kamu benar, dan orang itu berbohong, dan sesungguhnya orang itu adalah setan").[2]

Hadits riwayat Abu Mas'ud al-Anshari radhiallahu 'anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ الآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, maka itu sudah cukup baginya.”[3]

Maksudnya, dengan membaca kedua ayat tersebut cukup untuk menangkal keburukan baginya. Dan ada yang mengatakan, dengan membaca dua ayat tersebut ia mendapatkan pahala shalat malam yang di dalamnya dibaca Al-Qur'an keseluruhan.

Hadits riwayat Naufal bin al-Asyja'iy radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya,

اِقْرَأْ قُلْ يأَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ عَلَى خَاتِمَتِهَا ، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ

“Bacalah surat al-Kafirun kemudian tidurlah di penghujung bacaannya. Karena sesungguhnya ayat itu membebaskan dari syirik”[4]

Hadits riwayat Hudzaifah radhiallahu 'anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ : "بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا" وَإِذَا اسْتَيْقَظَ قَالَ : "الـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila hendak tidur, beliau berdoa

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا

"Dengan Asma-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup" dan ketika bangun tidur beliau berdoa,

الـحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُور

"Segala Puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah kita akan dibangkitkan kembali"[1]

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ عَن فِرَاشِهِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ فَلْيَنْفُضْهُ بِصَنِفَةِ إِزَارِهِ] ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ بَعْدُ فَإِذَا اضْطَجَعَ فَلْيَقُلْ بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

“Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tempat tidurnya, kemudian ingin kembali lagi, hendaklah ia kibaskan tempat tidurnya dengan ujung kain sarungnya tiga kali. Karena ia tidak tahu apa yang terdapat di tempat tidurnya setelah ia bangun berdiri meninggalkannya. Dan saat ingin kembali tidur, hendaklah membaca doa:

بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, aku letakkan jasadku dan dengan nama Mu pula Engkau angkatkan ia (rohku). Jika rohku Engkau tahan, maka kasihanilah ia, dan jika rohku Engkau lepaskan, maka sudilah kiranya Engkau memeliharanya sebagaimana Engkau pelihara hamba-hamba-Mu yang saleh”[2][3]

Hadits riwayat Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhuma ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya dan juga kepada Fatimah –saat mereka berdua meminta kepada Rasulullah seorang pembantu–

أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ خَادِمٍ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا ، فَسَبِّحَا ثَلاثًا وَثَلاثِينَ ، وَاحْمَدَا ثَلاثًا وَثَلاثِينَ ، وَكَبِّرَاثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَإِنَّهُ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

“Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari seorang pembantu? Yaitu bila kalian akan tidur maka bertasbihlah tigapuluh tiga kali, lalu bertahmid tigapuluh tiga kali, kemudian bertakbir tigapuluhtiga kali. Sesungguhnya itu lebih baik bagi kalian dari pada –memiliki– seorang pembantu”[1]

Hadits riwayat Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma :

أنَّهُ أَمرَ رَجُلاً ، إذَا أَخَذَ مِضْجَعَهُ أَنْ يَقُوْلَ : اللَّهُمَّ أَنْتَ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَتَوَفَّاهَا ، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا ، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا ، وَإنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْألُكَ العَافِيَةَ قَالَ ابْنُ عُمَرَ ؛ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahwa ia memerintahkan seseorang jika hendak tidur untuk membaca doa, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menciptakan rohku dan Engkau pula yang akan mematikannya. Engkaulah yang memiliki kematian dan kehidupannya. Jika Engkau hendak menghidupkannya maka jagalah ia, namun jika Engkau hendak mencabutnya (mematikannya) maka ampunilah ia. Ya Allah sesungguhnya aku meminta ampunan dari-Mu" Ibnu Umar kemudian berkata, "Aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam"[2]

Hadits riwayat Barra' bin 'Azib radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ، وَقُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَ رَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ، فَإِنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ

فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ فَقُلْتُ وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ "لَا وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Jika engkau hendak tidur, berwudhu’lah seperti hendak shalat. Lalu tidurlah dengan posisi miring di atas bagian kanan badanmu. Lalu berdoalah, "Ya Allah, aku telah menyerahkan diriku kepada-Mu, kupasrahkan urusanku kepada-Mu, kusandarkan diriku (tawakkal) kepada-Mu, mengharap pahala-Mu dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung, dan tidak ada tempat lari –dari adzab-Mu– kecuali hanya kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan dengan Rasul-Mu yang telah Engkau utus." Dan jika setelah –membaca doa itu– engkau ditakdirkan mati, maka engkau mati dalam fitrah (tauhid). Dan jadikanlah doa itu akhir perkataanmu.”[3]

“Lalu aku (Barra' bin 'Azib) berkata, "Aku akan mengucapkannya dengan lafadz "Wa Birasulikal-ladzi Arsalta" (Dan dengan Rasul-Mu yang telah Engkau utus). Lantas Nabi bersabda, "Tidak, tetapi ucapkanlah "Wa Nabiyyikal-ladzi Arsalta" (Dan dengan Nabi-Mu yang telah Engkau utus)"

7. Mengusap wajah –jika bangun– lalu berdzikir mengingat Allah kemudian berwudhu’


Sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ مَكَانَ كُلِّ عُقْدَةٍ ، عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ وَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ وَإِذَا تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat tidur dengan tiga tali ikatan, setan mengikatnya sedemikian rupa sehingga setiap ikatan diletakkan pada tempatnya lalu (dikatakan) "Kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak" Jika dia bangun dan mengingat Allah maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudhu’ maka lepaslah tali yang lainnya, dan bila ia shalat lepaslah seluruh tali ikatan. Dan di pagi harinya ia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tidak segar dan menjadi malas beraktifitas.”[1]

Hadits riwayat Ubadah bin Shamit radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَعَارَّ[] مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ ؛ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ , لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ , َالْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ : رَبِّ اغْفِرْ لِى أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَ صَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ

“Siapa yang bangun di malam hari lalu berdoa, "Tiada Tuhan selain Allah, yang tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya lah segala kekuasaan dan Pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segalanya. Segala Puji bagi Allah, Maha Suci Allah, Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tiada daya upaya melainkan dari Allah". Lalu setelah itu meminta, "Ya Allah, ampunilah aku" atau berdoa, niscaya akan dikabulkan, dan jika setelah itu dia wudhu’ kemudian shalat, niscaya shalatnya diterima”[2][3]

Hadits riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma :

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ زَوْجُ النَّبِى -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَاضْطَجَعْتُ فِى عَرْضِ الْوِسَادَةِ وَاضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَأَهْلُهُ فِى طُولِهَا ، فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ

عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ -أَوْ قَبْلَهُ بِقَلِيلٍ أَوْ بَعْدَهُ بِقَلِيلٍ- اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَجَعَلَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ الآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ ، ثُمَّ قَامَ إِلَى شَنٍّ مُعَلَّقَةٍ فَتَوَضَّأَ مِنْهَا ، فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى...

“Suatu saat aku bermalam di rumah bibiku Maimunah, yaitu istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam Maka aku berbaring di sisi bantal bagian lebar, sementara Rasulullah dan keluarga beliau pada bagian panjang, lantas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidur hingga pada tengah malam kurang atau lewat sedikit. Rasulullah kemudian bangun sambil duduk beliau mengusap (sisa) tidur pada wajahnya dengan tangannya. Kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali Imran. Kemudian berdiri menuju tempat wudhu’ lalu beliau wudhu’ dengan sebaik-baiknya, kemudian mengerjakan shalat.”[1]

Ayat yang dimaksud Ibnu Abbas di sini adalah,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ... الخ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal…”hingga akhir ayat"[2]

8. Bersiwak


Sebagaimana hadits riwayat Hudzaifah radhiallahu 'anhu :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ [و فى رواية : لِيَتَهَجَّدَ] يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila beliau bangun malam (dalam riwayat lain disebutkan: "untuk tahajjud") maka beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.”[3]

Dan juga hadits riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ , ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَسْتَاكُ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melakukan shalat malam dua rakaat-dua rakaat, kemudian beliau istirahat dan bersiwak.”[4]

Maksudnya adalah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersiwak setiap dua rakaat sekali.

Dan bersiwak bisa dilakukan setelah bangun tidur atau setelah wudhu’. Yang keduanya dimaksudkan untuk hal tersebut (membersihkan mulut sebelum shalat tahajjud).

9. Mengawali shalat malam dengan mengerjakan dua rakaat secara ringan


Sebagaimana dalam riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ , افْتَتَحَ صَلاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila beliau bangun malam untuk mengerjakan tahajjud, maka beliau mengawalinya dengan mengerjakan dua rakaat ringan.”[1]

Dan juga hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَامَ أحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحِ الصَّلاَةَ بركْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

“Jika salah seorang dari kalian bangun malam, hendaknya ia memulai dengan mengerjakan dua rakaat ringan”[2]

Hal ini bertujuan untuk menjadikan semangat dalam melakukan rakaat-rakaat selanjutnya, inilah yang lebih utama. Namun jika tidak, maka dibolehkan juga untuk memulai langsung mengerjakan dua rakaat yang panjang, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kadang mengerjakannya juga, sebagaimana diceritakan dalam hadits riwayat Hudzaifah radhiallahu 'anhu :

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ الأُوْلَى. ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّى بِهَا فِى رَكْعَةٍ فَمَضَى , فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا. ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً

"Suatu malam aku shalat tahajjud (menjadi makmum) bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lalu beliau memulainya dengan membaca surat Al-Baqarah. Aku berkata –dalam hati–, Rasulullah akan ruku' setelah –membaca– seratus ayat pertama –dari surat al-Baqarah–. kemudian Rasulullah melanjutkan –dengan membaca sisa lanjutan Al-Baqarah– dalam satu rakaat, kemudian berlalu. Aku berkata –dalan hati–, Rasulullah akan mengakhiri bacaan surat Al-Baqarah kemudian ruku'. Namun beliaulalu membaca surat An-Nisa' hingga selesai kemudian membaca surat Ali Imran hingga selesai. Beliau membacanya dengan khusyu' .”[3]

10. Ketika shalat tahajjud, –dianjurkan– membaca doa iftitah –setelah takbir– dengan salah satu doa di bawah ini:


Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila shalat tahajjud, –dalam doa iftitah– beliau membaca,

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الحَمْدُ أَنْتَ الحَقُّ وَوَعْدُكَ الحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ،[و ما أنت أعلم به منى] أَنْتَ المُقَدِّمُ، وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَ لاَ إِلَهَ غَيْرُكَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkau yang berkuasa mengatur langit dan bumi dan apapun yang ada padanya. Bagi-Mu segala puji, Engkau yang menyinari langit dan bumi dan apapun yang ada padanya. Bagi-Mu segala puji, Engkau adalah Raja di langit dan di bumi dan apapun yang ada padanya. Bagi-Mu segala puji, Engkau benar, janji-Mu, firman-Mu, pertemuan dengan-Mu, surga, neraka, Hari Kiamat, Nabi-Nabi dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam semuanya adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah-diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku tawakkal, kepada-Mu aku kembali, dengan pemberian bukti-Mu aku berbantah, kepada-Mu aku mengajukan keputusan. Maka ampunilah dosa yang telah lalu dan yang yang akan datang, dosa yang aku sembunyikan dan yang aku perlihatkan [dan apa yang lebih engkau ketahui daripada aku]. Engkau yang mendahulukan dan yang mengakhirkan tiada Tuhan melainkan Engkau, tiada Tuhan kecuali Engkau. Dan tiada daya kuasa kecuali dengan –izin– Allah.”[1]

Dan juga hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila shalat tahajjud, beliau membaca doa iftitah,

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui perkara gaib dan perkara yang tampak, Engkaulah yang menghukumi hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan, tunjukilah aku atas izin-Mu kepada kebenaran dari apa yang dipertentangkan, sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus”[2]

Hadits riwayat Hudzaifah radhiallahu 'anhu :

أَنَّهٌ رَأَى النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَكَانَ يَقُوْلُ : "اللهَ أَكْبَرُ (ثَلاَثًا) ذُوْالمَلَكُوْتِ وَ الجَبَرُوْتِ وَالكِبْرِيَاء وَالعَظَمَةِ

“Ia melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat tahajjud, dan membaca –doa iftitah– "Allahu Akbar (tiga kali) Yang Memiliki Kerajaan, Memiliki Kekuasaan, Memiliki Kebesaran, Memiliki Keagungan.”[1]

Penulis berkata: bahwa seseorang yang shalat tahajjud, dibolehkan juga membaca doa iftitah –manapun– sebagaimana yang telah kami uraikan dalam bab "kewajiban shalat"

11. Memperpanjang shalat semampunya, dengan tidak membebani diri sendiri


Sebagaimana dalam riwayat Jabir radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ القُنُوْتِ

“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.”[2]

Imam Nawawi berkata, "Yang dimaksud dengan "qunut" dalam hadits ini menurut sepengetahuanku adalah, "berdiri ketika shalat" sebagaimana kesepakatan para ulama. Hadits ini juga dijadikan dalil bagi Imam Syafi'i dan ulama lainnya. Sebagaimana perkataan Imam Syafi'i, "Sesungguhnya memperpanjang berdiri ketika shalat, lebih utama daripada memperbanyak ruku' dan sujud""

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sendiri melakukan hal ini (memperpanjang berdiri) ketika shalat:

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Aisyah radhiallahu 'anha ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat malam hingga kedua telapak kaki beliau pecah-pecah.”[3]

Dalam hadits sebelumnya riwayat Hudzaifah radhiallahu 'anhu dinyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa, dan Ali Imran dalam satu rakaat.

Juga dalam riwayat Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhuma :

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سُوءٍ. قِيْلَ: وَمَا هَمَمْتَ بِهِ؟ قَالَ: هَمَمْتُ أنْ أجْلِسَ وَأَدَعَهُ

“Aku Shalat –malam– bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kemudian beliau memperpanjang berdiri. Sampai aku terpikir untuk "berbuat buruk" Abdullah bin Mas'ud kemudian ditanya, "Apa yang ingin kamu lakukan?" ia pun menjawab, "Aku ingin duduk dan meninggalkan Rasulullah"[4]

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (3/19) berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa shalat malam yang panjang itu merupakan pilihan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu sosok yang kuat dan konsisten dalam mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Abdullah bin Mas'ud tidaklah ingin duduk melainkan shalat Rasulullah tersebut sangat panjang baginya yang belum terbiasa seperti itu".

Catatan Tambahan:

Memperpanjang shalat tidaklah khusus saat berdiri membaca surat saja. Melainkan berlaku juga saat ruku', sujud, duduk, dzikir, doa, dan seluruh gerakan shalat.

Dan dalam hadits riwayat Hudzaifah yang menceritakan di dalamnya tentang Rasulullah saat melakukan shalat malam dengan membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa' dan Ali Imran dalam satu rakaat Dalam lanjutannya terdapat redaksi,

ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُولُ "سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ". فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ قَالَ "سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ". ثُمَّ قَامَ طَوِيلاً قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ "سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى". فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ

“Kemudian Rasulullah ruku' seraya mengucapkan, "Subhana Rabbiyal-'Adzimi" dan lamanya ruku' beliau serupa (kurang-lebih) seperti lamanya saat beliau berdiri. Kemudian –setelah ruku'– beliau bangkit seraya mengucapakan, "Sami'allahu Liman Hamidah" dan lamanya berdiri i'tidal beliau, serupa dengan lamanya saat beliau ruku'. Lantas setelah itu beliau sujud seyara mengucapkan, "Subhana Rabbiyal-A'la" dan lamanya sujud beliau serupa dengan lamanya saat beliau berdiri i'tidal.”[1]

Dan dalam hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha ia bekata:

وَ يَمْكُثُ فِي سُجُودِهِ قَدْرَ مَا يَقْرَأُ الرَّجُلُ خَمْسِينَ آيَةً قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ

“Dan Rasulullah berdiam dalam sujudnya seperti orang yang membaca lima puluh ayat sebelum beliau bangkit dari sujud.”[2]

Penulis berkata: Memperpanjang shalat ketika berdiri ataupun saat yang lainnya, bukanlah termasuk dalam syarat shalat malam, tetapi itu lebih utama dan sempurna bagi orang yang mampu melaksanakannya. karena itu, kadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika shalat malam beliau membaca sekitar lima puluh ayat atau lebih dalam satu rakaat.[3] Beliau bersabda:

مَنْ صَلَّى لَيْلَةً بِمِائَةِ آيَةٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Siapa yang shalat tahajjud dengan seratus rakaat, maka dia tidak termasuk golongan orang-orang yang lalai.”[4]

12. Dibolehkan melakukan shalat malam baik dengan berdiri maupun dengan duduk.


Ada hadits shahih yang menceritakan tentang tata-cara Rasulullah ketika shalat malam dengan tiga cara:

Pertama: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakannya dengan berdiri. Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits-hadits sebelumnya.

Kedua: Rasulullah mengerjakannya dengan duduk, juga di saat ruku' beliau juga duduk. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu 'anha ia berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لَمْ يَمُتْ حَتَّى كَانَ كَثِيرٌ مِنْ صَلاَتِهِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Bahwa shalat tahajud yang banyak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam hingga beliau wafat adalah dengan duduk.”[1]

Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat dengan duduk seperti ini saat Rasulullah beranjak usia, dan berat badan beliau bertambah.

Juga hadits lain riwayat Aisyah radhiallahu 'anha:

كَانَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي لَيْلًا طَوِيلًا قَائِمًا وَلَيْلًا طَوِيلًا قَاعِدًا, فَإِذَا صَلَّى قَائِمًا رَكَعَ قَائِمًا وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا رَكَعَ قَاعِدًا

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakan shalat malam yang panjang dengan berdiri, dan beliau juga mengerjakan shalat malam yang panjang dengan duduk. Apabila Rasulullah shalat berdiri, maka beliau ruku' dengan berdiri. Namun jika Rasulullah shalat dengan duduk, maka beliau pun ruku' dengan duduk”[2]

Ketiga: Rasulullah memulai shalat malam dengan duduk, lalu jika dalam bacaan surat yang tersisa tinggal sedikit, beliau lalu berdiri dan ruku' dengan berdiri. Sebagaimana dalam hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

كَانَ يُصَلِّى جَالِسًا فَيَقْرَأُ وَهُوَ جَالِسٌ ، فَإِذَا بَقِىَ مِنْ قِرَاءَتِهِ قَدْرَ مَا يَكُونُ ثَلاَثِينَ أَوْ أَرْبَعِينَ آيَةً قَامَ فَقَرَأَ وَهُوَ قَائِمٌ ، ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ يَفْعَلُ فِى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam suatu saat shalat malam dengan duduk, beliau pun membaca –surat Al-Qur`an– dalam keadaan duduk. Hingga tersisa dari bacaan beliau sekitar tiga puluh atau empat puluh ayat, maka Rasulullah kemudian berdiri membaca –ayat tersebut– dalam keadaan berdiri. Kemudian beliau ruku' lalu sujud, dan melakukan hal yang serupa pada rakaat kedua.”[3]

13. Apabila seseorang sedang dilanda rasa malas, jenuh, serta kantuk berat, hendaknya ia tidur. 


Namun jika merasa sedang semangat, hendaknya mengerjakan shalat malam.

Sebagaimana dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma :

دَخَلَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَسْجِدَ ،وَحَبْلٌ مَمْدُودٌ بَيْنَ السَّارِيَتَيْنِ ، فَقَالَ : مَا هَذَا؟ ، قَالُوا : لِزَيْنَبَ تُصَلِّى ، فَإِذَا كَسِلَتْ -أَوْ فَتَرَتْ- أَمْسَكَتْ بِهِ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : "حُلُّوهُ ، لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ ، فَإِذَا كَسِلَ –أَوْ فَتَرَ- فَلْيَرْقُدْ

“Suatu saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam masjid, kemudian beliau mendapatkan tali yang terpasang memanjang di antara dua tiang, beliau lantas bertanya, "Tali apakah ini?" Para sahabat menjawab, "Tali ini dipasang oleh Zainab, jika dia merasa malas –atau jenuh dan letih ketika shalat– ia berpegangan dengan tali itu". Rasulullah kemudian bersabda, "Lepaskanlah tali itu. Seseorang di antara kalian hendaknya shalat dalam keadaan semangat, bila ia merasa malas –atau jenuh– hendaklah tidur saja"[1]

Dan juga hadits riwayat Aisyah radhiallahu 'anha, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ فِى الصَّلاَةِ فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ

“Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk, padahal dia sedang shalat, maka hendaklah ia tidur sampai hilang kantuknya. Karena sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mengerjakan shalat sedang ia dalam keadaan mengantuk, ia tidak mengetahui barangkali dia minta ampun, padahal dia sedang memaki diri sendiri.”[2]

Dan juga hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu :

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَاسْتَعْجَمَ الْقُرْآنُ عَلَى لِسَانِهِ ، فَلَمْ يَدْرِ مَا يَقُولُ فَلْيَضْطَجِعْ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat malam, lalu merasakan berat pada mulutnya dalam membaca Al-Qur’an, sehingga tidak sadar apa yang dikatakannya, maka hendaknya ia tidur.”[3]

14. Membaca ayat Al-Qur`an dengan tartil (pelan-pelan) disertai suara yang bagus.


Allah Subhanahu wata'ala berfirman di dalam Al-Qur`an:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً

“Dan Bacalah Al-Qur`an dengan perlahan-lahan.”[4]

Dan diriwayatkan dari Hafshah radhiallahu 'anha :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِالسُّورَةِ فَيُرَتِّلُهَا حَتَّى تَكُونَ أَطْوَلَ مِنْ أَطْوَلَ مِنْهَا

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca surat dengan tartil (perlahan-lahan), hingga melebihi panjang daripada yang pernah beliau baca dengan panjang.”[1]

Juga hadits riwayat Ya'la bin Mamlak radhiallahu 'anhuma :

أَنَّهُ سَأَلَ أُمَّ سَلَمَةَ عَنْ قِرَاءَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَصَلاَتِهِ؟ فَنَعَتَتْ قِرَاءَتَهُ فَإِذَا هِىَ تَنْعَتُ قِرَاءَةً مُفَسَّرَةً حَرْفًا حَرْفًا

“Bahwa ia bertanya kepada Ummu Salamah (ummul mukminin) tentang bagaimana bacaan dan shalat –malam– Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam? Ummu Salamah kemudian mensifati bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tersebut –seakan sedang– ditafsirkan huruf perhuruf.”[2]

Maksudnya adalah, bahwa bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tersebut sangat pelan dan bagus.

Dan juga dalam riwayat Qatadah radhiallahu 'anhu :

سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-؟ قَالَ : كَانَتْ مَدًّا ، ثُمَّ قَرَأَ [بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ] يَمُدُّ [الرَّحْمَنِ] وَيَمُدُّ [ الرَّحِيمِ]

“Suatu ketika Anas bin Malik ditanya tentang bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam . Anas menjawab bahwa bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam panjang, kemudian ia membaca [Bismillahir-Rahmanir-Rahim] dengan memanjangkan [Bismillah], memanjangkan [ar-Rahman] dan memanjangkan [ar-Rahim].”[3]

Maksudnya adalah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memanjangkan bacaan jika di dalam bacaan tersebut terdapat huruf mad (yang dibaca panjang) dengan ukuran panjang yang sewajarnya.

Dan diriwayatkan juga dari Ummu Salamah radhiallahu 'anha bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjadikan bacaan surat beliau terpisah ayat demi ayat. [Alhamdulillahi Rabbil-'Alamin] kemudian berhenti, [Ar-Rahmanir-Rahim] kemudian berhenti.[4]

Dianjurkan membaca Al-Qur'an dengan irama. Sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak "berirama" ketika membaca Al-Qur`an.”[1]

Serta riwayat lainnya dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:

مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِىٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ

“Allah tidak pernah Mendengar sesuatu seperti ketika Mendengar Nabi-Nya yang memiliki suara indah; yang membaca Al-Qur`an dengan irama dan suara lantang.”[2]

Maksud dari kata "berirama" adalah, memperbagus suaranya dengan suara lantang dan mendayu dengan nada sedih, yang itu dapat menciptakan perasaan yang lembut di hati hingga meneteskan air mata. Dengan syarat tidak keluar dari batasan bacaan Al-Qur`an menurut ulama qira'at. Sedangkan memanjangkan bacaan juga tidak meliuk yang berlebihan, sehingga keluar dari batasan yang wajar, maka hal tersebut hukumnya makruh menurut Jumhur Ulama. Wallahu a'lam.

Apakah Mengeraskan Bacaan Atau Melirihkannya?


Sesungguhnya Rasulullah kadang menggunakan suara lantang ketika shalat tahajjud, dan kadang menggunakan suara yang lirih. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abdullah bin Abi Qais radhiallahu 'anhuma :

سَأَلْتُ عَائِشَةَ أَكَانَ النَّبِىُّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَجْهَرُ بِصَلاَتِهِ أَمْ يُخَافِتْ بِهاَ؟ قَالَتْ :" رُبَّمَا جَهَرَ بِصَلاَتِهِ ، وَرُبَّمَا خَافَتْ بِهَا" قُلْتُ : اللهُ أَكْبَرُ , الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَعَلَ فِى الأَمْرِ سَعَةً

"Aku bertanya kepada Aisyah apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersuara lantang atau lirih dalam shalat tahajjud beliau? Aisyah kemudian menjawab, "kadang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersuara lantang dalam shalat beliau, dan kadang bersuara lirih" Aku pun berkata, "Allah Maha Besar, Segala Puji Bagi Allah yang telah menjadikan masalah ini lapang"[3]

Dan juga diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhuma :

كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِىِّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- رُبَّمَا يَسْمَعُهُ مَنْ فِي الْحُجْرَةِ وَهُوَ فِي الْبَيْتِ

“Sesungguhnya bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam –saat shalat tahajjud– kadang terdengar oleh orang yang berada di dalam kamar, sedangkan beliau berda di dalam rumah.”[4]

Maksudnya adalah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca dengan suara pertengahan antara lantang dan lirih.

Penulis Berkata: Bahwa cara seperti inilah yang dianjurkan. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallahu 'anhu :

إِنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ لَيْلَةً فَإِذَا هُوَ بِأَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْق رضى الله عنه يَخْفِضُ مِنْ صَوْتِهِ قَالَ وَمَرَّ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَهُوَ يُصَلِّى رَافِعًا صَوْتَهُ قَالَ فَلَمَّا اجْتَمَعَا عِنْدَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : "يَا أَبَا بَكْرٍ مَرَرْتُ بِكَ وَأَنْتَ تُصَلِّى تَخْفِضُ صَوْتَكَ". قَالَ : قَدْ أَسْمَعْتُ مَنْ نَاجَيْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. وَقَالَ لِعُمَرَ : "مَرَرْتُ بِكَ وَأَنْتَ تُصَلِّى رَافِعًا صَوْتَكَ" فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أُوقِظُ الْوَسْنَانَ وَأَطْرُدُ الشَّيْطَانَ. قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم : "يَا أَبَا بَكْرٍ اِرْفَعْ مِنْ صَوْتِكَ شَيْئًا". وَقَالَ لِعُمَرَ : "اخْفِضْ مِنْ صَوْتِكَ شَيْئًا

"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam suatu saat keluar di malam hari, dan beliau mendapatkan Abu Bakar as-Siddiq yang melirihkan suaranya –ketika shalat malam–"Ibnu Abi Qatadah kemudian melanjutkan kisahnya, "Lalu Rasulullah berjalan dan mendapatkan Umar bin Khattab yang shalat –malam– dengan mengangkat suaranya." Ibnu Abi Qatadah berkata, "Lalu setelah mereka berdua berkumpul bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda, "Wahai Abu Bakar, aku berjalan dan mendapatkanmu shalat malam dengan melirihkan suara?" Abu Bakar kemudian berkata, "Aku memperdengarkan –suaraku– hanya kepada –Allah– tempatku memohon wahai Rasulullah" Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Umar, "Aku berjalan dan mendapatkanmu shalat –malam– dengan mengangkat suara?" Umar pun menjawab, "Wahai Rasulullah, aku ingin membangunkan orang-orang dan mengusir setan" Lalu Rasulullah pun bersabda, "Wahai Abu Bakar, angkat sedikit suaramu" Kemudian beliau berkata kepada Umar, "Rendahkan sedikit suaramu"[1]

Bacaan yang seperti ini, sebagaimana terwujud saat Rasulullah mendengarkan suara kaum Asy'ari yang membaca Al-Qur'an. Dan saat Rasulullah berjalan dan mendengarkan bacaan Abu Musa al-Asy'ari ketika shalat malam. Rasulullah pun bersabda:

يَا أَبَا مُوسَى لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Wahai Abu Musa, tahukah kamu saat aku mendengarkan suaramu tadi malam, sesungguhnya kamu telah dikaruniai Allah "seruling" (suara yang indah) seperti seruling Nabi Daud.”[2]

Imam Nawawi berkata, "ada beberapa hadits yang membahas tentang keutamaan membaca Al-Qur'an dengan suara lantang, dan juga ada riwayat dari sahabat Rasulullah yang menyatakan keutamaan membaca dengan suara lirih. Para ulama berkata, bahwa dalam memahami dua riwayat yang berbeda tersebut kemudian dikumpulkan, maka terdapat kesimpulan bahwa membaca dengan suara lirih itu lebih jauh dari perbuatan riya', dan itu lebih utama dilakukan bagi orang yang takut jatuh kedalam riya'. Namun jika tidak khawatir riya', maka membacanya dengan suara lantang itu lebih utama, dengan syarat tidak mengganggu orang lain yang sedang shalat atau orang yang sedang tidur, serta yang lainnya."

15. Mengahayati bacaan ayat-ayat Al-Qur'an, meminta perlindungan kepada Allah dan bertasbih saat membacanya, serta menangis ketika shalat.


Dalam hadits riwayat Hudzaifah radhiallahu 'anhu dinyatakan:

يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

“Rasulullah membacanya perlahan-lahan, jika beliau mendapati ayat yang didalamnya mengandung tasbih, maka beliau bertasbih. Dan jika mendapati ayat yang di dalamnya terdapat permohonan, maka beliau memohon. Dan jika mendapati ayat yang di dalamnya terdapat ta'awudz (memohon perlindungan) maka beliau pun memohon perlindungan”[1]

Maka sebagai umat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam hendaknya mengikuti ajaran beliau. Dan orang tersebut justru lebih butuh daripada beliau. Jika Allah telah mengampuni dosa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam baik yang telah lampau dan yang akan datang, maka orang selain beliau tentu lebih banyak dosanya –dan lebih butuh memohon ampun–[2]

Juga dalam hadits riwayat Abu Dzar radhiallahu 'anhu, ia berkata:

قَامَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِآيَةٍ حَتَّى أَصْبَحَ يُرَدِّدُهَا ، وَالآيَةُ [إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ]

“Suatu saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam shalat dan membaca ayat yang beliau baca berulang-kali. Ayat tersebut adalah,

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

"Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana"[3]

Hadits riwayat Abdullah bin Syikkhir radhiallahu 'anhuma :

أَتَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَ هُوَ يُصَلِّي , وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ اَلْمِرْجَلِ [مِنَ البُكَاءِ]

“Aku mendatangai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang shalat, dan ku dengar dari dada beliau suara seperti suara air yang mendidih –karena menangis–.”[4]

Dalam riwayat Aisyah radhiallahu 'anha yang telah disebutkan sebelumnya, saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan Abu Bakar menggantikan Rasulullah menjadi imam shalat, Aisyah berkata:

إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ ، وَإِنَّهُ مَتَى يَقُومُ مَقَامَكَ لاَ يُسْمِعِ النَّاسَ

“Sesungguhnya Abu Bakar itu lelaki yang hatinya luluh serta mudah menangis, dan jika ia menempati posisi engkau (menjadi imam shalat) maka bacaannya tidak dapat didengarkan oleh para makmum.”[1]

Maksudnya adalah, karena tangisannya.

Dalam riwayat lainnya disebutkan:

إنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ ، إِذَا قَرَأَ القُرْآنَ غَلَبَهُ البُكَاء

“Sesungguhnya Abu Bakar adalah orang yang hatinya mudah luluh, apabila ia membaca Al-Qur'an tak mampu menahan tangis.”

Dalam riwayat Abdullah bin Syadad radhiallahu 'anhuma ia berkata:

سَمِعْتُ نَشِيجَ عُمَرَ، وَأَنَا فِي آخِرِ الصُّفُوفِ يَقْرَأُ : [إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ]

“Ketika aku berada di barisan terakhir, aku mendengar isak tangisan Umar yang sedang melantunkan ayat:

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah Aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”[2][3]

16. Memperbanyak doa di waktu sahur (sebelum fajar), baik ketika shalat maupun di luar shalat.


Karena pada waktu ini saat Allah Ta'ala "turun" ke langit dunia untuk mengabulkan doa serta memberi permintaan para hamba-Nya.

Sebagaimana dalam riwayat Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Sesungguhnya di malam hari terdapat waktu jika seseorang bertepatan dengan saat tersebut, lalu memohon kepada Allah untuk kebaikan dunia dan akhirat, maka Allah pasti akan memberi (mengabulkan) permintaannya. Dan waktu tersebut, terjadi di setiap malam.”[1]

Masalah ini telah disebutkan sebelumnya saat membahas doa iftitah yang dibaca Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Dan dianjurkan memperbanyak doa ketika sujud, karena sujud merupakan saat mustajab dalam berdoa. Sebagaimana hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam :

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا فِيْهِ مِنَ الدُّعَاءِ

“Saat terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika hamba tersebut sujud. Maka perbanyaklah doa ketika sujud.”[2]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:

وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Saat sujud, bersungguh-sungguhlah berdoa karena patut bagi kalian untuk dikabulkan –doa kalian–.”[3]

Juga dalam riwayat Aisyah radhiallahu 'anha :

فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ: "اللهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ"

"Aku kehilangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di ranjang pada suatu malam, lalu aku cari beliau, dan tanganku pun menyentuh bagian perut kedua telapak kaki Rasulullah, yang saat itu beliau berada di dalam masjid. Kedua telapak kaki Rasulullah tersebut dalam keadaan berdiri tegak. –dalam sujud tersebut– beliau berdoa, "Ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan kerelaan-Mu dari murka-Mu dan dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari ancaman-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjungkan kepada Dzat-Mu sendiri"[4]

17. Dianjurkan membangunkan keluarga untuk melaksanakan shalat malam.


Masalah ini telah dibahas sebelumnya dalam bab "Keutamaan Shalat Malam".

18. Dianjurkan juga istirahat setelah mengerjakan shalat malam dan sebelum shalat Subuh.


Agar istirahat tersebut menjadi seperti pemisah antara shalat sunnah dengan shalat fardhu, dan membangkitkan semangat mengerjakan shalat Subuh. Karena jika seseorang menyambung antara shalat tahajjud dan shalat Subuh (tanpa istirahat), maka tidak ada yang bisa menjamin, dan bisa jadi orang tersebut saat melakukan shalat Subuh hilang semangat dan rasa khusyu'nya dikarenakan rasa letih maupun jenuh.

19. Makruh meninggalkannya –bagi yang rutin dan terbiasa shalat tahajjud–


Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amru radhiallahu 'anhuma :

يَا عَبْدَ اللهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلانٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, dulu ia –rutin– mengerjakan shalat tahajjud, namun kini ia meninggalkannya.”[1]. Wallohu A'lam

Demikian penjelasan lengkap seputar Qiyamul Lail. Semoga Alloh memudahkan kita untuk istiqomah dalam qiyamul lail. Semoga tulisan ini bermanfaat. Adapun sumber tulisan ini adalah dari kitab Shahih Fiqih Sunnah Karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Mengenai kitab Shahih Fiqih Sunnah silahkan baca DISINI. Untuk catatan kaki pada artikel ini bisa dilihat DISINI. Allohu waliyut taufiq.


Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru