Iklan Atas Zona Muslim

Pakaian Yang Dilarang Bagi Laki-Laki (Bag. 1)
4/ 5 stars - "Pakaian Yang Dilarang Bagi Laki-Laki (Bag. 1)" Berikut ini jenis-jenis pakaian yang dilarang bagi laki-laki 1. Laki-laki Haram Memakai Pakaian-Khusus Perempuan. Jumhur ulama telah ...

Pakaian Yang Dilarang Bagi Laki-Laki (Bag. 1)

Admin

Berikut ini jenis-jenis pakaian yang dilarang bagi laki-laki

1. Laki-laki Haram Memakai Pakaian-Khusus Perempuan.

Jumhur ulama telah sependapat mengharamkan laki-laki menyerupai perempuan dalam hal pakaian yang khusus dipakai perempuan dan begitu pula sebaliknya. Nash-nash yang ada dengan pasti telah mengharamkan secara mutlak kedua jenis manusia ini dari saling menyerupai satu sama lain dalam hal-hal yang menjadi kekhususan salah satunya. Dan larangan ini mencakup penyerupaan dalam hal pakaian, perhiasan, cara berbicara, berjalan, dan sebagainya. Diantara nash-nash tersebut adalah sebagai berikut.

1. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.”[3]

2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki”.[4]

Baca juga : Pakaian Yang Sunnah Untuk Laki-laki

Tentunya laknat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah ditujukan kecuali kepada perbuatan yang diharamkan. Dan inilah yang dikatakan oleh jumhur ulama.

Asy-Syafi‘i berkata, “Tidak haram, hanya makruh!” Namun, hadits-hadits yang ada menolak pendapat ini. Oleh karena itu, an-Nawawi rahimahullah berkata dengan sikap adil, “Yang benar adalah bahwa perempuan menyerupai laki-laki dan sebaliknya hukumnya haram berdasarkan hadits yang shahih.”[5]

Pengharaman Isbal (Melabuhkan) Dan Menjulurkan Pakaian Karena Sombong.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ

“Allah tidak akan memandang kepada orang yang menyeret pakaiannya karena sombong.”[6]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا

Pada hari kiamat kelak, Allah tidak akan memandang kepada orang yang menjulurkan sarungnya karena sombong.”[1]

Dan diriwayatkan pula dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي حُلَّةٍ تُعْجِبُهُ نَفْسُهُ مُرَجِّلٌ جُمَّتَهُ، إِذْ خَسَفَ اللَّهُ بِهِ، فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan hullah[2] dengan penuh rasa kagum pada diri sendiri, dan dengan rambut yang tersisir rapi, lalu tiba-tiba dia ditelan (oleh bumi), dan dia akan tetap berguncang-guncang (dalam perut bumi) hingga datang Hari Kiamat.”
[4][3]

Nash-nash di atas dan selainnya menunjukkan pengharaman perbuatan menjulurkan pakaian karena angkuh dan sombong, dan menunjukkan bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar.

Hukum Isbal Karena Selain Sombong.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فِي النَّارِ

Apa yang di bawah mata kaki yang tertutupi kain sarung (akan diazab) di neraka.”[4]

Al-Khaththabi berkata, “Beliau maksudkan bahwa bagian (kaki) yang ditutupi oleh kain sarung di bawah mata kaki di dalam neraka. Jadi beliau menamai badan pemakai pakaian dengan pakaiannya. Dan maknanya adalah bahwa (bagian) kaki yang di bawah mata kaki akan diazab sebagai hukuman ...”[5]

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan memandang kepadanya pada Hari Kiamat”.


Abu Bakar pun berkata, “Salah satu ujung sarungku akan terurai kecuali jika aku memegangnya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّكَ لَسْتَ مِمَّنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ

Sungguh engkau tidak termasuk orang yang melakukan itu karena sombong.”[1]

Sekelompok ulama berpendapat tentang pengharaman isbal (menjulurkan) pakaian hingga ke bawah dua mata kaki jika dilakukan karena sombong. Jika dilakukan bukan karena sombong, maka hukumnya makruh. Mereka beralasan bahwa hadits-hadits yang melarangisbal adalah bersifat mutlak sehingga harus di-taqyid (dibatasi) dengan isbal karena sombong. Dan seperti itulah pernyataan Imam asy-Syafi‘i yang membedakan antara keduanya.[2]

Ulama yang lain berpendapat bahwa seorang laki-laki tidak boleh menjulurkan pakaiannya melampaui mata kakinya lalu mengatakan bahwa dia melakukan itu bukan karena sombong. Hal itu karena larangan tersebut secara lafazh telah mengenainya. Orang yang telah terkena suatu larangan secara lafazh tidak boleh menyelisihi larangan itu dengan berdalih bahwa‘illat larangan tersebut bukan untuknya karena dalihnya itu tidak bisa diterima, bahkan perbuatannya memanjangkan ujung pakaiannya telah menunjukkan kesombongannya.[3]

Penulis berkata: Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat karena ditopang oleh hadits panjang yang diriwayatkan oleh Jabir bin Salim radhiallahu ‘anhu di dalamnya terdapat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ، فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الْإِزَارِ، فَإِنَّهَا مِنْ الْمَخِيلَةِ، وَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ

“Angkatlah sarungmu hingga setengah betis. Jika kamu enggan, maka hingga kedua mata kaki. Dan berhati-hatilah kamu dari menjulurkan sarungmu (melebihi keduanya), karena itu bagian dari makhilah (sifat sombong), sedang Allah tidak menyukai makhilah (sifat sombong).”
[4]

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ini menjadikan sekedar menjulurkan pakaian saja sudah termasuk sifat sombong yang haram. Jadi kesimpulannya adalah bahwa menjulurkan pakaian melebihi kedua mata kaki hukumnya haram dan (bagian tubuh) pelakunya yang di bawah mata kaki layak untuk diazab di dalam neraka --sebagaimana disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu--. Akan tetapi, ini bukan termasuk perbuatan dosa besar yang membuat pelakunya terhalang dari dipandang oleh Allah Subhanahu wata’ala pada Hari Kiamat, kecuali jika dia memang melakukannya dengan maksud takabbur dan sombong, karena kedua hukuman ini --hukuman bagi yang melakukannya karena sombong dan hukuman bagi yang melakukannya bukan karena sombong-- berbeda satu sama lain, maka tidak boleh membawa yang bersifat mutlak kepada yang bersifat muqayyad.

Adapun hadits Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, maka yang tampak adalah bahwa beliau tidak menyengaja melakukan isbal, tetapi pakaiannya cuma melorot sehingga harus diangkat. Oleh karena itu, hadits ini tidak bisa dibenturkan dengan hadits-hadits sebelumnya. Wallahu a‘lam.

Apakah Memanjangkan Lengan Gamis Masuk Dalam Hukum Isbal?[5]

Yang tampak adalah bahwa siapa memanjangkan lengan gamisnya sehingga melebihi panjang yang normal, maka terkena hukum isbal. ‘Iyadh telah menukil pendapat para ulama tentang kemakruhan semua yang melampaui batas kebiasaan dan melampaui ukuran panjang dan lebar yang standar dalam pakaian.

Penulis berkata: Ini didukung oleh hadits Umar radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْإِسْبَالُ فِي الْإِزَارِ وَالْقَمِيصِ وَالْعِمَامَةِ، مَنْ جَرَّ مِنْهَا شَيْئًا خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Isbal (menjulurkan kain) itu ada pada sarung, baju dan serban. Siapa yang sampai menjulurkan salah satu darinya karena sombong, maka Allah tidak akan memandang kepadanya kelak pada Hari Kiamat.”
[1]

Ibnu al-Qayyim menyebutkan bahwa bukan termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakai (pakaian yang memiliki) lengan-lengan lebar lagi panjang seperti rumbai-rumbai. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memakainya sama sekali dan tidak pula seorang pun di antara sahabat-sahabatnya. Pakaian ini menyelisihi sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan pendapat yang membolehkannya perlu ditinjau kembali karena pakaian ini termasuk dari jenis kesombongan, dan juga mengandung unsur menyia-nyiakan harta karena dari lengan-lengan pakaian seperti itu bisa dibuat pakaian baru.

2. Memakai Sutra Murni


Jumhur ulama berpendapat --bahkan sebagian mereka menukil adanya ijma’-- bahwa laki-laki diharamkan memakai (pakaian berbahan) sutra yang murni --kecuali karena alasan-alasan darurat yang akan dijelaskan nanti[2]-- berdasarkan nash-nash yang secara tegas mengharamkannya, antara lain:

1. Hadits Anas radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ فَإِنَّهُ مَنْ لَبِسَهُ فِي الدُّنْيَا لَمْ يَلْبَسْهُ فِي الْآخِرَةِ

“Janganlah kalian memakai sutra, karena siapa yang memakainya ketika di dunia, niscaya dia tidak akan memakainya ketika di akhirat kelak.”
[3]

Jelas ini adalah kiasan dari ‘tidak masuk surga’ karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang para penghuni surga,

وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.”
[4]

2. Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ وَلَا الدِّيبَاجَ، وَلَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الْآخِرَةِ

“Janganlah kalian memakai sutra dan juga dibaj (salah satu jenis sutra), jangan minum dari bejana emas dan perak, dan jangan makan dari piring emas dan perak. Sesungguhnya barang-barang itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kita di akhirat kelak.”
[1]

3. Dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا يَلْبَسُ الْحَرِيرَ فِي الدُّنْيَا مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang yang mengenakan sutra di dunia hanyalah orang yang tidak mendapatkan bagian (surga) di akhirat kelak.”
[2]

4. Dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيرِ وَالذَّهَبُ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

“Pakaian sutra dan (perhiasan berbahan) emas diharamkan bagi umatku yang laki-laki dan dihalalkan bagi yang perempuan.”
[3]

5. Telah dinukil dari sekelompok ulama pendapat bolehnya sutra bagi kaum laki-laki dengan bersandar pada dalil-dalil berikut.

a. Hadits Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberi hadiah berupa farruj harir [Pakaian luar berbahan sutra dengan belahan di bagian belakang. -Pent.]. Beliau pun memakainya lalu mengerjakan shalat. Setelah selesai, beliau melepaskannya dengan keras seakan tidak menyukainya. Setelah itu beliau bersabda,

لَا يَنْبَغِي هَذَا لِلْمُتَّقِينَ

“Ini tidak pantas bagi orang-orang yang bertakwa.”
[4]

Penulis berkata: Hadits ini bisa dimaknai bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memakainya sebelum pengharamannya berlaku, karena tidak boleh diyakini bahwa beliau memakainya, baik sewaktu shalat maupun selainnya, sesudah mengharamkannya.

Hadits al-Miswar bin Makhramah “Bahwa telah diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beberapa potong qaba’ (sejenis pakaian luar), maka

a. al-Miswar dan bapaknya pergi ke (rumah) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta bagian. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun keluar dengan membawa satu potong qaba’ dari dibaj (sejenis sutra) yang berkancing seraya berkata,

يَا مَخْرَمَةُ، خَبَأْنَا لَكَ هَذَا

“Wahai Makhramah, kami sengaja menyimpankan yang ini untukmu.”

Beliau memperlihatkan kepadanya keindahan pakaian itu lalu berkata,

أَرَضِيَ مَخْرَمَةٌ؟

“Apakah Makhramah senang?”[1]

Penulis berkata: Ini perbuatan yang tidak ada makna zahirnya, sementara sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sangat gamblang dalam mengharamkannya. Memang tidak dipungkiri bahwa awalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memakai sutra, namun pada akhirnya beliau mengharamkannya.[2]

Kadar sutra yang dibolehkan dalam pakaian.

Menurut pendapat jumhur ulama, laki-laki dibolehkan memakai pakaian yang terdapat sulaman dari sutra selebar empat jari atau kurang berdasarkan hadits Abu Utsman dia berkata, “Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menulis surat kepada kami saat kami berada di Azerbaijan, “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang memakai (pakaian berbahan) sutra kecuali hanya sebatas ini; lalu Nabi memberi isyarat kepada kami dengan dua jarinya’.”[3]

Di dalam redaksi hadits yang diriwayatkan Muslim: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memakai (pakaian berbahan) sutra kecuali jika seluas dua, tiga atau empat jari.”[4]

Jadi, jika ukuran sulaman sutra pada pakaian melebihi empat jari, maka haram hukumnya.

Boleh Memakai Sutra Dalam Keadaan Darurat.[5]

Berbeda dengan ulama Malikiyah dan salah satu riwayat dari Ahmad, jumhur ulama berpendapat bolehnya memakai sutra pada kondisi-kondisi darurat seperti saat sakit, mengalami gatal-gatal, atau semisalnya, berdasarkan hadits Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi keringanan kepada az-Zubair dan Abdurrahman untuk memakai sutra karena penyakit gatal yang mereka derita.”[6]

Sedangkan, ulama Malikiyah --dan riwayat yang lain dari Ahmad-- berpendapat bahwa pada asalnya sutra tidak boleh (bagi laki-laki) baik untuk alasan gatal maupun alasan lainnya, dan bahwa keringanan yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut khusus untuk kedua Sahabat itu saja.

Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur ulama karena pada asalnya tidak ada pengkhususan (dalam kasus ini). Suatu keringanan jika telah pasti diberikan kepada sebagian orang karena suatu kriteria tertentu, maka keringanan itu berlaku juga pada semua orang yang memenuhi kriteria tersebut, karena suatu hukum akan berlaku umum dengan keumuman sebab musababnya. Wallahu a‘lam.

Tidak Boleh Duduk Di Atas Sutra.

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami minum dari bejana emas dan perak, dan makan dari wadah berbahan emas dan perak. Beliau juga melarang memakai sutra dan dibaj, serta duduk di atasnya.”[1]

Baca juga: Syarat-syarat Pakaian Bagi Wanita Muslimah

Berbeda dengan Abu Hanifah, jumhur ulama berpegang pada pendapat ini dengan alasan bahwa penyebab diharamkannya memakai sutra juga ditemukan pada duduk di atasnya. Di samping itu, jika memakai sutra haram hukumnya meskipun dibutuhkan, maka perbuatan selain memakai tentu lebih utama untuk diharamkan. Hukum ini tentunya untuk kaum laki-laki, adapun kaum perempuan maka boleh bagi mereka mendudukinya sebagaimana boleh memakainya.

Foot note:
[1] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5784), an-Nasa’i (5335), dan Abu Dawud (4085).
[2] Syarh Muslim karya an-Nawawi (XIV/62) cetakan al-Fikr.
[3] Fath al-Bari (X/264) dari Ibnu al-‘Arabi.
[4] Shahih dengan jalan-jalannya. Hadits Riwayat: Abu Dawud (4084), Ibnu Hibban (522), an-Nasa’i di dalam al-Kubra (9691), dan Ahmad (V/63).
[5] Fath al-Bari (X/262), Zad al-Ma‘ad (I/52), dan Nail al-Authar.
[1] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (3127), al-Baihaqi (III/273), dan ath-Thahawi (IV/243).
[2] Ahkam al-‘Aurat wa an-Nazhar karya Musa‘id al-Falih halaman 183.
[3] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5829) dan Muslim (2069).
[4] Shahih. Hadits Riwayat: Muslim (2069).
[5] Ibnu ‘Abidin (V/224), al-Kharasyi (I/252), dan al-Majmu‘ (IV/440), al-Mughni (II/306), dan Zad al-Ma‘ad (III/103).
[6] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5839) dan Muslim (2076).
[1] Shahih. Hadits Riwayat: al-Bukhari (5849) dan Muslim (2066).

Yang Baru Zona Muslim

Lihat semua

Ikuti kami & Dapatkan update terbaru