Iklan Atas Zona Muslim

Kumpulan Fatwa Ulama Seputar Al-Qur`an
4/ 5 stars - "Kumpulan Fatwa Ulama Seputar Al-Qur`an" Termasuk hal yang dibutuhkan kaum muslimin terkait ilmu tajwid mencakup bacaan, hukum syariat, dan wawasan keislaman adalah fatwa para u...

Kumpulan Fatwa Ulama Seputar Al-Qur`an

Admin

Termasuk hal yang dibutuhkan kaum muslimin terkait ilmu tajwid mencakup bacaan, hukum syariat, dan wawasan keislaman adalah fatwa para ulama seputar al-Qur'an dan Permasalahannya. Di antara fatwa-fatwa ulama tersebut adalah:

1. Adab Tilawah Quran

Pertanyaan:

Apa sajakah adab-adab tilawah al-Qur'anul Karim?

Jawaban:

Di antara adab seorang muslim terhadap al-Qur’an yaitu:

a. Hendaknya qari meniatkan dalam membaca dan mentadaburi al-Qur’an secara murni karena wajah Allah, bukan karena riya atau ingin dipuji dan sum'ah (ingin didengar), serta tidak minta upah apa pun, karena ibadahnya merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada-Nya.

b. Menghormati adab-adab tilawah atau membaca al-Qur’an, seperti beristiadzah (meminta perlindungan) kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk ketika memulai qiraah, juga membaca basmalah apabila memulai qiraahnya dari awal surah selain surah At-Taubah.

c. Hukumnya mustahabah (disukai) bagi qari al-Qur'an untuk berwudhu sebelum memulai qiraah dengan mushaf (bukan dengan hafalan). Bahkan, ada yang berpendapat wudhu wajib atasnya.

d. Sebaiknya duduk ketika membaca al-Qur'an, begitu juga berpakaian yang baik, menghadap kiblat, dan berada di tempat terhormat yang layak dengan keagungan Kitab-Nya.

e. Sebaiknya membaca al-Qur'an dengan tunduk, khusyu, perlahan, diiringi tadabur dan tafakur pada ayat-ayatnya, sedangkan hati dan inderanya tertuju pada apa yang dibaca, dan tidak memotongnya dengan perkataan manusia.

f. Dianjurkan mentartilkan a.l-Qur'an dengan suara yang bagus, dengan memperjelas setiap huruf dan harakatnya, juga memperhatikan hukum-hukum tajwid sesuai kemampuan.

g. Apabila dimungkinkan ada seseorang mendengar bacaan al-Qur’an kita, sementara dia pun sedang membaca al-Qur’an atau mengerjakan shalat, maka hendaklah tidak mengganggu mereka yang sedang beramal itu dengan mengeraskan suara.

h. Qari hendaknya tidak membaca al-Qur’an dengan cepat sehingga tidak dapat memahami apa yang diucapkannya, dan tidak memanjangkannya lebih dari batasan yang merusak lafazh-lafazhnya sehingga keluar dari maksud tilawah. Namun, bacalah dengan sikap pertengahan.

i. Tidak membaca al-Qur'an dengan nada-nada nyanyian seperti irama-irama orang fasik, atau senandungnya kaum Nashrani, juga ratapannya para rahib Yahudi; semua cara itu tidak diperbolehkan.

j. Menahan diri dari qiraah apabila menguap, yakni berhenti dahulu sampai selesai menguap, demi mengagungkan Allah. Karena pada saat itu seorang hamba sedang menyeru dan bermunajat kepada Rabbnya, sedangkan menguap berasal dari syaitan.

k. Berhenti pada ayat rahmat kemudian meminta karunia dari Allah, serta berhenti pada ayat azab dan ancaman kemudian meminta perlindungan kepada Allah darinya, sebagaimana pada ayat tasbih hendaknya bertasbih, dan yang demikian dilakukan di luar shalat fardhu. Wabillahit taufiq.“[1]

2. Hukum Menghadap Kiblat Ketika Tilawah al-Qur'an

Pertanyaan:

Wajibkah kita menghadap kiblat ketika membaca al-Qur’an al-Karim?

Jawaban:

Hendaknya qari menghadap kiblat tatkala membaca al-Qur'an, karena tilawah Kitabullah merupakan ibadah, dan ibadah itu disukai dengan menghadap kiblat. Ini bagian dari hal yang menyempurnakan amal shalih, jadi tidak mengapa apabila tidak menghadap ke kiblat.[2]

3. Membaca al-Qur’an dengan Suara Keras

Pertanyaan:

Bolehkah membaca al-Qur'an dengan suara keras di masjid saat ada seseorang yang sedang mengerjakan shalat sunnah?

Jawaban:

Tidak selayaknya mengeraskan bacaan al-Qur'an di masjid apabila orang-orang yang shalat di sekitarnya merasa terganggu.

Demikianlah sikap qari ketika berada di tempat yang terdapat orang yang sedang shalat atau membaca al-Qur’an di sekitarnya, yakni disunnahkan baginya untuk tidak mengeraskan suara.

Dalil hal ini ialah hadits yang telah Ambit dari Rasulullah: “Bahwa pada suatu hari beliau mendatangi masjid dan melihat orang-orang sedang shalat dengan mengeraskan bacaannya, dan beliau bersabda: “Kalian sedang bermunajat kepada Rabb, hendaklah sebagiannya tidak menganggu sebagian yang lain."[3]

4. Dua Keadaan Orang yang Membaca al-Qur'an 

Pertanyaan: 

Aku mendengar bahwa orang yang membaca al-Qur'an namun tidak bagus dalam bacaannya dianggap berdosa, apakah pernyataan ini benar? Lalu apakah ini artinya tidak membaca al-Qur’an lebih utama daripada membacanya dengan terbata-bata?

Jawaban: 

Hal ini ditinjau dari dua keadaan.

Pertama bagi orang yang mampu memperbaiki kesalahan qiraahnya serta mengenal seseorang yang bisa memperbaiki bacaan dan mengajarkan qiraah yang benar. Dalam keadaan ini dia tidak boleh selalu berada dalam taraf terbata-bata, tetapi wajib baginya memperbaiki dan melancarkan bacaan karena dimungkinkan tercapai.

Kedua, bagi orang yang tidak mampu memperbaiki kesalahan qiraahnya. Dalam keadaan ini dia boleh membaca sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya, jangan meninggalkan membaca al-Qur’an karena Nabi bersabda: “Orang yang mahir membaca al-Qur'an akan bersama para Malaikat yang mulia, sedang orang yang membacanya dengan terbata-bata dan sangat berat akan mendapatkan dua pahala,” yakni pahala qiraah dan usahanya (membaca terbata-bata).[4]

5. Hukum Meletakkan al-Qur'an di Atas Tanah 

Pertanyaan: 

Apakah hukum meletakkan mushaf al-Qur'an di atas tanah atau lantai untuk waktu yang sebentar ataupun lama? Wajibkah kita meletakkan mushaf pada tempat yang tinggi dari lantai dengan tinggi minimal satu jengkal? 

Jawaban:

Meletakkan mushaf al-Qur'an di tempat yang tinggi lebih utama, seperti di atas kursi atau rak pada dinding yang jauh dari permukaan tanah maupun lantai.

Adapun apabila terpaksa meletakkannya di lantai karena kebutuhan mendesak dan bukan untuk menghinakannya, dengan catatan permukaannya suci, seperti saat seseorang mengerjakan shalat dan tidak mendapati tempat yang tinggi, atau ketika sujud tilawah, maka melakukan yang demikian tidak mengapa insya Allah.

Saya tidak mengetahui adanya larangan terkait hal ini. Walaupun begitu, meletakkannya di atas kursi, bantal, atau rak dinilai sebagai sikap yang lebih hati-hati.

Telah tsabit (tetap) bahwa ketika Nabi meminta Taurat untuk diperiksa dengan sebab pengingkaran kaum Yahudi terhadap hukum rajam, beliau pun meminta dibawakan Taurat dan sebuah kursi kemudian meletakkan Kitab itu di atasnya, lalu beliau memerintahkan seseorang memeriksanya sampai mendapatkan ayat yang menunjukkan hukum rajam sekaligus menyangkal kedustaan orang-orang Yahudi.

Dari kisah itu diketahui bahwa jika kepada Taurat saja kita disyariatkan untuk meletakkannya di atas kursi karena mengandung sebagian firman Allah, maka perlakuan kita terhadap al-Qur'an lebih utama dengan meletakkannya di atas kursi, mengingat Kitabullah lebih afdhal daripada Taurat.

Kesimpulannya, meletakkan al-Qur'an di tempat yang tinggi seperti kursi, sesuatu yang dijadikan alas, pada rak dinding, atau dalam celahnya, maka hal itu lebih utama dilakukan karena di sini terdapat peninggian, pengagungan, dan penghormatan terhadap Kalamullah.

Kami tidak mengetahui dalil larangan orang yang meletakkan al-Qur'an di atas tanah atau lantai yang suci dan bersih ketika ada hajat (kebutuhan) atau udzur (halangan).“[5]

6. Tajwid al-Qur'an 

Pertanyaan:

Wajibkah membaca al-Qur'an dengan tajwid? 

Jawaban:

Hendaknya seorang muslim mengambil Kitabullah, yaitu ilmu al-Qur'an, dari orang yang 'alim (ahli) tentang qiraah al-Qur'an yang shahih. Tujuannya, agar dia dapat mengetahui dan memahami seluk-beluk ilmu ini dengan baik." [Fatwa al-Lajnah ad-Da'imah no. 11843]

7. Membaca al-Qur'an dengan Bergoyang ke Kanan dan ke Kiri atau ke Depan dan ke Belakang 

Pertanyaan:

Sebagian manusia terlihat membaca al-Qur'an sambil tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri atau ke depan dan ke belakang, apakah hukum perbuatan tersebut? Berilah fatwa kepada kami, semoga Anda diberi pahala. 

Jawaban:

Perbuatan tersebut, bergoyang ketika membaca al-Qur'an, termasuk kebiasaan yang harus ditinggalkan.

Perbuatan ini bertentangan dengan adab terhadap Kitabullah, berupa sikap yang dituntut ketika membaca dan mendengarkan al-Qur'an, yaitu inrbat (diam). Maksudnya adalah tidak melakukan gerakan, tidak bermain-main, agar yang membaca dan yang mendengar serius dalam mentadaburi al-Qur'an, yaitu khusyu kepada Allah ta'alaa.

Para ulama menyebutkan bahwa perbuatan tadi merupakan adat istiadat orang-orang Yahudi ketika membaca Taurat, dan kita dilarang bertasyabbuh kepada atau menveruoai mereka.“ [Fatwa al-Lajnah ad-Da'imah, no. 10588]

8. Hukum Membaca al-Qur'an secara Berjamaah 

Pertanyaan:

Apa hukum membaca al-Qur'an secara berjamaah di masjid?

Jawaban:

Pertanyaan ini masih global, terlalu umum.

Apabila yang dimaksud adalah membaca al-Qur'an dengan satu nama, maka cara ini tidak disyariatkan karena tidak ada atmr (keterangan) dari Rasulullah dan para Sahabat.

Pengecualian hal itu adalah ketika dilakukan untuk ta'lim (proses belajar-mengajar), maka jika dalam kondisi demikian tidaklah mengapa.

Bahkan jika berkumpulnya orang-orang untuk menghafal atau mempelajari al-Qur'an, dalam bentuk salah seorang membaca dan orang lainnya mendengarkan, atau setiap mereka membaca masing-masing tanpa penyatuan suara dan irama, maka sesungguhnya yang demikian disyariatkan berdasarkan sabda Rasulullah: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, membaca Kitabullah, saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun sakinah (ketenangan) kepada mereka, dan mereka dikelilingi Malaikat, serta mereka diliputi rahmat dan dipuji oleh Allah di hadapan Malaikat.” [Fatwa al-Lajnah ad-Da'imah (no. 3302)

9. Tamayul dalam Qiraah
Terdapat fatwa al-Lajnah ad-Daimah sebagai jawaban atas pertanyaan tamayul (bergerak ke kanan, kiri, depan, belakang), dengan nomor urut 7423, yaitu: “Tidak mengapa melakukan apa yang Anda sebutkan, yaitu tamayul baik ke kanan ataupun ke kiri ketika qiraah, dan ia bukan bagian dari ibadah sehingga tidak menjadi bid’ah ….”

Fatwa ini disebarluaskan pada cetakan pertama (IV/115), lalu al-Lajnah mempertimbangkannya lantas menetapkan untuk mengoreksinya hingga berujung pada penghapusannya pada cetakan terbaru, dengan alasan khawatir tersamarkan oleh sebagian orang sehingga menyangkanya sebagai ibadah. Apalagi hal itu merupakan adat kebiasaan orang-orang Yahudi yang mereka ada-adakan ketika membaca Kitab Taurat, sebagaimana disebutkan Abu Hayyan dalam Tafsirnya (IV/42) ketika menafsirkan firman Allah.

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka, seakan-akan (gunung) itu naungan awan.” (QS. Al-A’raf 7 : 171)

Redaksi perkataannya sebagai berikut: “Az-Zamakhsyari menegaskan setelah menyebutkan sejarahnya; bahwa ketika Musa membacakan alwah (lembaran-lembaran) yang di dalamnya terdapat Kitabullah kepada Bani Isra'il maka tidaklah pohon, gunung, dan batu melainkan bergoyang. Dari situlah Anda melihat orang Yahudi yang membaca Taurat bergoyang serta menggerak-gerakkan kepala. Kecenderungan yang bersandar pada fenomena tersebut kini ditiru generasi penerus muslim, seperti tampak jelas di Mesir. Dalam perpustakaan atau kantor di negeri ini, orang-orang yang membaca al-Qur'an bergoyang dan menggerakkan kepala.

Adapun di Andalusia, juga negeri Islam di sebelah Barat, anak kecil yang bergoyang ketika membaca al-Qur'an langsung ditegur oleh pengajar di sana sambil dinasihati: “Jangan bergerak! Karena dengan begitu kalian menyerupai orang-orang Yahudi dalam belajar.” Demikianlah maksud perkataan Abu Hayyan, wallahu a'lam. [Fatwa al-Lajnah ad-Da`imah (IV/149)]

10. Membaca al-Qur'an Sambil Berbaring di Tempat Tidur

Pertanyaan:


Apakah sah membaca al-Qur'an sambil berbaring di tempat tidur? Apabila tidak sah, lantas apakah tafsir dari ayat yang mulia ini:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring..." (Ali Imran :191)

Jawaban:

Membaca al-Qur'an dalam posisi tidur tidak mengapa, baik seseorang berbaring di tempat tidur ataupun di tanah. Yang demikian dibolehkan, bahkan kita boleh membacanya dalam keadaan apa pun seperti berdiri, duduk, atau berbaring, juga dalam keadaan berwudhu atau berhadats kecil apabila qiraahnya berasal dari hafalan. Adapun jika membacanya dengan melihat mushaf, orang yang berhadats tidak boleh menyentuhnya sebelum berwudhu.

Kesimpulannya, tidak ada larangan membaca al-Qur'an dalam keadaan apa pun selama tidak dalam kondisi junub, sebab diharamkan bagi orang yang junub membacanya sampai mandi besar. Begitu pula dengan haidh dan nifas, keduanya menghalangi wanita membaca al-Qur'an dengan mushaf kecuali ketika darurat, misalnya karena takut lupa.” [Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilatusy Syaikh Fauzan (II/37)]

11. Membaca al-Qur’an di Tengah Pekerjaan
Pertanyaan:

Saya seorang pegawai yang suka membaca al-Qur’an pada waktu-waktu luang pada jam kerja. Akan tetapi, atasan saya melarangnya dengan peringatan: “Sekarang waktunya bekerja, bukan membaca al-Qur'an.” Apa hukum perbuatan saya tersebut? Jazakumulloh khairan.

Jawaban:

Jika Anda tidak memiliki pekerjaan, maka dibolehkan mengisi waktu senggang itu dengan membaca al-Qur'an. Ini sama halnya dengan bertasbih atau bertahlil, karena berdzikir lebih baik daripada diam.

Namun apabila membaca al-Qur’an dapat melalaikan Anda dari pekerjaan utama, maka yang demikian tidak boleh dilakukan karena memang waktunya telah dikhususkan untuk bekerja.

Atas dasar itu, tidak boleh bagi Anda mengisi waktu luang tersebut dengan suatu kegiatan yang dapat mengganggu pekerjaan utama Anda. [Majmu' Fatawa wa Maqalatil Mutanawi'ah (VIII/361-362)]

12. Membaca al-Qur’an dengan atau tanpa mushaf
Pertanyaan:

Manakah yang lebih utama, antara membaca al-Qur'an dengan melihat mushaf atau membacanya dengan hafalan?

Jawaban:

Yang lebih bermanfaat untuk Anda, dan yang lebih khusyu' bagi hati Anda, itulah yang lebih utama. [Fatwa al-Lajnah ad-Daimah (IV/35)]

Bersambung...

Footnote:
[1] Fatwa Lajnah Ad-Daimah (III/72-75 no. 20374)
[2] Al muntaqa min Fatawa, Karya Syaikh Shalih Fauzan (II/35)
[3] Majmu' Fatawa wa Maqaalatil mutanawi'ah (XXIV/377)

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru