8 Hal Yang Membatalkan Puasa Beserta Dalilnya


Secara umum, puasa akan batal jika syarat atau rukunnya tidak terpenuhi. Landasan hukum hal-hal yang membatalkan puasa ini telah disebutkan Allah -subhanahu wa ta`ala- dalam firman-Nya:

(فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ)

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”[Al-Baqarah: 187]

Ulama bersepakat bahwa wajib bagi orang yang berpuasa menjaga diri dari makanan, minuman dan bersetubuh selama waktu puasa. Tapi, para ulama berbeda pendapat tentang hal-hal yang boleh dikatakan dan yang tidak boleh dikatakan. (Lihat Bidayatul Mujtahid (1/431))

Hal-Hal Yang Membatalkan Puasa Ada Dua Macam:


Pertama: Sesuatu yang membatalkan puasa dan wajib mengganti (di lain hari)


1-2. Makan dan minum dengan sengaja dan ingat kalau dia sedang puasa. 

Jika makan dan minum dalam keadaan lupa, maka ia harus menyempurnakan puasanya tanpa mengganti. Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Bagi siapa yang lupa sedangkan dia dalam keadaan berpuasa kemudian dia makan atau minum, maka dia harus menyempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah -subhanahu wa ta`ala- yang memberinya makan dan minum.” [Shahih Hadits Riwayat: Al-Bukhariy (1923) – Muslim (1155)]

Hal ini dilakukan baik ketika berpuasa wajib atau puasa sunnah –karena dasar hukumnya yang bersifat umum menurut mayoritas ulama– berbeda dengan Imam Malik. [AI-Mughni (3/50)] Beliau mengkhususkan hukum tersebut hanya berlaku untuk puasa Ramadhan. Sedangkan untuk puasa sunnah, jika seseorang lupa lalu makan atau minum, maka dia wajib mengganti. Tetapi, yang shahih adalah tidak ada bedanya antara puasa wajib dan puasa sunnah.

Yang dikategorikan makan adalah memasukkan ke dalam perut lewat mulut. Ini bersifat umum, baik sesuatu tersebut bermanfaat atau berbahaya, dan juga yang tidak bermanfaat atau yang tidak berbahaya.

Bagaimana Jika Seseorang Makan, Minum Atau Bersetubuh Dan Ia Mengira Matahari Sudah Tenggelam Atau Fajar Belum Terbit Tetapi Ternyata Sebaliknya?
Ada dua pendapat ulama tentang masalah ini:

Pertama: Wajib mengganti. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya imam empat madzhab. [Al-Bahru Ar-Raiq (2/292)]

Kedua: Tidak wajib mengganti. Ini adalah pendapat Ishaq, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, Dawud, Ibnu Hazm dan mayoritas `Ulama terdahulu. Begitu juga Al-Mazaniy dari madzhab Syafi’i dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.[Al-Muhalla (6/220-229), Al-Majmu’ (6/311),] Pendapat ini dianggap kuat karena landasan hukum berikut:

Firman Allah -subhanahu wa ta`ala-:

(وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا)

“Tiada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzab: 5]

Begitu juga firman Allah -subhanahu wa ta`ala- berikut:

(رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا)

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. [Al-Baqarah: 286]”Kemudian Allah -subhanahu wa ta`ala- menjawab – sesuai dengan hadits – “ya” [Hadits Shahih, Riwayat: Muslim no. 125]

Kemudian Hadits riwayat Asma binti Abu Bakr -radhiyallahu `anha-:

أَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ غَيْمٍ ، ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ " ، قيللِهِشَامٍ : أُمِرُوا بِالْقَضَاءِ ، قَالَ : لَا بُدَّ مِنْ ذَلِكَ. وَقَالَ مَعْمَرٌ: سَمِعْتُ هِشَامًا: لاَ أَدْرِي أَقَضَوْا أَمْ لاَ

“Kami berbuka di masa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- di hari yang mendung, kemudian matahari muncul. Dikatakan pada Hisyam (perawi dari ibunya, Fathimah dari Asma): Kalian disuruh mengganti? Lalu ia berkata: Harus mengganti. Dan Ma’mar berkata: Aku mendengar Hisyam berkata: Aku tidak tahu harus mengganti atau tidak.”[Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1959]

Dari hadits Asma -radhiyallahu `anha- di atas, tidak ada penekanan harus mengganti atau tidak. Sedangkan ucapan dari Hisyam hanya berdasarkan pendapat pribadinya. Buktinya adalah pertanyaan dari Ma’mar yang dilontarkan kepadanya.

Kesimpulannya: mereka tidak diperintahkan mengganti, walaupun mereka bisa saja mengganti untuk jaga-jaga. Maka jika tidak ada perintah dari Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka hukum asalnya adalah terbebas dari tanggungan dan tidak ada mengganti.

Dalam ayat lain Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

(وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ)

“Dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar.”[Al-Qur`an Surat. Al-Baqarah: 187]

Dalam ayat tersebut, Allah -subhanahu wa ta`ala- menggantungkan awal puasa dengan kejelasan terbitnya fajar, tidak hanya terbit fajar.

Selain hal di atas, orang yang tidak tahu dianggap alasan. Dalam Hadits riwayat Hady bin Hatim disebutkan:

لَمَّا نَزَلَتْ: {حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ} [البقرة: 187] عَمَدْتُ إِلَى عِقَالٍ أَسْوَدَ، وَإِلَى عِقَالٍ أَبْيَضَ، فَجَعَلْتُهُمَا تَحْتَ وِسَادَتِي، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ فِي اللَّيْلِ فَلاَ يَسْتَبِينُ لِي، فَغَدَوْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرْتُ لَهُ ذلِكَ، فَقَالَ: إِنَّمَا ذلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ

“Ketika turun ayat ‘hingga terang bagimu benang putih’ aku mengambil benang hitam dan benang putih lalu aku letakkan keduanya di bawah bantalku. Lalu aku memperhatikannya semalaman tapi tidak ada yang terang bagiku. Maka aku menghadap Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan menceritakannya pada beliau. Kemudian beliau bersabda: Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kehitaman malam dan putihnya siang.” [Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 4509/ Muslim no. 1090]

Dalam hadits di atas, Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak memerintahkan untuk mengganti karena ia tidak tahu dan tidak bermaksud membangkang perintah Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ia berkeyakinan bahwa ini adalah hukum Allah dan Rasul-Nya tapi ia mendapat alasan. [Syarhul Mumti’ , VI, h 403]

Pendapat terakhir ini adalah pendapat yang terkuat karena sesuai dengan dalil yang ada, selain itu juga memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Seseorang yang berbuka puasa (menyangka) matahari terbenam dan ternyata belum terbenam, maka ia wajib menahan diri kembali (puasa). Karena ia berbuka karena sebab dan kemudian sebab tersebut hilang.

2. Hal di atas jika ada prasangka dalam dirinya matahari telah terbenam atau fajar telah terbit. Jika ia hanya ragu-ragu dan tidak mempunyai prasangka yang kuat, ada dua kemungkinan. Jika ia makan dan ragu fajar telah terbit, maka sah puasanya karena hukum asalnya adalah tetapnya malam sampai ia yakin atau punya prasangka kuat fajar telah terbit. Sedangkan jika ia makan dan ragu matahari telah terbenam, maka tidak sah puasanya karena hukum asalnya adalah tetapnya siang. Ia tidak boleh makan dalam keadaan ragu tentang hal tersebut. Ia juga wajib mengganti, kecuali ia tidak tahu kalau ia makan setelah matahari terbenam, maka tidak wajib mengganti. Allah Maha Tahu .

Sengaja makan dan minum hanya wajib mengganti.[2] Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Imam Ahmad –pendapatnya yang terkenal– Madzhab zhahiri, dan mayoritas ahli ilmu. Alasannya adalah karena tidak ada dalil yang mewajibkankafarat kecuali dalam masalah bersetubuh -seperti penjelasan yang akan datang– penjelasan tentang bersetubuh tersebut akan diuraikan dalam pembahasan tersendiri karena besar pengaruh buruknya terhadap kemuliaan bulan Ramadhan juga karena sangat mungkin bersabar menahannya sampai malam, berbeda dengan makan dan minum. Selain itu, terdapat penekanan khusus perintah menghindari bersetubuh di siang hari saat puasa dan hukumannya pun lebih berat.

Sedangkan Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Ishaq dan suatu golongan berpendapat wajibnya mengganti dan kafarat bagi orang yang sengaja makan dan minum. Ini dianalogikan dengan hukum bersetubuh karena keduanya sama-sama merusak kemuliaan puasa.

Pendapat terkuat adalah pendapat pertama karena tidak ada dalil yang menjelaskan wajibnya kafarat bagi orang yang sengaja makan atau minum saat puasa. Dan pada dasarnya, kafarat tidak bisa dianalogikan.

3. Muntah dengan sengaja. 


Jika muntah dengan tidak sengaja, maka tidak wajib mengganti dan juga tidak wajib kafarat tanpa ada perbedaan pendapat antara ulama. Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

(من ذرعه القيئ فليس عليه قضاء, ومن استقاء عمدا فليقض)[1]

“Bagi siapa yang tidak sengaja muntah, maka tidak ada kewajiban mengganti baginya. Bagi siapa yang sengaja muntah, maka wajib mengganti.”

4-5. Haidh dan Nifas. 


Wanita yang mendapat Haidh dan nifas di siang hari walaupun sedikit, maka batal puasanya dan ia wajib mengganti puasa hari tersebut sesuai dengan kesepakatan ulama.

6. Onani dengan sengaja. 


Yaitu mengeluarkan sperma dengan sengaja tanpa jalan bersetubuh. Seperti sengaja mengeluarkan sperma dengan tangan atau bersentuhan kulit atau sejenisnya disertai syahwat. Jika hal tersebut benar-benar dilakukan dengan sengaja dan ingat bahwa ia sedang puasa maka batal puasanya dan ia wajib mengganti menurut mayoritas ulama.[2]

Ibnu Hazm berpendapat lain. Menurutnya, onani tanpa bersetubuh tidak membatalkan puasa walau disengaja. Ibnu Hazm berkata: “Tidak ada penjelasan tentang hal tersebut dalam dalil, ijma’, pendapat shahabat, dan analogi.”[3]

Penulis berkata: Pendapat terkuat adalah pendapat mayoritas ulama yang diperkuat dengan firman Allah -subhanahu wa ta`ala- tentang orang yang berpuasa dalam suatu hadits qudsi yang berbunyi:

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Orang yang berpuasa adalah orang yang meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku semata.[4]

Sedangkan ketika onani pasti menimbulkan syahwat, begitu juga saat keluarnya sperma. Pernyataan ini diperkuat dengan sabda Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-:

وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً " قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ يَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: "أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي الْحَرَامِ

“Dalam diri kamu sekalian terdapat sedekah. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, mungkinkah syahwat datang pada salah satu dari kita dan mendapat pahala? Rasul -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: Tidakkah kamu melihat jika ia mengeluarkan syahwat dalam keharaman?.”[5]

Maksud syahwat yang dikeluarkan dalam hadits di atas adalah sperma. Sedangkan jika seseorang berpikir atau melihat wanita kemudian keluar spermanya, dan semua itu tanpa ada unsur kesengajaan, maka tidak batal puasanya.

7. Niat membatalkan puasa.


Jika seseorang niat membatalkan puasanya –dia sedang berpuasa– dan yakin akan berbuka dengan sengaja dan sadar bahwa ia sedang berpuasa, maka batal puasanya, walaupun ia tidak makan atau minum berdasarkan sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- “setiap orang sesuai dengan apa yang ia niati”. Dan juga karena melakukan puasa tidak butuh tindakan kecuali niat puasa sehingga batalnya puasa juga tidak butuh tindakan kecuali niat membatalkannya. Selain itu, niat juga menjadi syarat melaksanakan puasa. Dan niat ini telah diganti dengan kebalikannya, yaitu membatalkan puasa. Sehingga, syarat puasa tidak terpenuhi. Maka ibadah yang dilakukan tidak sah. Ini adalah madzhab Syafi’i, zhahir madzhab Ahmad, Abu Tsaur, zhahiriyah, dan ahli ra’yi. Namun, ahli ra’yi berkata: “Jika ia kembali niat berpuasa sebelum tengah hari, maka sah puasanya.” Pernyataan ini didasari oleh pendapat mereka bahwa niat puasa sah dilakukan di siang hari.[1]

8. Murtad dari Islam.


Kami tidak pernah menemukan adanya perbedaan pendapat antara ulama tentang orang yang murtad dari Islam pada saat puasa maka batal puasanya. Ia wajib mengganti jika ia kembali masuk Islam, baik di tengah hari ataupun setelah hari dimana ia murtad.[2] Karena Allah -subhanahu wa ta`ala- berfirman:

(لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ)[3]

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu.”

Alasan lain adalah puasa merupakan ibadah yang butuh pada niat. Maka puasa akan batal dengan adanya murtad.

1. Sesuatu yang membatalkan puasa yang wajib mengganti dan kafarat, yaitu bersetubuh. Diriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu- berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلَكَتُ. قَالَ: "وَمَا لَكَ"؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا"؟ قَالَ: لَا، قَالَ: "فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ"؟ قَالَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: "هَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا"؟ قَالَ: لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: بَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيهِ تَمْرٌ –فقال: "أين السَّائِلُ آنِفًا، فقال: أنا, قال: خُذْ هَذَا التَّمْرَ فَتَصَدَّقْ بِهِ"، فَقَالَ الرَّجُلُ: عَلَى أَفْقَرَ مِنْ أَهْلِي يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ مَا بَيْنَ لَا بَتَيْهَا[4] -يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ- أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بيتي. قال: فضحك رسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثم قال: "أطعمه أهلك"[1]

“Ketika kami duduk-duduk dengan Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam-, datanglah seorang lelaki lalu berkata: Ya Rasulullah, celaka. Rasulpun bertanya: Apa yang telah kamu perbuat? Ia menjawab: aku telah bersetubuh dengan istriku sedang aku berpuasa. Rasulpun kembali bertanya: Apa kamu punya budak yang bisa dibebaskan? Ia menjawab: Tidak. Rasul bertanya lagi: Apa kamu sanggup berpuasa dua bulan berturut-turut? Ia jawab: Tidak. Rasul bertanya lagi: Apa kamu bisa memberi makan enam puluh orang miskin? Ia jawab: Tidak. Kemudian Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- terdiam. Ketika itu juga, Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- tiba-tiba diberi keranjang berisi kurma di dalamnya. Maka Rasulpun bertanya: Mana orang yang bertanya tadi? Ia menjawab: Saya. Rasulpun bersabda: Ambil ini dan sedekahkan! Kemudian laki-laki itupun bertanya lagi: siapa yang lebih fakir dariku wahai Rasulullah? Demi Allah tidak ada keluarga yang lebih fakir dari keluargaku dari ujung Madinah hingga ujung Madinah yang lain. Rasulpun tertawa sampai tampak gigi taringnya. Kemudian beliau bersabda: Berilah makan keluargamu.”

Mayoritas ulama telah bersepakat bahwa orang yang bersetubuh dengan sengaja tanpa ada paksaan di siang hari saat puasa, sekiranya dua kelamin bertemu dan kelamin lelaki telah masuk dalam salah satu dua lubang (lubang depan dan lubang belakang yang diharamkan) maka batal puasanya dan wajib mengganti serta kafarat, baik keluar sperma atau tidak.

Penulis berkata: Mengganti yang diwajibkan mayoritas ulama atas orang yang bersetubuh saat puasa Ramadhan adalah tambahan dalam hadits di atas, bahwa Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda di akhir hadits tersebut: [2]و صم يوما مكانه “dan puasalah sehari sebagai penggantinya”. Namun tambahan ini dinilai lemah statusnya. Karena itu, Ibnu Hazm – semoga Allah merahmatinya – berpendapat kewajiban bagi orang tersebut adalahkafarat saja tanpa mengganti. Ini adalah pendapat yang kuat dan sesuai dengan penjelasan yang telah lalu - dalam masalah mengganti shalat, dan penjelasan yang akan datang dalam masalah mengganti puasa – bahwa tidak wajib mengganti bagi orang yang meninggalkan ibadah yang telah ditentukan waktunya – dengan tanpa alasan – kecuali ada dalil yang baru. Wallohu a'lam.


Footnote:
[1]Syarhu Fathil Qadir:  II/h 70, Al-Mudawwanah:  I/h 219, Al-Majmu’:  VI/h 329,  Al-Mughniy:  III/h 130,  Al-Muhalla:  VI/h 185
[2]Dinilai shahih oleh Al-Albaniy: Hadits Riwayat: Abu Dawud no. 2380, At-Tirmidziy no. 716,  Ibnu majah no. 1676,  Ahmad:  II/h 468. Al-Bukhariy dan Ahmad menilai cacat dalam Nasbur Rayah(2/448). Al-Albaniy menilai shahih dalam Al-Irwa' (923) dan Shahihul Jami’ (6243)
[3]Ad-Dar Al-Mukhtar,  II/ h 104, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah:  h 81,  Raudlatut Thalibin:  II/h 361, Al-Um: II/ h 86, Al-Mughniy ,  III, h 48, Kassyaful Qina’ ,  II, h 352
[4]Al-Muhalla:  VI/ h 203-205
[5] Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy  no. 1984, Muslim no. 1151 dari Abu Hurairah -radhiyallahu `anhu-
[6] Hadits Shahih, Riwayat: Muslim no. 1006 dari Abu Dzar
[7]Al-Muhalla ,  VI, h 175/ Al-Majmu’ ,  VI, h 314/ Al-Mughniy ,  III, h 25/  Al-Mabsuth ,  III, h 87
[8]Al-Mughniy ,  III, h 25/ Kassyaful Qina’ ,  II, h 309
[9] Az-Zumar: 65
[10] Maksudnya di antara dua ujung kota Madinah
[11] Hadits Shahih, Riwayat: Al-Bukhariy no. 1936/ Muslim no. 1111
[12] Hadits Riwayat: Al-Bukhariy di atas diriwayatkan melalui Az-Zuhriy dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah tanpa menyebutkan mengganti. Riwayat ini lebih dari sepuluh orang dalam kitab shahih Al-Bukhariy-Muslim dan lainnya.
Dan riwayat Hisyam bin Sa’ad dari Az-Zuhriy dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bertolak belakang dengan riwayat di di atas dan menambahkan: “dan puasalah sebagai pengganti hari itu.” Hadits Riwayat: Ad-Daruquthniyy (2/190). Hisyam bin Sa’ad dianggap dha’if.
Abdul Jabbar bin Amr dari Yahya bin Sa`id dari Ibnu Al-Musayyab dari Abu Hurairah juga meriwayatkan hadits di atas dengan tambahan ini. Ibnu Majah (1671) juga meriwayatkannya. Al-Bukhariy mengatakan banyak yang mengingkarinya, sehingga tidak boleh dipakai. Ibnu Al-Musayyab juga meriwayatkan hadits tersebut dengan status mursal karena tidak menyebutkan Abu Hurairah, yang mentakhrijnya adalah Al-Baihaqiy (4/227).
Ada hadits lain yang menggunakan tambahan ini, yaitu Hadits riwayat Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya yang ditakhrij oleh Abu Syaibah (2/348). Dalam sanadnya terdapat Hujaj bin `Athaa'h yang dinilai dha`if. Dan menurutku, tambahan di atas tidak ada. Allah Maha Tahu.
Lihat Al-Muhalla  Ibnu Hazm (6/180) masalah (735)

Related Posts

Previous
Next Post »